Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 35


__ADS_3

Aaz dan Maira mengernyit karena ketika mereka mengucapkan salam tak ada jawaban sama sekali. Mereka berpandangan dan memikirkan hal yang sama.


"Melati dimana?" Tanya Aaz melaui sorot matanya, dan Maira hanya menggeleng sebagai jawabannya.


Mereka pun melangkahkan kaki mereka menuju ruang televisi. Tempat terakhir kali mereka melihat keberadaan Melati tadi. Mata mereka terbelalak melihat keadaan ruang tersebut yang kacau balau. Bahkan beberapa pajangan terpecah-belah di lantai. Mereka saling berpandangan.


Perasaan gusar dan gelisah kian menyelimuti hati mereka. Pikiran mereka berusaha menyangkal firasat buruk yang sedari tadi mereka rasakan. Manik mereka mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan berhenti pada bercak merah yang menunjukkan kejanggalan. Aaz melirik Maira. Memberinya isyarat agar mengikuti arah darah tersebut. Maura mengangguk dan mengikuti Aaz.


Dahi mereka mengernyit karena semakin mereka mengikuti arah darah tersebut, darah tersebut menuntun mereka menuju kamar tamu. Perasaan mereka semakin was-was. Dengan ragu Maira menyingkap korden dan melihat kamar tersebut.


Alangkah terkejutnya mereka melihat keadaan kamar tamu. Benar-benar berantakan dan kacau balau. Yang lebih membuat mereka terkejut ialah keberadaan Fahmi yang tergeletak tak berdaya di ranjang tersebut. Segera saja keduanya mengalihkan pandangannya.


Terdengar gemercik air dari dalam bathroom dan isakan seorang perempuan. Mata kedua gadis tersebut telah memerah dan akan tumpah. Seakan semua yang ada di depan mata menjawab semua pertanyaan di benak mereka.


Dengan mata tertutup Maira menghampiri Kakaknya untuk menutup tubuhnya dengan selimut. Biar bagaimanapun ada sahabatnya disini. Aaz melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan membukanya.


Air mata sudah tak dapat dibendung lagi oleh Aaz. Dilihatnya sang sahabat karib tengah meringkuk dengan deraian air mata yang tercampur dengan air yang mengalir dari shower. Ia menutup mulutnya dan tubuhny sendiri meluruh.


Direngkuhnya erat tubuh lemah itu. Isakan Melati semakin kencang dan pilu. Seakan dunianya hancur seketika. Entah apalagi yang ia punya saat ini untuk dihargai. Noda yang berada di tubuhnya sama sekali tak dapat dihilangkan.


Maira menyusul ke dalam bathroom. Ia mendengar isakan yang keras dari situ. Mata terbelalak melihat keadaan kedua sahabatnya. Mereka sama-sama basah kuyup karena air yang terus mengalir dari shower. Segera saja ia mematikan showernya hingga suara tangisan Melati terdengar sangat jelas dan kencang.


Sama seperti halnya Aaz, Maira juga sangat shock dan tak percaya dengan ini semua. Dilihatnya tubuh Melati yang memerah bahkan ada beberapa yang membiru. Dan sudut bibirnya yang bergetar dan bekas darah yang mengalir dari sana pun masih terlihat samar.

__ADS_1


Lama Melati menumpahkan segala yang ia rasakan dengan kedua sahabatnya. Maura merasakan tubuh Melati yang menggigil dan lemah. Maira dan Aaz bersama-sama membantu Melati untuk bangkit dan membawanya menuju kamar Maira.


Dipakaikannya pakaian milik Humaira pada Melati. Ia sendiri melihatnya ngilu dan tak tahan untuk berlama-lama menatap keadaan Melati. Aaz juga demikian, mereka tidak ingin menanyakan apapun pada Melati. Mereka menemani Melati sampai sahabat mereka itu tertidur. Meski mereka tahu akan sangat sulit untuk merasakan pulasnya tidur.


Aaz kembali mengeluarkan air matanya, ia menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya saja ia tidak pergi dan meninggalkan Melati sendirian. Seandainya ia mengajak Melati. Seandainya, andai, dan andai.. begitu juga dengan Maira.


Bagaimanapun semua ini terjadi jika keduanya tidak meninggalkan Melati sendirian. Maira mengangkat wajahnya, pikirannya saat ini tertuju pada Kakaknya Fahmi. Yah, kesalahan terbesar dalam hal ini adalah karena ulah Fahmi.


***


Plak. Tamparan keras yang dilayangkan langsung oleh Ikhsan mengoyak sudut bibir Fahmi. Tidak ada yang ingin menghentikan aksi pria berusia hampir setengah abad itu. Entah sudah sekacau apa tubuh Fahmi sekarang. Berbagai macam pukulan telah ia terima. Dari Ayahnya sendiri, Kakak Melati yaitu Alif dan sekarang oleh Ikhsan.


