Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 42


__ADS_3

Hari ini Azein berniat untuk mengembalikan pakaian milik Alif yang telah ia pinjam waktu lalu. Setelah sampai, tak sengaja maniknya mendapati seorang wanita yang tengah duduk di kursi taman dengan membelakanginya.


Ia yakini bahwa itu adalah Melati. Rasa senang sedikit melanda hatinya. Bibirnya juga membentuk sebuah lengkungan. Cukup lama ia berdiam diri memperhatikan, hatinya meyakinkan diri bahwa ia harus menghampiri gadis tersebut.


"Melati." Panggilnya saat jarak kian menipis.


Namun yang dipanggil tak bergeming. Ia masih asyik dengan aktifitasnya. Azein hanya menghela, dengan sedikit ragu ia duduk di samping Melati.


"Ehm.." dehemnya sembari menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi yang sama dengan Melati.


Melati menoleh dan terbelalak melihat kehadiran Azein. Meski selama ini ia menyimpan rasa untuk Azein, namun karena kejadian naas yang menimpanya. Bayang Azein sama sekali Tan muncul di benaknya.


Namun hari ini, tak dapat dipungkiri kini rasa senang membuncah di hatinya tatkala melihatnya. "Kak Azein."


Azein yang sedari menatap Melati kini menarik kedua sudut bibirnya. Ia juga senang melihat senyuman Melati, dan juga terpesona.


Melati mengedarkan pandangannya ke atas, ia berpikir bahwa seharusnya sekarang ia mengajari Azein bermain piano. Seketika ia kembali mendatarkan wajahnya mengingat penyebab beberapa hari ini ia tak datang ke rumah Azein.


Azein mengernyit memperhatikan perubahan ekspresi wajah Melati yang tiba-tiba murung.


"Kenapa?"


"Mengapa kau kemari?" Melati tak menjawab pertanyaan Azein. Justru ia kembali melontarkan pertanyaan pada Azein.


"Mengembalikan pakaian milik Alif." Jawabnya santai.


Apa Azein benar-benar tak mengetahui apapun tentangku. Batin Melati menatap sendu manik Azein.


Azein yang ditatap sedemikian rupa membuatnya salah tingkah dan juga merasa bersalah. Dengan ini ia mengingat kejadian dua hari lalu.


"Maaf Mel, bukan maksudku..-" Azein mengusap tengkuknya.


Melati tersenyum tipis dan menggeleng pelan. "Tidak apa Kak."

__ADS_1


"Mel, aku tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa itu semua terjadi. Yang ingin aku tahu, apa yang saat ini kau inginkan?, Bagiamana perasaanmu?, Bagaimana caranya agar aku dapat membantumu meski sedikit." Ucap Azein sungguh-sungguh dan menatap dalam mata Melati.


Berkali-kali Azein melihat kedua bahu Melati yang naik turun. Ia yakin wanita di sampingnya itu menghela nafas berat.


Melati menundukan kepalanya kemudian menatap ragu Azein. "Kenapa?"


"Ya kita kan teman. Tidak ada salahnya kan jika kau juga membagikan sedikit bebanmu."


"Entahlah Kak, aku hanya tidak ingin berbicara apapun padamu.."


Azein menghela nafas panjang, ia menatap intens wajah Melati. Ia sudah tak dapat menahannya lagi. Segera saja ia beranjak dan berjongkok di depan Melati.


Tentu saja hal itu membuat Melati terkejut, baru pertama kali ia mendapati sikap Azein yang seperti ini.


"Cukup Melati, sudah cukup aku menahan semua ini. Hari ini biarkan aku mengungkapkan semuanya." Ujar Azein menatap penuh harap pada Melati.


Melati masih tak mengerti maksud Azein. Ia memundurkan tubuhnya ke belakang. Namun sayangnya sandaran kursi tersebut membuatnya mentok.


"Melati, a-aku.. men-mencintaimu..-" Ungkap Azein dengan pandangan sendu dan bergetar.


"Kau tahu Melati, masalah piano itu hanya alasan saja. Aku hanya ingin selalu berada di dekatmu. Aku menyukaimu bahkan saat pertama kali aku bertemu denganmu.


