
Perawakan yang cantik dan solehah dari wanita yang telah menjadi maduku itu membuatku resah dan gusar. Ada kemungkinan juga bukan jika Mas Fahmi akan mencintainya.
Sungguh aku merasa sangat dilema. Di satu sisi aku sangat mencintai Bembi namun di sisi lain aku juga tak ingin kehilangan Mas Fahmi. Entahlah bagaimana akhirnya.
***
Normal POV
Semalaman Fahmi berpikir, ia meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang akan diambilnya adalah yang paling tepat. Ia berniat memisahkan Melati dengan Sasa. Sebenarnya ini adalah hal yang berat, karena mengingat Melati sedang hamil.
Ia sangat ingin menjadi suami yang siaga. Namun melihat seringnya pertengkaran di antara keduanya membuat ia juga resah. Apalagi melihat Melati yang hanya diam, padahal setiap kata yang dilontarkan Sasa untuknya sungguh tak mengenakan hati.
Pagi ini saat sarapan, ia benar-benar merasa sangat gugup. Ia juga bingung bagaimana memulai pembicaraan permasalahan tersebut. Belum lagi ia juga melihat putrinya yang sangat nyaman dengan Melati, akankah ia sanggup memisahkan keduanya.
"Ehm," dehemnya, membuat semua orang menoleh padanya.
"Ada apa Mas?" Tanya Sasa dengan dahi mengkerut.
"Sayang bukankah kau belum mempersiapkan alat-alat tulismu?, Ayah tak ingin kau terlambat Nak, jadi persiapkan sekarang dengan Bibi ya." Titah Fahmi pada putrinya.
"Baik Ayah." Jawab patuh Farah, kemudian berlalu dari ruangan tersebut.
"Em jadi seperti ini Sa, Mas.. Mas i-ingin..,"
Satu alis Melati terangkat, ia masih menunggu apa yang ingin dikatakan oleh suaminya itu.
"Jadi Mas berniat untuk..," Fahmi menarik nafasnya pelan. "Mas akan membawa Melati ke rumah yang lain." Lanjutnya lirih.
Sasa, Melati dan Elisa langsung meletakkan sendoknya masing-masing. Mereka terkejut dengan apa yang barusan di dengarnya.
"Apa maksudmu sayang?" Tanya Sasa dengan penekanan. Ia menatap geram ke arah Melati. Sedang Melati hanya mampu tertunduk.
"Jadi seperti ini Sa, akhir-akhir ini kandungan Melati sedikit bermasalah. Jadi Mas pikir untuk memindahkannya ke rumah atau apartemen yang jaraknya lebih dekat dengan rumah sakit." Alasan yang masuk akal. Melati memang mengakui perkataan dari suaminya itu dalam hati.
"Ouh jadi begitu, tapi kau akan tetap tinggal di sini kan Mas?" Ujar Sasa yang lebih condong ke perintah.
__ADS_1
"Tentu saja, tapi aku akan berusaha adil pada kalian."
"Adil?"
"Yah, seperti beberapa hari di sini dan beberapa hari di rumah Melati."
"Lima hari di sini dan dua hari di rumah Melati." Pungkas Sasa.
Melati hanya bisa menghela nafasnya, sedangkan Elisa yang melihat drama di depannya tersenyum sinis ke arah Melati.
Fahmi membulatkan matanya. "Tapi Sa kau kan tahu sendiri Melati sedang mengandung, bagaimana jika dia kenapa-kenapa kalau ditinggal terlalu lama." Protesnya.
"Bukankah kau bisa mencari art untuknya. Dulu waktu aku hamil juga kau sama sekali tak berada di sampingku Mas. Sudah untung Melati masih bisa dijenguk." Sergah Sasa.
"Tapi kan itu semua karena keadaan yang membuatku tak bisa menemanimu Sa. Aku juga ingin mengetahui perkembangan janin di rahim Melati." Lirih Fahmi.
"Tidak bisa Mas. Lagian dia juga menikah karena keadaan kan Mas. Apapun alasannya, Melati hanyalah istri keduamu. Dan aku adalah istri pertamamu Mas." Ucap Sasa dengan nada tinggi. Ia merasa sangat kesal dengan suaminya yang seakan sangat ingin bersama madunya.
"Sudahlah Mas lagipula benar yang dikatakan oleh Mbak Sasa, aku adalah yang kedua di sini. Aku juga merasa tidak keberatan jika kau lebih lama dengan Mbak Dewi." Cicit Melati turut angkat suara.
