Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 85


__ADS_3

Seperti yang telah direncanakan hari ini Fahmi dan Melati akan berangkat pergi untuk berlibur. Meski hanya sehari, namun Fahmi tetap senang karena setidaknya ia akan menghabiskan waktu bersama. Dan sebisa mungkin, untuk mengukir kisah yang lebih indah.


Farah dan Aisyah telah mereka titipkan di rumah orang tua Fahmi. Mereka sudah berada di sana sejak Farah pulang dari sekolah. Rumah akan dijaga oleh Bi Marni.


Di dalam perjalanan pada malam hari jari mereka saling bertautan.


"Akhirnya kita dapat memiliki waktu berdua seperti ini Mel." Ucap Fahmi senang.


Melati menoleh dan menyenderkan kepalanya di bahu sang suami. "Iya Mas, aku juga sangat senang."


"Apakah Farah dan Aisyah tidak akan rewel nantinya Mas? Aku takut merepotkan Ayah dan Bunda."


"Mereka sudah berpengalaman mengurus anak Mel, kau tenang saja."


Mereka sampai pada pukul 21.00, perjalanan ini hanya membutuhkan waktu dua jam. Karena memang Fahmi memilih tempat yang tidak terlalu jauh. Bahkan di villa miliknya sendiri.


Fahmi meletakkan kepalanya di paha sang istri, mereka menikmati suasana indah di malam itu yang kebetulan juga langit yang dihiasi oleh bintang-bintang.


"Mas, sebenarnya sudah sedekat apa antara kau dan Luna?" Tanya Melati halus dan hati-hati. Tangannya tak berhenti bergerak untuk mengusap kepala sang empu.


"Em, kau janji tak akan marah?"


"Iya Mas, katakanlah."


"Sebenarnya Mas dan Luna tidak ada hubungan apapun. Entah bisa dibilang teman atau tidak, yang pasti Mas selalu berusaha menjaga jarak dengannya dan tidak peduli saat ia mendekati Mas."


"Benarkah? Lalu sebenarnya siapa Luna itu Mas?"


"Dia adalah anak atasan sekarang. Mas pernah bilang bukan, dulunya dia adalah sekretaris Mas. Jujur saja, bahkan dari dulu pun dia memang suka menggoda Mas.


Sudahlah sayang, sekarang Mas mau bertanya padamu. Sedekat apa antara kau dan Azein. Soalnya dahulu, sering sekali Mas lihat kau dan dia begitu akrab."


Melati tersedak air liurnya sendiri. "Ya karena memang dulunya, aku dan Kak Azein adalah teman Mas. Bahkan setiap hari aku mengajarinya bermain piano."


"Jujur padaku, kau sempat menyukainya?"


"Hmm, semua orang punya masa lalu Mas. Dan iya jujur saja, aku memang sempat menyukainya. Namun tidak untuk sekarang, karena pemilik hatiku sekarang adalah pria yang sangat tampan ini." Ungkap Melati dan mencubit leher Mas Fahmi gemas.

__ADS_1


"Melati sudah cukup, kha...ha..ha." Ucap Fahmi geli dan melarikan diri dari istrinya.


***


"Mas, bisakah kau lepaskan aku dulu?! Kita belum sarapan bukan? Ayolah Mas." Pinta Melati juga kesal karena suaminya terus mengukungnya tanpa mau melepaskan untuk sesaat saja. Bahkan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.


"Sayang, kita pergi ke sini memang untuk liburan bukan. Lagian setelah besok juga kita tidak bisa seperti ini lagi. Yang ada hanya saling mengurus pekerjaan dan kau yang lebih memperhatikan anak-anak dari aku." Fahmi mencebik dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Ok. Mas, tapi bisakah kau lepaskan aku dulu. Aku lapar sayang." Rengek Melati manja.


"Apa begitu? Baiklah aku tidak mungkin membiarkan my queen kelaparan. Silahkan ratuku." Kekeh Fahmi dan melepaskan pelukan mereka.


"Baiklah aku siapkan dahulu air hangat untukmu Mas. Setelah ini pergilah untuk sarapan bersamaku."


"Iya-iya sayang."


Melati terlebih dahulu mengikat rambutnya dan merapikan kimononya. Lalu bergegas menyiapkan air hangat, kemudian menyiapkan makanan untuk sang suami.


Melati sudah tidak kaget lagi dengan suaminya yang tiba-tiba datang dan memeluknya. Tanpa mempedulikan Mas Fahmi ia tetap melanjutkan kegiatannya. Ia pun membiarkan Mas Fahmi yang selalu mengganggunya.