Kau tahu bagaimana perasaanku beberapa hari terakhir ketika kau tidak nampak di rumahku. Rasanya benar-benar hampa Mel. Awalnya memang aku menyangkal semua perasaanku, namun lambat laun aku semakin tak bisa jika kau tak hadir di hadapanku."


Melati sebenernya trenyuh dengan pengakuan Melati, namun yang membuatnya sesak adalah ia tak mampu untuk bersama Azein. Keadaan sama sekali tak berpihak pada mereka.


"Kenapa Kakak menyukai wanita seperti aku Kak?" Tanya Melati dengan deraian air mata.


"Apa maksudmu Melati?, Setiap orang memiliki hati, dan salahkah aku jika aku menyimpan perasaan di hatiku untukmu?"


"Tapi cintamu mendarat di orang yang salah Kak." Tegas Melati.


"Kenapa kau mengatakan hal itu Melati. Aku jatuh akan pesonamu, entah karena apa aku tak mengerti. Yang pasti kau membuat perasaanku berbeda kala aku bertemu dengan wanita lain. Dan satu hal yang membuatku semakin mencintaimu, kau mampu menjaga auratmu-"

__ADS_1


"Tapi pada kenyataannya aku telah kehilangan KEHORMATANKU Kak!!" Ungkap Melati dengan suara tinggi. Ia sudah tak mampu menahan sesak yang kian menghimpit dadanya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasa malu dan sakit seketika mencuat.


Sedangkan Azein terpaku dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Melati. Seketika jantungnya seakan berhenti berdetak. Kepalanya terus menggeleng menolak kenyataan ini. Namun melihat Melati yang hanya bisa menangis dan terpuruk semakin membuat hatinya sakit.


Dengan lemah ia berdiri dan duduk di samping Melati. Ia merengkuh tubuh rapuh tersebut.


Melati yang merasa tubuhnya di bawa ke dekapan seseorang hanya bisa pasrah. Namun tak dapat dipungkiri dekapan ini membuatnya semakin rapuh. Ia semakin menumpahkan tangisnya.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat kebersamaan keduanya. Ia menatap sendu ke arah keduanya.


Namun seketika Melati tersadar dengan apa yang diperbuatnya. Dengan cepat ia menjauh dari tubuh Azein.


"Maaf Kak, aku.." Melati mengusap kasar air mata yang sedari tadi membanjiri pipinya.


"Melati-" Belum sempat Azein menyelesaikan perkataannya Melati ingin pergi meninggalkan Azein. Tapi dengan cepat Azein mencekal pergelangan tangan milik Melati.


"Melati kumohon dengarkan aku..!" Ucap Azein dengan penuh harap dan menunjukan wajah memelasnya.


"Apa lagi yang harus aku dengarkan Kak. Kaulah yang harus mendengarkan aku. Kumohon buanglah perasaanmu jauh-jauh. Karena hatimu terlalu berharga untuk menyimpan wanita seperti aku."


"Tidak Melati, hanya kau yang mampu membuka hatiku. Aku sama sekali tak perduli dengan masa lalumu."


"Tidak Kak kumohon lepaskan aku. Sebaliknya kau pergi, aku tak ingin menyakitimu lebih dalam lagi."


"Kau akan menyakitiku jika kau pergi dari hidupku Melati. Kumohon tetaplah di sampingku."


"Kak kumohon. Aku tidak pantas untuk berada di sampingmu. Hilangkanlah perasan mu padaku."


Azein menggeleng lemah. Melati langsung melepas cekalan tangan Azein kala melihat Azein yang mengendurkan tangannya. Dengan cepat ia berlari menjauh dari Azein.


Pria itu baru sadar wanitanya pergi. "Melati kumohon kembalilah!!" Teriaknya saat Melati menghilang dari pandangannya.


Ia menunduk dan meneteskan air matanya. Sungguh semua yang baru ia dengar itu suatu hal yang tak pernah ia bayangkan. Azein masih belum mempercayai semuanya.

__ADS_1


Dengan langkah gontai ia berjalan menuju mobilnya. Dengan berkali-kali menghembuskan nafas kasarnya ia mulai melenggang pergi dari rumah itu.


__ADS_2