Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 48


__ADS_3

Seperti hari kemarin, pagi ini Melati tengah menyiapkan sarapan. Ada satu hal yang harus ia perhatikan lagi, yaitu kebutuhan putri sambungnya. Farah sudah mulai sekolah, dan harus tepat waktu.


Melati terheranan ketika mendapati suaminya yang berjalan seorang diri. Dalan hatinya bertanya-tanya dimanakah keberadaan madunya. Namun ia tak ingin menanyakannya, mungkin saja madunya masih berada di kamar sedang mandi atau belum bersiap.


"Kau mau kemana Mel?" Tanya Fahmi yang melihat Melati yang akan berlalu dari ruangan tersebut.


"Aku ingin ke kamar Farah Mas. Dia kan harus sekolah jadi harus bersiap-siap lebih awal dari biasanya." Jawab Melati.


Fahmi mengangguk dan menarik salah satu kursi.


Melati menghela melihat putrinya yang tubuhnya masih terbalut selimut.


"Sayang ayo bangun kita harus sekolah." Ucap Melati dengan menggoyangkan pelan bahu Farah.


"Emmh, lima menit Bun." Balas Farah malas. Tubuhnya masih terasa sangat berat.


"Tidak, pokoknya harus sekarang. Ayo.." Ujar Melati gemas melihat wajah bantal anaknya. Dengan cepat ia menggengdong anaknya menuju kamar mandi yang tadi ia telah siapkan air hangat.


"Aaa, Bunda..!" Teriak Farah yang terkejut langsung membuka matanya lebar-lebar.


Farah melakukan rutinitas pada pagi hari ini dengan Melati. Jika biasanya ia akan sangat malas tapi tidak dengan hari ini. Ia begitu semangat.


Fahmi tersenyum melihat wajah cerah putrinya yang tengah digandeng oleh istri keduanya. Melati menarik kursi untuk Farah.


Dalam hati Melati masih bertanya dimana keberadaan madunya sekarang. Ia juga melihat Fahmi yang begitu cuek. Maksudnya wajahnya tidak terlihat mencari-cari keberadaan istri pertamanya.


"Mas dimana Kak Sasa?" Tanya Melati hati-hati.


"Ouh dia tidak berada di rumah. Kemarin dia meminta izin untuk pergi ke kota S untuk beberapa hari." Jawab santai Fahmi. Lalu ia membuka piring yang tengkurap di hadapannya.


"Boleh aku saja yang mengambilkan makanan untukmu?" Pinta Melati pada suaminya.


Fahmi tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, dengan sangat senang hati"


Melati kembali berdiri dan mulai melayani suaminya dengan baik.


***

__ADS_1


Melati ikut serta mengantar putrinya ke sekolah. Karena memang itu adalah permintaan Farah, Fahmi, Melati dan Farah turun secara bersamaan. Kedua orangtuanya mengantarnya menuju gerbang sekolah tersebut.


Bisik-bisik beberapa orang terdengar begitu menyayat hati Melati. Yah, ada beberapa orang tua yang mengetahui apa yang telah Melati alami. Namun mereka hanya mengetahuinya dari mulut orang lain. Bukan kebenaran yang sebenarnya.


"Eh lihat, itukan si PELAKOR. Ih bener-bener ga punya malu yah." Seru Ibu H menyindir.


"Iya yah bener. Masih muda padahal, masa iya ga laku sih." Sahut Ibu J.


"Yah kan mungkin para bujangan udah jijik kali Bu sama dia." Ibu A ikut angkat bicara.


Dan masih banyak lagi, cemoohan dan hinaan yang mereka layangkan untuk Melati.


Fahmi yang juga mendengar mengepalkan kedua tangannya. Terutama setelah ia melihat wajah sendu Melati. Ia menggandeng sebelah tangan Melati dan menariknya menuju mobil.


"Kau tunggu saja di sini Melati, untuk Farah biar aku saja yang mengantar."


Melati hanya mengangguk, lalu Fahmi meninggalkannya sebentar untuk mengantarkan Farah.


Ceklek. Cukup lama Melati menunggu akhirnya Fahmi pun datang dan langsung duduk di sampingnya.


"Melati.." Lirik Fahmi melirik Melati yang terlihat sembab.


Fahmi menghembuskan nafasnya pelan. Sebenarnya ia sendiri bingung untuk berbicara apa pada Melati. Meski suami istri, hubungan mereka juga tidak terlalu dekat.


"Ehm, kau ingin langsung pulang?" Tanya Fahmi memecah keheningan.


"Iya Mas,"


Fahmi menghidupkan mesin mobilnya dan melaju menuju rumah mereka.


"Kenapa kau ikut turun Mas?" Tanya Melati heran melihat suaminya yang berada di belakangnya.


