
"Jika tidak percaya kirim pesan saja padanya."
Melati mengambil ponselnya. Seharian ini ia tak membawa ponsel, jadi ia sama sekali tidak tahu siapa saja yang mengirimkannya pesan. Dengan segera ia menghidupkan data seluler ponselnya.
Assalamu'alaikum. ~ Azein.
Mel aku sudah pulang sedari kemarin. ~ Azein.
Jadi hari ini kau harus kembali mengajari aku. ~ Azein.
Lima belas menit kemudian.
Kau dimana saat ini?. ~ Azein.
Terlihat beberapa panggilang tak terjawab.
Hei Melati, kau dimana?. ~ Azein.
Balas pesanku. ~ Azein.
Melati menghembuskan nafas membacanya. Memang benar yang dikatakan oleh Aaz. Lima belas menit lagi jika ia harus datang ke rumah Aaz. Namun ia benar-benar lelah hari ini. Ia pun mulai mengetik pesan.
Wa'alaikumsalam. ~ Melati.
Tapi maaf Kak, bisakah kita memulainya besok saja. Aku sangat lelah hari ini. ~ Melati.
Beberapa saat akhirnya Melati mendengar ponselnya.
Kenapa?, Memangnya kau dari mana?. ~ Azein.
Pokoknya hari ini aku tidak bisa. Hari-hari berikutnya aku janji akan lebih lama. ~ Melati.
Baiklah terserah kau saja. ~ Azein.
***
"Mel aku ingin membeli sesuatu di minimarket." Ujar Aaz pada Melati yang seperti biasa sedang menulis novelnya.
"Oh aku titip juga ya." Melati mengambil tasnya dan mengambil beberapa lembar uang.
"Apa kau tidak apa jika sendirian Mel?" Tanya Maira yang juga ingin pergi bersama Aaz.
__ADS_1
"Apa kau ingin pergi juga dengannya?" Melati berbalik bertanya pada Maira dan menunjuk Aaz dengan dagu yang diangkat mengarah ke Aaz.
"Iya Mel, aku tidak berani sendirian. Aku ingin mengajakmu tetapi aku melihatmu tengah sibuk seperti itu." Jawab Aaz.
"Ya sudah tapi kalian tidak lama kan?" Ucap Melati.
"Iya lagian kau juga tahu kan berapa jarak antara rumah ini dengan minimarket di sana."
"Ya sudah kalian hati-hati ya, oh ya aku juga ingin martabak."
"Baiklah kami pergi dahulu ya Mel, Assalamu'alaikum." Aaz menggandeng tangan Maira keluar.
"Wa'alaikumsalam," Melati kembali ke aktivitas sebelumnya.
Tak lama ada seseorang yang datang ke rumah tersebut. Lelaki tersebut jalan dengan sempoyongan. Melati masih belum menyadari adanya orang lain di rumah itu karena ia menggunakan earphone. Posisinya saat ini tengah duduk di ruang televisi. Karena tadi Maira dan Aaz sempat menonton tv.
Lelaki menatap Melati intens. Melati yang saat ini hanya menggunakan kaos namun masih berhijab. Beberapa lekuk tubuhnya terlihat, ditambah dengan wajahnya yang cantik.
Seksi. Batin lelaki tersebut. Lalu ia tersenyum miring, ia mendekati gadis dua puluh satu tahun tersebut.
Melati terkejut karena tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya kasar hingga tubuhnya juga sedikit terguncang. Dilihatnya Kakak dari sahabatnya sendiri menatapnya dengan pandangan penuh gairah.
Namun Fahmi langsung menghambur memeluk Melati dan mengendus tubuh Melati. Tubuh Melati seketika terkejut. Dengan sekuat tenaga ia melepaskan diri dari Fahmi.
"Kak kumohon lepas..!" Melati memohon dengan sangat. Suara yang dikeluarkan justru membuat Fahmi semakin bergairah. Apapun yang dilakukan menurutnya menjadi sangat seksi dan semakin membangkitkan naf*unya.
Melati berusaha memukul dan menendang tubuh Fahmi. Air mata dan keringatnya telah merambat ke hampir seluruh wajah cantiknya.
Penolakan Melati membuat Fahmi murka, dengan paksa ia melepas hijab Melati hingga jarum pentul yang dikenakan Melati mengenai dagunya. Melati meringis karena keperihan. Tenaganya hampir habis saat itu juga. Dengan sekuat tenaga ia berteriak, namun dengan cepat Fahmi menyumpal bibirnya dengan miliknya sendiri.
"Emphhmmm.." Melati terus menggerakkan seluruh badannya untuk melawan Fahmi. Dengan cepat Melati menampar dengan keras pipi Melati dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
Tubuh Melati melemah lambat laun. Fahmi menyeretnya menuju salah satu kamar terdekat yaitu kamar tamu. Melati berusaha memberontak, ia menginjak dan menendang-nendang tubuh Fahmi dengan kakinya. Karena tangannya sudah dicekal erat oleh Fahmi.
