
Melati mengerjapkan matanya tatkala mendengar suara Adzan berkumandang. Jika di rumah biasanya ia akan terbangun di sepertiga malam, namun tidak dengan hari ini. Karena ia sendiri memang lupa untuk menyetel alarm.
Sejenak ia terdiam dan menjawab setiap lafadz yang dilantunkan oleh Muadzin. Kemudian ia beranjak dan melaksanakan kewajibannya.
Setelahnya, Melati melangkahkan kakinya untuk keluar. Dari awal ia masuk ke rumah ini, memang ia tak terlalu memperhatikan ruangan demi ruangan di rumah ini.
Rumahnya memang terlihat lebih besar dari rumahnya. Letak kamarnya sendiri berada di lantai dua bersama dengan madunya. Suasana masih tampak sangat sepi.
Matanya menangkap sebuah pintu yang tampak berbeda dari yang lain. Bahkan pintu tersebut memiliki warna pink. Ah, baru ia ingat. Mas Fahmi sudah memilki seorang putri dari istri pertamanya.
Melati pun melihatnya di hari pernikahannya kemarin. Gadis kecil berusia empat tahun itu begitu menggemaskan. Dan sikapnya pun tampak malu-malu. Sepanjang adanya acara ia hanya mau menempel pada neneknya yaitu Ibu dari Mas Fahmi, bahkan tak jarang ia menggigit jari-jari mungilnya.
Seketika Melati mengarah ke perut yang masih rata. Ia mengelus lembut dan membayangkan bagaimana wajah anaknya kelak. Kedua sudut bibirnya pun terangkat keatas.
Sebenarnya Melati sangat ingin bertemu dengan anak itu, namun ia takut dikatakan terlalu lancang. Akhirnya langkah kakinya menuntun ia menuju ke arah lantai satu.
Di hari pertamanya kini, ia ingin sekali memasak untuk suami. Sebenarnya seluruh keperluan Mas Fahmi ingin sekali ia yang melakukannya. Namun saat ini ia sadar, sudah tentu sang istri pertama yang akan melakukannya. Seperti menyiapkan air hangat dan pakaian.
Melati melemparkan senyumnya tatkala melihat seorang wanita paruh baya tengah berkutat di dapur. Sepertinya Ibu tersebut juga baru bangun seperti dirinya.
"Pagi Bu."
"Eh pagi juga Non. Ada apa Non datang kemari sepagi ini?, Non butuh sesuatu?" Tanya ramah wanita setengah abad itu. Dahinya juga mengernyit melihat keberadaan Melati yang sepagi ini.
"Saya hanya ingin memasak Bu.." jawab Melati.
"Benarkah Non?, Kenapa harus lelah-lelah seperti ini Non, oh ya panggil saja saya Bibi Marni Non. Seperti Tuan Fahmi dan Nyonya Sasa."
"Oh ya Bi, tidak lelah sama sekali kok Bi. Kan memang sudah seharusnya memasak menjadi kewajiban seorang istri."
__ADS_1
Non Melati sepertinya memang gadis baik-baik. Bahkan di usianya yang semuda ini sudah mengerti tugas-tugas seorang istri. Bahkan hijabnya pun terulur sampai menutup dadanya. Nyonya Sasa yang selama ini menjadi istri Tuan Fahmi bahkan tak pernah menyentuh alat-alat dapur. Batin Bi Marni beropini.
"Ya sudah kalau Non Melati memang ingin sekali memasak. Tapi biar Bibi bantu yah. Bibi juga kan tidak ingin memakan gaji buta." Ucapnya terkekeh.
Melati menoleh dan tersenyum. "Iya Bi.."
Terjadilah acara masak-masak yang dilakukan oleh Melati dan Bi Marni. Melati yang memang anak yang ramah dan mudah bergaul membuat orang yang di sampingnya nyaman dengannya.
Tak jarang mereka saling melempar candaan. Namun Melati masih tertutup untuk kehidupan pribadinya.
Tak lama datanglah pasangan suami istri yang sangat serasi. Fahmi melemparkan senyum manisnya tatkala melihat istri mudanya dengan cekatan mempersiapkan sarapan untuk keluarga di rumah ini. Sedangkan madunya hanya memasang wajah datar dengan tangan yang melingkar di lengan sang suami.
