Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 29


__ADS_3

Suara Adzan subuh membuat Melati terbangun dari tidurnya. Ia pun beranjak dan melaksanakan kewajiban shalat subuhnya. Setelahnya ia melakukan rutinitas paginya. Dan akan keluar dari kamar setelah pukul setengah tujuh.


Ada yang berbeda saat ini, biasanya di pagi hari ini yang berada di dapur adalah Ibu sambungnya yaitu Mina. Ia mengernyit heran melihat Ayahnya yang tengah memakai celemek. Sebenarnya Ayahnya terlihat lucu memakainya, namun Melati tak berani menertawakan Ayahnya sendiri.


"Selamat pagi Yah," ucap Melati menahan tawanya.


"Selamat pagi juga Mel." Jawab Ayahnya ramah dan tetap melakukan pekerjaannya.


"Ehm, dimana Ibu Yah? Dan kenapa Ayah yang memasak di sini?" Melati celingukan mencari-cari keberadaan Mina.


"Em, itu Ibumu sedang tidak enak badan. Kau kan tahu sendiri kemarin."


"Ouh ya sudah biar Melati saja Yah yang memasak."


Ikhsan mengkerutkan keningnya. "Memangnya kau bisa memasak Mel?"


"Apa Ayah meragukanku?" Melati menghampiri Ayahnya dan melihat bumbu-bumbu yang digunakan oleh Ayahnya.


"Tentu saja tidak, justru Ayah senang Nak. Di usiamu yang saat ini memang sudah seharusnya kau bisa masak."


"Ayah ingin membuat apa?"


"Ibumu menginginkan ikan goreng dan sayur asam."


"Tumben setahuku selama ini Ibu jarang memasak sayur asam."


"Ayah pun tidak mengerti dengan permintaan Ibumu itu."


Melati mengkerutkan keningnya dan berpikir tentang keadaan Mina. Mata dan mulutnya membola. Sektika ia menutup mulutnya dengan satu tangannya.


"Jangan-jangan..--" Duganya tanpa melanjutkan perkataannya dan langsung dibalas anggukan kepala dari Ikhsan Ayahnya.


"Ya ampun aku akan memiliki adik lagi ternyata." Ucap Melati berbinar.

__ADS_1


"Apa?!" Seru Alif yang tiba-tiba muncul dan membuat Ayah serta adiknya terkejut.


"Apakah itu benar Yah?" Alif menatap Ayahnya. Yang dibalas anggukan kecil serta senyuman indah di bibirnya.


"Alhamdulillah."


"Oh ya lebih baik Ayah menemani Ibu saja Yah, biar sarapan hari ini aku yang membuatnya." Ujar Melati semangat


Ikhsan tersenyum, "Baiklah sayang, jika itu mau mu."


"Tapi Kak Alif jangan lupa bantu ya." Melati memasang wajah puppy nya.


Alif menghela nafas, "Iya princess."


"Oh iya Yah, kira-kira adikku itu perempuan atau laki-laki ya?" Melati menepuk-nepuk kecil dagunya.


"Entahlah Nak, mungkin nanti kami akan pergi ke Dokter saja. Agar lebih jelas dan juga tahu sudah berumur berapa janin yang ada di kandungan Ibumu." Jawab Ikhsan.


"Ya sudah Ayah pergi dahulu ya Nak." Pungkas Ikhsan pada putra-putrinya dan segera berlalu dari mereka.


***


Cuaca siang ini cukup teduh hingga membuat orang-orang mempersiapkan segala sesuatunya jika terjadi turun hujan. Namun tidak untuk Melati dan kawan-kawannya, entah mereka yang terlalu asyik atau memang tidak memperhatikan cuaca yang sedari tadi mendung, membuat mereka kelabakan saat turun hujan.


Alhasil mereka pun menunggu di sebuah perpustakaan umum favorit mereka hingga hujan reda. Namun apa mau dikata, jika hujan turun dengan lebatnya dengan waktu yang cukup lama. Mereka ingin menghubungi kenalan mereka namun karena badai dan petir yang sedang bersautan membuat mereka takut untuk mengaktifkan data.


Sebenarnya Melati dan Humaira tidak terlalu percaya akan hal itu. Namun saat ini mereka juga tidak ingin mengambil resiko. Jadi tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan kecuali melakukan aktivitas yang sedari tadi mereka kerjakan yaitu membaca buku. Mungkin tidak untuk Melati, karena ia sedang mengetik novel online nya.


