
Luna yang melihat Fahmi tengah sendirian saja berniat menghampiri.
"Mas," panggilnya lembut.
"Iya Nona, ada apa?"
"Mengapa kau sendirian saja Mas? Dan juga kau terlihat begitu lelah." Ujar Luna menatap intens wajah Fahmi.
"Em iya, aku sedang memikirkan istriku yang sedang sakit di rumah. Aku merasa tak enak meninggalkannya sendirian." Jawab Fahmi menghembuskan nafasnya.
Cih, kau di sini saja masih memikirkannya. Sebenarnya apa spesialnya si dengan wanita itu. Lebih cantik juga aku. Gumamnya kesal dalam hati.
"Em Mas sebaiknya kau minum dulu. Lagipula kulihat sedari tadi, kau tak makan atau minum." Ucapnya menyodorkan segelas minuman di tangan kirinya.
Fahmi menatap gelas itu dan tersenyum, "Terimakasih." Meneguk minuman tersebut hingga setengah. Nyatanya mengurus jalannya acara dan menemani beberapa kolega atasannya membuatnya lelah.
Aku tidak peduli apa yang akan kau pikirkan nanti Mas. Yang pasti aku hanya menginginkan dirimu. Tersenyum smirk menatap gelas tersebut.
Tanpa ia sadari, seseorang tak sengaja memperhatikan mereka intens. Ia juga melihat gelagat aneh dari Luna.
"Sedang apa mereka? Dan kenapa Luna terlihat senang padahal Fahmi terlihat begitu lemas?" Lirihnya dan memilih untuk lebih dekat dengan jarak keduanya.
Fahmi merasa aneh pada tubuhnya, tiba-tiba menjadi lemas dan pusing. Dan rasa panas kian menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia juga merasa tubuhnya semakin berat bahkan oleng.
Pria yang dari jarak lumayan dekat dengan mereka terkejut, "Ada dengan Fahmi?"
"Kau kenapa Mas?" Tanya Luna pura-pura dan mencegah agar tubuh Fahmi tak terjatuh.
Fahmi tak menjawab ia hanya memegang kepalanya pusing. Luna langsung tersenyum senang dan merangkul tubuh tersebut untuk membawanya pergi dari tempat itu.
Maaf Mas, aku harus kembali melakukan hal ini. Kau sendiri yang membuatku begitu tergila-gila padamu. Persetan dengan istrimu, toh dari dulu aku juga tidak mempedulikan keberadaan Sasa ketika menjadi istrimu.
Angga terus mengikuti keduanya, ia terkejut melihat Fahmi yang berusaha menggapai Luna. Luna sengaja membawa Fahmi pergi menuju ruang khusus istirahatnya.
"Fiuh, kenapa kau begitu berat Mas? Kau tunggulah sebentar yah. Aku akan menyiapkan diriku terlebih dahulu." Membelai wajah Fahmi manja dan meninggalkannya menuju ruang ganti.
***
"Mas dimana kau? Mengapa perasaanku tidak enak? Kau baik-baik saja kan?" Tanya Melati pada dirinya sendiri.
Sedari tadi ia tak dapat memejamkan matanya, pikirannya terus melayang ke suaminya. Padahal tubuhnya begitu lemas. Ia melirik ponselnya, dan mengambilnya. Dicarinya nomor ponsel Mas Fahmi dan mendialnya.
Namun naas, beberapa kali ia menelpon tak kunjung mendapat jawaban.
"Sebenarnya kau sedang apa Mas? Dan dimana sekarang?" Melati semakin cemas saja, ia beranjak dari tempat tidurnya.
Ia mondar-mandir tak jelas, tiba-tiba terdengar suara tangisan anaknya. Dengan segera ia pergi menuju kamar anaknya dan menenangkannya.
__ADS_1
"Tenang ya sayang ada Bunda di sini. Cup.. cup..cup..,"
Ya Tuhan, jagalah suamiku.
***
Angga begitu terkejut mendapati Fahmi yang tergeletak lemas namun terus menggeliat di atas tempat tidur Luna.
Kau benar-benar tidak pernah berubah Luna, kali ini aku tak akan membiarkanmu. Terserah apa yang akan kau lakukan nantinya. Yang pasti wanita sebaik Melati tidak akan pernah diduakan bahkan ditinggalkan oleh pria seperti Fahmi. Geramnya memandang arah kamar mandi dan langsung mengangkat tubuh Fahmi. Membawanya pergi dari tempat itu.
