Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 84


__ADS_3

Melati tersenyum dan menggeleng samar. "Aku sama sekali tak bertemu siapapun Mas. Tapi yang ku ingin tanyakan adalah dirimu sendiri. Sama halnya kau yang menyukai jika aku memberitahumu tanpa diminta. Namun juga tak masalah jika kau tak ingin memberitahuku. Karena aku sangat mencintai dan mempercayaimu Mas."


Dahi Fahmi mengerut ia berpikir apa yang sedang Melati maksud itu. Lalu pikirannya melayang ke kejadian akhir-akhir ini di kantor. Dan mengarah juga ke Luna yang selalu berusaha untuk mendekatinya.


Dan juga tadi siang, mungkinkah ia melihat dirinya yang tengah berbincang dengan Luna? Ia memang sempat melihat mobil yang berada jauh dari tempatnya.


"Mel katakan padaku, apa kau pernah melihatku dengan seseorang?" Tanya Fahmi hati-hati.


Melati menarik nafasnya, "Aku tidak ingin berpikiran buruk tentangmu Mas. Apa yang aku lihat, itu atas unsur ketidaksengajaan."


"Bagaimana perasaanmu?"


"Apa aku bisa dibilang posesif jika mengatakan cemburu?"


Fahmi tersenyum, "Aku tidak tahu, yang pasti aku senang jika kau cemburu seperti ini."


"Baiklah Mas, aku melihatmu dengan seorang wanita tadi siang di taman saat sedang menjemput Farah. Kau mau memberi tahu aku?"


"Dia adalah anak dari atasanku. Namanya Luna, Ayahnya yang sering memintaku untuk menemaninya membuatku tak dapat menolak."


"Kenapa?"


"Baiklah aku tidak ingin berbohong. Luna memang mencintaiku, bahkan sebelum aku bertemu denganmu Luna sempat menjadi sekretaris di perusahaan ku dulu.


Tapi aku tidak pernah mencintainya, karena kau telah menempati seluruh ruang di hatiku." Terang Fahmi menggenggam tangan istrinya.


Hati Melati mencelos seketika, wanita mana yang tidak marah mengetahui ada wanita lain yang mencintai suaminya. Terlebih karena waktu suaminya dan wanita itu lebih lama darinya.


"Apa dia berusaha mendekatimu Mas?" Tanya nya dengan mata yang mengembun.


Fahmi tersenyum, "Hati memang tidak memandang siapa yang akan dihampiri. Dan itu adalah hak semua orang, tapi pria yang baik akan menjaga apa yang ia punya."


"Jawablah pertanyaanku Mas, apa dia berusaha menggapai cintamu."


"Aku akan tetap menjaga perasaanku padamu sayang. Tidak peduli seberapa keras orang lain berusaha masuk pada kisah yang kita jalani ini. Yang pasti, dalam kisah ini kitalah pemeran utama dari awal hingga akhir.


Meski kau telah membuat kisah dengan pria lain sebelumnya dan mungkin lebih indah dari kisah di antara. Tak dapat ditentang bahwa akulah takdirmu." Ujar Fahmi kembali merengkuh tubuh Melati.


"Berjanjilah bahwa kau akan selalu ada untukku sayang."

__ADS_1


"Aku tidak dapat berjanji sayang, namun aku selalu meminta pada Tuhan bahwa dalam rintangan apapun hati kita tetap kuat untuk menjaga satu sama lain selamanya.


Karena yang namanya syahwat tidak ada yang tahu sayang, namun dengan kita berdoa pada-Nya yang Maha Membolak-balikkan hati. Yakinlah bahwa kita akan selamanya seperti ini."


"Iya Mas, tapi bisakah kau jaga jarak dengannya. Jujur Mas, aku tak suka saat kau menyentuh bahunya tadi." Kesal Melati memajukan bibirnya beberapa centi.


"Ouh begitu ya, baiklah ratuku aku akan menjaga jarak dengannya. Kau tenang saja ya." Jawab Fahmi dengan jahil mencubik hidung mungil istrinya.


"Mas kau ini.." Gerutu Melati melepaskan tangan suaminya di hidupnya.


"Iya iya sayang, yakinlah bahwa aku hanya untukmu."


"Terimakasih Mas. Aku sangat mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu sayang." Mencium pucuk kepala sang istri. "Jadi bagiamana? Kita tetap berlibur akhir pekan bukan?"


