
Tepat jam 8 malam mereka sampai dirumah. Mereka segera membersihkan diri dan langsung istirahat. Sebelumnya mereka juga sudah makan malam di restoran.
Sean dan Viana merebahkan diri mereka di ranjang.
"Hari ini sangat melelahkan ya." Ucap Viana sambil menatap langit-langit kamar mereka.
"Bagaimana tidak lelah? Kami harus berlari sejauh 1 km untuk mengejarmu." Gerutu Sean.
"Salah siapa?" Kata Viana mengingatkan.
"Salahmu karena marah padaku." Kata Sean.
"Apa? Baiklah terserah." Ucap Viana yang lagi-lagi harus mengalah.
Sean mendekatkan diri ke tubuh Viana. Dia membelai rambut Viana dan mengecup keningnya.
"Tidur lah." Ucap Sean.
Viana mengangguk dan mencoba memejamkan matanya.
"Apa kau bahagia hidup bersamaku?" Tanya Sean.
"Aku bahagia." Ucap Viana dengan mata terpejam.
"Apa kau mau mengabulkan permintaanku?." Tanya Sean.
"Hmmm." Masih memejamkan mata.
Sean diam cukup lama lalu kembali membuka suara.
"Apa kau mau melahirkan anakku?" Tanya Sean.
Tidak ada jawaban.
"Viana." Panggil Sean.
Masih tidak ada jawaban. Sean akhirnya menoleh dan menyadari bahwa Viana sudah tertidur pulas. Sepertinya dia sangat lelah sehingga begitu matanya terpejam tak butuh waktu lama untuk terlelap.
"Cih dasar, saat aku membicarakan hal penting kau malah tertidur."
Sean menarik selimut lalu menutupi tubuhnya dan Viana dengan satu selimut. Dia mencoba untuk memejamkan matanya. Saat ini dia sedang dalam proses mengontrol hasrat bercintanya. Tentu saja dengan bantuan Dr. Risa namun keluarganya tidak ada yang tau sama sekali karena itu hal yang tabu.
Keesokan paginya.
"Selamat pagi kakak, selamat pagi kakak ipar." Raya menghampiri Viana dan memeluknya.
"Tidak bisakah kau berhenti memeluk istriku?" Kata Sean yang semakin risih melihat Raya begitu manja pada Viana. Padahal kebenarannya dia hanya ingin Viana hanya boleh di peluk olehnya saja.
"Kakak kenapa sih. Aku kan hanya memeluk kakak ipar. Masa sama adik sendiri cemburu." Gerutu Raya.
"Bukan cemburu tapi kau sudah memulai start. Aku bahkan belum memeluk istriku pagi ini dan kau sudah menyerobotnya." Kata Sean kesal.
"Memangnya kenapa? Aku juga adiknya. Aku berhak memeluk kakak iparku kapan saja." Raya berkacak pinggang.
"Sudah sudah ayo sarapan dulu." Ucap Viana menengahi pertengkaran mereka yang sedag memperebutkannya.
Raya segera duduk dan menikmati sarapan pagi itu.
__ADS_1
"Kapan kau akan pulang?" Tanya Sean.
"Saat Mama dan Papa sudah kembali dari Amerika." Ucap Raya.
"Tunggu. Kenapa kakak menanyakan itu? Kakak mau mengusirku ya?" Raya menatap penuh selidik.
"Kalau iya kenapa." Jawab Sean.
"Kalau begitu aku akan membawa kakak ipar ke rumah." Ancam Raya.
"Ha? Apa? Membawanya? Hei Nona Muda dia adalah istriku ingat?" Sean melotot tidak terima.
"Tapi kau sudah membuatku kesal Tuan Muda." Kata Raya.
"Sudah hentikan. Ayolah." Bujuk Viana.
Raya dan Sean kembali fokus dengan sarapan mereka.
Sebelum ada aku siapa yang mereka perebutkan ya? Pasti Mama Alya. Batin Viana.
"Kak Sean." Panggil Raya.
"Hmm." Sahut Sean yang masih mengunyah makanannya.
"Kak Gilang apa kabar?" Tanya Raya sedkit memelankan suaranya.
Mata Viana terbelalak saat Raya menanyakan kabar Gilang.
"Baik. Dia sedang sibuk dengan bisnisnya sehingga jarang terlihat" Jawab Sean santai.
Viana menatap serius ke arah Raya. Dia sama sekali tidak menyangka jika Raya menyukai Gilang. Jelas terlihat ketika pipinya memerah saat menanyakan kabar Gilang. Dan sikap Sean yang biasa saja menandakan bahwa Sean tidak keberatan jika Raya menyukai Gilang.
Setelah selesai sarapan, Sean dan Viana segera berangkat ke kantor dan tinggallah Raya dirumah itu.
Di perjalanan.
"Emmm Sean, apakah Raya menyukai Gilang?" Tanya Viana ragu.
"Mungkin saja." Ucap Sean.
"Kamu setuju?" Tanya Viana.
"Apa alasanku melarangnya? Dia pengusaha yang sukses dan juga teman baikku." Kata Sean.
"Aku ingat kalian mabuk bersama pada malam itu." Kata Viana.