"Mas, duduklah sudah siap!" Pungkas Melati mendorong suaminya duduk.


"Itu sudah menjadi tugas sebagai setiap istri Mas. Tidak perlu memujiku seperti itu."


"Hmm iya."


"Sayang, bagaimana setelah ini kita berenang. Aku tunggu kau di kolam renang ya." Ujar Fahmi setelah selesai menyantap sarapannya dan beranjak menuju kolam renang.


"Iya sayang, aku membereskan tempat ini dahulu. Aku akan menyusul."


Fahmi mengangguk dan tersenyum.


Seperti yang telah diminta suaminya, Melati pun menyusul Mas Fahmi. Namun ketika berjalan, ia mendapati ponsel suaminya yang menyala di sebuah meja depan TV. Memang sebelumnya Fahmi terlebih dahulu membuka gawainya untuk memeriksa apakah ada pesan atau tidak.


Karena penasaran Melati pun mengambil ponsel tersebut dan membuka benda pipih tersebut. Ia bisa membuka ponsel tersebut karena memang Mas Fahmi yang memberitahunya dulu.


Mas, sekarang aku ada di X, jarak tempatku dengan villa-mu hanya sekitar lima belas menit perjalanan. Bagaimana jika kita bertemu ketika makan siang? Mumpung hari libur Mas. ~ Luna.

__ADS_1


Mata Melati membulat seketika, amarahnya pun sudah menggumpal di hatinya. Dengan geram ia pun mulai mengetik untuk membalas pesan tersebut.


Maaf Nona, hari ini saya akan menghabiskan waktu bersama dengan istri saya. Karena sudah sejak lama saya dan istri saya tidak menghabiskan waktu berdua. Seharian ini saya tidak akan pergi atau membiarkannya lepas. Jadi, mohon untuk tidak menghubungi saya Nona. Maaf. ~ Mas Fahmi.


Send. Setelah itu Melati sengaja mematikan daya ponsel suaminya dan pergi menyusul suaminya.


Di sebrang sana, jelas hal itu membuat sang pengirim pesan geram.


Sial! Aku sudah jauh-jauh kesini. Tapi kau dengan mudahnya mengatakan hal itu Mas. Lihat saja nanti Melati, kau akan menangis karena suamimu itu akan berada di pelukanku. Gumamnya menahan amarah.


Fahmi terheran melihat istrinya yang datang dengan wajah yang tak bersahabat. Namun terlihat lucu dan Fahmi gemas dibuatnya.


"Kenapa kau cemberut begitu hm? Tidak ingin berenang? Kalau begitu ayo kita kembali ke kamar saja sayang.'' Menghampiri Melati dan menarik tangannya.


"Tidak Mas, aku ke sini untuk merilekskan tubuhku. Kau telah membuat sekujur tubuhku remuk tadi malam dan pagi." Melati mencebik kesal.


"Em, aku tapi kau menikmati pun." Ledek Fahmi.


"Mas, sudahlah ayo bagaimana jika kita berenang ke sana dan siapa yang sampai terlebih dahulu maka harus mengikuti apapun yang si pemenang minta. Dan lihat, apakah tubuh tuamu ini mampu mengalahkan aku." Tantang Melati.


"Kau meragukan aku?"


"Hm, asal kau tahu Mas. Aku sering mengikuti lomba seperti ini dan selalu mendapatkan medali atau perunggu." Puji Melati bangga pada dirinya sendiri.


"Begitukah? Baiklah kita lihat saja queen. Kau sudah salah meragukan aku."


Mereka saling melempar tatapan tajam dan Melati segera turun ke kolam. Mereka memasang tubuh siap-siap.


"Siap?!!, Satu, dua, tiga..." Seru Melati dan pada hitungan ke tiga dengan lincah ia berenang meninggalkan sang suami.


Benar saja, Melati memenangkan lomba yang ia buat sendiri.


"Lihatkan Mas, apa aku bilang. Aku memang sangat pandai dalam hal ini."


"Bagiku kau tidak cepat sama sekali sayang. Aku tadi hanya mengalah." Sahut Fahmi.


"Hmm dasar gengsi. Tapi apapun itu, aku tetap pemenangnya. Dan hari ini kau harus menuruti semua mauku."

__ADS_1


"Baiklah baik my queen. Selamat atas kemenanganmu itu."


Melati terkekeh dan mereka bermain-main di kolam itu hingga siang.


__ADS_2