
Suasana kembali tenang. Ruang tamu yang kacau tadi sedang dirapikan oleh para pengawal Sean. Reyza dan David juga sudah di keluarkan dari kamar. Kini mereka duduk di ruang keluarga. Sean dan Viana sedang mengobati luka ditangan mereka akibat memukul orang-orang tadi.
"Sean, Viana maafkan aku. Karena aku kalian jadi begini." ucap Anggun dengan tatapan bersalah.
"Tidak. Ini bukan salahmu Mereka lah yang gila." ucap Sean dengan perasaan kesal.
"Sevina. Kau tidak apa-apa kan Nak?" tanya Viana sambil memandangi Sevina memastikan dia tidak terluka.
"Tidak apa-apa Ma." jawab Sevina.
"Sayang, seharusnya kau jangan keluar. Jika mereka melukaimu Mama tidak akan memaafkan diri Mama sendiri." ucap Viana dengan tatapan menyesal.
"Sevina hanya ingin menyelamatkan tante Anggun Ma." ucap Sevina.
"Mama dan Papa bisa menyelamatkannya sayang. Lain kali jangan bahayakan dirimu, Mama mohon." ucap Viana.
"Iya Ma." ucap Sevina sambil menunduk.
"Tapi kau sangat hebat Sevina. Sepetinya latihan rutinmu berhasil." ucap Sean dengan bangganya.
Sevina tersenyum senang mendapat pujian seperti itu.
"Dan kau Reyza, kenapa sejak tadi kau terus duduk di pangkuan Papa. Apa kau ingin ditimang sekalian?" tanya Sean. Sejak turun tadi Reyza terus saja duduk di pangkuannya. Bahkan saat Sean menurunkannya, dia kembali naik ke pangkuan Sean.
"Apa kau masih takut Nak?" tanya Viana sedikit khawatir.
"Tadi kata kakak disini banyak ulat. Reyza jijik Ma." ucap Reyza sambil menunjukkan ekspresi jijiknya.
"Kau sama saja dengan Opa Rangga. Sama ulat saja takut." ucap Sean sambil mengusap kepala Reyza.
"Bukan takut Pa. Tapi jijik." tegas Reyza.
__ADS_1
"Kalau jijik, kau tidak akan menangis atau memanjat tubuh Papa setiap melihat ulat bahkan dari televisi sekalipun." ucap Sean.
Dia mengingat saat Reyza menemukan ulat ditaman belakang, Reyza berlari ke arahnya dan memanjat tubuhnya yang sedang berdiri. Pernah sekali saat Sean memakai pakaian rumahan berupa kaos dan celana karet, Reyza memanjat tubuhnya hingga celananya melorot sampai ke paha. Untung saja saat itu mereka jauh dari pengawal sehingga hal memalukan itu tidak sampai disaksikan orang.
"Karena kalau Reyza memanjat tubuh Mama terus Mama refleks nanti Reyza dibanting Pa seperti Paman Harry. Pengawal Papa yang tiba-tiba dibanting Mama karena memegang tangan Mama yang hampir kena api dari lilin." ucap Reyza.
Viana kembali mengingat peristiwa memilukan itu. Saat itu Viana sedang memasang lilin untuk kegiatan latihannya. Kebetulan Harry yang sedang berjaga disana. Saat Viana melangkah mundur dan tangannya hampir mengenali lilin, Harry langsung berlari dan memegang lengan Viana agar terhindar dari api karena saat Harry berteriak mengingatkan, Viana sedang menggunakan headset sehingga suaranya tidak kedengaran.
Viana yang kaget karena tangannya dipegang dari belakang langsung refleks menarik tangan Harry dan membantingnya ke lantai. Setelah menyadari siapa yang dibantingnya, Viana meminta maaf karena dia terkejut dan refleks membanting Harry.
Itu karena tidak ada orang yang boleh memegang tangannya kecuali Sean dan anak-anaknya. Saat itu Sean sedang bekerja dan tentu saja Viana sangat terkejut saat ada orang yang memegang tangannya.
"Sayang, Mama tidak sejahat itu. Tidak ada seorang Ibu yang membanting anaknya sendiri." ucap Viana.
"Mama tidak jahat kok. Mama hanya kuat dan suka membanting kalau terkejut." ucap Reyza.
