Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 33


__ADS_3

Di kampus


"Oh ya, Aaz dimana ya Mel?" Tanya Maira pada Melati yang tengah berkutat di depan laptopnya.


"Entah Ra, mungkin sibuk." Jawab Melati tanpa melihat wajah Maira.


Maira sangat kesal dengan Melati, tadi saja Melati mengirimkannya pesan untuk menemaninya. Namun sekarang, ia malah diacuhkan. Ia hanya bisa menghela dan terkadang mengumpat dengan Melati yang tengah sibuk sendiri.


"Mel!" Panggilnya kesal.


"Hm."


"Untuk apa kau memanggilku jika kau hanya mengacuhkanku." Gerutu Maira mengambil minuman milik Melati.


"Hei itu milikku." Melati melototkan matanya. Tak masalah jika temannya mengambil makanan atau minuman miliknya yang lain. Tapi tidak dengan minuman coklat kesayangannya.


"Tidak lagipula ini juga tinggal sedikit."


"Maira."


Slruuup..., Maira menghabiskan minuman tersebut.


Melati semakin melototkan matanya. "Maira!"


Maria menjulurkan lidahnya. Melati mendengus kesal, ia juga mengambil minuman milik Maira. Namun Maira tidak marah atau kesal.


"Assalamu'alaikum semuanya." Aaz datang dan langsung duduk di samping Melati.


"Wa'alaikumsalam." Jawab kedua sahabatnya yang sedari tadi menunggunya.


"Wah, kalian kenapa?, Kenapa muka kalian terlihat kusut seperti itu?" Tanya Aaz heran yang melihat ekspresi Melati dan Maira. Wajah mereka terlihat seperti pakaian yang belum disetrika saja.


Maira mengangkat kedua bahunya. Aaz melihat minuman yang biasa Melati pesan di tangan Maira. Ia menjadi tahu apa yang menyebabkan temannya itu kesal.


"Tada.." ia mengambil minuman baru yang Melati suka. Dan yang satunya seperti yang Maira pesan tadi.


"Wah, terimakasih Az." Ucap Melati girang dan Maira.


"Sama-sama."


"Oh ya, by the way kemarin aku melihat kamu jalan bersama Elisa Ra." Ujar Aaz pada Maira.


"Eh iya, itu karena dia adalah adik ipar Kakakku." Jawab Maira dengan mengaduk minumannya dengan selang sedotan.


"Apa?!" Melati tersedak dengan makanan yang ingin ia telan.


"Iya dia adiknya Kak Sasa istri Kak Fahmi." Jawab Maira santai.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal ini pada kami Ra?" Tanya Aaz.


"Aku baru mengetahuinya sebulan yang lalu saat Kak Fahmi membawa mereka ke rumah. Rumah mereka sedang direnovasi karena kebakaran." Pungkas Maira.


"Memangnya kau tidak melihatnya saat dipernikahan Kakakmu Fahmi?" Melati kembali melontarkan pertanyaan. Ia juga sangat merindukan sahabatnya itu.


"Tidak, aku tidak melihatnya. Em entahlah kau kan tahu Kakakku menikah sebelas tahun yang lalu. Mana aku ingat semuanya. Lagipula Elisa juga tidak pernah menampakkan diri di rumahku. Entah pernah atau tidak, jika ia mungkin saat itu aku tidak ada di rumah."


"Iya juga ya, ya sudah bagaimana nanti kita ke rumahmu. Aku ingin bertemu dengan Elisa." Ucap Aaz antusias dan memandang Melati.


"Iya aku juga ingin bertemu dengan Elisa."


"Baiklah nanti setelah pulang kalian ikut aku ke rumahku."


"Eh tapi kan kau harus mengajari Kak Azein bermain piano Mel." Aaz memandang sahabat di sampingnya.


Maira terkejut mendengarnya, hampir saja ia tersedak.


Melati mengernyit pada Aaz, "Bukankah Kak Azein beberapa hari ini tidak ada di rumah?, Kemarin malam ia mengirimkanku pesan."


"Oh ya ya, aku lupa."


Melati menggeleng melihat kelakuan Aaz. Sedangkan Maira ia hanya memperhatikan keduanya. Ia ingin bertanya namun tak berani. Dalam hatinya kenapa Melati mengajari Azein bermain piano. Sudah berapa lama, dan ada hubungan apa antara keduanya.


Namun ia juga melihat wajah ceria Melati yang tengah menceritakan tentang Azein. Bisa dilihat Melati memang ada rasa pada Azein, juga mereka sering menghabiskan waktu bersama. Ia menundukkan kepalanya.


