Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 91


__ADS_3

"Aku sudah memaafkan kalian dari dulu, dan sudahlah kau tidak perlu mengungkit masa lalu dan merasa bersalah seperti itu. Bahkan sekarang aku salut padamu. Ternyata cintamu begitu tulus untuk Sasa, hingga kau menerimanya meski sekarang keadaan tak sesempurna dulu." Ucap Fahmi kembali memegang bahu Bembi.


"Terimakasih kau benar-benar pria yang baik, dan pantas saja kau mendapatkan istri yang baik pula sekarang."


Fahmi mengangguk dan menatap istrinya. Ternyata istrinya sudah lemas sedari tadi, menghirup aroma rumah sakit membuatnya ingin mual dan tak enak. Namun ia berusaha menahan diri karena suaminya yang tengah berbincang dengan Bembi.


"Sayang kau kenapa?" Tanyanya panik.


"Tidak Mas, aku sungguh tidak apa-apa." Jawab Melati memaksakan senyum.


"Sebaiknya kau segeralah pulang, istrimu tak dapat berada di sini terlalu lama." Ujar Bembi menatap keduanya.


"Baiklah aku pulang sekarang yah, lain kali aku akan datang kemari lagi."


Bembi tersenyum dan memperhatikan Fahmi dan Melati hingga tak terlihat.


"Kalian memang berhak mendapatkan kebahagiaan itu." Gumamnya.


***


"Sayang lain kali, kalau memang merasakan pusing katakan saja. Jangan hanya diam berpura-pura tidak apa-apa seperti tadi." Titah Fahmi menoleh sekilas istrinya dan kembali fokus menyetir.


"Iya Mas maaf yah, aku tadi hanya merasa tidak enak saja Mas." Pungkas Melati mengusap lengan suaminya.


"Iya baiklah, terserah kau saja sayang. Yang pasti untuk besok-besok kau jangan mengulangi hal itu lagi."


"Oh ya Mas, tapi bagaimana bisa Sasa mengidap penyakit seperti itu? Aku benar-benar tak menyangka."


"Yang namanya penyakit tidak memandang siapa dia sayang. Mungkin itu sudah menjadi ujian untuk Sasa dan Bembi. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik saja untuk mereka."


"Iya Mas kau benar."


Kemudian keduanya terdiam cukup lama, Melati yang bingung ingin berbicara apa dan Fahmi yang memfokuskan dirinya untuk menyetir.


"Oh ya sayang, aku berpikir untuk keluar dari perusahaan Tuan Yovindra." Ungkap Fahmi memecahkan keheningan sesaat.


Melati terkejut, "Apa? Tapi kenapa Mas?" Tanya nya.


"Kejadian kemarin membuatku tak dapat lagi bertahan di perusahaan itu. Aku tak menyangka Luna kembali berbuat seperti itu, padahal sebelumnya ia telah berjanji akan membuka hatinya untuk yang lain. Bahkan hubungan di antara kami pun hanya sebatas teman.


Kejadian kemarin bukankah ada kemungkinan jika dia kembali melakukannya. Bukan karena apa Melati, aku hanya tak ingin tiba-tiba mendapatkan tanggung jawab yang besar lagi seperti sebelumnya. Dan yang paling penting adalah karena aku sangat mencintaimu.

__ADS_1


Aku tahu kehidupan poligami sama sekali tak membuat kita bahagia, yang ada batin kitalah yang tersakiti setiap harinya. Melihat pasangan kita dengan yang lain, dan ketika kita sedang bersenang-senang maka hati yang lain pun terluka. Aku hanya ingin hidup tenang Mel, meski harus hidup sederhana." Terang Fahmi panjang lebar.


Melati tersenyum dan mengusap lembut lengan suaminya. "Aku akan mengikuti apapun keputusan suamiku. Dalam keadaan apapun jika ada suamiku maka aku akan bahagia Mas."


Fahmi menatap dalam istrinya, "Terimakasih sayang."


***


"Kau benar-benar yakin ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini?" Tanya Tuan Yovindra setelah melihat sebuah surat yang berisi pengunduran diri dari Fahmi.


"Iya Tuan," jawab Fahmi.


"Kenapa?" Kembali Tuan Yovindra bertanya.


"Saya akan kembali ke perusahaan Ayah saya Tuan, Ayah saya sudah berusia lanjut. Dan adik saya masih kuliah jadi harus saya yang memimpin perusahaan itu." Terang Fahmi beralasan.


