Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 39


__ADS_3

Seharian ini Melati terus memikirkan perkataan demi perkataan yang dilontarkan oleh Ibunya. Ia juga memperhatikan seluruh gambar yang ditunjukkan Ibunya. Lambat laun ia sadar dengan apa yang ia lakukan selama ini. Ada pula gambaran apa yang akan ia lakukan.


Ia membandingkan dirinya dengan masing-masing gambaran yang telah digambarkan oleh Ibunya tadi. Tatapan matanya fokus pada gambar ketiga. Yaitu gambar indah yang awalnya dibuat karena noda hitam.


Ceklek. Melati melirik ke arah pintu karena terdengar seseorang membuka pintu. Nampaklah pria yang sangat ia hormati.


"Nak." Panggilnya lembut.


Melati tersenyum melihat kehadiran Ayahnya. "Iya Yah."


Ikhsan senang melihat putrinya yang hari ini sudah menampakan sedikit perubahan. Karena jika biasanya putrinya itu sama sekali tak menghiraukan orag di dekatnya. Ia sendiri juga sempat melihat pembicaraan antara istrinya dan putrinya. Ia sangat bersyukur karena mendapatkan istri seperti Mina.


"Bagaimana kabarmu Nak?" Tanya Ikhsan menghampiri putrinya.


"Alhamdulillah baik-baik saja Yah. Lagipula memangnya Ayah pernah melihatku sakit?" Melati terkekeh mendengarkan Ayahnya


"Syukurlah Sayang." Ikhsan ikut tersenyum menanggapi putrinya.


"Baiklah Nak, sekarang sudah waktunya makan malam. Kau turunlah ke bawah ya." Pinta Ikhsan.


"Iya Yah. Ayo kita turun ke bawah."


Mereka beranjak dan menghampiri seluruh keluarga yang tengah menunggu mereka.


"Wah kau sudah selesai berhibernasi bear?" Celoteh Alif pada Melati.


Semua tergelak mendengarnya, Melati menatap sebal pada Kakaknya. Sedangkan Alif sendiri menatap penuh kemenangan Melati.

__ADS_1


***


Peristiwa yang menimpa Melati dan Fahmi telah sampai di telinga Elisa. Ia sangat geram dan rasa kebenciannya semakin tumbuh. Apapun yang terjadi ia tetap menuduh Melati sebagai pelakor. Apalagi saat ia berada di rumah ia sempat melihat Kakaknya menangis.


Memang ia sudah bisa dipulangkan dari rumah sakit sejak tiga hari yang lalu. Mendengar Kakak iparnya yang akan menikahi Melati membuatnya tersenyum miring. Ada banyak hal yang ingin ia lakukan selama mantan sahabatnya itu di rumah Fahmi.


Saat ini bahkan muncul ide gila saat melihat Melati yang tengah memesan sesuatu di pinggir jalan. Melati tampak berada di tempat penjual martabak. Senyum Melati terpampang jelas di matanya, api kebencian semakin menyeruak dalam dirinya.


POV Melati


Memang tak pernah aku bayangkan jika aku akan mengalami hal seperti ini. Aku sudah merasa bahwa diriku ini hanya secuil debu. Namun mendengar penuturan dari Ibu Sambungku Mina, hatiku sedikit tersentuh. Ia mengajarkan bahwa noda yang telah melekat di tubuhku bukanlah suatu hal yang harus kusesalkan.


Sulit bahkan tidak mungkin untuk menghilangkannya, namun tetap akan menjadi indah jika aku menambahkan warna lain dalam hidupku. Kini seluruh hidupku telah aku pasrahkan pada yang Kuasa. Apapun akan kulakukan demi-Nya. Dengan menerima perjodohan ini aku yakin bahwa hidupku akan berubah.


Meski harus dimadu, tidak masalah toh hal itu tidak dilarang. Bukan karena apa, memang apalagi yang harus kulakukan selain itu. Dengan berdiam diri, menyesali semuanya? Tentu tidak beberapa hari ini memang pikiranku kosong. Dan baru aku sadari bahwa hal itu menyiksaku secara perlahan.


Namun ada satu hal yang mungkin membuat beberapa orang kecewa padaku. Jika sampai benar aku hamil, maka setelah masa nifasku usai aku akan mendaftarkan perceraianku ke pengadilan. Yah, itulah rencanaku.


Meski kelak suamiku akan memberi keadilan antara aku dan maduku, namun aku yakin ketika Mas Fahmi tengah bersama dengan salah satu di antara kami rasa cemburu dan sakit tak dapat dihindarkan.


