Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 32


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucap Melati saat berada di depan pintu apartemen itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab seseorang yang dari dalam. Terdengar juga ia mendekati arah pintu.


"Melati,"


"Iya Kak, oh ya ini aku bawakan martabak keju untukmu." Menunjukkan apa yang telah ia beli tadi.


"Wah Melati kau tau, Kakak baru saja ingin membelinya setelah memenangkan Asyifa." Ujar Lulu berbinar.


Melati tersenyum senang, "Ya sudah ayo kita makan."


Melati dan Lulu pergi ke ruang televisi. Setelahnya Melati pergi ke dapur ingin membuat coklat panas kesukaannya. Memang sedari tadi ia berniat untuk menulis novelnya ditemani dengan minuman coklat dan martabak.


"Aku ingin membuat minuman, apa kau ingin sesuatu Kak?" Tawarnya pada Lulu.


"Em boleh aku minta kopi?"


"Tentu,"


Dering notifikasi dari ponselnya membuatnya meletakan alat-alat yang tengah ia pegang untuk membuat minuman.


Beberapa hari kedepan aku tidak berada di rumah. Jadi kau tidak perlu datang ke rumahku. Maksudku jika kau ingin bertemu Aaz ya tidak masalah. ~ Kak Azein.


Baiklah, ~ Melati.


Yang berada di sebrang sana mendengus kesal membaca pesan yang dikirimkan Melati.


Singkat sekali. Batinnya.


Melati melanjutkan aktivitasnya dan seperti biasa ia akan menulis novel online-nya.


"Kenapa kau sangat menyukai novel?" Tanya Lulu yang tengah menyeruput kopi buatan Melati.


"Entahlah Kak sedari dulu aku menyukainya. Dulu teman-temanku sering bercerita tentang kehidupan mereka. Aku kadang memberinya solusi atau saran. Dan malamnya maka aku akan berkhayal apa yang akan terjadi setelahnya. Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya kan Kak?, Nah kupikir dengan membaginya dengan orang lain atau pembaca setia karyaku bisa juga memotivasi mereka. Namun tentunya dengan sedikit sentuhan hayalanku." Ucap Melati panjang kali lebar.


"Ouh jadi begitu." Tanggap Lulu. Ia tengah bermain-main juga dengan Asyifa.


Melati saat ini tidak ingin bermain dengan Asyifa. Karena setelah dia pulang, ia tidak langsung mandi atau sekedar membersihkan diri. Dia sadar bahwa di bau, tapi juga tidak ada niatan untuk mandi atau membuat tubuhnya wangi 🤭.


***


Tak terasa sudah dua bulan lamanya, Melati mengajari Azein bermain piano. Melati kagum dengan Azein yang sudah lihai memainkan piano. Dia tidak tahu saja bahwa memang sudah sedari awal Azein mumpuni dalam hal ini.

__ADS_1


Dan selama itu juga mereka sudah sangat dekat, bisa dibilang telah menjadi sahabat. Keduanya masih memendam perasaan masing-masing. Namun tidak jarang jika Azein menggoda Melati atau merayunya. Melati juga terkadang terbawa perasaan karena godaan dari Azein.


Saat ini Melati tengah menemani keponakan Azein yang sengaja menginap di rumah itu. Umurnya sama seperti Husein adiknya. Hanya saja ini perempuan. Terlintas di pikirannya untuk menjodohkan keduanya.


"Oh ya Kak, tadi pulang sekolah aku ada tugas. Boleh tidak Kak Kiki membantuku?" Tanya Dina pada Aaz. Kiki adalah nama panggilan seluruh keluarga besar pada Aaz, sedangkan nama aslinya sendiri adalah Azkia Alya Khasishah.


"Tentu saja mana tugasmu." Ucap Aaz.


"Tunggu ya," Dina pergi menuju kamarnya dan mengambil buku di tas ranselnya.


"Keponakanmu itu sangat lucu ya Az." Ujar Melati yang gemas dengan Dina, usianya memang sudah tujuh tahun namun kegembulan di pipinya membuat keimutannya tak pernah berubah dari dulu.


"Iya benar, tapi bukankah dia seumuran dengan Husein?"


"Iya, hanya berbeda beberapa bulan saja."


"Menurutku mereka..-" Aaz melirik Melati dan tergelak bersama.


"Bisa saja sebenarnya, tapi apa kau tahu?, Husein sering bercerita tentang bermain dengan banyak perempuan. Dia sudah menjadi playboy."


