Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 57


__ADS_3

Melati langsung berhenti menulis tatkala ia mendengar deru mesin mobil suaminya di depan rumahnya. Dengan cepat ia menghampiri Mas Fahmi, entah dorongan darimana ia langsung menghambur kepelukannya.


Fahmi yang mendapati tingkah aneh istrinya itu tentu saja sangat terkejut, namun dalam hati ia juga bersorak bahagia. Dengan keadaan sadar, ia membalas pelukan erat dari istrinya.


Mereka yang sedang melepas rindu tak menyadari bahwa ada sosok yang memperhatikan mereka dengan wajah kesalnya. Bibirnya ia majukan dan melipatkan tangan di dadanya.


"Bunda..!" Rengeknya manja.


Melati tersentak, dalam sekejap ia melepas pelukan tersebut. Sungguh ia tak berani menatap suaminya.


"Eh iya sayang, bagaimana kabarmu?, Kau tahu Bunda sangat merindukan mu." Ungkapnya dengan memeluk gemas tubuh putrinya.


"Aku juga sangat merindukan Bunda." Balas tak kalah erat memeluk Bunda-nya.


"Ya sudah ayo masuk sayang." Ujarnya menggandeng tangan Farah.


"Ehm apa kalian melupakan aku?" Tanya Fahmi berpura-pura memasang wajah cemberut.


"Eh tentu saja tidak Mas. Ayo masuk Mas." Ajak Melati salah tingkah.


Tentu saja kau tak melupakan aku Mel. Buktinya kau langsung memelukku. Batin Fahmi. Ia mengikuti istri juga putrinya masuk ke dalam rumah.


"Oh ya sayang, ayo ikut Ayah. Ayah akan mengantarkan mu menuju kamarmu." Di tangannya sudah menenteng tas yang tadi di siapkan oleh putrinya saat di rumah.


"Baiklah Ayah."


Bi Marni yang melihat keceriaan di wajah ketiganya turut merasakan kebahagiaan mereka. Sudah sekian lama ia tak melihat senyum Tuannya selebar itu. Ia pun kembali mengerjakan pekerjaannya.


"Wah Ayah kamarnya..." Farah tertegun menatap kamarnya, beberapa hari yang lalu ia memang telah meminta Ayahnya untuk merenovasi kamarnya yang ada di rumah sebelumnya.


Fahmi mengabulkan permintaan sang anak dengan mendekorasi kamar yang akan ditempati putrinya di rumah ini. Dengan mengecat warna biru muda dan menempelkan stiker Teddy bear di dinding membuat Farah bersorak senang.


"Iya sayang ini milikmu."


"Terimakasih Ayah." Ujarnya dengan memeluk erat Fahmi.


"Sama-sama sayang."


Hati Melati ikut tersentuh melihat pemandangan di hadapannya itu. Perlahan ia menyentuh perut buncitnya dan membayangkan keadaan yang sama. Meski ia telah memiliki anak perempuan, namun ia juga masih ingin memiliki anak perempuan dari rahimnya.

__ADS_1


Tanpa ia sadari Fahmi juga sedang melihatnya. Ia pun memikirkan hal yang sama dengan istrinya. Sudut keduanya terukir tanpa melihat satu sama lain.


"Ayah!, Bunda!," Seru Farah berusaha membuyarkan lamunan kedua orang tuanya.


"Eh iya sayang ada apa?"


"Kalian terus saja mengacuhkan aku, untuk apa aku kemari?" Ungkap kesal.


"Eh maaf sayang, Bunda sama sekali tak bermaksud untuk mengacuhkan kamu. Ya sudah sayang seperti ini saja, apa kau lapar? Bagaimana jika kita bersama-sama membuat cake?" Rayunya pada putri sambungnya.


Mata Farah berbinar mendengarnya, "Ya sudah ayo Bunda kita buat sekarang." Ajaknya antusias.


Dengan senang hati Melati mengikutinya, sedangkan Fahmi hanya mencebik. Lagi-lagi ia diacuhkan. Niat ingin menghabiskan waktu dengan istri kini ia harus banyak mengalah dengan anaknya.


***


"Melati kumohon diamlah." Pinta Fahmi yang merasakan gerakan dari tubuh istrinya. Yah, dia hanya ingin tiduran di pangkuan Melati.


Degup jantung Melati berpacu lebih kencang dari biasanya. Sebenarnya ia merasa nyaman namun mengingat bahwa lelaki yang ada di hadapannya kini bukan milik seutuhnya ia menjadi risih.


Fahmi mengarah wajahnya ke arah perut buncit istrinya, tangannya terulur untuk mengusap lembut.


