Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 66


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana istri pertamanya dari seorang Fahmi Al-Farizi ulang tahun. Dari jauh-jauh hari Fahmi telah mempersiapkan kejutan untuk Sasa. Tak lupa ia hubungi semua keluarganya, baik dari dirinya dan istrinya.


Door...!!


Sasa terkejut tatkala mendapati semua orang hadir di rumahnya dan memberinya kejutan seperti ini. Sungguh baru ia ingat bahwa hari ini ia ulang tahun, entah apa yang ia pikirkan selama ini hingga melupakan hari bersejarahnya.


"Happy birthday!" Ucap semua orang yang berada di sana.


Ia menutup mulutnya melihat suaminya yang jalan begitu tampannya dan memasang senyum terindahnya. Dengan cepat ia merengkuh tubuh tinggi tegap itu. Tak sanggup lagi ia membendung air matanya, pelukannya semakin erat saja seolah tak ingin ia lepaskan sedetikpun.


Kedua orang tua dan mertuanya menatap haru kedua insan yang tengah larut dalam cinta yang begitu dalam.


"Apa kau yang menyiapkan semua ini Mas?, Aku sendiri melupakan hari kelahiranku." Terangnya yang membuat Fahmi memutar mata malas.


Isi kepalamu hanya kau pusatkan pada lelaki itu, bagaimana mungkin kau ingat hari ulang tahunmu sendiri. Dengan cepat merubah kembali mimik wajahnya.


"Tentu sayang, bagaimana mungkin aku melupakan hari penting dalam hidup wanitaku." Berpura-pura memasang wajah ceria.


Sasa tak mampu menjawab, sekali lagi ia merengkuh erat tubuh itu.


"Ehm, apa kalian tidak sayang dengan tubuh yang sudah renta ini?, Kalian masih bisa melanjutkan semuanya setelah ini bukan?" Tanya Faris yang sudah mulai jengah dengan sikap keduanya, bagaimana mungkin mereka berdiri terlalu lama hanya untuk menunggu keduanya.


Pasangan suami-istri yang lebih muda itu memasangkan cengiran kuda. Dengan cepat Sasa memeluk mereka satu per satu. Adik serta adik iparnya juga datang ternyata. Matanya menyapu ruangan kesana kemari, dimanakah madunya? Apakah ia tak datang?. Ah namun siapa yang peduli, di hari bahagianya kini tak mau ia pikirkan orang lain apalagi wanita yang menjadi saingan terberatnya.


Acara dilanjutkan dengan tiup lilin dan potong kue. Tentu saja Fahmi mendapatkan potongan kue pertama, yang kedua ia berikan kepada Farah putri mereka dan seterusnya ia berikan kepada keluarganya yang lain.

__ADS_1


Seluruh keluarga saat ini tengah berkumpul di ruang keluarga. Mereka tengah memberikan hadiah yang telah mereka siapkan untuk Sasa. Sedangkan Humaira ia tengah mengajak keponakannya bermain di luar dengan Elisa.


Giliran Fahmi memberikan hadiahnya, mata Sasa berbinar saat melihat Mas Fahmi yang membawa sebuah Map. Oh sungguh romantisnya suaminya ini, di pikirannya melayang ke arah apartemen atau rumah yang lain yang ia pastikan untuk mereka habiskan waktu bersama setelah ini. Atau tiket untuk bulan madu.


Ah sungguh ia menantikan kejutan lainnya nanti, di negara bagian manakah suaminya ini akan membawanya.


"Ini untukku Mas?" Tanya nya dengan hati yang seakan ingin meledak. Semua orang juga memikirkan hal yang sama seperti Sasa.


"Iya Sayang bukalah." Jawabnya yakin.


Sasa memejamkan matanya, dengan perlahan ia membuka Map tersebut. Ia belum membuka matanya dan senyumnya masih terpancar meski Map telah terbuka sepenuhnya.


Semua orang telah membelalakan matanya, sebagian orang menggelengkan kepalanya tak percaya. Dengan dada yang bergemuruh Tuan Satya menghampiri putrinya dan melayangkan tampan yang begitu keras.


Plak, sudut bibirnya langsung robek dan darah mengalir segar. Sasa terkejut bukan main, ada apa dengan orang yang menamparnya itu.


Mata Sasa membulat seketika, ia menatap suaminya yang memandangnya dingin. Mengapa semua ini terjadi?, Sudah berapa lama suaminya mengetahui belangnya? Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Matanya juga beralih ke semua orang yang menatapnya dengan penuh kekecewaan dan amarah.


