Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 67


__ADS_3

"Apa tidak ada lagi kesempatan untukku menjalani hidup kita bersama. Aku tahu aku bersalah namun tak bisakah kau singkirkan egomu untuk hatimu. Bisakah kau tanyakan pada hatimu bahwa kau benar-benar tak menginginkan aku?" Tanya nya lemas.


Fahmi menggeleng lemah dan tersenyum getir, "Kau bertanya pada hatiku apakah aku menginginkanmu pergi dari hidupku? Jika kau ingin tahu sampai detik ini namamu masih menempati ruang di hatiku.


Tapi apakah sebelumnya kau juga bertanya pada hatimu sebelum kau melakukan ini semua?, Bisakah kau coba tanyakan pada hatimu dulu bahwa mungkin kau mampu untuk menghianati suamimu? Seorang lelaki yang menunggu istrinya pulang bahkan sampai larut. Yang seharusnya menjadi tugas istri tapi ternyata kau tengah bersama pria lain?


Berkali-kali aku bertanya pada diriku sebenarnya apa kekurangan dalam diriku hingga kau melengkapi kesempurnaan dalam hidupmu dengan pria lain. Kau seorang wanita, kau memiliki hati. Dan yang namanya hati juga tak dapat dipaksakan.


Hari ini aku melepaskanmu dari hidupku, mungkin dengan hidup bersamaku membuatmu tak bahagia. Aku akan mengusahakan agar aku menjadi orang pertama yang akan memberikanmu selamat saat pernikahanmu dengannya nanti."


Sasa kembali memejamkan matanya, bagaimana mungkin ia menyakiti pria sebaik Mas Fahmi. Selama ini ia juga tak pernah mendapatkan perlakuan tak pantas, perhatian yang diberikan oleh mantan suaminya itu pun melimpah ruah.


"Kumohon Mas beri aku kesempatan." Pintanya memelas. Ia berjanji akan meninggalkan Bembi dan memilih hidup bersama Mas Fahmi.


"Cepat tanda tangani surat ini jika kau masih memiliki rasa malu sebagai seorang wanita!" Titahnya dengan wajah yang datar.


Sasa menggeleng, "Mas kumohon."


"Untuk apa kau harus memohon seperti ini Sa? Bukankah seharusnya kau senang karena kau dapat sesukamu menghabiskan waktu bersama kekasihmu. Dan kumohon biarkan aku hidup tenang bersama keluargaku."


"Tidakkah ada rasa cinta untukku Mas?"


"Cintaku telah berlabuh pada Melati, sosok gadis yang telah aku hancurkan hidupnya. Sosok wanita yang telah melahirkan putriku, wanita yang memiliki kesabaran luar biasa dalam menghadapi cobaan dalam hidupnya, wanita yang-"


"Cukup Mas! Jangan lanjutkan lagi, aku tak rela kau menjadi miliknya."


"Sungguh egois kau Sasa, kau bahkan tak menunjukkan sikap yang seolah kau sangat menginginkanku. Cukup Sasa, aku berusaha menahan semuanya ya. Jangan buat aku harus menyakitimu!"


"Jangan sampai menyakitiku?! Lalu dengan menceraikanku kau pikir itu tidak menyakitiku?"


"Sasa seharusnya kau bercermin mengapa suamimu bisa sampai menceraikanmu!" Sahut Mita yang sudah geram dengan sikap Sasa sedari tadi.


"Sebaiknya kau cepat tanda tangani surat itu, atau karirmu akan aku padamkan!" Tegas Fahmi.


Sasa semakin lemas, perbuatannya memang tak dapat dibenarkan. Dengan gemetar ia mengambil bolpoin yang telah disediakan.

__ADS_1


"Kakak, Ayah, Bunda..! Tolong Farah kecelakaan!" Seru Humaira pada semua orang yang bersitegang itu.


Fahmi langsung membelalakkan matanya, tanpa memikirkan yang telah terjadi ia menghampiri sang adik. Sasa yang juga terkejut reflek meletakkan bolpoinnya.


"Putriku!" Teriak Fahmi yang melihat Farah di gendongan Elisa. Ia langsung mengambil alih anaknya.


"Maira cepat siapkan mobil!" Tanpa disuruh Humaira telah menyiapkan mobil. Sasa membukakan pintu agar suaminya tidak kesulitan dalam memasuki mobil.


"Kau!!" Serunya geram melihat Sasa yang juga ikut masuk.


"Mas biar bagiamanapun Farah adalah putriku juga. Kumohon biarkan aku temani dia." Melasnya.