"Benarkah?, Bagaimana bisa?"


"Iya, dia pernah bercerita bahwa teman-teman laki-lakinya pasti memiliki teman perempuan satu. Dan mereka menyebutnya pacar karena mereka melihat Kakak mereka jika bermain bersama disebut pacar. Tapi dia sendiri selalu berganti-ganti setiap harinya."


"Entahlah aku pun tidak tahu."


Melati dan Aaz asyik bercerita tentang anak kecil jaman sekarang. Tak lama Dina datang dengan membawa peralatan tulisnya.


"Kak lihat ini," ucap Dina dengan membuka halaman bukunya, terdapat tugas yang telah diberikan oleh gurunya.


"Pelajaran Agama?" Aaz mengeja huruf yang berada di cover buku tersebut.


"Iya Kak, biasanya aku bisa mencari jawabannya lewat LKS. Tapi LKS-ku berada di rumah." Jawab Dina.


"Baiklah coba Kakak lihat." Aaz membuka bukunya. Melati juga ikut melihat pekerjaan rumah Dina.


"Ya sudah kau tulis jawabannya," Aaz memberikan buku tersebut dan membuka tempat pensil milik Dina.


Melati dan Aaz membantu Dina menyelesaikan tugasnya. Pelajaran Agama memang mapel yang sangat disukai kedua gadis kepala dua itu. Maka tak sulit bagi keduanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di buku tersebut.


"Alhamdulillah tinggal satu soal lagi Kak. Lihat."


Aaz dan Melati melihat yang ditunjukkan oleh Dina. Mereka tersenyum senang.

__ADS_1


"Baiklah apa soalnya,.." ucap Melati.


"Nun mati (نْ) akan dinamakan Iqlab jika bertemu dengan...." Dina membacakan soal terakhir tersebut.


"Nun mati (نْ) akan dinamakan Iqlab jika bertemu dengan huruf Ba (ب)," jawab Melati.


"Hore.., selesai makasih yah Kak." Girang Dina bertepuk tangan dan menghambur memeluk keduanya.


"Sama-sama." Ujar keduanya.


"Oh ya jangan lupa langsung dirapikan," titah Aaz pada Dina.


"Ok. Oh ya Kakak lihat buku Kancil yang Bijak tidak?" Tanya Dina.


"Tidak, kenapa memangnya."


Dina memasang wajah cengirannya dan menunduk malu. "Tolong bantuin cariin Kak." Ucapnya pelan. Membuat Melati gemas dan mencubit pipi gembulnya.


Aaz menghela nafasny, "Baiklah ayo. Melati kutinggak sebentar ya." Aaz menggandeng tangan Dina.


"Iya." Melati tersenyum. Ia membuka gawainya.


"Nun mati (نْ) akan dinamakan Iqlab jika bertemu dengan huruf Ba (ب), dan aku akan dinamakan cinta jika bertemu dengan kamu." Azein tiba-tiba muncul dan duduk di samping Melati.


Melati mendongakkan wajahnya, tampaklah Azein yang tengah tersenyum manis padanya. Ia sendiri juga tengah menahan senyum. Mereka saling berpandangan cukup lama.


"Cintaku seperti tanda waqaf لا, harus dilanjutkan tidak boleh berhenti." Lanjutnya, ia mengarah ke pertanyaan soal nomor satu di buku Dina.


"Nun mati (نْ) bisa dinamakan ikhfa jika bertemu dengan banyak huruf yaitu lima belas maka aku bisa mencintaimu dengan banyak cara."


Deg deg deg. Jantung Melati berdetak semakin kencang.


"Ehm." Suara Aaz membuyarkan lamunan keduanya. Ia juga mendengar gombalan Azein untuk Melati. Diam-diam dia juga tersenyum melihatnya.


Sontak Azein dan Melati salah tingkah dibuatnya. Mereka saling menundukkan kepala mereka.


"Oh ya, kalian tidak melanjutkan latihan kalian?" Tanya Aaz.


"Eh iya Kakak kesini untuk memanggil Melati untuk latihan." Ucap Azein sedikit kikuk.


"Ya sudah kami latihan dahulu ya Az." Pungkas Melati.


"Iya silahkan saja." Aaz pergi meninggalkan mereka setelah membereskan mainan milik Dina yang dibantu oleh Melati dan Azein.

__ADS_1


__ADS_2