
Melati dan Fahmi serta anak-anak mereka tengah menikmati hari libur mereka dengan pergi berbelanja ke Mall. Sangat jarang mereka melakukan quality time seperti ini.
Fahmi dan Farah bermain di arena permainan. Sedangkan Melati hanya duduk sembari memangku si kecil. Farah terlihat begitu senang, pasalnya ia tak pernah seperti ini ketika ia masih bersama Bunda Sasa.
Biasanya ia hanya bisa meringis mendengarkan teman-temannya yang selalu bercerita tentang liburan mereka di sekolah. Akhirnya kini ia dapat ikut bercerita mengenai hari liburnya.
Jauh dari mereka ternyata ada sepasang mata yang memandangi mereka, ia menatap sendu wanita berbadan dua yang sedang memangku anak itu. Apalagi melihatnya tersenyum membuat hatinya perih.
Yah, dialah Azein. Lelaki yang sampai saat ini masih mencintai Melati dengan dalamnya. Namun ia tak berani berharap lantaran Melati telah menjadi milik pria lain. Selama ini hatinya terus berusaha ia buka untuk menerima wanita lain. Namun nama Melati sama sekali tak bergeming dari hatinya.
Kau sebahagia itukah sekarang Mel? Dulu aku sering melihatmu tersenyum karena aku, dan alangkah bahagianya aku ketika aku tahu bahwa kau juga ternyata mencintaiku. Namun kenapa takdir membuatmu tak di sisiku?
Jujur Mel aku menyesal bertemu denganmu dulu. Aku sangat menyesal harus membuat kenangan yang cukup banyak denganmu. Aku merutuki pertemuan kita, kenapa kau harus hadir menyapa hatiku, jika akhirnya kau pergi dariku Mel? Aku sangat tersiksa dengan perasaan yang ku pendam ini. Jerit hatinya menahan lara.
Astaghfirullah Azein, kau harus mengubur rasa ini. Ingat kau sudah memberi harapan pada Humaira, bahkan dalam waktu dekat kau akan meng-khitbahnya. Kau tidak boleh menyakiti wanita sebaik Maira. Iya kau harus move on. Azein menggeleng dan melanjutkan kegiatannya mencari barang yang ingin ia beli.
Jauh dari arah berbeda juga ternyata ada seorang wanita yang tengah memandangi kebahagiaan yang tengah mengelilingi keluarga Melati.
"Aku sangat membencimu Melati, tidak cukupkah kau berkhianat dari sahabatmu ini dulu? Sekarang kau juga mengambil kebahagiaan Kakakku. Aku tak menyangka kau adalah wanita licik dan picik!" Gumam Elisa menatap nyalang ke arah Melati.
Ia memilih pergi untuk meredam emosinya, rasa ingin menghibur diri dengan berbelanja karena putus dari pacarnya membuatnya mengurungkan niat karena melihat kebahagiaan Melati.
Elisa memilih sebuah taman untuk menenangkan dirinya. Ia baru saja dikhianati oleh pacarnya. Tak pernah ia duga, sahabatnya Rose yang sudah ia anggap bak saudara menikungnya. Bahkan dengan segan, Rose sengaja menampakkan dirinya yang tengah bercumbu dengan pacarnya.
__ADS_1
Cih,
Ia sungguh jijik mengingat segalanya. Air matanya meluruh, mengingat betapa ia tersiksa batinnya selama ini. Hidup mereka yang selalu susah dan bekerja keras waktu kecil.
Pertemanan yang tak pernah berjalan mulus, ia selalu saja merasa dikhianati oleh teman-temannya. Kakaknya lah yang selama ini menemaninya, yang mau mendengarkan curhatannya.
Namun sekarang tak lagi, keadaan Kakaknya yang tengah terbaring lemah di brangkar rumah sakit membuatnya kesepian. Ia selalu menyalahkan Melati untuk itu, yah dialah wanita yang merebut segalanya dari Kakaknya Sasa.
"Mengapa untuk mencari teman hidup yang setia dan sahabat sejati begitu sulit Tuhan?" Keluhnya lirih menghadap langit.
Tes. Air matanya mengalir begitu saja.
"Mencari teman hidup yang setia dan sahabat sejati tentu sangat sulit untuk dicari Elisa." Ucap seseorang dari arah belakang tempat duduknya.
