
Fahmi terpaku melihat penampilan Melati dan putrinya. Meski ia menggunakan gamis serta hijab syar'i, kecantikan Melati justru semakin terlihat. Yah, saat ini mereka tengah bersiap-siap untuk pergi menuju rumah Ayah Melati untuk acara aqiqah Aidan.
Melati memilih mengenakan gamis berwarna krem serta hijab senada. Perutnya yang sudah membuncit membuat ia lebih nyaman mengenakan gamis. Toh, ia juga sering menggunakan gamis.
Tak lupa ia juga menyiapkan baju yang sama untuk Farah. Mereka benar-benar terlihat seperti Ibu dan anak kandung. Sasa tak dapat menghadiri acara tersebut karena memang ia lebih memilih untuk bekerja. Memang untuk urusan karir, Sasa benar-benar tak dapat diganggu gugat.
"Ayah, apakah aku terlihat cantik?" Tanya Farah dengan memutarkan tubuhnya.
"Tentu saja sayang," ucap gemas Fahmi dengan mencium anaknya berkali-kali.
"Ayah hentikan, geli..!" Ujar Farah menahan tawanya.
"Ya sudah ayo Mas kita berangkat sekarang." Tutur Melati pada keduanya.
"Iya ayo."
Mereka semua bergegas meninggalkan rumah tersebut.
***
Alangkah terkejutnya Melati melihat kehadiran Azein di rumah Ayahnya. Memang Ikhsan sengaja mengundang keluarga Azein karena ia sendiri dengan Ayahnya Azein adalah sahabat. Jadi wajar saja, ia membagikan kebahagiaan yang tengah ia rasakan dengan sahabatnya.
Hati Azein berdenyut sakit melihat tangan wanita yang dicintainya bertautan dengan pria lain. Apalagi ia juga mendapati perut Melati yang terlihat membuncit.
Ia lebih memilih untuk memalingkan wajahnya, sedangkan Melati hanya memandang sendu wajah Azein. Jujur saja, perasaannya pada Azein masihlah sama.
Meski sudah sekian lama mereka tak berjumpa, tak dapat disangkal bahwa hati keduanya masih tersimpan nama satu sama lain.
Manik Melati mendapati kehadiran Aaz sahabatnya di samping sang Kakak. Dengan segera ia menghampiri Aaz dan memeluknya. Ia melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Az, bagaimana kabarmu?,"
"Alhamdulillah baik Mel. Kau bagaimana?"
"Aku juga baik."
Melihat senyum di wajah Melati, Azein dapat menyimpulkan bahwa memang benar Melati hidup baik-baik saja setelah menikah. Sedangkan ia sendiri hanya bisa termenung dan tak tahu ingin melakukan apa di setiap harinya. Ia semakin merasa sesak saja.
Ekspresi dari wajah Azein dapat terlihat dengan jelas oleh Fahmi. Ia juga sempat melirik pria tersebut dengan istrinya, memang saat mata mereka bertemu bisa ia lihat tatapan penuh rindu diantara keduanya.
Fahmi memang tak merasa marah atau benci dengan pria dihadapannya, hanya saja ia merasa sakit tatkala melihat tatapan dari istrinya. Namun, ia tak ingin mempermasalahkan hal ini sekarang.
__ADS_1
"Melati akhirnya kau datang juga." Ucap Alif membuyarkan lamunan Melati.
"Eh iya Kak, maaf yah aku terlambat." Ujar Melati tak enak.
"Tidak apa-apa Melati yang terpenting kau hadir di sini. Ayo langsung masuk saja."
"Aku duluan ya Az," pamit Melati pada sahabatnya.
"Iya Mel,"
Melati berserta suami dan anaknya menghampiri Aidan yang tengah dipotong rambutnya. Baby Aidan begitu tampan dan menggemaskan.
"Kak Melati..!" Panggil Husein dari kejauhan. Ia terlihat sangat antusias menghampiri Melati.
Melati merentangkan tangannya, nyatanya beberapa bulan tak bertemu dengan adiknya membuatnya rindu.
"Bagaimana kabarmu Boy?" Tanya Melati.
"Tentu saja sangat baik. Kakak tahu, setiap malam aku selalu menemani Aidan. Aku tidak mengingkari janjiku dulu Kak."
"Baguslah, Kakak ikut senang mendengarnya."
