Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 62


__ADS_3

"Maaf Sus, atas nama pasien Sasa Kamilia berada di ruangan mana ya?" Tanya Fahmi pada salah satu perawat.


"Mohon maaf tunggu sebentar ya Pak," Sang perawat memeriksa data-data nama pasien. Dan jarinya berhenti tepat di nama yang telah disebutkan oleh Fahmi.


Dengan segera Fahmi pergi menuju ruangan yang telah diberitahu oleh perawat. Keadaan masih sepi, Fahmi baru sadar ia belum memberi kabar pada keluarga Sasa.


"Hallo Assalamu'alaikum Mah," ucapnya sopan pada Ibu mertuanya.


"Wa'alaikumsalam, ada apa Nak Fahmi?" Jawab yang berada di sebrang sana.


Sejenak Fahmi menarik nafasnya dalam. "Jadi begini Ma, Sasa kece-lakaan,"


"APA?!" Fahmi menjauhkan ponselnya dari telinganya karena tak tahan dengan teriakan dari mertuanya.


"Iya Ma, Fahmi mohon secepatnya Mama kemari ya."


"Baiklah sekarang di mana letak Rumah Sakitnya?"


"Akan Fahmi share Ma,"


"Ya sudah Mama akan secepatnya ke sana. Apa kecelakaan yang dialami putriku itu parah?"


"Iya Mah, bahkan Sasa harus masuk ke ruang UGD."


"Innalilah, ya sudah Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam."


Fahmi menghembuskan nafasnya kasar, ia menunggu sendirian di depan ruangan tersebut.


Sebenarnya kenapa kau bisa sampai kecelakaan Sa? *Entah apa yang aku rasakan kini Sa, jujur saja sebenarnya aku sangat ingin menanyakan perihal pria itu. Bahkan aku sudah ingin mengurus surat perceraian kita.


Tapi setelah apa yang terjadi padamu kini, aku tak dapat melakukan apapun*. Kuharap kau baik-baik saja Sa, Seru batinnya. Ia menarik rambutnya kasar ke belakang.


Tak lama datanglah kedua mertuanya serta adik iparnya. Mereka dengan tergesa menghampirinya.


"Nak Fahmi di mana putriku? Kenapa putriku bisa mengalami kecelakaan?" Cecar Ibu mertuanya.


"Tenang dulu Ma," ucap suaminya berusaha menenangkan istrinya.


"Entahlah Ma aku pun tak mengerti kenapa Sasa bisa kecelakaan." Lirihnya lemah.


"Pah, bagaimana ini?,"


"Tenanglah Ma, kita berdo'a saja yang terbaik untuk putri kita." Jawab suaminya dengan memeluk erat tubuh istrinya.


Elisa sebenarnya ingin sekali mencecar Kakak iparnya itu. Ia yakin pasti ini semua karena Melati, Melati yang membuat Kakak iparnya tak pulang ke rumah. Kakaknya kecelakaan pasti karena sedang mencari suaminya.


Namun karena masih ada kedua orang tuanya ia hanya bisa bungkam memendam amarahnya. Ia pun ikut menunggu Kakaknya bersama dengan semua.


Lumayan lama mereka menunggu akhirnya terdengar suara pintu terbuka.


Ceklek.


Sontak semuanya mengarahkan pandangan mereka, tak menunggu lama mereka langsung menghampiri sang Dokter.


"Dok bagaimana dengan keadaan putri saya?" Air matanya masih mengalir dan melepas pelukan dari suami.


"Apa kalian keluarga korban?" Tanya Dokter belum menjawab pertanyaan dari wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Iya Dok saya Ibunya,"


"Baiklah Ibu bisa pergi ke ruangan saya ya Bu," ujar Dokter sopan.


"Baik Dok,"


Fahmi beserta mertuanya pergi menuju ruangan Dokter.


"Baiklah jadi seperti ini, benturan yang keras membuat kepala pasien mengalami cidera hingga menyebabkan kerusakan pada tulang tengkorak dan ditemukannya gumpalan darah.


Operasi perlu dilakukan dengan segera untuk menghilangkan gumpalan darah tersebut dan mencegah kerusakan otak yang lebih lanjut." Terang Dokter.


"Tapi tetap masih bisa disembuhkan kan Dok?" Tanya Fahmi cemas.


"Tentu Pak, namun untuk proses pemulihan pada kasus ini membutuhkan waktu berbulan-bulan." Jawab Dokter


(Maaf yah Author tidak bisa menjelaskan secara rinci, karena memang Author bukan ahlinya).


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok," pinta Fahmi.


"Kami akan berusaha dengan sebaik mungkin, silahkan untuk menandatangani persetujuan untuk melakukan operasi dan membayar administrasinya


"Baik Dok," ucap mereka bersamaan.


Fahmi segera pergi menuju tempat admistrasi dan membayar semua. Serta menandatangani persetujuan. Kedua mertuanya memilih untuk melaksanakan ibadah kewajiban mereka dan berikhtiar.