Mereka menarik kursinya masing-masing. Melati masih harus mempersiapkan semuanya tak kunjung menyusul untuk duduk di ruangan itu.
Melati melepas apron yang menempel di bagian depan tubuhnya. Dan ia pun menjatuhkan bobot tubuhnya di samping kanan Mas Fahmi.
Tap tap tap. Seorang anak kecil melangkahkan kakinya dengan wajah yang masih terlihat kusut. Bahkan rambutnya tampak berantakan.Tak jarang ia mengucek kedua matanya. Meski begitu ia tetap saja tampak menggemaskan.
"Pagi juga Putri Ayah yang cantik." Balas Fahmi dengan senyum sumringahnya.
Kedua alis gadis kecil tersebut nampak menyatu. Ia terheran menatap kehadiran wajah asing di pagi hari ini. Kepalanya sedikit miring memperhatikan intens wajah Melati yang tengah tersenyum ke arahnya.
Fahmi yang mengerti kebingungan putrinya tersenyum dan memperkenalkan diri Melati.
"Ini Bunda Melati sayang. Kemarin yang kau lihat bersama Ayah itu."
Melati tersentak mendengarnya. Apa? Bunda Melati?. Gumamnya dalam hati.
"Yeeiyy, Falah punya dua Bunda. Yeeiyy." Girang Farah dengan merentangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
__ADS_1
Ayahnya hanya tersenyum melihat tingkahnya. Sedangkan Sasa ia masih bertahan dengan wajah datarnya.
Sebenarnya Melati agak tak enak dan bingung dengan tingkah madunya itu. Tidak apa jika dengan dirinya Sasa cuek, namun kenapa dengan putrinya sendiri ia juga nampak cuek. Bahkan untuk sekedar senyum saja sangat pelit.
Ia juga bingung kenapa Farah hanya datang sendiri dan penampilannya pun masih kusut seperti ini. Melati melemparkan senyum manisnya pada sang putri sambung.
"Farah ingin makan apa?" Tanya lembut sembari merapihkan rambut yang berantakan itu dengan tangannya.
"Ayam goyen.." Ucapnya semangat.
Melati tersenyum dan mengambil apa yang anak itu inginkan. Fahmi tersenyum senang melihat keakraban keduanya. Ia sedikit mengarahkan pandangannya ke wajah istri pertamanya.
Sebenarnya jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, ingin sekali Sasa juga berlaku demikian pada putri mereka. Namun entahlah dengan hubungan antara keduanya yang begitu renggang.
Tak jarang Farah ingin bermanja-manja dengannya, namun ada saja alasan dari Sasa untuk menghindar. Istrinya itu lebih mementingkan karir dibanding mengurus keluarganya.
Keperluan dirinya saja masih pembantu yang menyiapkan. Begitu juga dengan anaknya yang diurus oleh baby sitter. Memang beberapa hari ini baby sitter-nya telah meminta izin untuk pulang kampung karena urusan keluarga.
Hari ini hatinya menghangat melihat sikap Melati yang benar-benar mengerjakan tugasnya menjadi seorang istri. Bahkan pemandangan di depannya kini, Melati bisa dibilang seperti telah menjadi sorang Ibu.
"Bun, atu inin disuapi." Ujarnya dengan menunjukkan wajah yang sangat menggemaskan. Matanya membola dan bibir yang sengaja dimajukan beberapa milimeter.
Melati terkekeh melihatnya, ia juga tak dapat menahan untuk tidak mencium kedua pipi Farah.
"Baiklah, Bunda suapi ya."
Hati Fahmi semakin tersentuh rasanya. Pemandangan di hadapannya kini memang sangat jarang terjadi antara putrinya dan istrinya.
Entah memang karena Farah yang sudah bosan dengan penolakan dari Ibunya membuat ia jarang meminta hal itu pada Sasa. Namun hari ini, dengan melihat wajah ceria Melati membuatnya semangat untuk menuruti kata hatinya.
__ADS_1
Sasa yang memperhatikan semuanya hanya cuek dan mulai mengambil makanannya sendiri. Begitu juga dengan Fahmi.
Melati tak terlalu memperhatikan Fahmi yang tidak dilayani dengan baik oleh Sasa. Yah, tentu saja karena saat ini yang ia fokuskan adalah putri sambungnya.