"Baiklah Sa jika memang itu yang kau inginkan. Senin sampai Jum'at aku berada di sini dan Sabtu sampai Minggu aku akan bersama dengan Melati." Ujarnya tegas tak mau dibantah.
Sasa melototkan matanya, "Kau sengaja memilih waktu libur karena ingin lebih lama dengannya kan Mas?!, Kenapa kau begitu tak adil padaku?!, Apa benar cintamu telah terbagi?!, Dan dia yang paling luas menempati hatimu sekarang?!" Sanggah Sasa tak terima.
"Tak adil?, Bukankah waktuku lebih lama denganmu Sa?, Lagipula selama ini ketika hari libur kau juga selalu tak berada di rumah. Sudahlah Sa, aku tak ingin berdebat." Fahmi segera mengelap bibirnya dan beranjak dari tempat itu. Ia memilih untuk pergi menemui putrinya.
Sasa mengepalkan kedua tangannya. Tatapan penuh kebencian ia layangkan pada Melati.
"Ingat ya!, Sampai kapanpun kau tak akan pernah bisa merebut Mas Fahmi dariku.!!" Serunya pada Melati, kemudian menyambar tasnya.
"Harusnya kau tau diri Melati, kau hanyalah istri kedua di sini. Jadi ingatlah batasanmu!" Ujar Elisa semakin menyudutkan Melati. Dengan angkuh ia pergi meninggalkan Melati sendirian di ruangan itu.
Melati berusaha sabar mengatakan ini semua. Bi Marni yang juga melihat nona mudanya itu hanya bisa memandang iba. Sejujurnya ia sangat senang jika mendengar Melati yang akan hidup terpisah dengan Nyonya Sasa. Karena telinga juga sudah panas jika harus mendengar teriakan Sasa yang selalu menyudutkan Melati.
"Bunda...!" Seru Farah menghampiri Bunda-nya. Penampilannya sudah sangat rapi dan cantik.
__ADS_1
"Iya sayang,"
"Kata Ayah Bunda akan ikut mengantarkan aku. Jadi ayo Bunda kita berangkat sekarang." Ucapnya antusias dengan menggandeng tangan Melati.
Fahmi tersenyum melihat putrinya. Ia pun mensejajarkan tubuhnya dengan Farah.
"Sayang kau duluan ya, Ayah ingin berbicara sesuatu dengan Bunda." Bujuknya mengusap pucuk kepala anaknya.
"Baiklah Ayah." Jawabnya lalu mendahului Ayah serta Bunda-nya.
"Mel aku akan mengantarkan mu hari ini juga." Lirihnya menatap dalam manik Melati.
"Em iya Mas." Memang harus dijawab apa selain Iya.
"Aku telah menyiapkan semua keperluan yang akan kau butuhkan nantinya. Jadi kau tidak perlu membereskan barang-barangmu. Tapi jika kau ingin, aku akan mengantarkannya untukmu tapi tidak hari ini ya."
"Baiklah Mas, tapi Mas jika boleh. Apa aku boleh meminta Bi Marni saja yang menemaniku di sana?" Bukan tanpa alasan Melati memintanya, hubungannya dengan wanita paruh baya itu memang sudahlah sangat dekat. Tidak seperti pembantu yang lain, bahkan dengan terang-terangan terkadang mereka menyindirnya dengan status yang ia miliki.
"Tentu saja Melati, nanti aku akan mengantarkan Bi Marni di rumah barumu beserta barang-barangmu sekalian." Ujarnya tersenyum.
"Baiklah Mas ayo kita pergi sekarang. Kasihan Farah yang harus menunggu terlalu lama." Ajak Melati pada suaminya. Tanpa sadar ia menarik tangan Fahmi.
Fahmi hanya tersenyum melihatnya, ia terus membiarkan tangannya digenggam hingga menuju garasi.
"Ayo Mas kita masuk." Melati masih belum tersadar akan kelakuannya. Ia mengernyit melihat Mas Fahmi yang hanya terdiam tanpa menanggapi perkataannya.
"Bunda, Ayah kenapa kalian tidak masuk-masuk." Ucap Farah melongokkan kepalanya.
"Lihat Mas putri kita sudah menunggu."
"Bagaimana aku bisa masuk, lihat." Tunjuk Fahmi ke arah tangan yang bertautan itu.
Melati tersentak, ia menjadi malu sendiri. Dengan pelan ia melepaskan tangannya.
Fahmi hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum, dengan santai ia membukakan pintu untuk istrinya. Dengan tertunduk, ia pun masuk dan memangku putrinya.
__ADS_1