Tuan Yovindra tampak menghembuskan nafasnya panjang. "Baiklah aku tidak dapat memaksakan kehendak, kau boleh memilih pilihanmu sendiri. Dan semoga kau sukses kedepannya Fahmi." Ucap Tuan Yovindra tulus.


"Terimakasih Tuan, semoga juga anda mendapatkan pengganti sekretaris yang lebih dari saya. Saya permisi Tuan."


Tuan Yovindra mengangguk dan tersenyum, ia pandangi tubuh Fahmi hingga menghilang.


"Fahmi kenapa kau memberesi tempat kerjamu seperti ini?" Tanya Angga yang melihat Fahmi tengah beberes-beres di ruangannya.


"Aku sudah tidak bekerja di sini lagi Ngga." Jawab Fahmi singkat.


"Apa?! Tapi mengapa?" Jelas Angga terkejut mendengarnya.


"Kau pasti tahu apa yang terjadi lusa bukan? Aku tidak hal itu terulang. Meski Luna memang tak pernah berhasil menjebakku, tidak ada yang tahu bagaimana besok bukan?"


Angga menghela nafasnya, "Kau benar? Kuharap kau memaafkannya."


Fahmi tersenyum, "Aku sudah memaafkannya lama. Bahkan aku sebenarnya tak mempermasalahkan hal itu, tapi aku hanya berjaga-jaga saja."


"Iya Fahmi, terserah kau saja. Kau bebas menentukan pilihanmu, dan semoga kau lebih sukses yah." Harap Angga tulus.


"Iya terimakasih, dan semoga kau juga yah. Dan berhasil juga dalam cintamu." Ujar Fahmi menepuk bahu Angga.


Angga membulatkan matanya, "A-apa maksudmu?"


"Tanpa kau beri tahu, aku tahu kau menyukai Luna bukan? Aku dapat melihatnya saat kau melihatnya. Caramu melihat Luna, dari situlah aku menyimpulkan bahwa kau benar-benar mencintainya. Karena caramu itu, adalah caraku melihat istriku."

__ADS_1


Angga mengusap tengkuknya, "Em itu..,"


"Sudahlah, ku harap kau berhasil yah. Aku mendukungmu sob."


"Iya doakan saja." Sahut Angga.


Fahmi tersenyum dan membawa barang-barang pergi dari ruangan tersebut.


"Loh Mas? Kau akan pergi kemana?" Tanya Luna heran melihat Mas Fahmi yang membawa barang-barang ke gudang.


"Aku harus pergi dari sini." Jawab Fahmi singkat.


"Tunggu!" Seru Luna menahan tangan Fahmi. Dengan cepat, Fahmi melepas kasar cekalan tersebut.


"Mas, kau..."


"Luna tidak usah berpura-pura lagi!" Jelas Fahmi dengan wajah memerah.


Luna tersentak, baru pertama kali ini ia dibentak oleh seorang Fahmi. Merasa ada beberapa karyawan lain yang mendengar suara mereka, Fahmi segera menarik Luna ke tempat lain.


"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu Luna, bukankah kau ingat perkataanmu sendiri dulu yang akan menghilangkan rasa cintamu padaku? Tapi apa maksudmu kemarin?" Seru Fahmi mengepalkan kedua tangannya.


"Itu karena aku sangat mencintaimu Mas, kau sendiri tak pernah menghargai aku yang selalu berusaha menarik hatimu. Tidak bisakah kau balas meski sedikit saja." Teriak Luna dengan air mata mengembun.


Fahmi mengusap rambutnya ke belakang kasar, "Dengar Luna, sudah berapa kali aku bilang. Keadaan yang tidak mendukung kita untuk bersama. Bagaimana pun hati dan diriku adalah milik istriku sepenuhnya bukan orang lain.


Ok baik, jika aku adalah orang yang masih sendiri. Sudah dari dulu aku menerimamu. Tapi apa daya jika Tuhan menakdirkan aku bersama orang lain.


Kau sendiri, cobalah untuk membuka hatimu sedikit saja untuk orang lain Luna. Sampai kapanpun kau tak akan mampu untuk memilikiku karena aku adalah milik orang lain. Maaf aku Luna." Tegas Fahmi dan tanpa menunggu Luna berbicara ia pergi.


Luna hanya terdiam membisu setelah itu, namun air matanya terus mengalir. "Mengapa tidak pernah sedikitpun kau melihatku Mas. Bukankah cinta itu tidak salah, apakah hatiku salah mencintaimu?" Lirihnya.


_________


Jangan lupa mampir ya ke novel sekuel dari kisah ini ''Kau Bukan Untukku''



di tunggu ya ;)


Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2