Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 78


__ADS_3

Benar saja, polisi benar-benar tak mendapatkan bukti apapun untuk kasus yang telah diajukan oleh Tuan Fahmi Al-Farizi. Tak dijumpai CCTV satu pun. Mencari darimana sumber api berada juga sangat sulit.


Fahmi dan Rayn hanya bisa pasrah. Tak ada lagi harapan bagi mereka. Fahmi memboyong tubuh letihnya ke rumah.


"Assalamu'alaikum," ucapnya lemas.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Melati dan menyambut suaminya dengan baik. Dilihat dari wajah serta tubuh suaminya, ia tak ingin langsung bertanya banyak.


Setelahnya, ia berjalan menuju dapur untuk menyiapkan minuman serta makan untuk suaminya.


"Diminum dulu Mas." Ujarnya meletakkan nampan di depan suaminya.


Fahmi tersenyum dan mengangguk, ia merasakan nyaman karena pijatan dari sang istri. Melati begitu pandai dalam melayani suaminya.


Tak lama kemudian Fahmi menghentikan kegiatan istrinya, ia meraih tangan Melati dan mengecupnya pelan.


"Maafkan Mas Mel." Cicitnya.


"Untuk apa Mas?" Tanya Melati.


"Untuk semuanya, untuk Mas yang menghancurkan hidup kamu, untuk kehidupan Mas yang sekarang sudah berubah, maaf Mel, maaf." Ucapnya sendu.


"Cukup Mas," menutup bibir suaminya. "Tidak perlu mengatakan demikian, mungkin memang semuanya sudah menjadi jalan kita yang seperti ini. Diberi kesehatan dan kesempurnaan jasmani saja kita sudah bersyukur. Kita masih bisa berusaha selama memiliki keinginan Mas." Terang Melati.


"Tapi Mas sudah tidak tahu harus bagaimana lagi Melati, dana hasil dari perusahaan sudah lenyap bersamaan dengan hangusnya tempat usaha Mas yang baru." Keluhnya kesal.


Melati mengelus lembut punggung suaminya, ia juga meminta agar suaminya itu meletakkan kepalanya di pangkuannya. Ia memijit pelipis suaminya lembut.


"Mas tidak perlu khawatir tentang rezeki. Semua sudah ada yang atur. Lagipula Allah itu Maha Kaya Mas, kita minta saja kepada Allah. Kita juga bersyukur karena masih memiliki kesempurnaan jasmani, karena dengan ini kita masih bisa berusaha.


Di luaran sana banyak loh Mas, yang harus berusaha mengais rezeki dengan kekurangan yang mereka miliki. Pekerjaan mereka pasti lebih berat dari kita Mas." Tutur Melati lembut.


Fahmi seakan mendapatkan angin segar, setidaknya ia memiliki istri yang tak terlalu menuntut.


"Makasih ya sayang, Insyaallah Mas pasti akan berusaha lebih giat lagi. Terimakasih atas pengertiannya." Pungkas Fahmi bangga dan merengkuh tubuh istrinya.


***

__ADS_1


Keesokan paginya Fahmi mempersiapkan diri untuk mendaftarkan diri ke beberapa perusahaan. Semua berkas-berkas yang dibutuhkan pun telah ia siapkan bahkan bersama istri.


Untuk Melati sendiri ia mulai membuka usaha kuenya, sebenarnya sudah dari dahulu ia ingin menggeluti usaha ini. Namun suaminya melarang lantaran ia tengah hamil, toh juga dahulu keadaan Fahmi yang serba berkecukupan.


Namun karena, sekarang keadaan yang memang membutuhkan biaya lebih membuat Fahmi dengan berat hati mengizinkan. Sebenernya ia tak enak hati jika harus melihat istrinya seperti itu, karena pastinya Melati akan sangat kelelahan.


Setiap hari dimana ia melihat sang istri mengurus rumah saja sudah terlihat kelelahan. Namun karena memang Melati yang keras kepala membuatnya mengalah, ia juga selalu saja tidak bisa berdebat dengan Melati.


Untunglah ada Bi Marni, meski keadaannya berubah beliau tetap setia. Ia juga tidak mempermasalahkan soal ia gaji yang menurun bahkan dua bulan ini terlambat gaji.


"Bismillah ya Mas, semoga lancar untuk hari ini." Ujar Melati menyemangati Mas Fahmi.


"Aamiin, iya sayang doakan ya." Jawab Fahmi tersenyum.


Melati mencium punggung tangan suaminya yang dibalas sentuhan penuh cinta di dahinya. Ia menunggu hingga mobil suaminya itu tak nampak lagi di matanya.


