Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 70


__ADS_3

Melati melihat wajah cemas suaminya mengernyit, ia pun menghampiri suami serta putrinya.


"Mas ada apa?" Tanya nya memegang bahu Mas Fahmi.


Sontak Fahmi menoleh ke arah pemilik tangan yang menyentuhnya, "Eh Mel, aku harus pergi sekarang. Tadi siang Farah kecelakaan dan saat ini sedang berada di Rumah Sakit."


"Apa?!" Melati langsung menutup mulutnya karena terkejut. "Mas aku ikut denganmu ya."


"Tapi bagaimana dengan Aisyah?" Fahmi melirik anak yang tengah ia gendong.


"Aisyah sedang tidur Mas, ada banyak orang di sini yang dapat menjaganya."


"Mel Ibumu masih harus mengurus Aidan, aku tak mau merepotkannya." Tolak Fahmi halus.


Melati menghela nafasnya, benar juga apa yang dikatakan oleh suaminya. "Baiklah Mas," jawabnya lesu.


"Mel besok pagi-pagi aku akan mengajakmu untuk bertemu dengan Farah. Kau tenang saja."


"Iya Mas,"


Fahmi tersenyum, "Baiklah Mel, aku pergi ya." Ucapnya memberikan Aisyah pada Melati dan mengecup kening keduanya.


***


"A-ayah, Bunda," racau Farah dengan mata tertutup. Mita terus saja memegang tangan sang cucu dan mengusap wajah Farah.


Ceklek. Pintu terbuka dan nampaklah Fahmi dengan raut wajah khawatir.


"Farah," panggilnya mendekat ke arah sang anak.


"Ayah," Farah terus saja meracau memanggil namanya, namun matanya masih belum terbuka.


Dengan lembut Fahmi memegang dan mencium tangan putrinya. Tak lupa belaian lembut ia daratkan ke kepala Farah.


"Ayah di sini sayang." Cicitnya. Ia menolehkan kepada sang Ibu.


"Bun, kau pasti lelah. Pulanglah bersama Ayah, aku tak ingin kau kenapa-kenapa." Ujarnya lembut.


"Tapi kau akan sendirian di sini Nak."


"Aku sudah menelpon Maira tadi. Biar dia saja yang menemaniku Bun,"


"Baiklah Nak, kau jaga diri baik-baik ya. Jika sesuatu terjadi pada Farah segera kabari Bunda dan Ayahmu."


"Iya Bun,"


Faris memasuki ruangan yang merawat cucunya tersebut.


"Nak syukurlah kau sudah datang."

__ADS_1


"Iya Yah, Ayah dan Bunda bisa pulang sekarang. Biar putriku aku yang jaga."


"Baiklah Nak, cepat kabari jika terjadi sesuatu padanya ya."


"Iya Yah,"


Faris mengajak sang istri bersamanya meninggalkan tempat itu.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam."


Fahmi kembali fokus pada putrinya. Dengan sayang ia pandangi intens wajah mungil tersebut.


Nak, Ayah benar-benar tidak menyangka jika Bunda-mu tega berbuat seperti itu. Bahkan Ayah sendiri tidak tahu bagaimana Bunda Sasa mengambilmu dari Ibu kandungmu.


Bagaimanapun kau harus tetap bertemu dengan Ibu kandungmu agar ia merasakan rasanya dihormati dan mendapatkan baktimu. Namun jika saat itu tiba Ayah benar-benar tak sanggup jika harus kehilanganmu.


Sampai kapanpun kau tetaplah putri Ayah, putri kebanggaan Ayah. Baru kemarin Ayah menimangmu dan mengajarkanmu berjalan. Lihatlah sekarang, kau pun sudah mulai memasuki dunia pendidikan. Ayah bangga padamu Nak. Ucapnya dalam hati dan mencium lama dahi sang anak.


"A-ayah," lirihnya dengan bibir kecilnya. Bulu matanya pun tampak bergerak.


Sontak membuat Fahmi langsung menunduk, tangannya terulur membelai kepalanya dan yang satunya menggenggam erat tangan si kecil.


"Iya Nak ini Ayah," ujarnya kembali mendaratkan bibirnya di kening Farah.


Dengan segera Fahmi mengambil air di atas nakas dan membantu Farah meminumnya.


"Sayang bagian mana yang sakit. Beritahu Ayah ya," tuturnya khawatir.


Farah menggeleng kecil dan tersenyum tipis, "Aku tidak apa-apa Yah. Hanya sedikit tidak nyaman saja berada di sini."