"Sebenarnya pada malam itu bukan hanya ada aku dan Gilang saja. Dio juga ada di sana dan si berengsek itulah yang menantangku minum duluan. Gilang hanya ikutan saja namun dia tetap merasa bersalah karena dia yang mengajakku ke sana sehingga Dio bisa mempengaruhiku untuk minum alkohol itu." Ucap Sean.
"Bagaimana dengan Efan dan Aldi?." Tanya Viana.
"Mereka tidak ikut. Hanya aku Dio dan Gilang." Ucap Sean.
Viana mengangguk, kini dia punya sedikit petunjuk. Dia akan menyelidiki Dio. Mungkin saja Dio adalah orang suruhan Kakak tirinya yang di tugaskan untuk merusak Sean.
"Tunggu. Kenapa kau menanyakan mereka? Apa kau tertarik pada mereka.?" Lirik Sean.
"Tidak bukan itu, aku hanya ingin tau saja." Kata Viana.
__ADS_1
"Ya, tidak apa-apa juga. Berkat si berengsek itu aku jadi bisa lebih cepat bertemu denganmu. Sebenarnya aku ingin berterima kasih padanya tapi kesan terkahir di pertemuan kami tidak begitu baik" Sean mengusap rambut Viana.
"Sudah lah. Yang terpenting kita sudah bersama saat ini." Ucap Viana sambil tersenyum.
Jika kamu menemuinya, habislah aku. Kamu akan tau jika aku pernah menghajarnya. Batin Viana.
Sean tersenyum dan mengusap kepala Viana.
Sesampainya di kantor..
"Selamat pagi Tuan, Nona Muda." Sapa Kevin.
"Selamat pagi." Jawab Sean dan Viana kompak.
Sean dan Viana langsung masuk ke ruangan dan mulai bekerja.
"Sean, bagaimana kabar Zein, apakah sekretarisnya masih mengganggunya.?" Tanya Viana.
"Apa kau ingat saat aku kesana karena ada masalah di kantornya?." Kata Sean.
"Iya aku ingat." Ucap Viana.
Tentu saja aku ingat, itu hari dimana aku bekejar-kejaran dengan Dio dan berkelahi dengannya. Batin Viana.
"Masalah yang terjadi adalah sekretaris Zein yang bernama Hera telah memfitnahnya. Hera masuk ke ruangan Zein dan mengunci ruangan itu lalu mendekati Zein dan mencoba memperkosa Zein." Kata Sean.
"Ha?. Bagaimana seorang gadis memperkosa seorang pria" Viana melongo.
"Dia mencoba berbuat mesum pada Zein lalu Zein mendorongnya hingga menyebabkan dia mempunyai luka memar. Dia mengancam Zein. Jika Zein tidak menikahinya maka dia akan membuat laporan bahwa Zein telah menganiayanya dengan bukti luka memarnya." Kata Sean.
"Bagaimana dengan CCTV?." Tanya Viana.
"Sebelumnya Hera telah menyabotase CCTV ruangan Zein. Dia memang ahli komputer jadi akan sangat mudah baginya menyabotase CCTV itu. Maka saat mereka melihat rekaman CCTV diruangan Zein, hanya terlihat rekaman saat Zein mendorongnya hingga jatuh terjerembab." Kata Sean.
Viana terlihat semakin penasaran.
"Lalu Papa menelponku untuk membantunya mengatasi masalah itu. Dan aku berhasil mendapatkan rekaman yang sebenarnya dari CCTV rahasia di ruangan itu." Ucap Sean.
"Bagaimana bisa ada CCTV rahasia? Siapa yang memasangnya.?" Tanya Viana.
"Tentu saja anak Pak Udin yang bernama Fathan. Dia ahli robotik sama seperti Pak Udin mantan kepala pengawal Papa. Aku menyuruh Fathan memasang CCTV rahasia didalam ruangan itu." Kata Sean.
"Bagaimana kamu bisa berpikiran seperti itu.?" Viana semakin penasaran.
"Dulu Mama pernah bercerita tentang bagaimana kehidupan sulitnya saat aku masih didalam kandungan. Mama bilang banyak sekali penghianat berkedok teman di sekitar Papa dan Papa bisa mengetahuinya berkat kecerdasan Pak Udin. Karena itu aku sangat tertarik dengan trik Papa untuk memasang CCTV rahasia di ruangan yang tidak terduga dan aku telah menuai hasilnya waktu itu." Kata Sean.
"Wah hebat sekali, berapa umurnya?" Tanya Viana.
"Dia masih berumur 22 tahun tapi sungguh jenius sama seperti ayahnya. Dia bekerja di perusahaan yang di berikan Papa sebagai hadiah saat Pak Udin pensiun dan aku bisa memanggilnya kapan saja aku membutuhkan bantuannya." Ucap Sean mengakhiri ceritanya.
Viana berdecak kagum dengan kehebatan Fathan dan pemikiran brilian Sean.
"Lalu Kevin?." Tanya Viana.
"Dia akan tetap bersama kita. Aku pikir ada baiknya untuk berhenti mencurigai si pebinor itu." Ucap Sean.
Viana mengangguk mengerti. Padahal Sean mempunyai alasan lain. Yaitu jika Viana hamil maka dia akan sangat repot dengan pekerjaannya saat Viana tidak bisa bekerja seperti biasa. Dalam hati kecilnya dia berharap kehadiran seorang bayi di tengah-tengah kebahagiaan mereka saat ini.
__ADS_1