
Beberapa Minggu kemudian
Sayup-sayup Mina mendengar seseorang seperti tengah membicarakannya. Melihat kebutuhan bulanannya kian menipis, ia memutuskan untuk pergi berbelanja.
"Eh itukan Ibunya Melati, si Pelakor itu kan?" Ucap Ibu A pada temannya.
"Iya benar, eh tapi apa tadi yang kamu bilang jeng? Pelakor?" Tanggap Ibu B yang belum mengetahui apapun.
"Aduh kamu ketinggalan beritanya ya jeng. Jadi itu si Melati udah ngerebut suami orang. Bahkan ya jeng dia sama si laki itu ngelakuin yang kaya suami istri." Ungkap Ibu A memberitahu.
"APA?!," Sontak Ibu B dan C menutup mulut karena terkejut. Terutama Ibu B, ia tahu bagaimana sifat Melati. Karena ia sendiri adalah tetangga terdekat Mina. Ia memang jarang keluar rumah, hanya untuk saat-saat seperti ini saja.
"Tapi bagaimana mungkin," Ujar Ibu B tak percaya.
"Aduh jeng apanya yang tidak mungkin. Saya yakin si Melati pasti sebentar lagi bunting. Liat saja," Tegas Ibu A yakin.
"Benar-benar anak jaman sekarang ya Bu. Memangnya orang tua mereka tidak mengajarkan dosa dan akibatnya ya Bu. Ih ngeri ah," cibir Ibu C bergidik dan sengaja mengeraskan suaranya. Sorot matanya sinis mengarah pada Mina.
Mina yang mendengarnya hanya menghela, dengan tenang ia berjalan ke kumpulan para penyebar gosip.
"Maaf Bu, kalian tahu bahwa perbuatan anak saya berdosa. Lalu dengan kalian menyebarkan berita yang kalian sendiri tidak tahu kebenaran pastinya kalian pikir yang mencatat mulut kalian Malaikat Roqib atau Malaikat Atid?" Tanya Mina dengan tenang dan tersenyum.
Dapat Mina lihat perubahan raut wajah ketiganya. Mereka menjadi salah tingkah. Mina melirik jam di tangannya, sudah cukup lama ia berada di tempat itu. Tanpa memperdulikan ketiganya, ia pun melenggang dengan mendorong troli menuju kasir.
***
Hoek hoek hoek, Melati benar-benar merasakan lemas pada tubuhnya. Sedari semalam, perutnya terasa diaduk isinya. Ingin rasanya ia istirahat sejenak, namun entah karena apa keadaan perutnya membuat ia bolak-balik ke bathroom.
Mina yang memang ingin meminta Melati untuk sarapan dibuat terkejut saat melihat keadaan Melati yang pucat. Segera saja ia menghampiri sang anak.
"Nak ada apa denganmu?" Tanya nya khawatir.
Melati mendongakkan wajahnya dan menggeleng lemas menanggapi pertanyaan Ibunya.
__ADS_1
"Entahlah Bu, dari kemarin malam perutku sangat tidak enak rasanya. Aku sangat lelah sekarang. Ingin istirahat tapi sedari tadi mual dan muntah terus." Terang Melati.
"Kau tunggu di sini ya Nak, biar Ibu buatkan teh hangat dulu. Sekalian Ibu bawakan sarapanmu ya Nak." Mina merasa tangannya di cekal saat beranjak dari tempat tidur milik putrinya.
"Tidak perlu Bu, aku tahu Ibu sangat lelah. Ibu juga tengah mengandung, perhatikanlah juga adikku Bu. Kita bersama-sama saja. Ayo.." Ajak Melati.
Mina hanya mengikuti saja permintaan Melati.
"Loh ada apa denganmu Melati. Kau terlihat sangat pucat." Tegus Ikhsan terkejut melihat putrinya.
Melati tersenyum tipis. "Tidak apa-apa Yah." Ia langsung duduk di samping Husein. Sedangkan Mina ia tak urung bergabung, terlebih dahulu ia membuat teh jahe hangat untuk Melati.
"Loh Bu, teh jahe hangat untuk siapa?" Dahi Alif mengernyit melihat Mina membawakan secangkir teh jahe.
"Untuk Melati Kak." Jawab Mina dengan berjalan menuju arah Melati.
"Kau sakit Nak?" Ikhsan memandang Melati khawatir.
"Apa?!" Pikiran Ikhsan digelayuti pikiran negatif. Ia melirik ke arah istrinya. Mina yang ditatap seperti itu hanya menghela. Nyatanya apa yang ada di pikirannya itu sama dengan suaminya.