2 jam lamanya mereka menunggu akhirnya hujan pun mulai reda. Melati dengan segera mengecek ponselnya, namun apa mau dikata baterai ponselnya lobet. Kedua temannya sedang menunggu seseorang menjemput mereka.


Maira telah dijemput oleh pamannya, dan Aaz dijemput oleh Azein. Melati yang melihat Azein terkejut, baru ia ingat hari ini ia tidak datang ke rumah Azein untuk latihan piano. Azein hanya menampilkan wajah datarnya.


"Mel apa kau tidak ada yang menjemput?" Tanya Aaz yang sedari dati menunggu bersama, Melati juga tak nampak membuka gawainya.

__ADS_1


"Emm itu, sebenarnya.." Melati ragu untuk menjelaskan, ia hanya menggaruk dahinya yang tidak gatal.


Aaz tersenyum, "Baiklah ikutlah denganku, Kakakku pasti mau mengantarmu." Aaz menarik tangan Melati dan bersama masuk ke mobil milik Azein.


Melati merasa sangat bersalah pada Azein, apalagi pria 25 tahun itu menunjukkan wajah datarnya bahkan tak meliriknya. Tidak, tapi sudah menunjukkan wajah marahnya. Aaz yang melihat interaksi antara keduanya hanya bingung tak mengerti.


Biasanya Kakaknya akan sangat antusias jika bertemu dengan Melati. "Kak bisakah kau mengantarkan Melati dahulu."


Azein hanya mengangguk singkat. Dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. Aaz melirik kaca spion mobil tersebut, dan melihat wajah Melati yang kadang melihat wajah Kakaknya kemudian menunduk. Sedangkan Kakaknya hanya cuek bebek.


Namun Aaz tak terlalu memperdulikannya, ia hanya ingin tertidur sambil mendengarkan musik dengan earphone-nya.


Melati yang melihat Aaz yang sudah tertidur pulas pun memberanikan diri untuk menegur Azein. "Kak,"


Azein melirik sekilas kaca spion, mata mereka beradu memandang namun seketika ia juga memalingkan wajahnya dan menatap lurus jalanan.


Menunggu Azein menanggapi perkataannya sia-sia saja. Lebih baik ia memulai pembicaraan dahulu. "Maaf,"


Hening seketika menyambangi mereka, namun sekejap Azein pun mengeluarkan suaranya. "Untuk apa?" Tanya-nya datar tanpa melihat ke arah Melati.


"Ehm, maaf karena hari ini aku tidak datang ke rumahmu untuk latihan piano." Jawab Melati pelan dan menunduk. Sebenarnya tidak seharusnya ia terlalu merasa bersalah seperti, bukankah jika biasanya ia tidak terlalu memikirkan lelaki. Bahkan seharusnya senang, dari awal ia sendiri tak menyukai jika berada di dekatnya. Tetapi entah kenapa melihat wajah Azein membuat rasa bersalahnya kian membuncah jika melihat wajah marah dan kecewa dari Azein.


"Apa alasannya kau tidak datang dan apa kau tahu aku mengirimkan banyak sekali pesan?, Dan bahkan nomor teleponmu tidak bisa dihubungi." Masih dengan mode datarnya dan tanpa melihat wajah Melati. Sebenarnya ia tak ingin luluh begitu saja melihat wajah wanita yang disukainya.


"Maaf Kak, kau bisa lihat sendirikan tadi aku pulang dengan Aaz. Kami sama-sama terjebak saat hujan dan untuk ponselku itu baterai-nya lowbat."


Azein melirik kaca spion mobilnya, dilihatnya wajah sendu dari Melati. "Baiklah tidak masalah."


Melati berbinar mendengarnya, "Benarkah?"


"Tapi untuk pertemuan selanjutnya kau harus lebih lama mengajarkan aku bermain piano." Ucap Azein dengan seringainya.


Melati mendengus kesal, "Kukira kau akan melepaskanku begitu saja." Gumamnya yang masih dapat didengar oleh Azein. Azein hanya tergelak mendengarnya.

__ADS_1


"Baiklah, terserah mau mu."


Azein tersenyum senang, ia melajukan mobilnya menuju apartemen yang dihuni oleh Melati.


__ADS_2