Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2

Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2
Menemui Dio


__ADS_3

3 hari kemudian, Sean melakukan perjalanan bisnis ke Amerika selama seminggu. Dan tentu saja Viana tidak bisa ikut karena oma Laura yang masih belum menerimanya. Lagi pula Viana sedang PMS sehingga berjauhan adalah hal yang bagus untuknya. Sean membawa Kevin dalam perjalanan bisnis itu.


Viana sedang berkutat dengan laptopnya. Tatapannya tertuju pada layar laptop itu namun pikirannya masih kemana-mana. Dia masih memikirkan Dio.


Apa aku menemuinya saja ya. Lagipula Sean tidak disini. Aku harus mengelabui dua Daniel dan Harry dulu. Viana berdiri dan bergegas keluar. Saat melewati pintu keluar ruangannya, kedua pengawalnya mengikutinya.


"Nona, anda mau kemana?" tanya Daniel yang berjalan dibelakang Viana.


Viana terlihat mengetik sesuatu di ponselnya.


"Aku ingin ke salon. Aku ingin perawatan." ucap Viana.


"Baik Nona."


Sesampainya di parkiran, Daniel dan Harry melihat 2 ban mobil mereka kempes.


"Aduh kenapa mesti kempes sih." Viana memegangi kepalanya.


"Nona, saya akan memperbaikinya. Tunggulah didalam, Harry akan menjaga Anda." ucap Daniel.


"Akan sangat lama jika kamu mengerjakannya sendiri. Daniel bantulah Harry agar mobil ini cepat selesai. Aku akan menunggu didalam." Viana melangkah kembali ke dalam kantor.


Daniel dan Harry segera memperbaiki ban mobil itu. Saat itulah Viana mulai beraksi. Dia pergi ke belakang kantor dan keluar dari gerbang belakang kantor itu. Satpam yang berjaga menegurnya.


"Nona, Anda mau kemana?" tanya Satpam itu.


"Saya mau beli sesuatu disana." ucap Viana.


"Biar Saya saja yang membelinya Nona." ucap Satpam itu.


"Baiklah belikan pembalut, obat penghilang kram saat PMS, dan celana dalam wanita." tutur Viana.


Satpam itu tampak ragu. Bagaimana pun juga dia seorang laki-laki yang belum menikah. Umurnya baru 24 tahun. Tidak mungkin dia membeli barang-barang itu.


"Emm Nona, saya antar saja ya." sah

__ADS_1


"Baiklah, nanti kamu bawa semua barang belanjaan Saya ya. Kebetulan Saya mau beli yang banyak sekali. Setelah itu juga Saya ingin ngopi disana. Temani saya ya, mungkin Saya akan lama. Kamu bisa meninggalkan gerbang ini agar sembarang orang bisa masuk " ucap Viana sambil tersenyum.


"Nona, berhati-hatilah saat menyebrang jalan." Satpam itu memilih mengalah saja.


Viana tersenyum dan melenggang keluar dengan santai. Dia berhasil mengelabui satpam itu.


Viana pergi ke dalam mini market itu karena si Satpam masih terus memperhatikannya. Saat Satpam itu lengah, Viana langsung pergi keluar dan menyetop taxi. Sebelumnya dia membeli kacamata hitam dan masker agar supir taxi todak mengenalinya.


Viana menelpon Dio. Sebelumnya dia sudah mengambil nomor Dio dari ponsel Sean. Viana juga diam-diam membeli hp baru untuk menghubungi Dio karena Hp lamanya masih di sadap oleh Sean.


Disisi lain.


Dering telepon terdengar, Dio melihat nomor si pemanggil tidak ada di daftar kontaknya. Dia mematikan panggilan itu.


Viana merasa kesal karena Dio menolak panggilannya. Dia mengiriminya pesan singkat. 'Aku Viana', begitulah isi pesan itu.


Tak lama kemudian, Hp baru Viana bergetar dan si pemanggil adalah Dio. Viana segera mengangkatnya.


"Halo." jawab Viana.


"Aku ingin bertemu." jawab Viana singkat.


"Menarik, seorang istri pengusaha terkenal dan kaya raya menemui seorang anak Mafia."


"Aku ingin bertemu." ucap Viana lagi.


"Jl.xx No.xx." jawab Dio lalu mematikan ponselnya.


Viana meminta supir taxi itu untuk pergi ke alamat yang di berikan Dio.


Tak lama kemudian, taxi sampai di sebuah gang kecil. Supir memberitahukan bahwa alamat itu hanya bisa di jangkau dengan berjalan kaki karena gang terlalu sempit untuk dilalui mobil.


Viana membayar ongkos lalu turun. Dia menyusuri gang sempit itu. Setelah beberapa meter berjalan, sampailah dia pada sebuah rumah kecil. Tempat itu lebih seperti markas karena lokasi dan penampilan luarnya yang terkesan seram.


Viana menelpon Dio.

__ADS_1


"Masuklah." Dio membuka pintu. Sepertinya dia sudah menunggu Viana sejak tadi sehingga dia langsung tau ketika Viana sudah sampai.


Viana melangkahkan kakinya perlahan. Didalam rumah itu terdapat beberapa orang bertubuh kekar dan berwajah seram. Mereka terlihat sedang duduk dan memakai obat-obatan terlarang.


"Wah ada mangsa baru nih bos. Boleh kita sikat nggak bos?" seorang pria berdiri dari duduknya dan memperhatikan Viana dari atas ke bawah dengan tatapan penuh nafsu.


"Kalau kau ingin tetap hidup, jangan lakukan itu. Dia bisa mematahkan tanganmu saat ini juga." ucap Dio.


Pria tadi langsung duduk dengan raut wajah kesal. Dio mengajak Viana ke ruang santainya. Disana terdapat sofa untuk mereka duduk.


Setelah duduk dengan posisi berhadapan, Viana terus menatap wajah Dio dengan seksama.


"Apa maumu? Apa kau kecanduan dengan obat-obatan yang aku berikan semalam?" Dio tersenyum sinis.


"Aku pasti akan memberikannya padamu secara gratis. Untuk Sean juga." ucap Dio yang masih tersenyum sinis.


"Aku tidak tertarik dengan itu. Katakan berapa umurmu?" tanya Viana menatap serius.


"Hahaha lucu sekali. Ini kedua kalinya kau menanyakan umur kepadaku." Dio tertawa lebar.


"Aku hanya ingin tau." Viana kembali menatap serius.


"Kalau aku bilang umurku 18 tahun, bagaimana?" Dio menajamkan tatapannya.


"Itu tidak mungkin. Wajahmu terlalu tua untuk berumur 18 tahun." bantah Viana.


"Baiklah, memangnya kau ingin aku berumur berapa? 50 tahun?" Dio terus mempermainkan Viana.


"Apa kamu terlalu malu hanya untuk mengatakan umurmu. Atau jangan-jangan kamu memang sudah tua dan melakukan operasi plastik agar tampak lebih muda?" sindir Viana.


Dio mulai jengah. Rasanya kalimat Viana berhasil membuatnya tersinggung.


"Jika kau kesini hanya untuk menanyakan umur, pergilah."


Dio melangkahkan kakinya meninggalkan Viana namun ucapan Viana membuatnya berhenti.

__ADS_1


"Kak Riko." ucap Viana.


__ADS_2