Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 72


__ADS_3

Bembi menyambut antusias kedatangan Sasa di rumahnya. Sudah sekian lama ia menantikan kabar bahagia ini.


"Sayang akhirnya kau datang juga ke pelukanku." Ucapnya gembira dan langsung merengkuh tubuh yang sangat dicintainya.


Sasa tersenyum tipis, entah kenapa sekarang ia merasa hambar bersama dengan Bembi. Padahal sebelumnya ketika ia masih menjadi istri Mas Fahmi ia sangat senang dan bahagia.


"Sayang duduklah." Ajak Bembi menuju salah satu sofa di ruangan tersebut.


Lagi-lagi Sasa hanya tersenyum menanggapi.


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik sayang. Kau sendiri?"


"Tentu saja aku baik. Kapan kau dan suamimu itu resmi berpisah?" Tanya Bembi antusias.


"Kau tidak tahu By, aku usahakan cepat."


Bembi tersenyum senang dan sangat bahagia. Dengan erat ia merengkuh tubuh wanita di hadapannya.


"Apakah kau sangat senang?"


"Tentu saja Sa, sudah lama aku menantikan ini. Kau menjadi milikku seutuhnya."


"Tapi apa kau akan menerimaku seutuhnya. Aku tidak bisa memberimu keturunan Sayang."


"Sa, selama ini aku tidak mencari wanita lain karena hanya dirimu yang aku tunggu. Aku hanya ingin bersamamu, tidak ada yang lain. Untuk urusan keturunan kita bisa mengangkat anak nantinya. Sebagai rasa bersalah kita pada anak kita yang dahulu pernah kau gugurkan itu."


Tes, air mata Sasa menetes. Hatinya tercubit keras mengingat semuanya. Dengan segera Bembi kembali memeluk wanita yang terisak itu.


"Sa setelah ini marilah kita merubah diri menjadi yang lebih baik. Aku menyadari bahwa semua yang kita lakukan adalah salah, dan telah sangat menyakiti suamimu.


Namun apa mau dikata semuanya telah terjadi, sudah cukup kita melakukan kesalahan. Dengan adanya pernikahan di antara kita, kita mulai lembaran baru ya. Penuh dengan warna dan menjadikan setiap langkah yang kita ambil sebagai ibadah"


Sasa mengangguk, ia menatap dalam manik lelaki yang sangat mencintainya itu.


***


Elisa merasakan sedih melihat Kakaknya yang selalu murung, pikirannya melayang pada Melati. Wanita yang sangat ia benci dari dahulu, wanita yang menghilangkan senyum di wajah Kakaknya, wanita yang menyebabkan Kakaknya kehilangan suami serta anak.

__ADS_1


Dengan tergesa ia menyambar ponselnya dan tersenyum smirk.


Kau harus mendapatkan balasan atas perbuatan mu Melati. Aku sungguh tak rela jika kau harus bahagia dengan keluarga Kakakku.


~~


Maira terkejut mendapati orang-orang yang tiba-tiba melemparinya dan sahabatnya dengan benda-benda menjijikkan.


"Dasar PELAKOR, ini dia Bu wanita yang dengan tidak tahu malunya hamil dengan suami orang. Bahkan sekarang dia sudah berhasil mendepak istri pertama suaminya." Kompor Ibu A pada seluruh Ibu-ibu yang melihat kejadian tersebut.


"Wah memang dasarnya murahan!!!"


"Pelakor tidak tahu malu!!!"


"Heran yah, sesama wanita kok begitu!!!."


"Parahnya anak haramnya juga perempuan loh Bu!!"


"Cih sok alim berhijab seperti ini ternyata, pantas saja lakinya berpikir kamu wanita baik-baik."


"Ish kita lihat saja Bu, bagaimana karma berlaku. Kita nikamti saja bagaimana drama pernikahan anaknya kelak!!"


Deg. Melati tersentak mendengar salah satu Ibu yang membahas tentang anaknya.


Si tukang sayur keliling juga merasa frustasi tak dapat menghentikan ibu-ibu yang terus mengambil bahan sayurannya untuk menghajar wanita yang masih muda tersebut.


Suasana masih pagi serta Fahmi yang belum berangkat bekerja, tentu mendengar keributan yang terjadi di depan rumahnya. Alangkah terkejutnya ia mendapati istri dan adiknya yang tengah diserang ibu-ibu komplek.


