
"Heh ini pasti semua terjadi karena ulahmu kan? Kau yang membuat Kakak ipar tak pulang ke rumah. Iya kan?" Hardik Elisa pada Melati.
Melati mengelus tangannya yang tadi dicengkeram kuat oleh Elisa. Sungguh ia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan sahabatnya itu. Yah, sahabat. Entahlah Elisa juga menganggapnya demikian atau tidak.
"Maaf Elisa, aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Apa maksudmu dengan mengatakan bahwa akulah penyebab kecelakaan yang menimpa Kakakmu?"
"Halah tidak perlu menampakkan wajah polosmu itu, dari dulu memang kau sangat suka bersandiwara. Kau lihat saja aku pasti akan membuka belangmu di hadapan Kakak ipar!" Sergah Elisa tajam.
"El kenapa kau masih belum memaafkan aku. Bahkan aku sendiri tak mengerti mengapa kau begitu membenciku. Apakah keputusanku itu salah dengan berhijab seperti ini. Bahkan Ibumu sendiri juga berhijab dan memintamu untuk melakukan hal yang sama."
"Heh, enak saja kau membawa-bawa Mama-ku dia adalah wanita terbaik dan sangat tulus padaku. Tidak seperti dirimu yang bermuka dua." Tudingnya berapi-api.
"Baiklah, Ibumu adalah wanita terbaik. Dan aku berusaha menjadi wanita yang baik pula dengan menutup auratku sama seperti halnya Ibumu. Lantas, dimana yang salah El?"
"Mau semirip apapun penampilanmu dengan Ibuku kau sama sekali tidak pantas untuk dibandingkan dengannya. Wanita yang baik tidak akan pernah merebut kebahagiaan wanita lain.
Kau lupa bahwa kau ini istri kedua Kak Fahmi. Bahkan kau menikahinya setelah dia ada di rahimmu. Dan yang paling patut disamakan dengan dirimu adalah seorang j*lang!" Tunjuknya pada perut buncit Melati.
Deg. Hati Melati begitu sakit mendengar penghinaan dari sahabatnya. Tidakkah Elisa ketahui bahwa ia pun tak pernah menginginkan berada di posisi ini.
"El, mengapa kau bisa setega itu berbicara padaku. Bahkan aku sendiri tak pernah menginginkan ini semua terjadi." Ucapnya dengan berlinang air mata.
"Cukup Melati, jangan pernah kau tunjukkan air mata palsumu itu di hadapanku. Aku tak akan pernah terpengaruh seperti orang yang bodoh. Sekali lagi camkan ini baik-baik. Aku tidak akan pernah membuatmu bersanding dengan Kak Fahmi selamanya." Serunya lalu meninggalkan Melati sendirian.
Tanpa kau minta aku pun akan meninggalkannya, karena aku sendiri yang akan pergi dari Mas Fahmi. Teriaknya dalam hati menatap sendu kepergian Elisa.
"Nak," panggil seseorang lembut dan memegang bahu Melati.
Sontak Melati menghapus jejak kesedihannya, senyumnya terlukis tatkala melihat Ibu mertuanya.
"Iya Bun, maaf Melati tidak bersama Mas Fahmi di dalam."
"Tidak apa sayang." Jawab Mita lembut, ia tersenyum melihat perut Melati yang membukit. Tangannya terulur untuk mengusap perut tersebut.
__ADS_1
"Hallo sayang, sedang apa kau di sana?, Nenek harap kau tidak menyusahkan Ibumu ya Nak. Jadilah anak baik, karena Ibumu juga orang baik." Ucapnya seolah tengah berbicara pada cucu yang masih dalam rahim menantinya dan mencium lembut.
Melati menitikan air matanya, sungguh ia tak pernah menyangka jika mertuanya dapat menerimanya. Segera ia usap pipinya tatkala melihat Ibu mertuanya mendongakkan wajahnya.
"Nak bagaimana kabarmu?" Tanya nya seraya mengusap kepala Melati.
"Aku baik Bun, sangat baik malahan." Jawabnya dengan tersenyum manis.
Bunda tahu sulit menjalani ini semua Nak, sedang hamil seperti ini harusnya kau mendapatkan perhatian lebih dari suamimu. Namun Bunda tahu kau pasti juga memikirkan madumu.
Bunda harap kau bisa menjalani ini semua Nak, karena jujur saja sebenarnya Bunda pun sangat menyukaimu. Semoga kau memiliki hati seluas samudera, agar Bunda dapat memiliki menantu yang baik sepertimu selamanya. Yang sabar ya Nak. Ujar Mita dalam hati.