"Sayang baik-baik ya di sana. Jangan mempersulit keadaan Bunda. Ayah di sini selalu menantimu dan akan menyayangimu dengan sepenuh hati." Ucapnya kemudian mengecup singkat perut buncit itu. Seketika matanya menetes, inilah hal yang paling ia impikan. Di saat kehamilan sang istri pertama, ia sama sekali tak dapat melihat dan merasakannya.


"Mas kenapa kau menangis?" Tanya Melati heran.


Fahmi tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak Mel, aku hanya terharu."


Dengan lembut Melati mengusap rambut suaminya. Perlahan, Fahmi memejamkan matanya. Sungguh sentuhan dari istrinya membuatnya nyaman. Sejenak pikirannya pun menjadi tenang dan hatinya damai. Beberapa terakhir bersama istri pertamanya membuat ia merasa gundah.


Jam sudah menunjukkan pukul 22.12, Melati memperhatikan intens wajah Mas Fahmi. Di sentuhnya sisi kanan atas wajah tersebut perlahan menurun. Senyumnya terlukis seketika.


"Ya ampun apa yang aku lakukan. Kenapa kau pecicilan sekali. Semoga Mas Fahmi tidak merasakan apa yang telah aku lakukan". Gumam Melati dengan mengetuk bibirnya.


Salah, perkiraannya benar-benar salah. Fahmi tentu saja merasakan apa yang telah dilakukan istrinya. Bahkan menikmati, dengan susah payah Fahmi menahan senyumnya.


Melati kembali menatap intens wajah suaminya. Ia semakin curiga melihat bulu mata Mas Fahmi yang sedikit bergerak. Pipinya merona membayangkan bahwa suaminya menyadari kelakuannya.


Namun ia berusaha untuk bersikap biasa saja dan memasang wajah datar. "Mas aku tahu kau belum tertidur, sudahlah aku juga mengantuk. Tidurlah di kamarmu sekarang."

__ADS_1


Fahmi membuka matanya yang sebelah kanan, bibirnya mengulum menatap istrinya. Dengan cepat, Melati memalingkan wajahnya. Entah sudah semerah apa wajahnya.


"Ehm, kau yakin ingin pergi sekarang?, Jika kau mau aku akan menemanimu di sini. Bahkan kau bisa dengan puas melakukan hal yang kau inginkan itu." Godanya pada Melati.


"T-tidak, memangnya apa yang aku inginkan. Sudahlah aku benar-benar mengantuk sekarang." Ujarnya cepat dan segera beranjak meninggalkan tempat itu.


Hap, tidak semudah itu kau lolos Melati. Fahmi menarik tangan istrinya pelan.


"Kau yakin?!" Semakin gencar merayu Melati.


"Mas kumohon lepaskan aku." Memasang wajah memelas.


"Pergilah." Tuturnya tersenyum, hal menyenangkan melihat wajah merona istrinya.


Dengan cepat Melati pergi berlalu dari suaminya. Tubuhnya merosot di belakang pintu kamarnya yang telah ia tutup. Baru saja ia merasakan nyaman namun hanya sementara.


Melihat cincin yang sama dengan madunya di jari Mas Fahmi membuatnya perih. Sudah tentu, apa yang dilakukan oleh suaminya hanyalah sebagai bentuk tanggung jawab. Lalu dirinya, justru ia menikmati semuanya dengan perasaannya.


Bukankah ia sudah mengingatkan diri sendiri untuk tidak jatuh dalam pesona suaminya, tapi apa sekarang.


"Betapa munafiknya aku Tuhan." Lirihnya menahan sesak.


***


Keesokan hari di pagi harinya, Melati membuat sarapan dengan Bi Marni untuk keluarganya. Sayup-sayup ia mendengar suara tawa yang sudah ia kenal siapa.


Pikirannya terus mengingatkannya untuk bersikap acuh pada suaminya.


"Pagi Bunda." Sapa Farah yang masih berada di gendongan Ayahnya.


"Pagi juga sayang." Balas Melati tersenyum secerah mentari di pagi kala itu.


Dengan gesit, Melati melayani suaminya tanpa melihatnya. Fahmi menjadi bingung dibuatnya, apa aku melakukan kesalahan? .


"Bunda tadi Ayah bilang kalau hari ini kita semua akan pergi jalan-jalan." Ungkap Farah sebelum menyendokan makanannya ke mulutnya.


Melati tersenyum tipis. "Tapi maaf sayang, Bunda tidak bisa ikut yah."


"Kenapa tidak Mel?, Besok aku dan Farah akan kembali ke rumah. Ku mohon habiskan waktu kita bersama yah." Pinta Fahmi dengan lembut.

__ADS_1


Istrinya itu terlihat menghela nafas pelan. "Baiklah." Pasrahnya.


__ADS_2