Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 21


__ADS_3

Assalamu'alaikum.." Ucap Melati membuka pintu dan langsung masuk.


Lulu yang mendengar perkataan salam dari seseorang pun menoleh, ia tersenyum begitu melihat keberadaan Melati. Melati anak yang mudah bergaul, wajar saja siapapun pasti menyukainya.


"Wa'alaikumsalam.." jawabnya lalu memperhatikan kembali putrinya.


"Dari mana saja Mel?" Tanya Lulu.


"Pergi main sebentar Kak." Melati menghampiri Asyifa yang memang sudah sedari tadi ia rindukan. "Asyifa, apa kau merindukanku?" Tanya Melati dengan menirukan suara anak kecil.


"Iya Kakak." Jawab Lulu, ia tersenyum melihat kedekatan putri dan adik temannya itu.


Mereka terus bercengkrama dan bermain dengan Asyifa. Keimutan wajah yang dimiliki oleh Asyifa membuat orang-orang di sekitarnya gemas. Namun tak lama Asyifa pun menangis mungkin karena lapar.


Sebagai Ibu Lulu pun mengambil alih putrinya dari tangan Melati. Meski sudah berusia satu tahun, namun Lulu masih memberikan ASI nya. Asyifa sangat senang berada di dekapan Ibunya. Dengan Lulu menepuk-nepuk bokong Asyifa ia pun tertidur.


"Sudah cukup malam Melati, apa kau lapar?" Tanya Lulu setelah memindahkan Asyifa ke ranjang bayi milik Asyifa.


"Eh Kak, em nanti saja. Aku masih belum lapar." Melati menoleh ke arah Lulu dan melanjutkan mengetik novelnya.


Lulu duduk di samping Melati dan sedikit mengintip gawai milik Melati.


"Apa kau sangat menyukai novel Melati?"


"Sebenarnya tidak terlalu suka si. Namun kadang aku melihat keadaan sekita teman-temanku. Jadi aku memiliki inspirasi, menurutku sayang saja jika hanya aku nikmati sendiri dan khayalanku yang sudah terlalu jauh." Ujar Melati tanpa mengalihkan pandangannya pada Lulu.


Lulu hanya tersenyum menanggapi, ia juga sebenarnya bosan. Jika biasanya di rumah suaminya dulu, ia pasti memiliki pekerjaan bak asisten. Namun berbeda saat ini. Seketika ia teringat akan suaminya. Kira-kira sedang apa suaminya itu. Ia sengaja mengganti SIM card miliknya, agar suaminya tak dapat lagi menghubunginya.


Melati yang tak lagi mendengar celotehan Lulu pun melirik wanita di sampingnya. Ia melihat wajah sendu dari Lulu. Ia pasti tengah memikirkan masalah yang menimpanya. Melati yang melihatnya menjadi tidak tega. Salah ia sendiri yang tak menghiraukan Lulu.


"Ehm, Kak aku ingin membuat coklat panas. Apa kau mau?" Ucap Melati membuyarkan lamunan Lulu.


"Eh ada apa Melati?," Lulu meringis. "Maaf Kakak tak bermaksud untuk tidak mendengarmu"


Melati tersenyum, "Aku ingin membuat coklat panas, apa kau mau juga, atau mau kubuatkna yang lain?"


"Ouh jadi kau mau coklat panas, biar aku saja yang membuatnya ya. Aku tahu kau pasti sangat lelah seharian ini.." Lulu beranjak dari duduknya dan segera menuju dapur.

__ADS_1


Namun baru saja selangkah, Melati telah menghentikan langkahnya. Ia juga berdiri.


"Kan aku yang menawarimu Kak, biar aku saja ya. Lagi pula aku lebih banyak bersenang-senang hari ini. Cukup kau katakan apa yang kau mau, biar aku yang buatkan."


"Baiklah aku ingin kopi.." ucap pasrah Lulu, kemudian ia kembali duduk di tempatnya semula.


"Ok. Akan segera siap dalam 10 menit." Melati pergi membuatkan minuman untuk dirinya dan calon kakak iparnya.


"Nih Kak." Ujarnya memberikan secangkir kopi hitam pada Lulu.


"Terimakasih Mel," Lulu tersenyum dan mencoba kopi buatan Melati, "Kau pandai membuatnya ternyata ya,"


Melati tersenyum mendengar pujian Lulu, ia melanjutkan kegiatan yang tadi sempat tertundanya. Karena hari semakin larut, mereka memutuskan untuk kembali ke kamarnya masing-masing. Namun Melati masih melanjutkan mengetik novelnya.


***


Pagi ini Melati memutuskan untuk lari pagi. Ya, karena hari ini hari liburnya. Ia pergi hanya sendiri tentunya karena Lulu pagi-pagi seperti ini sudah harus direpotkan oleh si kecil. Melati menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah taman untuk sekedar beristirahat. Untunglah ada sebuah mini market hingga ia bisa mampir untuk membeli minuman.


