
Tak pernah lagi Aaz melihat senyum di wajah Kakaknya. Kejadian beberapa hari lalu membuat murung selalu menerpa suasana hati Azein.
Azein memang baru mengetahui semuanya baru-baru ini. Hatinya juga hancur melihat keterpurukan wanita yang dicintainya.
Flashback
Beberapa hari ini Azein dibuat bingung dengan sikap Melati. Bahkan seminggu ini, ia juga sama sekali tak mendapat kabar darinya.
Ia sungguh merindukan wanita yang berhasil menempati posisi terindah di hatinya. Sudah entah bagaimana lagi ia menghitung pesan dan telepon yang ia kirim untuk Melati namun sama sekali tak mendapat jawaban.
Aaz pun tak lupa ia tanyakan tentang Melati. Namun apa mau dikata Aaz hanya diam seribu bahasa. Sebenarnya ia agak aneh dengan tingkah adiknya itu. Namun ia tak terlalu memikirkannya.
Semakin lama rasa khawatir kian membuncah di hatinya. Pikirannya sungguh tak tenang. Berulang kali ia berusaha mendapatkan jawaban dari Aaz namun semua sia-sia.
Adiknya hanya mengatakan bahwa pesan yang ia kirim juga tak mendapat balasan. Bahkan ia tak mendapati keberadaan Melati di kampus. Tentu saja Aaz hanya beralasan. Ia masih belum berani untuk mengungkapkan segalanya.
Hari-hari yang dilalui Azein terasa sangat bosan. Hanya dengan bermain piano-lah ia dapat menyembuhkan sedikit rasa rindu yang melanda hatinya. Sejenak ia terdiam dan mengingat saat Melati tengah menyesap coklat hangat kesukaannya.
Ia juga mengingat saat terakhir Melati memesan martabak di pinggir jalan. Lengkungan di wajahnya karena bibirnya tercipta saat mengingat bagaimana antusiasnya Melati. Lama ia berpikir dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke pedagang martabak tersebut.
Namun belum juga ia turun, nampaklah kerumunan di depan tempat penjual tersebut. Segera saja ia turun, dan semakin dibuat terkejut saat Azein juga melihat adiknya di sana. Apalagi penampilannya juga kacau.
Dengan cepat ia menghampiri kerumunan tersebut dan ingin melindungi adiknya. Semakin ia mengikis jarak, terpampang juga wajah wanita yang dirindukannya. Namun hatinya tersayat-sayat saat melihat penampilannya yang sungguh tak tahu harus bagaimana lagi cara menjelaskannya.
Ia melihat Melati yang berjongkok dengan menutup wajahnya. Tubuhnya tergerak untuk menutupi tubuh Melati, bau yang tak sedap begitu menusuk hidungnya. Namun sama sekali tak ia pedulikan.
"CUKUP!!, Tidakkah kalian lihat bagaimana keadaan dia sekarang?, Jika kalian tetap melakukan ini semua maka tak segan-segan saya laporkan kalian ke pihak berwajib!" Tegas Azein pada semua pelaku yang menyudutkan Melati.
Ibu-ibu yang tiba-tiba melihat kemunculan lelaki muda menghentikan aksi mereka. Beberapa diantaranya mencibir.
"Cih, kalau seorang wanita PELAKOR seperti dia ini dibiarkan. Maka akan membuat dia tidak jera dan wanita yang satu kaum dengannya akan berkeliaran seenaknya dimana-mana!!" Sergah salah satu diantara mereka dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.
Azein terkejut tatkala mendengar kata PELAKOR. Telinganya mendidik mendengar fitnah yang dilayangkan untuk Melati. Ia menatap adiknya yang hanya menundukkan wajahnya serta tubuhnya yang ikut berantakan karena membela Melati. Secara bergantian ia juga melihat ke bawah. Ia mendapati Melati yang hampir tak sadarkan diri.
"Kalian jangan asal bicara. Selama kalian belum mengetahui benar tidaknya berita yang kalian dengar!!" Serunya lantang.
__ADS_1
"Halah, namanya maling mana ada yang mengaku. Justru apa yang kami lakukan adalah untuk membantu wanita yang suaminya direbut. Kami hanya membantu memberinya keadilan!!" Kekeh salah satu Ibu tersebut.
"Keadilan?, Memangnya kalian siapa?, Bukankah tadi saya bilang, belum tentu apa yang kalian dengar adalah kebenaran. Dan saya tegaskan sekali lagi. Jika kalian tidak menghentikan ini semua maka akan saya lanjutkan ke rana hukum!"
Meski belum sepenuhnya puas, para Ibu itu langsung meninggalkan tempat tersebut. Aaz maupun Humaira merasa lega. Mereka pun menghampiri Azein yang tengah menggendong Melati.
Sebenarnya Maira juga sedikit tersentil hatinya saat melihat kekhawatiran dan kemarahan Azein ketika melihat keadaan Melati. Namun dengan cepat ia menggeleng, sahabatnya tengah terpuruk saat ini. Rasa sakit atau cemburu adalah hal yang wajar. Tapi egonya saat ini harus ia turunkan, ada hal yang lebih penting saat ini.
