Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Bonus Chapter - Wangi


__ADS_3

Pagi itu, Sean baru saja memakai baju kerjanya. Viana turut membantu memakaikan dasi untuknya.


"Kau wangi sekali pagi ini?" tanya Viana sembari mengendus kemeja Sean.


"Lalu aku harus se-bau apa jika ingin bekerja?"


"Pakailah parfum secukupnya, tidak perlu terlalu banyak begini. Memangnya kau akan rapat dengan siapa nanti?" tanya Viana penuh selidik.


"Dengan Zein, Shaka, dan terakhir dengan Stevi."


"Apa? Stevi? Yang tidak menikah sampai sekarang 'kan?" tanya Viana meyakinkan.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa. Hanya saja, kenapa kau wangi sekali hanya untuk bertemu dengannya?"


"Aku tidak beraroma wangi hanya untuk bertemu dengannya. Kau tahu? Shaka dan Zein juga wangi, bahkan aku jadi merasa bau jika dekat mereka."


"Oh, jadi kau iri pada mereka?"


"Tidak, apa kita bisa melewati ini? Aku harus segera sarapan dan pergi ke kantor."


"Iya, baiklah." Viana mengangguk lalu berjalan bersama Sean menuju ruang makan.


"Selamat pagi Ma, Pa," sapa Reyza dan Sevina bersamaan.


"Selamat pagi anak-anak," sahut Sean dan Viana berbarengan. Mereka pun duduk dan ikut sarapan bersama kedua anaknya.


"Pa, Ma, Opa dan Oma sudah pulang belum?" tanya Sevina.

__ADS_1


"Hari ini mereka sampai, kenapa Sayang?" tanya Viana.


"Aku menitip sesuatu pada Oma Alya," jelas Sevina.


"Sesuatu?Apa itu?" tanya Sean.


Sevina terdiam sejenak. Ia menatap kedua orang tuanya yang kini menatapnya dengan heran.


"Tunggu! Biar Mama tebak. Kau pesan sepatu olahraga yang ditandatangani salah satu atlet favorit mu 'kan?" Viana menatap penuh selidik.


"Hehe." Sevina hanya bisa cengengesan.


"Sayang, kenapa kau merepotkan Oma, kasihan dia harus mencari tanda tangan itu."


"Oma Alya mau kok, Ma. Katanya, apapun yang aku inginkan akan dipenuhi jika sanggup."


"Darimana Mama tahu kalau Sevina minta tanda tangan atlet favorit Sevina?"


"Sevina, Sevina, ada-ada saja." Sean menggelengkan kepalanya.


"Permintaan Reyza lebih aneh, Ma. Ia minta dibawakan salju. Yang benar saja."


"Apa? Salju?" Sean dan Viana terkejut.


"Iya, salju asli dari sana. Karena setiap kita kesana 'kan sedang tidak musim salju."


"Sayang, jika kau ingin salju, kau bisa bermain dengannya," ujar Viana.


"Benarkah, Ma? Kita akan kesana?" tanya Reyza antusias.

__ADS_1


"Tidak, Mama akan bawa kau ke wahana salju yang ada di kota ini."


"Ma, itu 'kan salju palsu. Aku mau yang asli."


"Ya sudah, di kulkas banyak salju, bermainlah di sana."


"Maa." Reyza menatap Viana dengan tatapan memohon.


"Jatuh ke lumpur saja sampai demam seminggu. Mana bisa bermain salju. Kalau mau, rajin olahraga seperti kakak mu, jadi tubuh mu akan kuat."


"Sudahlah, Ma." Sean menengahi. Ia menatap Reyza yang tertunduk lesu. "Reyza, Papa akan datangkan salju ke sini," sambungnya.


"Benarkah, Pa?" Mata Reyza berbinar-binar.


"Ya, dan saat salju itu sampai di sini, kau bisa mandi sepuasnya."


"Mandi?"


"Perjalanan Amerika ke Indonesia itu butuh waktu lebih dari delapan belas jam."


Reyza menghela nafas pasrah. "Baiklah, Ma, Pa."


Sevina hanya cekikikan melihat adiknya kalah telak. Aneh-aneh saja, dari luar negeri malah minta salju.


Selesai sarapan, Sean segera berangkat bekerja dengan terlebih dahulu mengantar kedua anaknya ke sekolah. Namun sebelum pergi, Viana sempat mengatakan kalimat yang aneh.


"Jagalah mata dan hatimu dari godaan syaiton yang terkutuk."


Sean heran mendengar ucapan Viana, namun ia tetap mengangguk dan segera pergi setelah mendaratkan kecupan di kening Viana.

__ADS_1



__ADS_2