
Seperti yang telah dikatakan, Fahmi pun mengantarkan Melati setelah mengantarkan putrinya. Melati memperhatikan intens rumah barunya. Rumahnya memang lebih kecil dari madunya, tetapi terlihat begitu asri dan nyaman.
Fahmi memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk Melati.
"Terimakasih Mas," ucap Melati tulus.
Suaminya mengangguk, ia menggandeng tangan Melati menuju rumah tersebut. "Apa kau menyukai rumah ini?"
Melati menatap suaminya dan tersenyum mengangguk. Mas Fahmi menuntunnya menuju kamar milik Melati. Rumah yang minimalis memang sangat disukai oleh Melati.
Ia begitu terpukau melihat ruang tidurnya. Begitu rapi dan harum. Segala keperluan wanitanya pun sangat lengkap, bahkan mereknya sama seperti yang telah biasa ia pakai.
Fahmi tersenyum senang melihat istrinya yang terlihat begitu menyukai interior design rumah yang telah ia siapkan. Ia mengikuti saja kemana arah Melati dan menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Melati.
"Mas mengapa kau tidak berangkat kerja?" Tanya Melati yang heran melihat Fahmi yang mengikutinya terus. Bahkan waktu pun telah menunjukkan menjelang siang.
"Em, aku tidak berangkat bekerja." Jawabnya santai. Ia mendaratkan tubuhnya di salah satu sofa di ruang tv.
Dahi Melati berkerut, "Tapi kenapa?"
"Karena aku ingin berada di sini. Apakah aku salah bersantai di rumah istriku?"
"Terus saja tidak Mas. Justru kapan pun kau mau kau bisa datang kemari. Rumah ini kan punyamu. Tapi memangnya pekerjaanmu itu tidak penting yah hingga kau seenaknya seperti ini."
Aku hanya ingin menghabiskan waktuku denganmu Melati, kau tahu aku sudah lama menahan semuanya karena Sasa. Gumam Fahmi dalam hati.
"Aku akan meminta Rayn membawa berkas-berkasku kemari." Ujarnya lalu mengirimkan pesan seperti yang telah ia katakan barusan pada Rayn asistennya.
"Ouh ya sudah terserah kau saja. Lalu, apa kau mau aku buatkan kopi?" Tawar Melati, yang membuat Fahmi tersenyum. Baru kali ini ia mendapatkan perhatian dari istrinya. Bahkan istri tuanya tak pernah berlaku demikian.
"Tentu saja aku mau, jika kau tidak keberatan."
"Baiklah tunggu sebentar yah." Melati melenggang pergi menuju dapur dan membuat kopi. Tak lupa ia sertakan cemilan ringan.
***
"Mas bukankah sekarang waktunya Farah pulang?" Tegur Melati pada suaminya yang masih berkutat di depan laptopnya.
"Untunglah kau mengingatkanku Mel, ya sudah aku pergi ya. Setelah aku menjemput Melati aku akan mengantar Bi Marni kemari."
Melati mengantarkan suaminya hingga ke depan pintu. Tak lupa ia raih tangan suaminya.
__ADS_1
Fahmi tertegun melihat semuanya, hal ini mengingatkan ia pada istri pertamanya. Sudah sangat lama Sasa tak melakukan hal tersebut, entah karena apa ia pun tak mengerti.
Respek Fahmi pun mencium kening Melati, ia semakin gemas saja melihat istrinya yang terlihat merona.
"Hati-hati ya Mas."
"Iya kau juga jaga diri di rumah yah."
Kemudian, Fahmi pun berlalu dari rumah itu. Melati menyentuh kening yang tadi di sentuh oleh suaminya. Entah kenapa, ia merasa sangat senang.
Namun seketika ia ingat dengan wajah sang madu, ia merutuki dirinya sendiri yang sempat terbuai oleh pesona suaminya. Dengan cepat ia menggeleng dan memasuki rumah barunya.
***
"Bunda..," Seru Farah begitu sampai di rumahnya. Sudah menjadi kebiasaannya, jika pulang dari sekolah ia akan menemui Bunda-nya.
"Jangan lari-lari sayang." Titah Fahmi pada putrinya.
"Yah dimana Bunda, bukankah ia akan menemui aku. Tapi kenapa aku tak menemukannya sekarang?" Ungkapnya sedih dan menundukkan kepalanya.
Fahmi tersentak, kenapa ia melupakan putrinya ini. Sekarang entah apa alasan yang harus ia berikan.