Fahmi mengendarai mobilnya menuju Yavindra Enterprise. Karena sebelumnya ia mendapatkan rekomendasi dari temannya untuk bergabung dengannya di tempat perusahaan yang sama. Lagipula perusahaan tengah membuka lowongan pekerjaan yang memang ia menguasai bagian itu.


Ia belum menyadari bahwa pemilik dari Perusahaan tersebut ialah seseorang yang membeli Perusahaannya dulu. Tentu saja, karena ia telah melupakannya, lagipula bahkan saat pelelangan Perusahaan terjadi. Pikirannya hanya tertuju pada sang istri dan anak-anak.


Fahmi memandangi lamat-lamat Perusahaan pencakar langit tersebut. Dibanding miliknya dulu tidaklah ada apa-apanya. Ia mengambil nafasnya dalam-dalam, entah kenapa perasaannya mendadak gugup.


Sebelumnya ia menemui dahulu ke meja resepsionis untuk mengetahui dimana ruangan HRD. Dengan ramah, sang resepsionis pun menunjukkan tempat yang dimaksud.


***


Melati dengan ditemani Maira mencari sebuah ruko untuk disewa. Beruntunglah Huamira mendapatkan rekomendasi juga dari temannya. Meski ia belum melihat tempatnya seperti apa, namun ia sudah mengetahui dimana letaknya.


"Mel sudah siap?" Tanya Humaira yang sedari tadi telah menunggu Melati bersiap.


"Sudah Mai, terimakasih yah kau sudah mau membantuku." Jawabnya tersenyum.


"Iya Mel, tentu saja kenapa tidak. Lagipula kita ini sahabat dari dulu bahkan sudah menjadi saudara ipar. Aku justru senang jika kau atau Aaz meminta bantuan padaku." Sahut Humaira.


"Iya Mai."


Untuk Aisyah Melati menyerahkan pada Bi Marni untuk menjaganya, sedangkan Farah ia akan menyempatkan diri untuk menjemputnya.

__ADS_1


"Ya sudah ayo Mel." Ajak Maira mendahului Melati.


"Iya ayo." Mengikuti langkah Maira.


Membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di tempat tujuan. Ternyata ruko tersebut begitu bersih dan indah. Meski tak terlalu besar, namun ruko tersebut memiliki dua lantai. Hingga untuk lantai yang di atas bisa Melati gunakan untuk istirahat.


"Bagaimana Mel, apa kau menyukainya?" Tanya Maira membuat Melati menoleh.


"Iya aku sangat menyukainya Mai, terimakasih yah. Tempatnya juga strategis." Tak jauh di sekitar mereka, ada beberapa sekolah dan universitas serta perusahaan.


"Syukurlah jika kau menyukainya Mel."


"Ayo kita temui dahulu pemiliknya. Kata temanku beliau cukup ramah loh." Ungkap Maira memasuki tempat tersebut.


"Syukurlah."


Benar saja, ternyata pemilik ruko tersebut sedang menunggu kedatangan Melati da Maira. Dengan ramah, ia menyambut kedatangan kedua wanita muda itu.


Melati tersenyum senang, bahwa ia dapat menyewa tempat tersebut dalam jangka panjang. Dengan ini ia dapat mengurangi beban suaminya, namun ia juga berusaha agar dapat membagi waktu untuk semuanya.


Untuk hari ini, Melati dan Maira memfokuskan untuk membeli beberapa peralatan untuk membuat kue dan lain-lain. Merasa bahwa menyiapkan tempat itu hanya berdua akan membutuhkan waktu yang lama, Maira menyarankan untuk menghubungi Aaz. Dan Melati pun mengiyakan.


"Assalamu'alaikum," ucap seseorang membuat Melati dan Maira menoleh dan menghentikan pembicaraan mereka.


"Wa'alaikumsalam." Jawab keduanya. Senyum keduanya terlukis mendapati sahabat mereka yang ternyata datang ke tempat itu.


"Wah apa aku terlalu lama datang?" Tanya Aaz pada keduanya.


"Tidak Az, lagipula kita juga baru membicarakan akan ini dan itu." Tukas Melati.


"Ouh bagaimana?"


"Jadi....."


Hari itu juga, mereka menyiapkan tempat itu hingga benar-benar siap dan rapi. Bahkan besok juga dapat dibuka. Aaz dan Maira juga mencarikan karyawan untuk Melati.


Mereka sebenarnya sangat ingin, namun karena kesibukan mereka sendiri membuat mereka tidak bisa.

__ADS_1


__ADS_2