Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 64


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, Melati hanya tinggal menunggu hari untuk lahiran. Mas Fahmi harus bolak-balik mengunjungi kedua istrinya, ia lebih menghabiskan banyak waktunya untuk menemani istri mudanya. Sasa tentu saja sangat marah, namun karena alasan Melati hamil dengan berat hati ia menyetujui sikap dari suaminya.


Sebenarnya Fahmi sudah sangat muak dengan istri tuanya, namun karena kondisi yang tengah menimpa Sasa membuat ia tak tega. Akhir-akhir ini Sasa sudah terlihat lebih baik dan dapat melakukan aktivitasnya seperti biasa, meski tetap harus memperhatikan kesehatannya.


Fahmi sendiri telah mengurus surat perceraian mereka, mengingat bahwa bulan depan Sasa ulang tahun ia memilih untuk memberikan kejutan pada istrinya itu. Dan membuka semuanya di depan keluarganya.


Ia juga tak memiliki rasa khawatir atau sakit saat Sasa masih saja pulanh larut, bahkan ia gunakan kesempatan itu untuk lebih mendapatkan bukti agar dapat terlepas dari wanita itu.


Saa ini ia tengah menemani istrinya, beberapa kali istrinya mengalami kontraksi palsu. Ia juga senang sekarang Melati tak sungkan memintanya sesuatu. Dengan senang hati ia menuruti permintaan sang istri.


"Mas..!" Panggil Melati pada suaminya dari dalam kamar.


"Iya Mel, ada apa?" Secepat kilat Fahmi menghampiri istrinya. Apalagi mendengar suara yang begitu keras.


"Ma..s" jawabnya lemah, ia tak mampu lagi menahan semuanya.


Fahmi terbelalak melihat kaki istrinya yang basah. Tanpa ba-bi-bu ia mengendong dan membawa istrinya menuju mobil.


"Bi tolong hubungi orang tuaku, Melati akan melahirkan!" Pintanya pada Bi Marni dengan masih menggendong Melati


"B-baik Tuan," karena khawatir dan cemas Bi Marni juga ikut tegang dengan keadaan Nona-nya.


"Mas aku sudah tidak tahan lagi." Racau Melati menahan sakit yang kian terasa.


"Tenang sayang aku bersamamu,"


Untunglah hari sudah malam dan jalanan tidak terlalu padat, dengan cepat namun masih memperhatikan keselamatan Fahmi mengemudi membelah jalanan.


"Suster tolong istri saya!" Titahnya pada suster yang bertugas, dengan cepat para perawat yang lain membawakan brangkar untuk bumil yang akan melahirkan itu.


"Sus ijinkan saya masuk," pintanya memelas.


"Baik pak, tapi sebelumnya pakai dulu pakaian yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit ya Pak,"


"Baik Sus."


***


Melati POV


Bun, saat ini kutahu rasanya ketika kau tengah mengandungku. Tubuhmu mengatakan bahwa semua yang tengah kau lakukan itu sangatlah lelah bahkan mungkin memintamu untuk mengakhiri semuanya. Namun hatimu berkata lain, alangkah indahnya rahim seorang wanita disambangi oleh seorang makhluk.


Dapat kurasakan bahagianya ketika aku berbicara dengannya, seolah mendengar ia bergerak merespon ucapanku. Dan rasa senangku semakin menggunung tatkala mengetahui bagaimana perkembangan janin di dalam rahimku ini.


Hari-hariku benar-benar berwarna dan terasa indah di setiap detiknya. Hatiku tiada henti mengucapkan kalimat syukur dan harapan untuk hidup putriku kelak.


Hari ini kau begitu aktif di sana Nak. Bunda bisa merasakan keinginanmu yang sangat ingin menghuni Bumi. Nak, apa kau begitu ingin melihat betapa indahnya dunia? Kau sudah cukup bermain-main di rahim Bunda Nak? Kau adalah anugrah terindah yang Tuhan beri dalam hidup Bunda Sayang.

__ADS_1


Ku genggam erat tangan suamiku. Sungguh rasa sakit kian menjalar ke seluruh tubuhku. Seakan semua urat-uratku tercabut secara perlahan, menimbulkan nyeri yang tak dapat kutahankan. Namun tak dapat juga aku lari dari situasi ini. Ada seorang nyawa yang sudah lama menantikan untuk dapat merasakan indahnya dunia.


"Sayang aku di sini..," kulihat wajahnya yang juga begitu cemas dan khawatir. Tangannya tak pernah terlepas dari genggamanku.


"Maaf, jika aku masih belum bisa menjadi istri yang baik." Lirihku terbata.


"Tidak, kau adalah istri terbaik untukku." Aku berusaha mengukir senyum di bibirku. Meski aku terkadang menyesali pertemuan kami, namun tak dapat ku pungkiri bahwa ia adalah seorang lelaki yang baik, bertanggung jawab dan sangat menghormati wanita.


Dia selalu sabar menghadapi tingkahku yang terkadang mengacuhkannya, tak pernah sedikitpun ia menunjukkan amarahnya.


"Hei apa yang akan kau lakukan Dokter?!" Baru saja aku memujinya, ia mengagetkan aku dengan berteriak pada Dokter.