Bukan maksudku untuk mempermainkan pernikahan, dan aku tahu Tuhan tak menyukai perceraian. Namun aku hanya tak ingin menyiksa batinku seumur hidup dan aku juga yakin hati yang saat ini paling tersakiti adalah istri pertama. Aku juga tak ingin menjadi pelakor. Biarkan aku mundur, dan untuk anakku aku akan berbicara dengan kepala dingin bersama Mas Fahmi. Anakku akan tinggal denganku dan aku tak akan membatasi kapanpun Ayahnya ingin bertemu.


Semua itu hanyalah rencana dan usahaku. Namun bagaimana akhirnya aku tak memikirkannya. Jika memang takdir membuatku berada di samping Mas Fahmi maka akan aku terima. Namun tetap aku tak ingin dimadu.


Lamunanku buyar saat melihat kedatangan kedua sahabatku. Aku sangat senang mereka selalu berada di sampingku. Meski beberapa hari ini aku sama sekali tak menghiraukan mereka, namun tak pernah sedikitpun mereka meninggalkan diriku.


Aku juga menceritakan semua aku rasakan selama ini, dan menjelaskan semua rencanaku. Mereka terkejut, namun mendengar alasanku mereka mulai memahaminya. Meski aku tahu mereka juga masih belum terlalu menyetujui langkah yang ingin aku tempuh.

__ADS_1


"Eh Mel, waktu itu kan kau menitipkan untuk membeli martabak. Tapi tak urung kau makan karena kejadian itu. Bagaimana kita beli saja lagi hari ini?" Ucap Aaz memecah keheningan sesaat.


Aku mengangguk dan memandang Maira. "Baiklah aku jadi ingin membelinya, kau juga mau kan Ra?"


"Iya Mel, ayo kita pergi bersama-sama." Maira tersenyum pada kami. Kami bertiga pun beranjak dan segera berlalu dari rumahku.


Mataku berbinar saat mobil Maira telah berhenti di tempat penjual martabak. Memang aku sudah sangat merindukan makanan favoritku ini. Sudah menjadi kebiasaan memakan martabak coklat di temani minuman kesukaanku juga yakni coklat panas untuk mengetik novel online. Ah, aku juga melupakan dunia tulisku itu.


Sayup-sayup aku mendengar beberapa orang tengah menyebutkan namaku. Aku mendengarnya inteni. Namun aku dengan cepat menggelengkan kepalaku. Mungkin saja itu Melati orang lain. Bukan diriku sendiri.


Namun lambat laun, suara-suara itu kian mendekat. Dan dapat kudengar dengan jelas. Mereka membicarakan tentang namaku dan pelakor.


Aku semakin terkejut saat seorang wanita paruh baya menarik hijabku. Kulihat juga kedua sahabatku yang terkejut melihat ini semua.


"Hei dasar PELAKOR!!" Ucap wanita itu dengan penuh penekanan. Suaraku tercekat, aku tak mampu membalas perkataan maupun perbuatannya.


"Iya benar. Jangan biarkan gadis ini berkeliaran disini!" Ujar yang lainnya. Dengan segenap usaha, aku berusaha menghindar dan menahan tangan mereka agar semakin tak menyakitiku.


Tampak kedua sahabatku membantuku untuk menjauhkan aku dengan para ibu ini. "Maaf Bu, bukan kami lancang. Kalian sama sekali tak mengetahui tentang sahabatku ini. Jadi kumohon lepaskan dia." Pekik Aaz berusaha melerai pertikaian di tempat ini.


Orang-orang yang sedari tadi berada di tempat yang sama mulai menghampiriku. Aku hanya bisa menangis, bahkan diantara mereka tak ada yang berniat untuk membelaku.


Kedua sahabatku semakin kualahan. Ibu-ibu yang juga berada di sana turut menghinaku dan mencaciku. Telingaku sudah sangat panas dibuatnya.


Cacian dan hinaan juga berbagai layangan benda-benda menjijikan tak luput dilemparkan ke tubuhku. Tubuhku melemas, pandanganku kabur. Tak mampu lagi aku untuk sekedar menopang tubuhku.


Namun sesaat tubuhku tak lagi mendapat lemparan apapun. Kudongakkan wajahku dan tampaklah pria yang selama ini kukenal. Setelahnya aku tak mengingat apapun.

__ADS_1


__ADS_2