"Ada sesuatu yang ketinggalan Melati."


Melati mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Ia hanya butuh ketenangan saat ini.


Fahmi yang melewati kamar Melati, sempat melihat istrinya itu. Terdengar isakan kecil yang juga menyayat hatinya. Ia tahu, Melati pasti memikirkan tentang cemoohan yang tadi di dengarnya.

__ADS_1


Sebuah uluran tangan membuat Melati mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut. Ia lihat dengan jelas wajah suaminya. Dengan segera Melati mengusap air matanya dan menerima sapu tangan yang disodorkan kepadanya.


"Maaf Melati, aku tahu semua yang terjadi padamu adalah karena kesalahanku. Tapi saat ini, ijinkan aku untuk setidaknya menembus kesalahanku padamu.


Lagipula sekarang kita adalah suami istri. Baik jika kau akan mengakhiri pernikahan kita nantinya. Tetapi untuk saat ini, kau tengah mengandung darah dagingku. Aku tak ingin kau terlalu banyak pikiran dan stress.


Jika kau membutuhkan sesuatu ucapkan saja padaku. Kau juga istriku, kau berhak meminta apapun padaku seperti halnya istri pertamaku. Ok, tidak apa jika kau tidak akan menjadi istriku seutuhnya.


Namun setidaknya kita bisa menjadi teman. Dan aku juga adalah Ayah dari anakmu. Dukung aku untuk bersikap adil pada kalian berdua.


Ya.., kumohon. Jangan menghindari aku lagi, katakan semua beban yang saat ini sedang menghimpit dadamu." Pinta Fahmi dengan wajah memelas.


Bukan maksudku untuk menghindarimu Mas, aku juga ingin diperlakukan dan diperhatikan sebagai seorang istri. Aku hanya tidak ingin, jika nantinya aku akan jatuh dalam pesonamu. Aku takut akan munculnya rasa cinta di hatiku untukmu.


Aku sadar bahwa kita akan berpisah nantinya. Aku tak ingin membawa luka yang begitu dalam saat keadaan membuatku meninggalkanmu. Batin Melati pilu.


Fahmi menghela nafasnya panjang tatkala melihat Melati yang hanya diam mematung tak menanggapi perkataannya. Ia memegang tangan Melati.


Melati tersentak dibuatnya, segera saja ia melepas genggaman tersebut. Dan Fahmi hanya pasrah melepaskan tangannya.


"Apa kau memikirkan perkataan mereka tadi."


Melati langsung menoleh padanya, seketika wajahnya kembali mendung. Ia menundukkan wajahnya.


"Melati dengarkan aku, tatap wajahku." Tutur Fahmi lembut dengan memegang dagu Melati untuk mengarah ke padanya.


"Jadikan diri kamu sebagai pemeran utama dalan kisah kamu. Jangan kamu pikirkan apa yang orang lain bicarakan tentang kamu. Cukup kamu fokuskan diri kamu ke hidup kamu, masa depan kamu, mimpi kamu dan semua hal yang dapat membuat kamu lebih baik dari sebelumnya.


Jangan jadikan omongan orang lain yang menyakiti hati kamu menjadi guru dalam hidup kamu. Masa lalu kamulah yang harus kau jadikan pelajaran dan diri kamu sendiri di masa lalu yang harusnya kamu bandingkan dengan diri kamu yang sekarang.


Orang yang selalu membicarakan tentang kamu, entah buruk atau baik, benar atau fitnah hanya akan menjadi pemeran figuran bagi kisah hidup orang lain. Bahkan mungkin hidupnya tak akan lebih maju dari kamu.


Itu karena dia tidak memiliki kisahnya sendiri. Hidupnya sangat monoton, di pikirannya hanya ada orang lain saja. Sedangkan hidupnya sendiri, bahkan ia lupa untuk membuat lembaran baru.


Kumohon, mulai sekarang jangan kamu memperdulikan apa yang orang lain katakan. Fokus saja pada dirimu sendiri, lirik orang lain jika memang orang itu pantas untuk dilirik. Lihatlah orang-orang terdekatmu, mereka mendukungmu, menyayangimu dan mendampingimu. Karena memang mereka tahu bagaimana kamu sebenarnya. Termasuk aku." Ujar Fahmi menatap dalam Melati.


Melati tak kalah menatapnya dalam, hatinya sedikit sejuk mendengar penuturan dari suaminya. Tak terasa bulir-bulir air mata meluruh di pipinya.

__ADS_1


Fahmi segera merengkuh tubuh Melati ke pelukannya, dan Melati tak menolaknya. Bukan karena apa, hanya saja memang ini yang ia butuhkan. Tak peduli siapa orang yang tengah memberikannya dada untuk bersandar.


__ADS_2