Jam menunjukan pukul 01.56 dini hari. Dimana biasanya orang sedang tertidur pulas dibalik selimut. Namun tidak di kediaman milik Tuan Faris. Kelakuan yang telah dilakukan oleh putra sulungnya membuat suasana di rumah itu menjadi panas.


Melati telah dibawa pulang oleh Ibu Sambungnya dan Lulu, sedangkan Ayah dan Kakaknya sedang berada di ruang yang kian menegang. Maira dan Aaz juga ikut berada di rumah Melati untuk menemani sahabat mereka.


Dirinya bahkan tak tahu harus berbicara apa. Rasa amarah telah melanda dirinya, namun untuk mengeluarkan larvanya ia tak mampu. Rasa penyesalan juga menghampirinya. Benar-benar berat yang ia rasakan saat ini.


Faris yang melihatnya anaknya yang sudah sangat lelah dan mengeluarkan air mata dalam dekapan istrinya. Dan melihat pria sebayanya yang sangat rapuh benar-benar merasa entahlah. Ia sendiri pun tak tahu. Dari awal kedatangan keluarga Ikhsan mereka langsung menghujam tubuh Fahmi dengan pukulan bertubi-tubi dan umpatan-umpatan dari mulut Alif. Namun Ikhsan sama sekali tak bersuara.


Ia memberanikan diri untuk menatap pria sebayanya itu.


"Tuan, kami sangat tahu apa yang telah dilakukan oleh putra saya sangat mengecewakan dan mungkin tak dapat dimaafkan. Dan kami pun akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh Fahmi."

__ADS_1


Ikhsan mendongakkan wajahnya, dan Alif langsung mendelikkan matanya. "Apa maksud anda Tuan?"


Sejenak Faris memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang. "Bagaimanapun hidup putri anda telah dihancurkan oleh putra saya. Tak ada pilihan lain selain menikahkan mereka."


Meski Ikhsan telah menduga hal ini terjadi, namun bila menjadi kenyataan ia masih belum bisa menerima. Kenyataan bahwa Fahmi telah berkeluarga dan bahkan memiliki anak membuat hatinya bagai dihujam batu kerikil yang panas.


"Tapi putra anda telah beristri bahkan menjadi seorang Ayah." Ucap Alif dengan suara yang meninggi. Baru saja ia membantu seorang perempuan untuk meraih kebebasan dari kehidupan pahitnya dan sekarang ia harus menyerahkan adiknya ke lubang yang sama.


"Tak ada pilihan lain. Jika itu tidak terjadi bagaimana dengan hidup adik kamu. Bukankah ada kemungkinan jika benih yang telah Fahmi tuai akan tumbuh. Maka ia tak akan memiliki status. Belum lagi dengan tekanan sosial." Ucap Faris berusaha memberi pengertian.


Benar. Memang benar yang dikatakan oleh Tuan Faris. Tubuh Ikhsan semakin melemah, jika tidak menikahkan putrinya dengan orang yang telah menghancurkannya maka akan berdampak buruk kedepannya. Namun jika ia menerima semua ini maka seumur hidup putrinya akan terus berbagi segalanya.


Pernikahan tanpa cinta sudah terbiasa terjadi. Dan cinta akan mengalir dengan sendirinya. Begitulah menurut kebanyakan orang. Namun dalam hidup Melati, meski ia telah mendapatkan cinta dan kasih sayang itu semua bukan milik seutuhnya.


"Beri kami waktu untuk berpikir dahulu. Tetapi kami tidak akan pernah melepaskan putra anda Tuan Faris!." Pasrah Ikhsan. Sedangkan Alif hanya diam namun amarah dalam dirinya semakin mendidih. Ia mengepalkan kedua tangannya.


"Iya Tuan, kami menunggu jawaban dari anda."


Ikhsan dan putra sulungnya pergi dari rumah itu. Faris menatap anak serta istrinya, sebesar apapun kesalahan yang dilakukan oleh putranya namun ia juga masih memiliki rasa iba dengan keadaannya. Ia mengajak tubuh keduanya untuk berdiri. Meminta istrinya untuk mengobati luka yang hampir di sekujur tubuh Fahmi.


"Mas..!!" Teriak Sasa, menantu mereka. Ia melihat suaminya dengan mata memerah menahan amarah dengan tangan mengepal kuat. Namun melihat keadaan suaminya menumbuhkan sedikit rasa melas di hatinya.


Kedua paruh baya itu menoleh. Mereka terkejut dengan kehadiran Sasa.

__ADS_1


"Nak." Panggil Mita dengan bergetar. Ia sendiri sudah sangat memahami isi hati sang menantu. Dengan lembut ia merangkul bahu manantunya itu.


Fahmi menundukan kepalanya, ia sangat malu pada ibu dari anaknya itu. Ia sangat sadar perbuatannya sangat membuat Sasa terluka.


__ADS_2