Tak lupa juga Fahmi mengabari kedua orang tuanya.


***


Fahmi kembali ke rumah istri mudanya dengan wajah letihnya. Melati yang mendengar suara mobil suaminya segera beranjak dari tidurnya.


"Kau belum tidur Mel?" Tanya nya heran melihat Melati yang menghampirinya.


"Aku tidak bisa tidur Mas," jawabnya. Ia mengajak suaminya duduk dahulu.


"Kau ingin minum sesuatu?" Lanjutnya. Ia ingin membuat minuman untuk Mas Fahmi.


"Duduklah di sini dahulu Mel," ucapnya dengan mencekal tangan sang istri.


"Kau pasti sangat lelah hari ini ya Mas."


Fahmi mengangguk lemah, ia hanya butuh ketenangan saat ini. Ia merebahkan kepalanya di paha Melati dan menghadap perut buncit istrinya.


"Mel bisa aku minta tolong?"


"Tentu saja Mas,"


"Tolong pijiti aku ya." Pintanya memelas.


Melati tersenyum, tanpa menjawab ia menuruti perintah suaminya.


"Mas bagaimana dengan keadaan Mbak Sasa?"


"Dia harus dioperasi Mel, sudah selesai tapi karena aku yang sangat lelah Ayah dan Bunda memintaku untuk pulang saja. Kita do'akan saja ya, semoga Sasa lekas sembuh." Dan agar aku bisa dengan secepatnya menceraikannya, maaf Sasa bukan aku tak memiliki hati. Tapi karena perbuatanmu sendiri yang membuatku harus mengambil keputusan ini.


"Iya Mas, besok kita pergi bersama ya Mas."


"Iya Mel kita akan bersama-sama mendampingi Sasa. Asalkan tidak membuatmu begitu lelah."

__ADS_1


"Baik Mas,"


"Oh ya apa Farah sudah tidur?"


"Sudah Mas,"


"Ia terlihat senang sekali jika berada di sini Mel."


"Mungkin karena di sini banyak teman. Kau kan tahu banyak tetangga kita yang memiliki anak seumuran Farah."


"Itu karena dia sangat menyayangimu Mel. Kau memberikannya kasih sayang dan memperhatikannya. Makanya dia nyaman denganmu."


"Mbak Sasa juga menyayanginya kok Mas,"


"Entahlah Mel, sering sekali Sasa lebih memperhatikan kariernya. Itulah yang membuat Farah tak terlalu dekat dengannya."


Dulunya aku memang berpikir seperti itu, tapi nyatanya dia telah berhubungan dengan mantan kekasihnya.


Melati hanya terdiam bingung ingin menjawab apa. Ia juga tak mungkin menyetujui perkataan suaminya, namun ingin membela juga ia tak terlalu tahu dengan kehidupan madunya.


"Oh ya Mas, boleh aku tahu sebenarnya apa yang telah terjadi tadi siang saat kau pulang?, Kenapa kau terlihat seperti itu?" Pertanyaan Melati sukses membuat Fahmi diam.


Nyatanya Fahmi masih merasakan sakit ketika mengingat penghianatan sang istri. Bahkan ia juga melihat Sasa yang menyerahkan haknya pada pria lain.


"Mas maaf, aku tak bermaksud untuk-. Em Maaf jika kau tak ingin menceritakannya juga aku tidak memaksa." Ujar Melati merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Mel, suatu saat kau juga akan mengetahuinya."


"Iya Mas,"


"Mel-,"


"Iya Mas."


Fahmi nampak ragu-ragu untuk berbicara.


"Em, itu Mel bisakah mulai sekarang kita tak perlu tidur terpisah."


Melati tersedak air liurnya sendiri. Bagiamana ini, apa yang harus ia jawab.


"Em itu-itu aku.."


"Maaf Mel aku tidak bermaksud-, jika kau tak ingin aku tak akan memaksa. Lagipula aku juga tak akan meminta hakku sekarang." Sebenarnya Fahmi juga bingung bagaimana cara ia mengatakan keinginannya. Apakah ia harus mengatakan dengan gamblang bahwa ia hanya ingin memeluk istrinya. Jujur saja, berada di dekat Melati membuatnya nyaman dan tenang. Apalagi ia juga merasakan kehadiran buah hatinya di perut sang istri.


"Aku yang seharusnya minta maaf Mas, kau telah menafkahi aku dan menjalankan kewajibanmu. Tapi tidak denganku."


"Tidak Mel, kau adalah istri terbaik. Kau bahkan mau mengurus anakku."


"Em i-iya Mas, dan untuk keinginanmu itu aku akan menurutinya."


"Benarkah? Kau yakin?"


"Iya Mas, tapi maaf kita-"


"Aku tak akan melakukannya,"


"Baiklah."


Untuk pertama kalinya, pasangan suami istri itu tidur di tempat yang sama setelah pernikahan mereka.

__ADS_1


__ADS_2