Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Episode Spesial - Mencari tahu


__ADS_3

"Bagaimana, Ayah? Apakah Ayah tahu sesuatu?" tanya Sean pada Hendra yang merupakan Ayah Viana.


Sepulang bekerja, Sean memang mendatangi kediaman ayah mertuanya itu dan beralasan kepada Viana bahwa ia ada meeting mendadak dengan Zein yang tentu saja sudah ia briefing sebelumnya untuk mengatakan bahwa mereka memang mengadakan meeting.


Hendra terdiam cukup lama. Ia tampak berpikir dan mengingat tengang Viana dan ibu kandungnya semasa kecil.


"Oh, Ayah baru ingat. Tunggu sebentar." Hendra masuk ke dalam rumahnya, dan tak berselang lama, ia kembali dengan beberapa lembar foto.


"Ini foto keluarga kami dulu."


"Sean mengamati foto itu satu persatu. Ia melihat betapa cerianya wajah Viana saat itu. Sedangkan wajah ibunya tampak sendu.


"Ayah, kenapa wajah ibu agak sedih?" tanya Sean.


"Kau lihat baju yang dipakai Viana?" Menunjuk salah satu foto. "Tadinya ibunya sudah menjahitkan sebuah gaun cantik untuknya. Gaun itu dibuat sepenuh hati sampai dia tidak tidur agar Viana terlihat cantik pada saat berfoto. Namun sayang, Viana yang suka memakai baju menyerupai pria menolak memakainya. Beberapa kali ibunya membujuk pun dia tidak mau, bahkan melempar baju itu ke tanah. Memang saat kecil dia agak nakal, dan bocah lima tahun belum mengerti tentang perasaan kecewa seorang ibu. Sejak saat itu, ibunya tidak mau menjahit lagi. Baju yang pernah dibuang Viana pun dia simpan sampai ajal menjemputnya."


"Ingatan Viana sangat bagus," ucap Sean.


"Tidak, bukan karena ingatan. Mana mungkin ia ingat kejadian saat masih lima tahun. Ia mengingat karena pernah menonton sebuah rekaman video dari kamera. Tapi sayang, kaset rekaman sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki. Semua perlakuannya terlihat jelas dalam video itu. Dia selalu menangis jika melihat isi rekaman itu. Hingga saat rekaman rusak, Ayah merasa itu yang terbaik."


"Ayah, apa baju itu masih ada?"


"Ayah tidak ingat karena ibu Viana yang menyimpannya. Karena sejak menikah lagi, Ayah dan Viana sering berpindah tempat tinggal. Bahkan saat pindahan, kami tidak menemukan baju itu."

__ADS_1


"Bagaimana kalau fotonya?"


"Foto? Oh ya sebentar, sepertinya ada."


Hendra masuk ke dalam rumah, lalu kembali dengan beberapa foto.


"Ini adalah foto saat ibunya menjahit gaun Viana. Dapat dilihat jelas motif dan warnanya."


Sean meneliti foto tersebut. Itu jelas motif yang sudah didapat sekarang ini kecuali ia memesannya langsung dari pengrajin kain.


"Bolehkah aku membawa satu? Aku ingin membelikan Viana gaun seperti ini."


"Tentu saja boleh. Tapi untuk apa?"


"Aku ingin membuatkan Viana gaun seperti ini. Aku yakin itu yang ia butuhkan saat ini."


Sean hanya tersenyum kecil. Mulai saat ini, ia akan menyusun sebuah rencana untuk mengobati luka hati Viana.


Sementara itu,,,,,


Di kediaman Zein.


"Sayang, tadi Viana menelepon ku." Lyana yang merupakan istri Zein datang menghampiri.

__ADS_1


Zein yang sedang duduk tiba-tiba berdiri dengan wajah tegang. "Apa yang kau katakan? Maksudku, apa yang dia tanyakan?"


"Dia bertanya kau dimana dan aku jawab ada di rumah."


"Astaghfirullah." Zein memegangi kepalanya.


"Kenapa?" Lyana terlihat heran.


"Tidak. Setelah kau mengatakan itu, apa yang dia katakan lagi?"


"Katanya kau disuruh berguru pada Gilang, teman Sean yang penghianat itu. Dia bilang bahkan Gilang lebih baik dalam berperan. Aku tidak mengerti maksudnya. Kenapa kau harus berguru pada seorang penjahat?"


"Eh tidak ada, jangan dengarkan. Dia hanya bercanda." Zein mencoba meyakinkan istrinya.


"Oh, ya sudah. Oh ya, tadi dia mengatakan satu hal lagi."


"Apa itu?" Zein terlihat semakin tegang.


"Katakan dia ingin mengajakmu naik mobil di sirkuit."


'Jelas sekali dia sangat marah sampai ingin mengajakku ugal-ugalan. Dia tahu sendiri kalau aku takut balapan,' batin Zein.


"Hahaha, dia pasti hanya bercanda."

__ADS_1


"Tidak, aku sudah mengatakan padanya bahwa kita akan pergi bersama ke sirkuit dua Minggu lagi. Aku juga sudah lama tidak balapan dengannya. Ya sudah, aku mau menyuruh sopir menservis mobil balap ku dulu." Lyana beranjak pergi. Meninggalkan Zein yang kini sedang bercucuran keringat dingin.


Kini ia meratapi betapa bodohnya ia karena tak memberitahu Lyana untuk ikut bekerja sama.


__ADS_2