"Iya Mas, aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu." Melati memandang suaminya. Dan saat itu juga, sentuhan hangat mendarat di bibirnya.


Ditemani semilir angin yang membelai keduanya. Mereka membuat malam ini begitu hangat. Pancaran sinar bulan pun menjadi saksi betapa besar rasa cinta di antara pasangan suami istri tersebut.


Saling memejamkan mata, dan begitu hanyut dalam suasana penuh kasih itu. Gumpalan hasrat keduanya begitu menggebu, dan menuntun untuk semakin meneguk indahnya kenikmatan tiada tara.


***


"Mas, bangun loh. Sudah siang ini." Ujarnya sembari mengguncang bahu suaminya.


Manik mata suaminya itu pun mulai nampak, dan terlihat sang empu berusaha melebarkan matanya. Tangannya terulur untuk menjahili wajah suaminya.


"Sayang berhentilah menjahili aku." Ucapnya menyingkirkan jari jemari yang dengan manja berkeliling di sekitar wajahnya.


"Ish, kau ini benar-benar pemalas Mas. Lihatlah putri-putrimu, mereka benar-benar sudah sangat semangat empat lima bahkan sedari pagi. Kau sendiri, kembali tidur setelah subuh." Ejek Melati.


"Hei jangan memojokkan aku seperti itu. Ingat, kaulah yang membuatku kelelahan."


Melati melebarkan matanya, "Apa?"


"Aku yang selalu menungging setiap malam. Sedangkan kau hanya diam menikmati tanpa mau mendominasi." Gerutunya.


Ucapan Fahmi sukses menciptakan semburat rona merah di pipi Melati, "Sudahlah Mas, kau itu harus berangkat kerja. Ingat ada istri dan dua anak yang harus kau nafkahi. Aku pun telah menyiapkan sarapan, jangan terlalu lama nanti dingin."

__ADS_1


"Jika dingin, boleh aku meminta sarapanku denganmu saja."


"Mas!!!." Geram Melati menimpuk wajah suaminya dengan bantal. Dan segera melarikan diri ke kamar sang anak.


Fahmi hanya cekikikan melihat tingkah istrinya yang bak remaja. Dan segera menyiapkan diri untuk pergi ke kantor.


***


"Aku tidak melihatmu di kantin Mas, jadi kupikir akan membawakan aku makan siang." Ujar Luna menghampiri Fahmi dengan menenteng sebuah makanan.


Fahmi mengangkat wajahnya, "Ouh terimakasih Nona, seharusnya kau tak perlu repot-repot seperti ini." Sahutnya tersenyum dan kembali fokus pada handphone-nya.


"Sama sekali tak merepotkan Mas, tapi bisakah kau letakkan dulu ponselmu? Aku telah membawakan ini untukmu." Pinta Luna.


"Iya." Jawab Fahmi tanpa menoleh.


"Mas, aku sedang berbicara. Sebenarnya kau tengah apa dengan ponselmu itu." Kesal Luna merasa diabaikan, ia pun menghampiri dan melongok ke arah ponsel Mas Fahmi.


"Aku sedang mencari tempat untuk liburan dengan istriku. Sudah lama aku tak menghabiskan waktu kami berdua." Ungkap Fahmi terus terang.


Terang saja, hal itu membuat Luna meradang. Namun ia berusaha menutupi semuanya dengan senyuman.


"Baiklah, tapi kau bisa melanjutkannya nanti kan Mas. Kau makanlah dulu."


Fahmi menghembuskan nafasnya kasar, "Baiklah kau ini benar-benar sangat cerewet sekali Nona."


"Jangan panggil aku Nona Mas, panggil saja Luna." Kekeh Luna.


Fahmi hanya tersenyum menanggapi dan mengambil makanan yang dibawa oleh Luna.


"Waw harum sekali. Dimana kau membelinya?" Tanya Fahmi memandang wanita di hadapannya.


"Membelinya? Jelas aku yang memasaknya. Apa kau meragukan aku?"


Salah satu alis Fahmi terangkat. "Bukankah kau tadi sempat pergi ke kantin. Dan membawakan aku ini karena aku tidak ada?"


Luna tersentak, "A-aku memang sebenarnya telah menyiapkan ini dari awal. Aku sengaja pergi ke kantin untuk memeriksamu saja. Jika kau sudah makan ya aku akan memberikannya kepada orang lain."


Fahmi manggut-manggut dan mulai menyantap makanannya.

__ADS_1


__ADS_2