"Bun maaf, apa ada sesuatu yang Bunda pikirkan? Maaf tapi sedari tadi Bunda hanya melihatku. Jika Bunda berkenan mengatakan sesuatu katakanlah Bun."
"Tidak sayang, ya sudah ayo Bunda tadi ingin shalat Dzuhur apa kau sudah shalat Nak?"
"Eh sudah masuk ya Bun, maaf Melati lupa."
Mita tersenyum, "Tidak apa Nak, ya sudah ayo kita shalat bersama-sama." Ajaknya.
***
Beberapa hari berlalu, Sasa mengerjapkan matanya dengan agak susah, matanya langsung menutup kembali karena belum bisa bersahabat dengan keadaan lampu yang begitu terang.
Namun karena keinginannya yang menggunung untuk melihat orang-orang yang disayanginya ia berusaha keras. Meski belum sepenuhnya terbuka, pergerakan yang dilakukan oleh kelopak matanya membuat orang di sampingnya menyadari.
Ia pun merasakan kehangatan di telapak tangannya.
"Sa,"
Ceklek. Elisa memasuki ruangan.
"Elisa cepat panggilkan Dokter," titah Fahmi pada adik iparnya.
__ADS_1
"Baik Kak." Jawabnya seraya keluar tidak jadi masuk ke ruangan tersebut.
"Sa ada aku, kau merasakan apa? Kau ingin apa?" Tanya Fahmi cemas. Genggamannya tak terlepas sedari tadi.
Kepala Sasa terasa berat sekali. Ia berusaha tersenyum agar suaminya ini tak terlalu mengkhawatirkan keadaannya.
"Air Mas," cicitnya.
Tanpa menjawab Fahmi segera mengambil air di atas nakas, ia membantu istrinya untuk minum.
Ceklek. Pintu terbuka, nampaklah seorang Dokter yang menangani istrinya itu.
"Silahkan tunggu di luar sebentar ya Pak." Pintanya sopan.
"Baik Dok,"
Fahmi keluar dan langsung mengabari pada keluarganya bahwa Sasa telah siuman. Ia beserta adik iparnya menunggu sang Dokter yang tengah memeriksa keadaan Sasa.
Pemulihan pada tulang tengkorak yang retak pada Sasa membutuhkan waktu yang cukup lama. Dan melakukan kontrol sesuai anjuran Dokter. Namun untuk saat ini, Sasa masih belum bisa dinyatakan dapat pulang karena memang masih membutuhkan perawatan.
Fahmi yang menginginkan yang terbaik untuk istrinya pun hanya bisa mengikuti semua instruksi dari Dokter.
***
Sasa menitikan air matanya melihat perhatian penuh dari Mas Fahmi. Terbesit rasa bersalah yang amat dalam karena telah mengkhianatinya. Bahkan kecelakaan yang menimpanya juga karena ulahnya sendiri.
Bagaimanakah reaksi Mas Fahmi ketika mengetahui semuanya. Apakah Mas Fahmi akan menggugat cerai dirinya. Ia benar-benar tak ingin hal itu terjadi, biar bagiamana pun mereka telah menghabiskan waktu selama 11 tahun. Waktu yang tidak singkat.
Ah memikirkan kecelakaan ini, ia juga menjadi memikirkan bagaimana keadaan sang kekasih. Apa dia baik-baik saja, sungguh Sasa ingin sekali tahu dengan keadaan Bembi.
Perlahan tangannya terulur untuk mengelus kepala sang suami yang tertidur di sampingnya. Dapat ia lihat juga gurat kelelahan dari wajah pria itu.
Beberapa hari kemudian Sasa sudah bisa untuk dibawa pulang. Namun tetap harus rutin kontrol seperti yang telah diinstruksikan oleh Dokter. Ia juga sementara dilarang untuk melakukan hal-hal yang berat.
__ADS_1
Fahmi pun memutuskan untuk tidak mengizinkan istrinya itu untuk bekerja, ia juga menyewa seorang perawat untuk mengurus istrinya.
Awalnya Sasa keberatan dengan keputusan suaminya namun karena melihat kemarahan di wajah Mas Fahmi jika menolak membuat ia mengalah. Sebenarnya bukan karen ia yang sangat menyukai dunia model, tapi karena dengan ini dapat ia jadikan alasan untuk bertemu Bembi.