Kedua orang tua Melati begitu terkejut melihat putrinya yang sangat berantakan dalam gendongan Azein. Segera saja Ikhsan mengambil alih sang anak dari gendongan temannya itu.
Sementara Alif juga melihat keadaan para sahabat adiknya. Ia meminta mereka untuk membersihkan diri mereka terlebih dahulu.
Setelahnya Alif langsung menyusul kedua orangtuanya menuju kamar Melati. Ia juga sangat sedih melihatnya. Sudah dapat ia simpulkan apa yang telah terjadi pada Melati itu.
Melati apapun yang terjadi padamu aku yakin kau bukanlah seperti yang mereka katakan. Aku sangat mempercayaimu. Aku pun berjanji akan selalu ada untukmu. Ungkap Azein dalam hatinya menatap Melati yang kian menghilang dari pandangannya. Kemudian ia pun melangkah menuju kamar Alif.
Alif pergi meninggalkan kamar adiknya menuju kamarnya sendiri. Ia ingin sekali berbicara dengan Azein.
Ia melihat Azein yang baru keluar dari kamarnya dengan hoodie warna putih dan celana panjang miliknya. Azein melemparkan senyum ramah padanya.
"Terimakasih bro.."
"Kau teman Melati?" Alif memandang Azein kemudian mengedarkan pandangannya ke arah lain. Ia menghirup udara bebas dan sejenak menikmati pemandangan alam yang ada di taman belakang rumahnya.
Azein mengangguk, ia menunduk. Seketika bayang Melati terlintas di benaknya. Ada harapan untuk lebih dari hubungannya saat ini dengan Melati.
"Kau yakin?" Kakak Melati itu menatap intens Azein. Ia yakin adiknya bukanlah tipe orang yang dengan mudah bergaul dengan lelaki.
"Kakaknya Aaz," jawab Azein salah tingkah. Biar usianya mungkin sama dengan Alif, namun pria di sampingnya itu adalah Kakak dari wanita yang dicintainya. Sama seperti ia yang sangat melindungi adiknya, Alif juga sama bukan.
Alif menyipitkan matanya, dapat ia lihat dengan jelas wajah Azein yang dilanda kegugupan. Ia menghembuskan nafas kasarnya.
"Jujur saja apa kau menyukai adikku?"
Azein semakin gugup. Perlahan ia memejamkan matanya. Pasrah, ia pun mengangguk pelan. Alif tersenyum getir, jika saja kejadian itu tidak terjadi. Maka ia akan sangat antusias untuk menguji siapapun lelaki yang mencintai adiknya.
__ADS_1
Namun sekarang, ia hanya bisa melihat adiknya kelak harus bersanding dengan pria yang bahkan adiknya sendiri tak mengetahui seluk beluknya.
"Kau tidak mengetahui apapun tentang Melati?"
Azein menatap heran Alif. "Kau benar-benar tak mengetahuinya?" Tanya Alif sekali lagi.
Dengan pelan Azein menggeleng. Alif membuang nafas kasarnya lagi.
"Memangnya ada apa Kak?"
Alif melirik sekilas kemudian mengedarkan pandangannya ke arah lain. Ia hanya tersenyum kecil dan menggeleng.
"Kak..!!" Panggil Aaz pada kakaknya.
Mereka berdua menoleh dan beranjak menghampiri Aaz dan Maira.
"Iya kenapa Az?"
"Kita pulang sekarang yah, bunda sudah mengkhawatirkan kita yang tak kunjung pulang." Ucap Aaz hati-hati.
Sebenarnya Azein sangat berat untuk meninggalkan Melati saat ini. Namun ia juga sadar, ia bukanlah siapa-siapa. Jika terus di sini ia juga takut akan merepotkan sang tuan rumah.
Azein mengangguk dan melirik Alif. Alif memasang senyum padanya.
***
"Kak makan malam sudah siap. Turunlah," ucap Aaz sembari melihat Kakaknya yang tengah fokus pada layar ponselnya. Semenjak kembali dari rumah Melati kakaknya selalu nampak murung. Ia sempat melirik dan nampaklah wajah sahabatnya.
Azein menoleh dan mengangguk pelan. Dengan malas ia beranjak dari sofa.
Orang tua Azein sama sekali tak mengetahui permasalahan anak muda. Aaz dan Azein sama-sama bungkam dan bertingkah lebih pendiam. Mereka heran dibuatnya.
Setelahnya Azein kembali ke ruangan dimana Melati biasanya mengajarkannya bermain piano. Ia juga memainkan lagu yang sangat sering dimainkan oleh Melati.
Aaz menatap sendu Kakaknya, ia ingin sekali mengembalikan keceriaan Azein. Namun ia sendiri tak tahu harus berbuat apa. Akhir-akhir ini Kakaknya jarang sekali menegurnya jika bukan Aaz yang mendahuluinya. Ia juga hanya menanggapi ucapannya dengan singkat.
__ADS_1
---------------------------------------
Maaf Author lagi sibuk, jadi akhir-akhir ini Author cuma bisa up satu episode perhari.