"Maaf Pak, untuk memudahkan jalannya lahir janin maka perlu adanya tindakan episiotomi."


Mas Fahmi terbelalak mendengarnya, "Apa itu artinya.?"


Ssstttt.


Allahuakbar..


Begitu sakit dan pedih, aku memejamkan mataku sejenak. Ingin rasanya aku pergi dari situasi ini, rasa sakit yang benar-benar tak dapat aku tahan. Seolah tulang rusuk ikut terpatahkan satu per satu. Namun masih ada satu nyawa yang berada di rahim.


Kulihat sendu wajah suamiku, kurekam dengan baik-baik. Kepingan-kepingan memories saat bersamanya bersemayam secara tiba-tiba. Akankah ini akhir dari segalanya, nafasku melemah melukiskan kekuatan yang ada dalam diriku yang kian menghilang. Rasa sakit yang membingkai membuatku semakin tak berdaya.


"Bu tarik nafasnya yang dalam-dalam ya Bu,"


"Semangat Sayang."


Bunda, ya Bunda. Inikah yang kau rasakan, tidak aku harus tetap berjuang. Demi putriku, layaknya Bundaku yang berjuang begitu kerasnya, keringat yang mengucur begitu derasnya. Ku tatap wajah suamiku.


"Kamu bisa Sayang,"


Bismillah,


Kuhirup udara sebanyak-banyaknya, dan membuangnya perlahan.


Eeeeegghhhhhhhhh,


Sabar Nak.


"Ayo terus Bu,"


Eeeeegghhhhhhhhh.


Ooeekgh,


Alhamdulillah ya Allah. Sungguh indah ciptaan-Mu. Terimakasih atas anugrah terindah ini. Dapat pagi kubendung air mataku. Benar-benar kebahagiaan tiada tara, melihat wajahnya yang begitu sempurna dan cantik. Diakah yang selama ini berada di dalam rahimku. Selamat datang di dunia Nak. Ibu sangat menyayangimu.

__ADS_1


***


Fahmi POV


Bisakah aku menggantikannya Tuhan. Sungguh aku tak mampu melihatnya seperti ini. Bunda, apakah kau juga merasakan hal yang sama dengan istriku. Maaf putramu ini selalu mengecewakanmu dengan perbuatanku.


Sasa, istriku. Kau pasti juga merasakan hal yang sama dengan Melati kan. Maafkan suamimu ini yang tak dapat menemanimu. Bahkan kau berjuang sendirian melahirkan Farah.


Sejenak aku terdiam, puing-puing kebersamaanku dengan istri pertamaku berkeliaran mengisi pikiranku. Seketika aku teringat akan lelaki yang sedang bersamanya saat aku tak di sampingnya. Akankah ia yang selama ini menemanimu Sa?.


Entah sudah sepuas apa wajahku sekarang menatap istriku yang tengah berjuang keras melahirkan buah hati kami.


"Maaf, jika aku masih belum bisa menjadi istri yang baik." Lirihnya terbata.


Dengan cepat aku menggeleng, "Tidak, kau adalah istri terbaik untukku." Andai mungkin, aku ingin sekali semua rasa sakit yang ia rasakan dilimpahkan saja padaku.


"Hei apa yang akan kau lakukan Dokter?!" Mataku terbelalak saat Dokter mengarahkan sesuatu pada istriku.


"Maaf Pak, untuk memudahkan jalannya lahir janin maka perlu adanya tindakan episiotomi."


"Apa itu artinya.?"


Tidak, mataku terpejam tak mampu melihatnya. Bahkan untuk membayangkannya saja aku tak berani. Hatiku teriris tatkala Melati mencengkram kuat tanganku bahkan sampai memerah. Namun aku tak mempedulikannya, aku tahu pasti rasa sakitnya pasti lebih besar dariku.


Ya Allah selamatkan istriku, selamatkan putriku.


"Semangat Sayang."


Aku semakin panik, melihatnya semakin lemah. Sungguh suami macam apa aku ini, membiarkannya merasakan sakit yang teramat namun aku tak melakukan apapun. Tidak, kau wanita hebat, kau pasti bisa.


Ya Allah hamba bukanlah orang yang dapat membalas perjuangannya. Hanya engkaulah yang dapat membalasnya. Berikan dia balasan yang setimpal bahkan melebihi setiap tetes keringat maupun air mata yang ia keluarkan. Seluruh tenaga yang ia kerahkan.


"Kamu bisa Sayang,"


Eeeeegghhhhhhhhh,


Beban di hatiku kian menghimpit, nafasku tercekat.


"Ayo terus Bu,"


Eeeeegghhhhhhhhh.


Ooeekgh,


Tes, air mataku mengalir.


Diakah putriku? Darah dagingku? Alhamdulillah ya Allah.

__ADS_1


Kupandangi wajah istriku. Setiap inci wajahnya tak ada yang luput dari sentuhanku. Ku usap keringat yang bercucuran.


"Terimakasih Sayang, kau telah menghadirkan bidadari yang sungguh cantik. Aku yakin dia pasti akan menjadi wanita yang hebat sepertimu." Ujarku penuh haru.


__ADS_2