
Sesuai janji Melati hari ini Melati pergi ke rumah Aaz. Ia akan mengajari Azein bagaimana cara bermain piano. Ternyata Azein membawanya menuju ruangan miliknya. Ruangan itu cukup luas, dan siapapun yang berada di sana pasti akan merasa tenang dan damai.
Susana ramainya kota bisa dilihat dari atas sini. Melati begitu menikmati pemandangan saat ini. Memang inilah yang ia sukai, dimanapun ia berada pasti ia akan memilih ruangan yang dapat membuatnya melihat keramaian kota.
Azein tersenyum melihat Melati yang begitu menikmati pemandangan. Ia mendekat dan berdiri di samping Melati yang berada di balkon.
"Kau senang berada disini?"
"Iya, kau tahu setiap kali ada waktu luang aku selalu berada di balkon rumahku untuk menulis karyaku atau sekedar meminum kopi bersama Kakakku." Melati menoleh mengangguk pada Azein.
"Kau menyukai kopi?, Apa mau aku buatkan?"
"Eh minuman coklat maksudku, tapi tidak perlu. Bukankah sekarang aku harus mengajarkanmu bermain piano?, Ayo kita mulai saja sekarang." Melati berjalan meninggalkan Azein dan duduk di depan piano yang telah disiapkan Azein.
Azein pun mengikuti Melati dan duduk di samping Melati. Sejujurnya ia sendiri sudah bisa bermain piano. Semua ini ia lakukan agar semakin mendekatkan diri dengan Melati.
***
"Loh Kak kenapa kau kemari?, Bukankah kau sedang belajar main piano dengan Melati?" Dahi Aaz mengernyit melihat keberadaan Azein yang berada di dapur.
"Kakak hanya ingin mengambil minuman untuknya. Em, Az bisakah kau membuat coklat panas?," Tanya Azein yang tengah menuangkan air panas ke dalam gelas. Ia tengah membut kopi untuk dirinya sendiri.
"Untuk Melati kah?," Aaz menghampiri Kakaknya dan mulai mengambil gelas.
"Iya." Singkat Azein.
Aaz menatap intens Kakaknya, dapat ia lihat wajah bahagia dari wajahnya meski ia tidak tersenyum.
"Aku akan sangat gembira jika sahabatku itu menjadi Kakak iparku." Pungkas Aaz yang membuat Azein tersedak air liurnya sendiri.
"Kau ini berbicara apa Az?,"
"Ya karena aku yakin kalau Kakak hanya beralasan meminta Melati untuk mengajarimu untuk bermain piano. Padahal kan kau sudah bisa bermain piano. Kau pasti ingin menghabiskan waktu bersama dengan Melati kan?"
Azein memukul pelan kepala Aaz dengan sendok di tangannya. "Tidak usah berbicara omong kosong!,"
"Baiklah biar waktu saja yang menjawabnya." Aaz memberikan secangkir coklat panas pada Azein.
Azein dengan cepat melesat meninggalkan Aaz. Sebenarnya ia sangat malu pada adiknya ini. Sedangkan Aaz tergelak melihat wajah merona Kakaknya. Dengan ini ia memiliki seribu akan untuk menjahili Kakaknya itu.
"Melati."
Melati mendongakkan wajahnya dan menghentikan jarinya yang tengah bermain piano. Tersenyum saat melihat Azein yang tengah membawa minuman kesukaannya.
"Terimakasih." Ucapnya ingin meraih minuman coklat itu.
"Apa aku mengatakan bahwa ini untukmu?" Azein menjauhkan minuman itu dari Melati, ia sangat senang melihat wajah kesal Melati.
__ADS_1
"Apa?!," Benar saja Melati sangat kesal dan memalingkan wajahnya. Menyibukkan diri dengan bermain piano.
Azein tergelak melihatnya, ia pun duduk di samping Melati. Namun Melati langsung menggeser tubuhnya menjauh dari Azein.
"Aku hanya bercanda. Ini untukmu"
Melati menoleh dan langsung tersenyum. Ia sangat menyukainya, "Thanks."
"Oh ya?, Boleh kita istirahat sebentar, aku ingin duduk di sana." Menunjuk arah balkon.
"Kenapa tidak?, Aku juga lumayan lelah dan pusing mengingat note-note ini semua."
Melati tersenyum dan berjalan menuju balkon, ia berdiri di sana dengan secangkir minuman coklat panas di tangannya. Azein mengikuti Melati dan berdiri di sampingnya.
"Boleh aku tahu mengapa kau sangat menyukai tempat ini?" Ucap Azein sembari menyeruput kopi di tangannya.
"Entahlah aku memang sangat menyukainya. Hampir setiap waktu aku selalu di balkon rumahku."
"Kau mengatakan bahwa kau juga suka menulis. Boleh aku lihat karya-karya yang telah kau tulis?"
