
Seminggu telah berlalu.
Hari sudah malam. Viana sedang melamun di balkon kamarnya. Dia masih saja memikirkan kata-kata Dio.
"Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu." ucap Sean yang sedang berdiri di ambang pintu balkon kamar mereka.
"Tidak ada Sean." Viana menoleh dan tersenyum kemudian kembali fokus dengan pemandangan di depannya.
Sean heran melihat Viana yang biasa saja melihat kedatangannya. Viana masih memandangi sekitar. Namun tiba-tiba Viana tersadar dan kembali menoleh ke arah Sean.
Dia mengucek matanya berulang kali untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi. Viana berlari dan menghambur ke pelukan Sean.
Sean juga memeluknya erat. "Sepertinya tadi kau tidak memperdulikanku."
"Aku kira aku sedang bermimpi. Aku merindukanmu Sean." Viana menangis terisak. Sean melepaskan pelukannya.
"Hei kenapa menangis, aku hanya pergi selama seminggu." Sean menghapus air mata Viana.
"Tapi seminggu terasa sangat lama." Viana menunduk.
"Aku juga merindukanmu. Aku bahkan hampir gila karena tidak melihatmu selama seminggu. Isi kepalaku hanya ada dirimu." Sean mengecup lembut kening Viana.
Apa katamu? Hampir gila? Bagaimana kalau aku meninggalkanmu selamanya? Oh Sean ingin rasanya aku memberitahukan hal ini padamu. Tapi aku takut kalau kamu tidak percaya padaku dan terpengaruh kata-kata Kak Dio. Jika dia mengatakan kami bekerja sama, maka baik Mama Alya juga pasti akan membenciku karena Kak Dio punya bukti kedatanganku kesana.
Viana tersenyum dalam tangisannya. Sean kembali menghapus air matanya. Dia menatap lembut lalu mencium bibir istrinya. Rasanya kerinduan Sean sudah mencapai puncaknya. Dia m****** habis bibir Viana. Dia mulai melancarkan aksinya. Desahan demi desahan terdengar didalam ruang kamar itu.
Selesai dengan kegiatan panas, mereka membersihkan diri lalu berbaring di atas ranjang dengan posisi Viana bersandar di dada Sean.
"Sean." ucap Viana.
"Hmmm" sahut Sean.
"Jika ada orang yang mengatakan hal jelek tentangku, apakah kamu akan percaya?" tanya Viana.
__ADS_1
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu." Sean bertanya balik.
"Aku habis menonton film. Isinya tentang suami yang membenci istrinya karena ada orang yang memfitnah istrinya dengan sejumlah bukti yang menguatkan tuduhan itu." tutur Viana.
"Kau terlalu banyak menonton film."
Sean semakin mempererat pelukannya.
"Aku hanya ingin bertanya dari sudut pandang suami." ucap Viana.
"Menurutku wajar jika suami membencinya karena bukti yang kuat. Jika dibandingkan dengan perkataan tentu dia kalah telak." ucap Sean.
"Bagaimana dengan kepercayaan? Apakah suaminya tidak percaya pada istrinya?" Viana kembali membuat Sean berpikir.
"Itu sangat sulit. Rambut sama hitam tapi hati tidak ada yang tau. Yang harus dia lakukan adalah mencari bukti yang menunjukkan bahwa dia di fitnah." ucap Sean.
Seketika Viana menyadari bahwa apa yang dikatakan Sean adalah benar. Dia memang harus mencari bukti bahwa dia tidak bekerja sama dengan Dio. Tapi yang jadi masalahnya Sean tidak akan mengampuni Dio. Dia akan terus bermusuhan dengan Dio seumur hidupnya dan Viana tidak mau itu terjadi. Viana semakin bingung dengan situasi ini. Dia benar-benar merasa dilema.
"Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" tanya Sean.
"Kalau begitu tidurlah dan jangan menonton film atau drama yang bisa membuatmu terbawa perasaan. Kau sama seperti Mamaku." ucap Sean.
"Iya."
"Ya sudah ayo tidur." Sean kembali mengecup kening Viana dan tetap memeluknya dalam tidurnya.