"Kak itu siapa?" Husein menunjuk ke arah Farah dengan sorotan matanya.
"Ouh namanya Farah. Ayo Kakak kenalkan dia denganmu." Melati menggandeng tangan Husein menuju Farah. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan Farah.
"Sayang kenalkan ini Husein, adik Bunda. Dan Husein kenalkan ini Farah putri tercantik di sini." Ujar Melati memperkenalkan keduanya.
Husein tersenyum pada Farah dan mengulurkan tangannya. Farah mendongakkan wajahnya menatap sang Ayah, tatapan matanya seolah meminta persetujuan darinya.
Fahmi tersenyum dan mengangguk, Farah memasang senyum manisnya dan menerima uluran tangan dari Husein.
"Nak Fahmi.." Panggil Tuan Ikhsan pada suami dari putrinya.
"Iya Yah," Fahmi tersenyum dan langsung menghampiri Ayah mertuanya. Tak lupa ia mencium punggung tangan Tuan Ikhsan.
Ikhsan tersenyum melihat tingkah Fahmi. Meski awalnya ia sangat membenci pria dihadapannya ini, namun kini dapat ia lihat jiwa tanggung jawab dari menantunya ini.
Lagipula, ia juga tak pernah mendengar kabar buruk dari orang suruhannya yang diutus untuk memantau putrinya dan perlakuan dari suaminya. Bahkan ia dengan sengaja mengirimkan art di rumah menantunya itu.
"Assalamu'alaikum.." Ujar Tuan Faris memasuki kekediaman besannya. Tak lupa istri disampingnya disusul anaknya Humaira di belakang mereka.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam..," Ikhsan langsung tersenyum dan menyambut ramah kedatangan besannya itu.
Melati juga langsung tersenyum melihat kehadiran sahabat yang sangat ia rindukan itu. Dengan cepat ia menghampiri dan memeluk Maira.
"Bagaimana kabarmu Mai?" Tanya nya sembari melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah baik Mel, kau sendiri bagaimana?"
"Syukurlah, aku juga baik Mai."
"Yah, aku pergi sebentar ya dengan sahabatku." Pamit Melati pada Ayahnya.
"Iya sayang," jawab Ikhsan tersenyum.
Fahmi terus memperhatikan istrinya, entah kenapa perasaan cemas menghampirinya. Ia takut istrinya akan bertemu dengan pria yang tadi dilihatnya. Hingga suara dari mertuanya membuat perhatiannya teralihkan.
"Oh ya Mai tadi Aaz juga ada loh. Kita cari dulu dia sebentar yah." Ujar Melati pada Maira.
"Iya..., eh itu dia Mel." Maira menunjuk ke arah sahabatnya yang tengah berbicara dengan seorang pria. Pria yang membuat degup jantungnya berpacu dengan kencang secara tiba-tiba.
"Eh iya, Aaz." Melati melambaikan tangannya, dan Aaz menyadari kehadirannya.
Aaz melemparkan senyum manisnya dan menghampiri bumil itu.
"Eh kau juga di sini ternyata Mai."
"Iya Az," Maira tersenyum.
Mereka memutuskan untuk duduk mencari tempat yang tak terlalu ramai. Tanpa Melati sadari, Azein terus saja memperhatikannya.
"Oh ya Mel, sudah lama kau tidak ada kabar. Bagaimana dengan kehidupanmu di rumah suamimu?, Bagiamana perlakuan dari madumu?, Kuharap kau baik-baik saja." Ucap Aaz cemas,
Melati tersenyum, "Aku baik-baik saja Mel,"
"Mel, kita persahabatan kita sudah terjalin begitu lama. Bahkan kita sudah saling menganggap saudara satu sama lain." Tutur Maira menimpali.
"Aku benar baik-baik saja Mai," ujar Melati meyakinkan. Memang baik-baik saja bukan. Madunya hanya mendiamkannya saja dan tak pernah berlaku kasar atau menghinanya. Ia akan marah jika Melati dekat dengan suaminya, Melati sendiri memang memakluminya.
Putri sambungnya juga sangat menyayanginya, dan untuk Mas Fahmi, tak jarang ia mendapatkan perhatian dari suaminya. Hanya saja, ia sendiri yang kadang menolaknya karena tak enak hati dengan madunya.
"Ya sudah kalau begitu. Aku juga senang jika kau baik-baik saja." Ucap Aaz tulus.
__ADS_1