Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 79


__ADS_3

Fahmi terbelalak mendapati Tuan Harry Yovindra adalah pemilik dari Perusahaan yang sedang ia pijak saat ini. Entah kenapa ia merasa sangat gugup ketika melihat Tuan Yovindra tengah memeriksa CV lamaran kerjanya.


"Apakah kau yang bernama Fahmi Al-Farizi?" Tanya Tuan Harry pura-pura tidak tahu.


"Iya Tuan." Jawab Fahmi mengangguk.


"Kau yang akan menjadi pengganti sekretarisku yang lama?" Lagi-lagi Tuan Yovindra bertanya seolah tak tahu.


"Iya Tuan,"


"Baiklah ku harap kau sudah tahu bukan apa saja tugas-tugasmu?"


"Tentu Tuan," Fahmi sendiri dahulunya adalah sekretaris Ayahnya sendiri di Perusahaan Ayahnya sebelum ia membangun usahanya sendiri.


"Baiklah, kau diterima hari ini juga. Dan itu meja mu." Menujuk salah satu ruangan yang hanya dibatasi kaca transparan dengan ruangannya sendiri.


"Baik Tuan. Saya mohon undur diri." Jawab Fahmi sopan.


Tuan Yovindra hanya mengangguk dan membiarkan Fahmi pergi. Melihat punggung pria itu, ia tersenyum sinis.


Sebenarnya apa istimewanya pria itu hingga kau begitu tergila-gila padanya sayang. Tapi apapun akan Papa lakukan demi kebahagiaanmu. Gumam batinnya menggeleng pelan mengingat tingkah putrinya.


Ia sendiri yang menyuruh asistennya untuk merekomendasikan perusahannya, bahkan ia akan memaksa jika Fahmi sendiri tidak mau.


Fahmi saat ini begitu senang mendapatkan pekerjaan ini, setidaknya ia mendapatkan pendapatan untuk menafkahi keluarganya. Dengan semangat ia mengerjakan tugasnya.


_______________


Author tidak begitu paham dengan dunia bisnis seperti itu. Maaf jika ada yang salah atau tidak sesuai. Kedepannya Author akan coba mempelajari tentang ini lagi.


***


Melati langsung menghentikan aktivitasnya tatkala mendengar deru mobil di depan rumahnya. Hatinya tersenyum hangat mendapati wajah suaminya yang begitu ceria dari sebelum-sebelumnya.


"Assalamu'alaikum sayang." Ucapnya memasuki rumah tersebut.


"Wa'alaikumsalam Mas," Jawab Melati mencium tangan Mas Fahmi.


"Ayo aku ada kabar bahagia saat ini." Ujar Fahmi merangkul bahu istrinya dan mengajaknya menuju kamar mereka.


Melati mengikuti saja apa mau sang suami.


"Aku sudah diterima di Perusahaan itu." Ungkap Fahmi dengan bahagia.


"Apa? Alhamdulillah, semoga semuanya lancar ya Mas dan sukses." Sahut Melati turut bahagia.

__ADS_1


"Iya sayang, ini semua juga karena dukungan dan doa darimu." Ujar Fahmi bangga pada istrinya. Bahkan beberapa ia mendaratkan kecupan di dahi Melati.


Sesaat pandangan keduanya bertemu, dan entah dorongan darimana keduanya berusaha mengikis jarak di antara mereka. Hanya tinggal beberapa centi saja, tangisan dari Aisyah membuyarkan keduanya.


"Eh Sayang, sudah bangun. Cup cup." Melati segera mendorong dada bidang suaminya dan menghampiri putrinya.


Sedangkan Fahmi mendengus kesal dan sedikit gemas juga dengan putrinya. "Apa kau cemburu sayang hm?"


Aisyah hanya tergelak menggemaskan dan menendang-nendang tubuh Ayahnya.


"Oh ya Mel, dimana Farah?" Tanya Fahmi.


"Dia ada di kamarnya Mas. Sedang tidur dianya, aku melihatnya kelelahan saat pulang tadi."


"Ouh baiklah. Bisakah kau siapkan air hangat untukku. Untuk Farah biar aku yang menjaganya sebentar." Pinta Fahmi memelas.


"Iya Mas tentu saja." Jawab Melati dan melenggang pergi menuju kamar mandi.


***


"Tuan ini adalah beberapa berkas yang harus anda tanda tangani." Ujar Fahmi menyodorkan beberapa Map pada atasannya itu.


Tuan Yovindra memperhatikan beberapa berkas yang disodorkan kepadanya. Beberapa kali ia mengangguk, di sela-sela itu ia melirik sang sekretaris.