***


"Assalamu'alaikum." Ucap Melati, Maira dan Aaz saat berada di depan pintu rumah Maira. Segera saja Maira membuka pintu untuk teman-temannya.


"Wa'alaikumsalam," jawab seorang wanita paruh baya yang dapat mereka simpulkan bahwa dia adalah Ibunya Maira.


"Eh ada Nak Melati dan Nak Aaz. Mari masuk Nak." Ujar ramah beliau.


"Iya Bu." Melati dan Aaz bergantian mencium tangan Ibunya Maira.


"Kalian duduk dulu ya sebentar. Aku akan memanggilkan Elisa." Ucap Maira pada kedua sahabatnya. Dan Melati dan Aaz pun menuruti permintaan Maira.


"Eh kalian mencari Elisa ya?, Elisa sudah tidak ada di rumah Nak, Kakakmu Fahmi sudah membawa mereka ke rumahnya." Pungkas Ibu Mita pada ketiga anak muda di depannya.


Melati dan Aaz terkejut mendengarnya. Mereka saling berpandangan.


"Loh kok Maira tidak tahu Bun?" Tanya Maira.


"Ya karena mereka pergi ketika kamu masih kuliah Nak. Ya sudah Bunda ke dalam dulu ya Nak." Ibu Mita pergi berlalu dari mereka.


"Mereka sudah pergi Mel, Az." Ucap Maira merasa tak enak pada kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Tidak apa Ra, yang penting sekarang kita tahu dimana keberadaan mereka. Kapan-kapan kau bisa memintanya untuk kemari kan?" Aaz menatap Maira.


"Tentu saja kenapa tidak." Maira tersenyum, "Ya sudah aku kedalam dahulu sebentar ya." Maira pergi meninggalkan mereka untuk mengambil beberapa cemilan.


Melati menghembuskan nafasnya kasar. Aaz yang melihatnya tersenyum dan memegang bahu Melati.


Akhirnya mereka yang dari awal berniat untuk bertemu dengan Elisa pun menjadi tidak jadi. Mereka bermain seperti biasanya saat berkunjung ke rumah Maira.


***


Seminggu berlalu, Melati dan Aaz terkejut mendengar kabar bahwa Elisa kecelakaan. Selama ini juga Maira selalu berusaha untuk membujuk Elisa agar mau bertemu dengan Aaz dan Melati. Namun apa mau dikata Elisa tetep enggan untuk menemui sahabatnya dulu.


Meski demikian, Melati dan Aaz sama sekali tak memiliki dendam. Mereka bersedia untuk menjenguk bahkan menemani Elisa.


"El.." panggil lembut Melati pada Elisa yang tengah terbaring lemah.


Elisa mengedarkan pandangannya ke arah lain. Entah kenapa dalam dirinya sudah tak bisa lagi menerima kehadiran Melati dan Aaz. Semenjak beberapa tahun yang lalu.


Melati menghembuskan nafas panjang, ia melirik Maira dan Aaz.


"El-" ucap Maira.


"Sudahlah Mai, aku ingin istirahat. Sedari tadi seluruh keluargaku mengajakku berbincang. Aku lelah sekarang." Ujar Elisa memotong perkataan Maira. Ia juga menarik selimutnya dan berbaring memunggungi Maira dan Aaz.


Aaz dan Melati saling berpandangan. Mereka berdua berusaha keras untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun apa mau dikata, Elisa bahkan untuk melihatnya saja tidak ingin.


Mereka kembali ke rumah Maira. Kedua orang tua Maira sedang berpergian selama beberapa hari. Sedangkan untuk Fahmi mengurus keluarga kecilnya ditambah dengan adik iparnya yang tengah sakit. Jadilah Maira meminta kepada kedua sahabatnya untuk menemaninya. Ia meminta mereka untuk menginap.


"Oh ya Mel, Kakakku sudah pulang tahu." Aaz memandang ke arah Melati.


Melati mendongakkan wajahnya, "Lalu?"


"Hm, dia memintaku untuk mengatakan padamu bahwa kau harus melanjutkan mengajarinya bermain piano."


Maira hanya menjadi pendengar saja di ruangan itu.


"Oh ya?, Kapan dia pulang?, Dan memangnya dia tidak lelah apa.." Lanjut Melati.


"Kemarin," jawab singkat Aaz.


"Oh," Melati ber-oh ria.


"Kapan aku harus memulainya lagi?"


"Hari ini."


Melati mendelik. Ia segera menilik jam di tangannya. "Apa kau bercanda?"

__ADS_1


"Jika tidak percaya kirim pesan saja padanya."


__ADS_2