Saat tengah malam, Viana merasa haus. Dia terbangun dan minum. Saat hendak kembali tidur, Viana melihat layar hpnya menyala. Dia mengambil Hpnya melihat ada sebuah pesan masuk. Nomor dari orang yang tidak dikenal.
Viana membukanya.
Alangkah terkejutnya dia melihat isi pesan itu.
Pesan 1 : "Viana adikku, bagaimana dengan rencana kita?"
Pesan 2 : "Aku akan selalu membantumu untuk merebut harta keluarga Armadja."
__ADS_1
Pesan 3 : "Jika kau sudah bosan kita bisa menghabisi Sean sekarang."
Pesan ke 4 adalah sebuah rekaman CCTV saat Viana datang ke markas Dio. Tidak ada adegan pertengkaran. Yang ada hanyalah kedatangan Viana sampai di depan pintu rumah itu.
Pesan ke 5 adalah sebuah Video saat Viana menggedor pintu mobil Dio. Itu terjadi saat Viana dan Dio berkejar-kejaran di jalanan. Sepertinya Dio merekamnya diam-diam saat dia masih berada didalam mobil. Mungkin saat itu Dio mewanti-wanti jika Viana melapor pada Sean saat insiden itu. Namun ternyata dia malah memanfaatkannya untuk menjebak Viana.
Pesan ke 6 : "Jangan pernah berpikir untuk memberitahukan ini pada Ibu mertuamu. Aku memantau pergerakanmu. Jika kau berusaha memberitahukan ini padanya, maka rekaman ini akan aku kirim ke Ayah mertuamu."
Pesan Ke 7 : "Dalam 3 hari aku akan mulai menyusun rencana baru. Jika kau tidak datang kepadaku, itu artinya kau memulai perang denganku. Dan lihatlah betapa mudahnya aku akan menghancurkannya."
Sepertinya Dio akan terus membuat seolah mereka bekerja sama dan video-video itu adalah ancaman bahwa Dio tidak main-main dengan perkataannya. Kini dia semakin takut jika Dio benar-benar datang dan memfitnahnya. Dia memblokir nomor itu dan mematikan hpnya agar Dio tidak mengiriminya pesan lagi.
"Hoaaammm Viana sedang apa?"
Suara Sean mengagetkannya. Dia langsung meletakkan kembali Hpnya.
"Oh ini tadi aku bangun karena haus." kata Viana.
"Oh, ya sudah tidurlah lagi. Aku ingin ke kamar mandi." Sean melangkah menuju kamar mandi dengan langkah gontai karena dia masih sangat mengantuk.
Viana menyimpan hpnya di laci dan melangkah menuju ranjang dan kembali tidur. Tak lama kemudian Sean bangun dan melihat Viana sudah telelap. Sean merebahkan diri ke samping Viana dan membelai rambutnya juga mengecup keningnya. Dia terlihat sangat mencintai Viana.
Sean menarik selimut dan menutupi tubuh Viana juga dirinya kemudian ikut tertidur.
Sementara itu.
"Hahaha lihatkan, aku berhasil melakukannya. Dendam ini tidak akan pernah musnah sebelum kau benar-benar hancur Sean. Mana bisa aku membiarkan kau dan keluargamu hidup tenang di atas masa laluku. Kalian memenjarakan Ibuku Lusi." mengepalkan tangan.
"Dan setelah kebebasannya dia malah meninggalkanku dan lebih memilih Viana tanpa menemuiku sekalipun. Ini semua adalah salah kalian. Jika saja kalian tidak memenjarakan Ibuku waktu itu mungkin saat ini adikku masih hidup dan aku bisa merasakan kasih sayang dari Ibuku dan aku bisa merawatnya disaat-saat terakhirnya." menghapus air matanya.
"Kalian terlalu kejam. Bahkan kalian tidak berbelas kasihan terhadapku saat itu. Hatiku begitu sakit dan kecewa karena keluarga sebesar kalian tega melakukan semua ini padaku." menatap tajam dengan sorot mata penuh kebencian. Anda dia tau yang sebenarnya pasti dia akan menyesali kata-katanya.
Rekomendasi novel bagus.
Yuk Kepoin 😊
__ADS_1