Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 18


__ADS_3

"Sudah dari dahulu sebenarnya. Tapi karena belum ada biaya jadi dia mengurungkan niatnya."


"Lah Kakak sendiri bukanya bisa bantu. Kan bisa cari pengacara gitu."


"Kakak sudah menawarkan kepadanya. Tapi dia tidak mau, karena sudah sejauh ini dia merasa sudah sangat merepotkan Kakak. Diberi tumpangan dan kebutuhan sehari-harinya saja sudah sangat bersyukur katanya."


"Ya Kakak jangan menyerah lah. Bukankah Kakak mencintainya?"


"Iya tapi Kakak sudah tidak berani lagi menawarkan hal itu padanya. Karena sudah sangat sering ia marah-marah."


"Em gimana Kakak kasih dia pekerjaan di perusahaan Kakak. Atau merekomendasikan ke yang lain jika dia tidak mau."


"Untuk itu Kakak sudah memikirkannya dari awal. Sebenarnya bisa saja Kakak mencari pengacara dan mendaftarkannya ke pengadilan agama. Tapi dia hanya akan melakukan semuanya sendiri. Ya sudah tidak masalah. Yang penting saat ini, hidupnya sudah mulai membaik dan tidak selalu mendapatkan tekanan batin maupun fisik dari suaminya."


"Iya Kak, aku juga setuju. Untuk mempertahankan pernikahan yang hanya ada kesengsaraan di dalamnya."


"Benar, juga siapa wanita yang mau dimadu". Ikut Alif menimpali.


"Kalo aku sih fine-fine saja." Ucap Melati yang membuat Alif menoleh padanya.


"Kamu mau dimadu?"


"Yang penting suamiku mau diracun." Ucap enteng Melati.


Bahu keduanya terguncang karena tergelak. Ada-ada saja Melati ini. Keduanya pun melanjutkan aktivitasnya masing-masing.


________________.


Sore ini seperti yang telah diperbincangkan kemarin, Melati akan pindah ke apartemen milik Alif. Ia akan menemani Lulu dan anaknya. Lagipula Melati juga sangat menyukai anak kecil.


Husein sudah tumbuh dan pergerakannya sangat aktif. Bukan karena tidak mau bermain dengan Husein, hanya saja Husein kadang selalu merepotkan. Husein hanya senang bermain tanpa mau membereskan mainannya. Dan yang harus merapihkan kekacauan Husein tentu adalah Melati.


Melati begitu kagum dengan Lulu. Meski sudah memiliki seorang putri kecil yang lucu, namun tubuh yang ia miliki bak remaja. Melati sendiri sedikit insecure dengan penampilannya sendiri. Karena ia agak gemukan.


Pantas saja Kak Alif begitu menginginkan Kak Lulu, dia saja secantik ini. Gumam Melati dalam hati.

__ADS_1


"Hai Kak, aku Melati adiknya Kak Alif." Ucap Melati memperkenalkan diri.


"Hai juga Melati, saya Lulu temannya Kakak kamu" balas Lulu ramah dan tersenyum.


Ya ampun masa hanya teman, tenang saja nanti kau kulamar baru tahu. Lanjut Alif yang hanya bisa ia ucapkan dalam hati. Lalu ia tersenyum yang tidak bisa diartikan.


"Ouh gitu ya, bolehkan Kak aku tinggal disini. Itung-itung latian mandiri juga." Ujar Melati menampakkan deretan gigi putihnya.


"Tentu boleh Mel, justru Kakak senang karena ada teman di sini." Jawab Lulu.


"Tapi kalau merepotkan usir saja Lu," ikut Alif menimpali.


"Ish, apaan sih Kak." Melati memukul kesal bahu Kakaknya.


"Oh ya siapa gadis kecil cantik ini?" Ucap Melati mencubit gemas pipi gembul anak yang tengah digendongan Lulu.


"Asyifa Alya Putri Kak, panggil aku Asyifa." Jawab Lulu menirukan gaya suara anak kecil.


"Cantiknya, come on Baby." Melati berusaha mengambil alih Asyifa. Mungkin Asyifa yang memang suka dengan Melati atau hal lain. Asyifa terlihat sangat senang bahkan tertawa dipangkuan Melati.