"Apa?!, Tapi kenapa Yah? Apa aku berbuat salah?"
"Tentu saja tidak Nak, kau kan tahu Bunda itu sedang mengandung dan sudah mulai besar. Jadi Ayah meminta Bunda untuk pindah ke rumah yang lebih dekat dengan rumah sakit."
"Tapi kata Oma Ibu hamil itukan selama sembilan bulan Yah. Dan lahiran Bunda masih lama." Sangkalnya tak terima dengan keputusan sang Ayah.
"Sayang Ayah hanya ingin Bunda dan adikmu itu sehat. Semakin tua usianya semakin banyak juga keperluannya. Ayah harus sering-sering menemui Dokter untuk memeriksa keadaan Bunda." Tuturnya halus.
"Tapi bagaimana denganku Ayah. Aku kan sangat menyayangi Bunda."
"Sayang Ayah hanya meminta Bunda untuk pindah bukan menjauhkan Bunda denganmu. Jika kau Farah mau tentu saja kau boleh bertemu dengan Bunda."
Farah berbinar mendengarnya, "Benarkah Ayah?" Tanya nya memastikan.
"Iya sayang," Putrinya itu langsung menghambur ke pelukannya. Dibalasnya erat pelukan sang anak.
"Ya sudah kau belum makan siang kan sayang?, Ayo Ayah sendiri yang akan membuatkanmu makanan. Tapi sebelumnya kau ganti baju dulu ya,"
Farah mengangguk dan meninggalkan Ayahnya.
__ADS_1
Hingga malam tiba, Farah terus saja merengek untuk bertemu dengan Bunda-nya. Fahmi pening dibuatnya, ia pun berusaha untuk menggantikan peran Melati dalam mengurus anaknya. Istri pertamanya hingga kini belum pulang juga. Fahmi tak terlalu peduli karena memang ia sudah terbiasa.
"Sayang malam ini kau tidur bersama Ayah saja ya sayang." Bujuknya.
"Tidak mau Ayah, aku mau Bunda Melati." Farah masih kekeh dengan keinginannya.
"Tapi sayang sekarang sudah malam, Ayah juga tak bisa jika harus ke sana." Bunda-mu Sasa pasti akan memarahi Ayah jika pergi ke rumah Bunda Melati, inikan waktunya Ayah bersama Bunda Sasa. Lanjutnya dalam hati.
"Ya sudah, tapi aku ingin Ayah membacakan dongeng untukku. Terus biasanya Bunda akan menepuk-nepuk bahuku."
Pasrah, itulah yang hanya bisa Fahmi lakukan. Ia menuruti saja keinginan Farah.
***
Beberapa hari ini Fahmi sama sekali tak bertemu dengan istri mudanya. Namun ia tetap mengirimkan pesan dan menanyakan kabar tentang Melati.
Sasa bersungut-sungut tatkala melihat suaminya yang tengah bersiap-siap menuju rumah madunya.
"Mas aku masih ingin bersamamu." Rengeknya manja.
"Sayang aku sudah menghabiskan lima hari bersamamu, bahkan aku pun tak bertemu dengan Melati sama sekali. Lagipula aku dengan Melati juga hanya dua hari.
"Tapi Mas-"
"Sasa cukup, kau juga tidak boleh egois. Bukankah kau sendiri juga yang mengizinkan aku untuk berpoligami. Bagaimanapun aku juga harus adil."
"Adil? Katakan saja jika kau ingin menghabiskan waktu bersama istri mudamu itu. Kau sengajakan memilih hari libur untuk bersama dengannya."
"Sa meski hari libur tapi hanya dua hari bukan. Bahkan jika dihitung waktuku denganmu lebih banyak dari Melati." Ucap Fahmi dengan nada sedikit lebih tinggi. Kesabarannya kian terkikis dengan keegoisan Sasa.
"Terserah kau saja lah Mas." Balas Sasa cuek, ia menyambar tas branded-nya dan melenggang pergi dari kamar itu.
Sedangkan Fahmi hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Ia pun pergi mencari putrinya, kemarin malam Sasa mengatakan bahwa ia tak akan pulang karena tak ada dirinya.
Fahmi hanya tak mau putrinya kesepian.
"Kau sudah siap sayang?" Tanya nya pada Farah yang sedang menggendong tasnya.
"Iya Ayah, aku sangat siap dan tidak sabar." Jawabnya antusias.
"Baiklah ayo."
__ADS_1