
Setelah selesai Melati merapihkan nampan yang tadi dibawa oleh Kakaknya. Ia beranjak dari kursi pergi menuju dapur. Dengan cekatan ia mencuci piring-piring yang menumpuk.
Sebenarnya Mina ingin langsung mencuci piring-piring tersebut, namun mendengar Husein yang menangis ia menundanya. Melihat Melati yang tengah mencuci di wastafel dapurnya, ia menjadi tidak enak. Ia menghampiri sang putri dari suaminya itu.
"Nak bukankah kau tadi terlihat sangat lelah, biar Ibu saja ya yang melanjutkan mencuci piringnya." Ucapnya lembut.
Sontak Melati pun menoleh dan menatap datar wanita di depannya. Selama Mina berada di rumah ini, Melati memang jarang menegur bahkan melihat wanita 27 tahun itu. Meski saat ini ia telah berdamai dengan Ayahnya, namun juga bukan berarti ia sudah menerima kehadiran Mina. Dibalik kejadian yang menimpanya, pasti ada alasan dari sang Ayah.
Ia hanya mengangguk dan pergi meninggalkannya tanpa senyum dan ekspresi datar.
Meski senyumnya tak dibalas, Mina tetap berusaha menjadi Ibu yang baik untuk Melati. Lagipula bukankah semuanya butuh proses, pelan-pelan saja. Yang terpenting adalah usaha. Untuk hasil pasti tak akan mengkhianati nantinya.
...***...
Pagi hari menyapa Melati datang duduk ke ruang makan bergabung bersama keluarga. Penampilannya yang tidak seperti biasanya saat ini membuat semua orang yang melihatnya takjub. Bagaimana tidak, saat ini ia telah mengenakan pakaian seragam yang panjang dan rambutnya juga dibalut dengan hijab warna senada dengan seragam biru putih.
"Masya Allah", itulah kata-kata yang dilontarkan keluarga Melati padanya. Kecantikan alami benar-benar terpancar berseri-seri dari wajahnya.
Mereka mengambangkan senyuman pada Melati terutama Ikhsan Ayahnya. Ia sangat bangga dan bersyukur atas penampilan Melati. Sudah dari dahulu ia mengingatkan putrinya namun Melati selalu saja ada alasan untuk menolak.
"Nak, kau benar-benar sangat cantik hari ini", pujinya melihat Melati yang menarik kursinya dan duduk di samping sang putra sulung.
"Emm, jadi dari kemarin Melati tidak cantik Yah." Ucap Melati pura-pura cemberut.
__ADS_1
"Tentu tidak Nak, maksud Ayah kecantikan kamu menjadi berkali-kali lipat." Pungkasnya sembari mengelus kepala yang berbalut hijab itu.
"Pasti dong Yah,"
Sedangkan Alif ia sebenarnya tampak takjub dan heran. Takjub akan kecantikan Melati, namun heran dengan penampilannya. Sejak kapan Melati memiliki keinginan untuk menutup aurat. Bahkan dari dahulu, almarhumah Bunda yang hampir tiap detik, tiap menit mengingatkannya untuk hal itu ketika melihat Melati keluar tanpa hijab saja masih tak digubris Melati.
Ia menempelkan tangannya ke dahi Melati. Lalu, menempelkannya kembali ke dahinya sendiri.
"Sama," gumamnya yang didengar oleh Melati.
"Jadi dengan berhijab seperti Kakak kira aku ini sakit?, Iya?!" Melati mengerucutkan bibirnya kesal. Sedangkan Ikhsan terkekeh melihat kakak adik itu.
"Yah liat, Kak Alif.." Adu Melati pada Ayahnya. Seketika wajah Ikhsan berubah menjadi sangat bahagia. Bahkan ia ingin meneteskan air mata. Setelah sekian lama, sang putri kesayangannya kembali bersikap manja padanya. Ia benar-benar merindukan Melati yang seperti saat ini.
"Dih, aduan. Aya...h" Alif semakin meledek adiknya itu.
Seketika Melati terdiam, ia juga mengingat teman-temannya. Pasalnya sebelum dahulu, ia juga bersama temannya sering membully wanita berhijab karena sikap sok polosnya. Meski hanya bentuk cacian dan hinaan tanpa melukai fisiknya, namun sudah tentu sakit hatinya lebih parah dan sulit untuk menyembuhkannya. Bahkan ketika sembuh, bekasnya masih ada. Dan akan terasa sakit ketika mengingatnya kembali.