"Tentu saja, justru aku sangat menyukainya. Tunggu sebentar."
Melati kembali berdiri di samping Azein dengan membawa sebuah buku novel. Ternyata itu adalah salah satu karya yang telah diterbitkan.
"Apa ini kau yang menulisnya?" Azein kagum dengan novel yang dibawa oleh Melati. Cukup tebal ternyata yang Melati bawa ini.
"Tentu saja. Lihat!" Menunjuk nama dirinya di sudut cover buku tersebut.
Melati tersenyum senang. "Jangan lupa dibaca ya, jika perlu kau juga bisa menawarkan pada teman-temanmu. Yah, hitung-hitung promosi."
"Tentu saja, aku akan lakukan itu."
Mereka tersenyum bersama dan mulai bercerita tentang kehidupan masing-masing. Melati maupun Azein begitu nyaman bercengkrama. Aaz juga sempat melihat keduanya. Ia juga ingin menghabiskan waktu bersama sahabatnya. Namun melihat keduanya membuatnya mengurungkan niatnya.
***
"Tumben kau pulang jam sekarang Mel." Ucap Alif pada adiknya yang baru saja menyenderkan tubuhnya di sofa apartemennya.
Melati menoleh dan memperbaiki duduknya. "Oh iya Kak, aku sempat bermain tadi."
Alif mengangguk dan duduk di depan Melati persis.
"Kakak sendiri kenapa berada di sini?"
"Ayah dan Ibu sangat merindukanmu. Meskipun kau memang memutuskan untuk tinggal di sini bukan berarti kau lupa dengan rumahmu sendiri."
Melati memasang cengiran kudanya dan mengusap tengkuknya yang dibalut hijab pashmina miliknya. "Maaf Kak, aku tidak bermaksud seperti. Tapi karena memang akhir-akhir ini aku sangat sibuk jadi membuat perhatianku teralihkan."
__ADS_1
Alif mengangkat satu alisnya, "Sibuk?, Memang apa yang membuatmu sibuk hingga melupakan Ayah?"
Melati tersentak, "Em, ya ngerjain skripsi Kak."
"Ouh.." Alif mengangguk dan ber-oh ria.
"Ya sudah sekarang langsung saja kita pulang ke rumah."
Melati celingukan mencari-cari keberadaan Lulu dan Asyifa. Alif yang seakan mengerti apa yang dilakukan oleh Melati pun memberitahu keberadaan Lulu pada Melati.
"Lulu sedang menghadiri sidang perceraiannya."
"Apa?!" Sontak Melati menutup mulutnya. Kenapa secepat ini.
"Tapi kenapa secepat ini Kak?"
"Entahlah." Alif mengendikkan bahunya.
"Ngomong-ngomong kenapa Kakak tidak menemaninya?"
"Dia yang tidak ingin aku temani."
"Ouh.., ya sudah ayo kita pulang."
Melati dan Alif pun pergi meninggalkan apartemen itu. Dan pulang menuju kediaman milik Ikhsan.
***
"Assalamu'alaikum." Ucap Alif dan Melati berbarengan ketika memasuki kediaman Ikhsan.
"Wa'alaikum salam." Jawab Ikhsan dan istrinya, tidak lupa juga dengan Husein.
Kakak beradik yang baru sampai itu langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Terutama Melati ia menghambur memeluk Ayahnya. Ia benar-benar rindu dengan Ikhsan.
"Apa kabar Nak?" Tanya Ikhsan sembari mengelus pucuk kepala putri satu-satunya itu.
"Alhamdulillah baik Yah, Ayah sendiri bagaimana?" Melati mendongakkan wajahnya menghadap Ayahnya.
"Ayah sangat baik sayang . Syukurlah Nak kau baik-baik saja. Sudah cukup lama kau pergi dan tak pulang, Ayah benar-benar merasa khawatir padamu Nak."
Melati tersenyum, "Maaf Yah, Melati tak berniat membuatmu khawatir. Hanya saja akhir-akhir ini Melati sibuk dengan tugas kuliah Yah. Juga kan Ayah tahu sendiri Melati berusaha untuk lulus tahun ini."
"Iya sayang Ayah sangat bangga padamu."
Melati melepas pelukan Ayahnya dan beralih menatap Mina Ibu sambungnya. Mina pun tersenyum ditatap oleh Melati.
"Apa kau baik-baik saja Bu?" Tanya Melati, sebab ia melihat wajah Mina yang sedikit pucat.
__ADS_1
"Tentu Nak kenapa tidak?" Mina tersenyum hangat, namun tak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini kepalanya terasa berat. Bahkan ia agak malas untuk mengerjakan aktivitas sehari-harinya.
Ikhsan turut memperhatikan istrinya itu. Hati kecilnya juga membenarkan perkataan Melati. Ia pun mendekatinya.