"Ya sudah, mau bagaimana lagi. Dulu kau juga sering memelintir dan membantingku kan." Bisik Sean.
"Sevina, kenapa kau menakuti adikmu?" tanya Viana.
"Karena kalau Sevina tidak bilang begitu, dia akan ikut turun Ma." ucap Sevina.
"Dia tidak akan bisa turun tante karena Sevina mengunci David dan Reyza dikamar." ucap David.
"Jika kau turun hanya akan merepotkan saja David. Kalau kau kenapa-kenapa, tante Anggun pasti sedih." ucap Sevina berupaya memberi pengertian kepada David.
"Oh ya siapa yang memanggil pengawal?" tanya Sean yang baru sadar tentang keberadaan pengawal mereka yang tadi tiba-tiba datang.
"Tadi David yang memanggil Om. David ingat kalau Sevina pernah menuliskan nomor telepon rumah Om di buku nota David. Jadi David hubungi nomornya dan memanggil bantuan." ucap David.
"Anak pintar." Puji Viana.
__ADS_1
Setelah semua dirasa beres, Sean sekeluarga pun pamit pulang.
***
Keesokan harinya, setelah mengantar anak-anak sekolah, Anggun datang ke kantor polisi dengan Viana. Mereka baru saja mendapat panggilan dari kepolisian untuk dimintai keterangan.
Sesampainya disana, mereka langsung memberikan keterangan termasuk bukti CCTV yang ada di rumah itu.
"Terima kasih atas keterangannya. Nyonya Anggun, kami juga harus memberi tahu sesuatu kepada anda." ucap Pak Polisi.
"Apa itu Pak?" tanya Anggun penasaran.
"Sebenarnya, setelah kami menginterogasi mereka, akhirnya kami menemukan sebuah fakta baru. Mereka mengakui bahwa kematian keluarga suami Nyonya adalah tindakan mereka karena berhubungan dengan harta warisan." ucap Pak Polisi.
Anggun terlihat terkejut dengan apa yang dia dengar begitu juga dengan Viana. "Maksud Bapak, kecelakaan itu adalah ulah mereka?" Mulai menitihkan air mata.
"Benar Nyonya. Ternyata pada saat kecelakaan itu, mereka menyewa seseorang untuk mengemudikan truk dan membuat mereka masuk ke jurang karena truk itu mengambil jalan mereka dan membuat mereka membanting stir dan masuk ke jurang." tutur Pak Polisi.
Anggun tidak bisa menahan emosinya. Dia pergi menemui Niko yang sudah berada didalam Sel. Niko terlihat sedang duduk dipinggiran sel sehingga dengan mudah, Anggun menarik kerah bajunya dan berteriak padanya. "Dasar pembunuuuuhhh!!!" Teriak Anggun sambil terus menarik kerah baju Niko dan membuatnya tercekik.
"Anggun lepaskan." Viana mencoba melepaskan tangan Anggun atau Niko akan kenapa-kenapa karena Anggun sedang emosi.
"Tidak, biarkan aku membunuhnya!!!" Anggun semakin terlihat murka. Dan akhirnya tangannya melepas kerah baju Niko yang kini sedang terbatuk-batuk.
"Anggun bersabarlah." ucap Viana yang berusaha menenangkan Anggun yang kini sedang menangis dipelukannya.
"Dia pembunuh Vi. Dia membunuh suami dan mertuaku. Dia membuatku menderita selama ini!!!" Dada Anggun terasa sesak saat dia mengingat kenangan manis bersama Kevin dan setelah Kevin meninggal, di harus melalui kehidupan pahitnya sebagai seoeang janda yang bahkan anaknya saja belum lahir saat itu.
Niko hanya terdiam. Tampak raut wajahnya yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun dan ini membuat Viana sangat geram.
"Kau, tunggu saja. Kami akan berupaya sekuat tenaga agar kau dan istrimu di penjara seumur hidup atau bahkan hukuman mati." ancam Viana dengan sorot mata tajam. Wajah Niko seketika berubah. Wajahnya terlihat tegang setelah mendengar ancaman dari Viana. Bukan hanya ancamannya saja. Tapi siapa yang memberi ancaman. Apa pun bisa dia lakukan karena dia menantu Armadja.
__ADS_1