Fahmi semakin membuat Melati lemah hingga hampir hilang kesadarannya karena Fahmi juga melayangkan beberapa pukulan pada tubuh Melati.
Tubuh Melati terdiam seketika dan pandangannya kosong saat kehormatan yang selama ini ia jaga dan ia persembahkan untuk suaminya kelak telah terenggut paksa. Hanya air mata yang mengalir saat itu.
***
"Eh Az kau lihat itu ada kecelakaan," tunjuk Maira ke arah tempat kejadian yang dilihatnya.
__ADS_1
Aaz mengikuti arah tangan Maira, ia memang melihat keramaian di sebrang sana. Ia pun berpandangan dengan Melati.
"Kita kesana?" Tanya Aaz.
"Iya ayo." Maira dan Aaz berlari menuju tempat terjadinya kecelakaan. Dapat mereka lihat sang korban berlumuran darah. Seseorang meneriaki para orang-orang yang tengah melihat kejadian tersebut. Dapat diyakini bahwa ia adalah seseorang yang kenal dengan korban.
"Kumohon siapapun tolong Ibuku!!" Teriaknya.
Maira dan Aaz menatap iba pada anak tersebut. Mereka juga melirik yang lainnya yang hanya melihat ingin tahu dan bahkan ada yang merekamnya. Segera saja mereka menghampiri anak tersebut dan meminta orang yang ada disana mengangkat dan membawa wanita paruh baya yang berlumuran darah itu ke mobil milik Maira.
Kepulangan Maira dan Aaz menjadi tertunda karena menolong orang tersebut. Apalagi mereka juga menunggu waktu yang cukup lama karena menunggu keluarga korban yang lainnya. Tak mungkin juga kan mereka meninggalkan anak kecil menunggu Ibunya sendirian.
Entah apa yang Aaz dan Maira rasakan saat ini. Mereka gelisah namun juga merasa was-was. Sebenarnya bukan karena melihat korban kecelakaan yang sedang mereka tunggu namun perasaan mereka seperti menginginkan mereka untuk cepat pulang.
"Ra, kenapa ya aku merasa ingin sangat pulang sekarang. Aku juga sedari tadi memikirkan tentang Melati." Ucap Aaz dengan raut wajah gelisah.
"Iya Az aku juga ingin sekali pulang rasanya. Entah kenapa tiba-tiba saja merasakan tak enak."
"Jangan bilang kau memikirkan hal yang sama denganku tentang..-" Aaz dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berusaha menghalau pikiran negatif yang menimpa Melati.
"Tidak, tidak ada yang terjadi." Maira juga demikian, meski bibirnya terasa berat untuk mengatakan firasat buruknya pada Aaz namun tak dapat disangkal hatinya merasa tak enak sekarang.
***
Prang. Cangkir kopi yang tengah dipegang oleh Ikhsan tiba-tiba saja terjatuh. Detak jantungnya berpacu dengan kencang secara tiba-tiba.
Entah kenapa pikirannya tertuju pada anak perempuan satu-satunya.
"Astaghfirullah Yah ada apa?" Tanya Mina yang terkejut karena pecahan kaca gelas. Ia melihat raut wajah khawatir yang ditampilkan oleh suaminya. Bahkan suaminya tak bergeming saat ia memegang bahu Ikhsan.
"Mas." Mina menggoyangkan tubuh suaminya agar segera tersadar dari lamunannya.
Ikhsan menoleh padanya dan tiba-tiba memeluknya erat. Bahkan air matanya sudah berjatuhan ke dua pipinya. Mina merasakan getaran pada tubuh Ikhsan. Ia tak ingin menanyakan apapun, ia hanya bisa mengelus lembut punggung suaminya itu.
"Aku tidak tau apa yang tengah aku rasakan saat ini Dek. Pikiranku sangat gelisah sedari tadi" Ikhsan menatap sendu manik mata Mina.
Mina memberikan senyum terindahnya dan mengelus wajah Ikhsan. "Kau belum sholat Isya' sedari tadi Mas. Mungkin itu yang membuatmu gelisah." Tutur Mina lembut.
Ikhsan menundukkan kepalanya. Ia juga membenarkan perkataan istrinya. Sedari tadi dia asyik dengan menonton pertandingan bola. Ikhsan mengusap gusar rambutnya. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Menarik nafas sebanyak-banyaknya dan membuangnya pelan. Namun hati kecilnya tetap saja gelisah. Pikirannya masih tertuju pada Melati.
Sekali lagi Mina mengelus bahu Ikhsan. Memintanya untuk segera melaksanakan kewajibannya. Ikhsan pun tersenyum dan mengangguk. Ia beranjak dari duduknya.
__ADS_1