Belum satu jam ia mengenakan hijabnya, tiba-tiba saja hatinya merasa gundah dan gelisah. Ia tidak takut untuk dibully atau dihina. Karena dari dahulu memang ia sangat mudah untuk melawan yang melukainya. Namun yang ia takutkan adalah kehilangan teman-teman yang selama ini ada disisinya. Meski mereka memang sering membully kaum yang lemah, namun sikap mereka sudah menyatu. Begitupun dengan fashion.
Entahlah dengan penampilannya saat ini, semua akan meninggalkannya atau tidak. Alif yang memang berada di sampingnya tentu melihat raut wajah keraguan di dalam diri Melati.
Ia segera menepuk bahu Melati, dan memberinya semangat. Alif sendiri tentu sangat tahu siapa saja dan seperti apa teman Melati. Sebab sejak Bundanya meninggalkannya di dunia ini, tak jarang Melati membawa teman-temannya bahkan menginap di rumah itu.
__ADS_1
"Jika kita meninggalkan sesuatu karena Allah, yakinlah bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik." Itulah pesan yang ingin disampaikan sedari tadi oleh Alif untuk Melati. Ikhsan dan Aisyah yang melihatnya pun tersenyum bangga pada kedua Kakak Adik itu.
Mendengar penuturan Kakaknya, Melati merasa menjadi lebih baik. Dan gemuruh di dadanya kian runtuh. Dan kedamaian datang menghampiri hatinya. Ia tersenyum penuh haru pada Kakaknya. Segera saja Melati memeluk Kakaknya.
Ikhsan dan Mina melihat betapa besar rasa sayang diantara keduanya benar-benar merasa terharu. Setelah sekian lama, kehangatan di dalam rumah ini kian mendekat dan menyelimuti hati para penghuninya. Mereka saling menggenggam erat tangan masing-masing. Dan saling pandang dengan senyum sumringah.
"Ehm, sudah lumayan siang ini dek. Ayo sarapan kita harus berangkat loh ke sekolah. Inget kita sudah sama-sama kelas 3 jadi harus belajar lebih giat lagi." Ucap Alif melepas pelukan adiknya.
Melati tersenyum dan mengangguk. Lalu mereka pun sarapan bersama tanpa berbicara. Dan setelahnya Alif dan Melati berangkat untuk sekolah dengan motor milik Alif. Dan sudah tentu Ikhsan akan diantar oleh istrinya sampai depan rumahnya.
...***...
Melati melangkahkan kakinya dengan senyum secerah matahari pada pagi hari itu. Sesampainya di depan gerbang dengan sedikit gugup ia berjalan.
Para siswa-siswi yang melihatnya benar-benar memandangnya tak berkedip. Tak dapat dipungkiri bahwa kecantikan Melati bertambah berkali-kali lipat seperti yang Ayahnya katakan.
Banyak anak laki-laki yang terpana dengan Melati. Hijab yang melambai-lambai karena hembusan angin, bagaikan adegan slow motion.
Banyak juga para siswi yang melihatnya ikut senang karena melihat penampilan Melati terutama yang memang sama-sama berhijab. Ada juga yang memandangnya sinis. Mereka juga pasti ingat dengan tingkah Melati and the gang-nya, yang suka membully dan menghina wanita berhijab dan kaum yang menurutnya lemah dan tak berdaya melawan mereka. Lalu ada apa dengannya hari ini.
Melati memang populer di sekolahnya karena kepintarannya. Juga termasuk siswa yang duduk di kelas unggulan. Wajahnya yang juga sangat cantik ditambah kepopulerannya dengan siswa kalangan berada lainnya. Seperti Elisa, Rosé dan Aaz.
Jika biasanya ia melangkah dengan angkuhnya, namun tidak dengan hari ini. Seakan telah mengganti topeng yang dengan wajah ramah dan merendah. Macam-macam tatapan yang Melati dapatkan. Ia tak menggubris pandangan sinis dari beberapa siswi. Hanya ia membalas setiap senyuman yang orang lain tunjukkan padanya.
__ADS_1
Ketika ia akan melangkah masuk menuju kelasnya, ada perasaan ragu dalam hatinya. Sebab dari jendela ia melihat teman-temannya yang tengah bercengkrama seperti biasanya. Akankah mereka akan berubah padanya, atau mendukungnya. Entahlah ia sama sekali tak tahu.
Dengan segenap keberaniannya Melati masuk dan mengucapkan salam.