"Me-melati," lirihnya memandang Angga. Entah kenapa hasrat yang ada di dalam dirinya begitu besar secara tiba-tiba.
"Ouh ****! Kau benar-benar tidak waras Fahmi!" Umpat Angga, ia segera mengikat tubuh Fahmi di kursi penumpang. Dan mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah Fahmi.
"Fahmi diamlah!!" Hardiknya karena Fahmi terus mengganggunya menyetir.
"Melati aku sangat mencintaimu. Kau benar-benar wanita yang sangat hebat, sempurna dan segalanya untukku." Gumam Fahmi terus berusaha meraih tubuh Angga.
"Luna kau benar-benar ya!!"
Syukurlah Angga dapat segera bebas dari drama yang tengah dimainkan oleh Fahmi. Dengan cepat ia membawa sahabatnya dan memencet bel di rumah Fahmi.
Ceklek.
"Astaghfirullah Mas, ada apa denganmu?" Tanya Melati terkejut mendapati suaminya yang terlihat sangat ber***** pada Angga.
"Melati segeralah tolong suamimu ini! Dia benar-benar membuatku gila sepanjang perjalanan!" Ucap Angga dengan kesal. Dan langsung mendaratkan tubuh Fahmi di sofa.
"Iya terimakasih Ngga, kau sudah mau membantu suamiku. Entah apa jika kau tak membawanya kemari."
"Iya Mel, sudahlah sebaiknya kau segera tolong suamimu itu. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam."
Melati mengunci pintunya, alangkah terkejutnya ketika Mas Fahmi langsung merengkuhnya begitu erat.
***
Melati merasa perutnya begitu mual, ia menyibakkan selimutnya dan langsung pergi menuju kamar mandi.
"Hoek...!" Cairan bening namun keruh keluar dari mulutnya. Air matanya pun ikut keluar.
Fahmi yang mendengar bising dari kamar mandi pun terusik tidurnya. Dan melihat bahwa di sampingnya tak ada istrinya.
"Sayang....," panggilnya lembut dan menyibakkan rambut Melati agar tak terkena cairan yang keluar dari mulut istrinya. Tak lupa pijitan lembut ia berikan di tengkuk istrinya.
"Mas.." Rengeknya dan langsung memeluk suaminya.
__ADS_1
"Aku sangat lelah dan lemas Mas. Ingin istirahat tapi tidak tenang." Adunya manja.
"Baiklah setelah shalat nanti kau tidak usah memasak dan mengurus anak-anak terlebih dahulu. Nanti akan aku panggilkan Dokter untukmu sayang." Ucap Fahmi mengelus lembut rambut Melati.
Melati hanya mengangguk, dan suaminya itu memapahnya untuk mengambil air wudhu karena waktu yang sudah subuh.
Tok.., tok.., tok.., Fahmi beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu.
"Ouh Daniel! Ayo masuk, istriku sedang sakit." Ujar Fahmi mengajak temannya yang berprofesi Dokter untuk memeriksa istrinya.
Daniel mengangguk dan memperhatikan istri temannya itu.
"Apa dia istrimu?"
"Tentu saja, lagipula aku telah memberitahumu tadi bukan." Kesalnya.
"Tenanglah sob, ternyata kau pandai memilih pengganti untuk Sasa." Kekeh Daniel.
"Sudahlah cepat periksa istriku!" Titahnya.
Daniel mulai memeriksa detak jantung dan denyut nadi Melati, pemandangan itu membuat Fahmi cemburu. Namun ia tak protes karena ini semua demi kebaikan istrinya.
"Apa saja keluhanmu Nona?"
Fahmi segera duduk di samping istrinya.
"Saya begitu mual akhir-akhir ini Dok, dan pusing juga." Jujur Melati.
"Kau pemilih dalam hal makanan?"
"Iya Dok."
"Kau tiba-tiba menyuakai makanan yang dulunya sempat kau tidak sukai?"
"Iya Dok."
"Kau akan mual mencium sesuatu. Meski bau itu adalah sesuatu hal yang sudah biasa?"
"Iya Dok."
"Dokter sialan! Sebenarnya apa pekerjaanmu itu hah? Jadi wartawan saja sana!" Umpat dan seru Fahmi yang jengah dengan tingkah temannya itu.
"Hei diamlah dulu! Kau ini." Sergah Daniel yang juga kesal dengan sikap Fahmi.
___________
Jangan lupa mampir ke 'Kau Bukan Untukku'
__ADS_1
Ditunggu ya ;)
Terimakasih.