Membuat Elisa menoleh, ia terkejut mendapati Aaz yang tengah berdiri diri di belakangnya. Ia memutar bola malas dan ingin beranjak pergi. Namun Aaz segera mencekal pergelangan tangannya.
"Aku tadi sedang mencari buku ditemani oleh Kakakku. Dan tak sengaja melihatmu, jadi ya aku menghampirimu saja. Sudah lama bukan, kita tak bertemu." Jawab Aaz tersenyum.
"Cih, untuk apa menemuiku? Bukankah kau tak sudah melupakanku sejak lama?"
"Aku tak pernah melupakanmu Elisa, kau saja yang selama ini memilih menjauh pergi." Ujar Aaz sembari memegang tangan Elisa.
"Begitukah? Tapi aku melihat kalian yang begitu senang bersama Maira hingga melupakan aku."
__ADS_1
Aaz menghela nafasnya, "El, meksipun aku dan Melati berteman dengan Humaira bukan berarti kami melupakanmu. Baiklah cobalah kau untuk sedikit saja membuka matamu, jangan menilai semuanya hanya dari pandanganmu saja.
Aku dan Melati saat itu memutuskan untuk berhijab karena memang kami ingin berhijrah. Dan kami mendekatkan diri pada Humaira karena dia memang lebih dulu dari kami. Ia juga yang menuntun aku dan Melati saat itu. Hingga kami lebih bisa berubah menjadi lebih baik.
Namun kau malah mengartikan lain, kau mengira bahwa aku dan Melati berkhianat dan meninggalkanmu dengan Rose. Kami sama sekali tak pernah melupakanmu El, sampai kapan pun kami menganggapmu sahabat." Terang Aaz memberi pengertian.
Elisa menyunggingkan senyumnya, "Sahabat? Menjadi lebih baik? Wanita yang baik macam apa yang merebut kebahagiaan wanita lain?"
"Merebut? Melati merebut kebahagiaan Kakakmu begitu? Bukankah kau tahu sendiri bahwa mantan Kakak iparmu itu yang menodai Melati, lalu dimana letak merebut dalam diri Melati?"
"Buktinya Kakakku sekarang sedang sakit di rumah sakit, dia bercerai dengan suaminya. Dan lihatlah Melati sekarang, ia begitu bahagia di atas penderitaan Kak Sasa."
"Astaghfirullah El, coba sekali lagi kau buka matamu dan lihat dari sudut pandang orang lain. Baiklah kau pikir Kakakmu itu benar? Lalu dengan berhubungan dengan mantan kekasihnya saat menjadi istri Kak Fahmi bukankah itu salah?"
Elisa terdiam dan memandang ke arah lain.
"El, sampai kapan kau akan terus membenci Melati-?"
"Dan sampai kapan kau akan terus membelanya, kau berbicara seperti itu karena kau adalah sahabatnya. Kau, Melati, Santi dan Rose semuanya meninggalkan aku. Aku sama sekali tak memiliki sahabat yang aku inginkan." Lirihnya dengan wajah sendu.
"El, jika ingin mencari sahabat yang kau inginkan tentu akan sangat sulit. Jika kau ingin mendapatkan sahabat idaman, cobalah lihat dalam dirimu sendiri.
Apakah kau dapat melihat bahwa kau juga masuk dalam tipe sahabat yang baik? Kau harus memulai semuanya dalam dirimu sendiri, menjadi seperti yang kau inginkan dari dirimu sendiri. Bukan apa yang kau inginkan dalam diri orang lain." Ujar Aaz menarik wajah Elisa agar menatapnya.
__ADS_1
"Lihatlah aku, Melati dan Humaira. Kau akan mengetahui siapa kami, jika kau telah menyadari semua. Sekali lagi camkan ini! Kami masih sangat menyayangimu. Sebagai sahabat bahkan saudara.
Aku akan selalu ada untukmu El, begitu pula dengan Melati dan Humaira. Kau bisa menilai semuanya jika kau mengikuti kataku. Bukalah matamu, dan turunkan sedikit egomu. Ku tunggu kedatanganmu di rumah El." Tutur Aaz lalu pergi meninggalkan Elisa yang mematung menatap ke arahnya.