Ia merutuki si penjaga rumahnya yang entah kemana.


"Cukup! Jika sampai ada lagi yang berani menghina dan berlaku demikian akan saya tuntut!!" Serunya pada semua pelaku yang tengah membully istrinya.


"Cih, istri seperti itu dibangga-bangga dan dilindungi. Sedangkan istri pertama yang sangat setia dan menunggu suaminya dihempaskan tanpa ampun!!" Sindir Ibu C.


"Cukup kalian tidak tahu apapun! Jadi sekarang tolong semuanya bubar!!"


Semua pergi dengan amarah yang masih menggebu-gebu.


"Eh Ibu, ini kenapa kalian langsung pergi semua. Ayo bayar sayuran yang kalian ambil tadi." Teriak si penjual sayur.

__ADS_1


Namun sama sekali tak digubris oleh semuanya. Ia hanya bisa mengelus dada dan menggelengkan kepalanya. Dilihatnya sendu semua bahan-bahan yang berserakan.


Bukan masalah kerugian yang ia pikirkan. Tapi sayang saja, dengan semua sayuran yang ludes. Toh sama saja seperti membuang-buang makanan.


Dirinya sendiri hanyalah penjual sayur yang dimana bukan pemilik seutuhnya barang dagangannya. Untuk menghidupi anak dan istrinya, sangat ia ketahui bagaimana caranya untuk mendapatkan sesuap nasi.


Fahmi yang juga melihatnya merasa iba. "Pak maaf ya, saya akan ganti semua kerugiannya."


"Tidak perlu Pak, mungkin memang sudah bukan rezeki saya." Lirihnya tersenyum tipis.


"Tapi bagaimanapun semua terjadi karena hadirnya istri saya Pak. Sudah ya Pak, terima saja ini Pak." Sebenarnya Fahmi tak ingin menyalahkan istrinya, namun apa mau dikata. Ia tak memiliki alasan untuk menghadapi si penjual sayur tersebut.


"Tapi ini kelebihan Pak."


"Tidak apa-apa Pak, ambil saja." Menyerahkan beberapa lembar uang merah dari sakunya.


Akhirnya dengan berbagai bujukan dari Fahmi penjual sayur tersebut mau menerima ganti rugi yang telah ia sodorkan.


Fahmi memfokuskan dirinya pada sang istri dan adik. Hatinya sungguh terluka melihatnya, ia ajak keduanya menuju rumah.


"Mel," cicit Fahmi yang melihat istrinya keluar dari kamar mandi. Ia menggenggam tangan Melati dan mengajaknya duduk di sampingnya.


Melati mengikuti ajakan sang suami, namun sama sekali tak melihat wajahnya saat Mas Fahmi menatapnya intens.


"Aku minta maaf Mel," lirihnya.


Mata Melati memanas, air mata yang dibendung siap meluncur. Sungguh ia sendiri sudah sangat lelah. Lagi-lagi ia mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang di sekitarnya.


Baru saja ia merasa lega karena telah meninggalkan lingkungan madunya dulu, kini ia juga harus mendapatkannya lagi dari para tetangga.


"Aku lelah Mas," ucapnya pelan.


Fahmi tak mampu lagi berkata, dengan cepat ia kembali memeluk tubuh Melati. Memberinya kekuatan untuk tetap bertahan.


"Mel, aku tidak tahu harus berbuat apa. Nyatanya atas semua apa yang telah aku lakukan, dampaknya benar-benar begitu sakit untukmu."


Ya Allah, hamba serahkan semuanya pada-Mu. Jika memang ini semua terjadi atas kehendak-Mu hamba mohon berilah kekuatan pada hamba. Jerit Melati dalam hati.


Entah seperti apa lagi caranya menerangkan semua luka yang ia pendam, semua sakit yang ia rasakan, rasa sesak yang kian menghimpit. Hanya bisa pasrah dan menerima semuanya. Ia peluk erat tubuh suaminya.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang juga melihat mereka sendu. Dia adalah Humaira. Sungguh ia sangat ingin membantu sahabatnya mendapatkan kebahagiaan namun ia sendiri tak mengerti apa yang harus dilakukan.


Kau wanita hebat Melati, aku yakin semua ujian yang kau lalui ini pasti akan segera berlalu. Dan kebahagiaan tiada tara pasti akan kau rasakan segera. Ujarnya dalam hati dan meninggalkan pasangan suami-istri tersebut.


__ADS_2