
Sean memasuki kamar Sevina. Di sana, Viana dan Sevina sedang sibuk menggeledah isi lemari dan juga tempat-tempat yang menyimpan ruang.
Tanpa berbicara, Sean langsung bergabung dengan mereka.
"Papa kenapa kemari?" tanya Viana.
"Aku ingin membantu."
"Tidak perlu, biar kami saja, Papa pasti lelah."
"Aku tidak suka melihat istri ku kebingungan seperti ini."
Viana hanya menghela napas. Ia membiarkan Sean ikut membantu.
Namun, setelah pencarian selesai, kotak merah yang dimaksud Viana tidak ditemukan.
Mereka pun bergegas ke kamar Reyza dan melakukan penggeledahan di sana. Dan hasilnya nihil. Kotak merah itu tidak ketemu. Karena terlanjur lelah, Sean meminta pelayan merapikan kembali tempat-tempat yang telah mereka geledah.
__ADS_1
Kini mereka berempat duduk di ruang keluarga.
"Sebenarnya apa isi kotak itu?" tanya Sean.
"Sebuah benda yang sangat berharga di hidupku."
"Bahkan kau tidak membiarkan aku tahu apa isinya."
Viana hanya tersenyum saja. Ia melihat Sevina dan Reyza menyandar di sofa karena kelelahan. Memang, untuk pencarian kotak itu, Viana bisa saja memanggil pelayan, tetapi ia tidak mau kalau sampai mereka menyentuh benda yang ada di dalamnya.
"Coba kau ingat dulu, apa kau pernah mengeluarkan benda dari kotaknya? Atau memindahkan ke kotak lain? Atau mencucinya." Sean mengingatkan.
Sean segera menyusulnya hingga sampai ke balkon. Di sana, Viana berjongkok dan merogoh bawah kursi yang sekeliling kakinya ditutupi hiasan berupa ukiran kain.
"Dapat!" Viana meraih kotak tersebut dan langsung membukanya. Ternyata isinya kosong. "Astaga, aku benar-benar lupa." Viana duduk dan melemparkan kotak tersebut ke sembarang arah.
"Kenapa, Vi? Kemana isinya?" tanya Sean sambil meraih kotak tersebut.
__ADS_1
"Sekitar tiga hari yang lalu, aku menjemur benda yang ada di dalam kotak ini di pagar balkon. Dan sepertinya aku lupa mengangkatnya." Viana menyandarkan punggungnya ke dinding dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Benda apa?"
"Baju yang dulu pernah dijahit ibu kandung ku saat aku masih lima tahun." Viana akhirnya bercerita.
'Apa? Baju itu masih ada?' batin Sean.
"Baju apa? Aku tidak pernah melihatnya di sini."
"Baju itu baru saja aku ambil di rumah lama ayah dan ibu kandung ku. Aku tidak menyangka, pemilik rumah yang baru masih menyimpan kotak tersebut padahal sudah puluhan tahun. Dan sekarang bajunya hilang." Viana tampak menangis sesenggukan.
Ternyata, setelah Sean menanyakan perihal kenangan Viana bersama ibu kandungnya, Viana langsung mengambil baju tersebut di rumah lamanya. Tadinya ia pikir hilang, namun saat ia berkunjung ke sana, pemilik rumah bercerita bahwa dulu, sebelum mereka pindah, ibu Viana menitipkan baju itu pada mereka. Ia mengatakan bahwa jika si pemilik rumah punya anak perempuan, maka ia boleh memakaikannya. Namun, karena si pemilik rumah tidak punya anak perempuan, ia hanya menyimpannya saja.
"Vi, jangan menangis. Aku akan mengerahkan semua pengawal rumah untuk mencarinya. Baju itu pasti terbang."
Viana hanya mengangguk. Sean segera mengerahkan semua pengawal dan pelayan untuk mencari baju di dalam dan luar rumah dengan bekal motif yang diberitahu Viana.
__ADS_1
Jadilah seisi rumah sibuk mencari baju tersebut ke segala arah. Sedangkan Viana disuruh Sean untuk bersama anak-anak sementara ia ikut mencarinya.
NB : Tanggal 30 novel ini tamat 😊