Tak sengaja tangan Melati bersentuhan dengan seseorang ketika hendak mengambil sebotol minuman. Ia pun melirik siapa pemilik tangan itu. Alangkah terkejutnya ternyata ia adalah Azein. Kakak sahabatnya.


"Ehm," Azein berdehem untuk membuyarkan lamunan Melati.


"Eh iya, em maaf Kak tapi aku dahulu yang menginginkan itu." Tunjuk Melati pada sebotol minuman yang memang tersisa satu.


"Oh ya?, Tapi aku menginginkannya. Minuman itu membuatku kembali fit setelah lelah berlarian sedari tadi."


Melati membulatkan matanya, "Tapi Kak, aku juga menginginkannya. Aku juga telah berlari-lari tadi." Melati mengerucutkan bibirnya. Yang membuat Azein gemas dan terpesona dengan keimutan wajah Melati.


"Tidak bisa, aku akan tetap mengambilnya." Ucap Azein dan langsung mengambil minuman di hadapannya.


Melati semakin membolakan matanya. "Tidak itu milikku Kak." Berusaha merebut kembali minumannya. Membuat orang-orang yang ada di sana memandang mereka. Bagaimana bisa dua orang dewasa merebutkan sesuatu layaknya anak kecil. Mereka hanya menggelengkan kepalanya.


"Kak kumohon aku menginginkannya sedari tadi!"


"Tidak bisa, ini akan tetap menjadi milikku."


"Kak ku mohon."

__ADS_1


"Terserah, jika kau mau berusahalah mengambilnya." Azein terus mengangkat tangannya agar minuman itu tak dapat di gapai Melati.


Melati yang tersadar menjadi perhatian orang-orang di sekitarnya. Ia pun mendengus kesal dan menyerah. Lebih baik ia mengambil minuman yang lain dengan hati yang dongkol tentunya. Lalu pergi meninggalkan begitu saja Azein.


Azein yang melihatnya tersenyum senang. Sebenarnya ia tak terlalu menginginkannya, ia hanya berniat menjahili Melati saja. Tak ingin kehilangan jejak ia pun pergi mengikuti kemana Melati.


Terlihat Melati yang pergi menuju taman. Ia memilih untuk duduk di salah satu taman itu. Memandang orang-orang yang berada di hadapannya.


Azein pun mendekat dan menyodorkan minuman yang tadi direbutkan oleh keduanya. Melati menoleh dan menatap lelaki yang ada di sampingnya. Masih dengan perasaan kesalnya ia pun sama sekali tak menghiraukan keberadaan Azein


Azein pun menahan tawanya. Wajah Melati benar-benar lucu menurutnya. Tanpa diminta atau disuruh Azein duduk begitu saja disamping Melati. Melati yang melihatnya pun geram dan berniat pergi dari sana.


"Eits, aku baru saja datang. Memangnya kau mau kemana buru-buru seperti itu." Azein mencegah langkah Melati yang akan meninggalkannya dengan memegang tangannya.


Melati menatap tajam tangan yang memegang tangannya sendiri. Lalu beralih pada wajah si empu. Azein yang mendapat tatapan seperti itu pun melepaskan tangannya. Melati yang masih haus segera meminum minumannya dan duduk di samping Azein. Sedari kecil memang ia diajarkan agar tidak makan dan minum dengan berdiri.


"Aku tahu kau menginginkan ini, minumlah." Ucap Azein dengan menyodorkan minuman yang tadi dibelinya. Melati menyambar kasar minuman tersebut dan meminumnya.


Setelahnya, Azein langsung mengambil kembali minuman tersebut.


"Hei bukankah kau telah memberikannya padaku. Kenapa kau mengambilnya kembali?!" Ucap Melati kesal.


"Tapi aku tidak pernah mengatakan bahwa aku memberi sepenuhnya untukmu. Ini masih milikku." Ujar Azein santai yang membuat Melati geram dibuatnya. Apalagi ia juga melihat Azein meminumnya di bekas bibirnya tadi.


"Hei kau bahkan meminumnya langsung. Kau ini benar-benar ya-" belum selesai Melati berkata tiba-tiba saja Azein memotong pembicaraannya.


"Apa?, Kenapa?, Apa yang salah?, Bukankah ini milikku." Ucap Azein menyeringai.


"Iya tapi kau meminumnya langsung dari bekas bibirku. Bukankah.." Melati memelankan suaranya di akhir kalimat dan tak melanjutkannya. Tentu ia malu mengucapkannya.


Azein menjadi gemas dibuatnya, terlintas hal jail di pikirannya. Ia pun semakin menggoda Melati.


"Bukankah apa hemm?" Azein mendekati Melati. Keadaan yang seperti itu membuat Melati gugup dan degup jantungnya begitu cepat. Segera saja ia memalingkan wajahnya.


"Sudahlah ada apa denganmu?" Melati langsung pergi begitu saja dengan sangat cepat. Bahkan ia sempat tersandung namun tidak terjatuh.


Azein yang melihatnya pun tergelak kencang. Tingkah konyol membuatnya tertawa hingga mengeluarkan air mata.

__ADS_1


__ADS_2