"Hari ini anda ada pertemuan dengan Tuan Daniel selaku CEO dari Perusahaan X untuk membahas kerjasama kita lebih lanjut."


"Jam berapa?"


"Pada jam makan siang Tuan."


"Baiklah kau atur semuanya, aku harus pergi sebentar. Telepon saja aku jika sampai nanti aku belum datang." Titahnya sembari merapihkan jas yang melekat di tubuhnya.


"Baik Tuan." Jawab Fahmi patuh dan melanjutkan kegiatannya.


Dengan langkah tegas dan arogan Tuan Yovindra melangkah keluar dari Perusahaan tersebut. Di mata karyawannya memang ia adalah orang yang sangat angkuh nan tegas namun masih menghargai kinerja mereka. Itulah yang membuat mereka bertahan di tempat itu dan juga gaji yang lumayan tentunya.


"Bagaimana Papa? Apa dia sudah mulai bekerja." Tanya putri tercintanya.


"Tentu sayang, lelaki mana yang menolak pekerja dari Papa-mu ini." Sahutnya bangga.


"Papa memang ter-the best." Puji putrinya dengan memeluknya.


Sedangkan sang asisten dari Tuan Yovindra sendiri yang sedang fokus menyetir menggeleng pelan melihat Ayah dan anak itu. Ia memang sudah mengetahui semua rencana dari keduanya.


Maafkan aku Fahmi, bukan maksudku membiarkan mereka. Namun karena aku yang tidak ingin kehilangan pekerjaanku, Ibuku membutuhkan biaya perawatan yang tidak sepele. Ku harap kau mampu melewati semuanya. Aku tahu kau bukan orang yang setia dan tak mudah tergoda. Tukasnya dalam hati.

__ADS_1


***


Tuan Harry Yovindra kembali ke Perusahaan dengan putrinya. Semua yang melewati keduanya segera menunduk hormat. Begitu juga Fahmi, ia juga menyambut kedatangan mereka.


Matanya terbelalak melihat seorang gadis yang berada di samping atasannya itu, siapakah wanita itu hingga begitu dekat dengan atasannya. Dan Angga selaku temannya dan asisten Tuan Yovindra pun terlihat begitu menghormati keduanya.


"Fahmi kapan kita akan berangkat untuk bertemu dengan Tuan Daniel?" Tanya Harry.


"Masih dua jam lagi Tuan," jawab Fahmi sopan.


"Kau sudah menyiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan bukan?"


"Sudah Tuan."


"Baiklah, sebelum itu temani putriku dahulu. Aku maupun Angga tak dapat menemaninya." Titah Tuan Yovindra yang membuat Fahmi terbatuk.


Jadi kau adalah putrinya? Seorang putri Sultan? Lalu mengapa kau dahulu bekerja di Perusahaan ku yang tidak ada apa-apanya? Apa niatmu sebenarnya?. Gumam Fahmi geram dalam hatinya, dan menatap kesal wajah sok polos wanita di samping Tuannya itu.


"T-tapi Tuan, masih ada pekerjaan lain yang harus saya kerjakan."


"Kau bisa menyerahkannya pada Angga. Sudah aku tidak ingin dibantah jadi cepat lakukan saja perintahku." Ujarnya tegas.


"Baik Tuan." Pasrah Fahmi. Lalu merapihkan berkas-berkas di mejanya.


Ia melirik wanita yang sebenarnya sangat ia benci, "Mari Nona." Ajaknya terpaksa.


"Ayo." Wanita itu tersenyum puas dan mendahului pria 34 tahun itu.


Fahmi membukakan pintu mobil untuk Nona mudanya itu. Namun dengan cepat wanita itu menahan Fahmi.


"Aku tidak ingin duduk di belakang. Di depan." Sergahnya. Fahmi hanya dapat menahan semua amarahnya dalam hati.


"Baiklah, silahkan Nona."


Kini mereka berdua berada dalam satu mobil yang sama, Fahmi bersikap sangat sopan dan segan meski sangat dongkol.


"Kau ingin pergi kemana Nona?" Tanya Fahmi tanpa mengalihkan pandangannya.


"Sudahlah Fahmi, tidak ada Papa-ku sekarang. Tak perlu sungkan seperti itu."


Fahmi mencengkeram kuat kemudi mobil tersebut. "Katakan saja anda ingin pergi ke mana Nona!"


Wajah ayu di sampingnya cemberut. "Baiklah antarkan aku ke Mal yang ada di X." Tidak masalah, kita memiliki banyak waktu sayang.


Fahmi tak menanggapi, hanya fokus pada tempat tujuan.

__ADS_1


__ADS_2