"Tenang saja sayang, jika kau ingin segera pergi dari sini. Farah harus janji untuk semangat sembuh dan minum obat."


"Tapi kan obat pahit Ayah."


"Tapi jika tidak minum obat, Farah akan lama di sini. Emang Farah mau tidak bermain dengan Dede Aish, dan tidak mau sekolah lagi?"


"Tidak Yah, ya sudah aku mau minum obat." Pasrahnya.


Kedua sudut bibir Fahmi terangkat, "Anak pintar."


"Oh ya Yah, dimana Bunda?, Aku belum kasih hadiah loh buat Bunda."


Fahmi tersentak, ia mengusap tengkuknya. "Eh itu, Ayah masih di rumah sayang. Badannya sedang tidak enak."


"Ouh Bunda Melati yah?"


"Bunda Melati juga di rumah kan masih ada Dede Aish yang harus dijaga."

__ADS_1


Wajah Farah terlihat mendung, ia jug menundukkan kepalanya. Entahlah semenjak kehadiran Dede Aish ia merasa tak terlalu diperhatikan lagi oleh Ayah maupun Bunda-nya. Bahkan Bunda Sasa juga masih lebih mementingkan pekerjaannya.


Meskipun ia sendiri sudah sangat menyayangi adiknya, namun tatkala ia melihat sikap Ayah dan Bundanya terhadap Dede Aish membuatnya sedikit cemburu.


Dahi Fahmi mengkerut melihat kebungkaman yang secara tiba-tiba dari Farah. Ia berpikir pasti Farah sedih karena tidak ada Bunda-nya.


"Sayang besok pagi-pagi sekali Bunda akan ke sini."


Farah menoleh sebentar lalu memalingkan wajahnya.


Fahmi semakin bingung saja, ada apa dengan putrinya ini.


"Sayang, ada apa?" Tanya nya lembut dan mengusap serta mencium pucuk kepala sang anak.


"Apa Ayah menyayangiku?"


"Tentu sayang kenapa tidak?"


"Tapi kenapa setiap Ayah pulang yang selalu dicari Dede Aish terlebih dahulu. Bahkan aku harus menunggu lama ketika Ayah menghampiriku." Ungkapnya lemah.


Fahmi tertegun mendengar penuturan putrinya, ia memang sangat antusias dengan kehadiran Aisya hingga ia tak sadar bahwa perhatiannya itu membuat yang lain merasa tersisihkan.


"S-sayang, sampai kapanpun Ayah tetaplah menyayangimu. Ayah memang senang dengan kehadiran Aisyah tetapi rasa sayang Ayah tidak pernah kurang padamu sayang. Ayah minta maaf ya sayang," pungkasnya lembut dan langsung merengkuh tubuh yang masih lemah tersebut.


"Iya Ayah, yang penting Ayah janji."


Fahmi mengangguk dan kembali mencium dahi Farah.


***


Melati agak gelagapan karena terbangun cukup siang. Ia bangun pada jam setengah enam membuatnya terlambat shalat Subuh. Sebenarnya ia pun terbangun karena mendengar tangisan dari Aisyah. Bahkan sedari malam yang membuatnya tidur terlalu larut pun karena putri kecilnya itu.


"Sayang baik-baik ya, Bunda harus menjenguk Kakakmu itu. Jangan ngerepotin orang lain ya," ucapnya gemas dengan tingkah Aisyah yang bergerak-gerak.


Seakan mengetahui apa yang diucapkan oleh Melati, mata Aisyah membulat dan mengulurkan lidahnya. Melati hanya menghela, sudah pasti putrinya ini memintanya untuk menyusui.


"Apa kau tahu Bunda akan pergi hm? Ya sudah sini sayang, tapi hanya sebentar saja ya" ujarnya lalu memberi ASI-nya.


Setelahnya Melati keluar dan mendapati Ibunya yang tengah bercengkrama dan membuat kue bersama dengan wanita yang sepertinya tidak asing baginya.


"Bu,.." panggilnya dan seketika terkejut melihat kedatangan Lulu. Wanita yang dicintai oleh Kakaknya.


"Loh Kak Lulu di sini toh?" Tanya nya senang dan langsung berjabat tangan serta berpelukan.


"Iya Mel, bagaimana kabarmu? Sudah lama kau tak mengabari aku?"


"Aku sangat baik Kak, Kakak sendiri bagaimana?"


"Aku juga sangat baik."

__ADS_1


__ADS_2