Tak mau berdebat ia beralih menatap adiknya. "Maira cepat jalankan mobilnya!" Titahnya yang melihat Huamira justru terdiam melihatnya. Tentu saja dalam benaknya ia bertanya kenapa dengan hubungan Kakaknya.


***


"Maaf pasien telah kehilangan banyak darah. Di rumah sakit memang masih ada stok darah yang dibutuhkan namun juga tak cukup untuk pasien. Kami harap salah satu orang tuanya berkenan mendonorkan darahnya." Ucap Dokter pada Fahmi dan Sasa.


"Ambil darah saya Dok!" Pinta Fahmi.


Fahmi lemas tatkala golongan darahnya tak cocok dengan putrinya, namun dirinya lebih terkejut lagi karena Sasa juga sama halnya dengan dirinya. Pikiran negatif mulai menghantui pikirannya.


"Sasa jelaskan semua ini!" Bentak Fahmi yang sudah hilang kesabaran pada mantan istrinya itu. Sedangkan Sasa hanya terdiam menunduk, ia menyayangkan ini semua terjadi.


Orang tua keduanya langsung menghampiri mereka, bagiamana mungkin Fahmi harus membuat keributan seperti ini dikala anaknya tengah membutuhkan mereka.


"Nak bisakah kau kesampingkan dulu emosimu. Saat ini Farah lebih membutuhkanmu Nak." Ungkap Mita menenangkan putranya.


"Bun bagaimana aku tak emosi jika darah kami berdua tak ada yang cocok dengan Farah?!"


Lagi-lagi mereka semua dibuat terkejut dengan pernyataan Fahmi. Terutama Maira dan Elisa yang memang sedari tadi tak mengetahui apapun.


"Kau benar-benar!--"


Plak. Tamparan yang keras kembali didapatkan oleh Sasa di pipinya. Rasanya semakin nyeri karena luka yang tadi belum kering kembali terluka. Mita benar-benar telah kehilangan kesabarannya.

__ADS_1


"Cukup! Fahmi golongan darahmu sama dengan Bunda-mu. Biar Ayah coba untuk mendonorkan darah Ayah." Ujar Faris menengahi.


"Iya Yah." Fahmi mengangguk. Ia mengusap wajahnya kasar, bagaimana mungkin semua kenyataan ini begitu pahit untuknya.


Semua orang bernafas lega mengetahui bahwa darah yang dimiliki Tuan Faris memiliki kecocokan dengan darah Farah. Namun karena tubuhnya yang lemas dan sudah tua membuat Dokter tak terlalu banyak mengambil darahnya.


Beruntunglah Huamira ternyata memiliki golongan darah yang sama dengan sang Ayah, ia pun turut mendonorkan darah untuk gadis yang selama ini ia kira keponakannya.


Fahmi menatap nyalang ke arah Sasa. Sudah tak mampu lagi ia berkata-kata pada wanita itu. Berkali-kali ia menggeleng tak percaya. Ia sama sekali tak peduli dengan semua alasan dibalik Sasa yang mengambil langkah ini.


"Aku tak mau dengar apapun lagi. Sebaiknya kau pulang sekarang dan tanda tangani surat perceraian kita. Jangan lupa untuk membereskan barang-barangmu malam ini juga!" Pungkas Fahmi tak mau dibantah.


"Mas-"


"Cepat sebelum aku kehilangan kesabaranku!"


Kedua orang tua Sasa yang sudah tak memiliki muka lagi segera menyeret putrinya pergi. Pamit mereka sama sekali tak digubris oleh keluarga Faris.


"Nak.." panggil Bunda Mita pada putra sulungnya.


Fahmi mendongakkan wajahnya.


"Maafkan kami yang telah menjodohkanmu dengannya Nak." Lanjutnya terisak.


"Tidak Bunda, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tidak pernah ada yang mengira bahwa ini semua akan terjadi. Mungkin memang ini semua sudah jalannya." Ujar Fahmi meraih tangan yang dikantupkan oleh Bunda-nya.


Ia memeluk erat wanita yang melahirkannya itu.


"Nak Ayah tahu kau sangat lelah hari ini. Sebaiknya kau pulanglah dahulu Nak, untuk Farah masih ada Ayah dan Bunda." Ujar Faris menyentuh bahu putranya.


"Tapi Yah putriku bahkan masih belum sadar."


"Seandainya sadar pun masih butuh waktu lama. Biar Ayah dan Bunda saja yang menunggunya Nak."


"Baiklah Yah," pasrah Fahmi.

__ADS_1


__ADS_2