***
Dengan ragu Mina memasuki kamar milik Melati. Di tangannya terdapat alat sebuah tes. Sebenarnya ia sangat tidak enak jika harus melakukan ini.
"Nak.." Panggilannya halus, ia melihat putrinya yang tengah fokus dengan layar ponselnya.
Melati mendongakkan wajahnya dan memasang senyum indahnya. Ibu sambungnya itu menjatuhkan bobot tubuhnya di samping sang anak. Melati mengkerutkan keningnya tatkala melihat Mina yang terlihat gugup.
"Nak apa Ibu boleh bertanya sesuatu padamu Nak?" Ucapnya hati-hati.
"Tentu Bu kenapa tidak." Jawab Melati dengan tetap memasang wajah bersahabat.
"Kau sudah mendapatkan tamu bulan ini?" Lanjutnya ragu.
__ADS_1
Melati tersentak, memang jika diingat-ingat bulan ini ia belum mendapatkan tamu bulanannya. Bahkan telat satu Minggu. Ia memandang ke arah bawah. Pikirannya melayang ke kejadian yang ia alami pada tubuhnya akhir-akhir ini. Ia menatap sendu manik Mina bahkan berkaca-kaca.
Mina menjadi merasa bersalah.
"Apa itu kemungkinan terbesarnya Bu?" Gumamnya lirih.
Wanita yang tengah mengandung tiga bulan itu dengan cepat merengkuh tubuh Melati kepelukannya. Air matanya juga ikut menetes melihat putrinya.
Cukup lama Melati menumpahkan air matanya, secara tidak sengaja maniknya tertuju pada sebuah benda yang tengah berada di genggaman Mina.
"Aku harus segera memastikannya." Ujarnya langsung mengambil benda tersebut.
"Nak-"
"Tidak Bu, bukankah Ibu yang membawa ini." Tegasnya dan langsung meninggalkan Ibu sambungnya yang terpaku di tempat sebelumnya.
Air mata yang sedari mengalir kini semakin deras. Melati menutup mulutnya mendapati garis dua di hadapannya. Entah cobaan apalagi yang harus ia hadapi saat ini. Suara rintihannya begitu pilu bagi orang yang turut mendengarnya. Mina yang ikut merasakan sakitnya hati putrinya hanya bisa mencoba untuk menyalurkan kekuatan dengan sentuhan kasih sayangnya.
Hancur sudah semua mimpi yang pernah Melati bayangkan. Kenapa takdir begitu menyakitkan baginya. Ingin rasanya ia menyusul pada Bundanya saja saat ini. Tidak cukupkah ia kehilangan Bundanya saat masih kecil. Bahkan kebahagiaan di masa kecilnya sudah direnggut paksa.
Lalu kenapa dengan kehidupannya saat ini. Kehilangan mahkota berharganya, dikucilkan masyarakat, dan sekarang ia harus menerima kehadiran yang tidak pernah ia duga di rahimnya.
***
Berita kehamilan Melati telah sampai di telinga keluarga Faris. Tentu saja hal itu membuat mereka terkejut. Istri dari Tuan Faris hanya bisa menangis dengan semua kenyataan yang ada. Memang dari awal pernikahan antara Fahmi dan Melati telah mereka pikirkan.
Namun tetap saja hati mereka gundah. Di satu sisi ada seorang wanita yang telah menjadi menantu mereka, dan di sisi lain ada seorang wanita yang telah dihancurkan oleh putra mereka bahkan wanita tersebut telah mengandung benih darah daging Fahmi.
Tidak ada wanita yang ingin dimadu, namun juga tidak ada wanita yang kehormatannya harus direnggut paksa. Jika pernikahan terjadi maka hal itu tentu akan menyakiti hati istri pertama Fahmi. Namun jika tidak maka Melati harus menanggung beban dan malu seumur hidupnya.
Tak ada jalan lain selain menikahkan putra mereka dengan putri Ikhsan. Lagipula Sasa selaku istri pertama juga memberikan suaminya izin untuk menikah kembali. Asalkan suaminya berjanji untuk adil ia ikhlas.
Dan terjadilah pernikahan yang sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga keduanya. Impian Melati yang ingin menjadi ratu di pernikahannya harus ia kubur dalam-dalam. Pernikahan yang ia mimpikan atas dasar cinta harus ia kubur dalam-dalam. Pernikahan yang ingin ia tunjukkan dengan bangga kepada orang-orang harus ia kubur dalam-dalam.
__ADS_1