"Pah aku-"


"Diam kau!, Bagaimana mungkin aku memiliki putri yang sama sekali tak mempunyai malu seperti ini?! Bahkan dengan murahnya kau berikan hak suamimu pada pria lain?! Cih!" Papa Satya segera menyingkirkan bukti-bukti yang menjijikkan itu.


"Tidakkah kau ingat bagaimana Papa-mu dulu Sa?, Keluarga merekalah yang membantu Papa hingga sekarang Papa masih bisa berdiri di sini. Bukankah dahulu Papa tidak memaksamu untuk menjalankan pernikahan ini. Dengan sekuat tenaga Papa akan melunasi semua hutang yang Papa punya.


Bukankah Nak Fahmi telah memberimu cinta dan kasih sayang yang melimpah, materi dan cita-citamu pun kau tak kekurangan sama sekali. Tapi apa sekarang?!, Bahkan kau tak menghormati suamimu sedikit saja.

__ADS_1


Tanpa memikirkannya kau bermain dengan pria lain, bahkan hal yang seharusnya menjadi milik suamimu seutuhnya kau berikan pada pria itu?! Kenapa Nak? Kenapa?!!" Seru Satya berapi-api.


Kedua orang tua Fahmi mereka hanya diam tak menanggapi, namun di hati mereka banyak sekali duri yang seakan menghantam secara tiba-tiba. Faris juga merutuki kebodohannya yang menikahkan putranya dengan wanita seperti Sasa.


Dalam hal ini ia tak ingin ikut campur, beberapa kali ia memahan istrinya untuk maju. Tentu saja ia juga malu dengan perbuatannya di masa lalu pada putranya, ia juga tahu pasti Fahmi telah membuat keputusan yang telah dipikirkan matang-matang.


Ibunya Sasa sudah tak memiliki muka lagi, ia hanya tertunduk dengan wajah yang berhias air mata.


"Cukup Pah!" Ujar Fahmi menghentikan Ayah mertuanya yang akan menghajar wanita yang masih menjadi istrinya lagi.


"Aku sengaja mengundang kalian agar kita bisa menyelesaikan semua ini secara baik-baik. Biar bagaimanapun saat ini Sasa masih menjadi istriku. Aku tak ingin orang lain menyakitinya meski itu Ayah dari istriku sendiri."


Nyes. Hilang sudah wajah Tuan Satya. Bagaimana mungkin menantunya masih menghormatinya dan menganggap putrinya istri.


Fahmi mendekatkan dirinya pada sang istri, dengan lembut ia membelai bagian wajah yang lebam itu.


"Ini pasti sangat sakit. Tunggu sebentar ya," Ia kembali dengan membawa kotak P3K, kedua orang tua Sasa memejamkan matanya dan memalingkan wajahnya tatkala melihat Fahmi yang masih begitu lembut bersikap pada putri mereka.


Fahmi menghela nafas panjang, ia mempersiapkan diri untuk mengungkapkan hal yang selama ini ia pikirkan. Ia cium kening Sasa dengan lembut dan cukup lama ia benamkan bibirnya di sana. Mungkin ini adalah salam perpisahannya untuk wanita yang beberapa tahun terakhir menemaninya.


"Aku memintamu kepada orang tuamu dengan baik-baik. Dan aku pun akan mengembalikanmu kepada orang tuamu dengan baik-baik pula.


Hari ini saya Fahmi Al-Farizi bin Faris Al-Farizi menjatuhkanmu Sasa Kamilia binti Satya Agung talak satu dalam keadaan sadar. Mulai detik ini kau telah aku lepaskan dari semua tanggung jawabmu terhadapku." Ucap Fahmi lantang dan tegas.


Tes, tak dapat sudah Sasa bendung kesedihannya. Tubuhnya lemas, seakan ia tak berdaya lagi untuk sekedar menopang tubuhnya sendiri. Ia pandangi lamat-lamat wajah yang sudah tak lagi menjadi miliknya.

__ADS_1


"Apa tidak ada lagi kesempatan untukku menjalani hidup kita bersama. Aku tahu aku bersalah namun tak bisakah kau singkirkan egomu untuk hatimu. Bisakah kau tanyakan pada hatimu bahwa kau benar-benar tak menginginkan aku?" Tanya nya lemas.


__ADS_2