"Kak Alif, boleh ya beresin baju-baju aku. Please, aku ingin bermain dahulu dengan princess ini." Titah Melati beranjak dari sofa meninggalkan keduanya.


"Udah tidak apa Al, aku akan membantumu," tawar Lulu.


"Terimakasih yah." Ucap Alif tersenyum dan mereka mulai memindahkan barang-barang milik Melati.


"Al sebenarnya aku sangat tidak enak selalu berada di sini." Ujar Lulu dengan wajah sendu.


"Kenapa seperti itu, lagiankan kita teman kan. Berapa kali aku bilang jangan pernah membahas apapun tentang memberi atau menolong. Sebab memang sepatutnya seorang teman seperti itu." Jawab Alif santai sembari membereskan kamar yang akan Melati huni.


Entah kenapa mendengar kata teman Lulu merasa sesak. Dia memang belum lama bersama Alif, namun di setiap detik ia bersamanya. Alif selalu membuatnya nyaman dan lega. Tidak saat dia di rumah suaminya sendiri. Tekanan demi tekanan selalu ia dapatkan.


Namun ia sudah seharusnya ia sadar diri. Statusnya adalah seorang istri dan bahkan sudah menjadi ibu. Meski ia terpisah dengan ayah anaknya, namun status pernikahan masih mengikatnya.


Dan jika ia sudah tak ada hubungan apapun sudah tentu ia menjadi janda. Lelaki sempurna seperti Alif mana mungkin akan bersanding dengan seorang janda anak satu. Ia sendiri tentu tidak pantas untuk Alif.

__ADS_1


Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Dan menyimpan perasaannya dalam-dalam. Hingga untuk mengeluarkannya itu akan sangat sulit.


"Terimakasih Al," ucapnya lirih.


"Ini juga sudah kubilang berkali-kali jangan lagi mengatakan maaf maupun terimakasih kau mengerti?"


"Baik Al."


Sementara di sebuah balkon, Melati tenga bermain dengan Asyifa anak Lulu. Ia benar-benar sangat menyukai bayi ini, apalagi perempuan. Wajahnya yang cantik dan gembul membuat sangat gemas.


Ia menghabiskan waktunya bersama Asyifa hingga menjelang malam. Karena merasa Asyifa yang merasa lapar ia pun mencari Kak Lulu. Dan benar saja, Lulu tengah menyiapkan makanan untuk putrinya.


Melati menyerahkan Asyifa kepada ibunya dan masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri dan tentunya melaksanakan ibadahnya.


Kak Alif sudah pulang sedari tadi. Ia berniat untuk menulis novel dengan bermain-main dengan Asyifa. Terlihat Asyifa tengah bersama ibunya dan Melati menghampiri mereka.


Dering telepon genggamnya menghentikan aksinya yang tengah menciumi wajah Asyifa. Ia merogoh saku yang ada digamisnya.


Terpampang jelas nama Aaz yang berada di layar ponselnya. Ia pun langsung mengangkat teleponnya dan menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.


"Hallo Assalamu'alaikum.." ucap Melati setelah menggeser tombol hijau.


"Wa'alaikumsalam.." jawab yang disebrang sana.


Dahi Melati mengernyit heran, karena ternyata suara yang menjawab salamnya adalah seorang lelaki.


"Emm maaf, ini siapa ya? Bukankah betul ini nomor milik Aaz"


"Iya betul ini nomornya Aaz. Maaf saya sendiri adalah Kakaknya Aaz. Jadi seperti ini apa kamu tahu dimana Aaz, karena saat ini keluarga saya sudah sangat khawatir. Sejak tadi pagi sampai sekarang Aaz masih belum pulang."


"APA?!," Melati menutup mulutnya karena saking terkejutnya. "Tapi tadi saat kuliah saya memang bersama dengan Aaz, seperti biasanya."


"Ya sudah terimakasih, jika kamu sudah mengetahui keberadaan Aaz tolong secepatnya kabari kami. Jika kamu bersedia tolong juga kami dengan mencari tahu dimana Aaz dengan menanyakan teman-teman Aaz yang lain"


"Iya Kak,"

__ADS_1


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam.." terdengar telepon terputus dari sebrang sana.


__ADS_2