
"Saya ga ngerti maksud kamu Ros. Kenapa sih akhir-akhir ini kalian seakan menjauhiku. Saya sama sekali tidak pernah berfikir untuk pergi dari kalian dan berubah dari kalian." Ujar Melati dengan mata yang mulai mengembun.
Mereka terdiam, sebenarnya juga tidak ada salah juga dengan Melati. Namun tetap saja melihat penampilan Melati mereka benar-benar tidak menyukainya. Bukankah dulu Melati juga tidak menyukai wanita berprilaku seperti itu. Namun apa sekarang bukankah itu sama saja Melati menjilat ludah sendiri. Dan yah, Munafik.
"Udahlah Mel, masalah tempat duduk aja loe repot. Lagian kita juga sampai kapan pun temenan." Titah Elisa dingin.
"Ok. Terserah kalian aja. Selama itu ga ngebuat kita semakin jauh, dan kalian juga ga ngejauhin saya. Saya permisi." Melati beralih berjalan menuju Humaira. Ia disambut ramah oleh sang empu.
"Hai Melati,.." sapa Maira.
"Hai juga Ra. Bolehkan saya duduk di sini?"
"Tentu dong Mel kenapa engga"
"Ok. Makasih ya."
Sembari menunggu bel tanda masuk, Maira dan Melati terus saja bercengkrama. Bukan gosip tapi sekedar menceritakan kehidupan masing-masing. Elisa dan kawan-kawan tentu melihat kedekatan diantara mereka. Sebenarnya mereka rindu juga dengan Melati namun tetap ego mereka menguasai diri mereka.
Tak lama Aaz datang masuk ke kelas itu. Dahinya mengernyit heran melihat Melati yang duduk bersama Maira dan tidak bersama Elisa dan Rosé seperti biasa. Bahkan yang membuatnya geram ialah kehadiran Sinta seakan menggantikan Melati.
Ia sungguh tak menyangka Elisa dan Rosé bisa berbuat sejauh ini. Teman berhijrah bukannya didukung malah dijauhi. Bahkan kita lebih baik mengikuti juga langkah yang dipilih oleh teman kita.
Kemarin saja, digrup chat mereka membuat grup yang baru. Yang dimana hanya ada tiga orang. Yaitu dirinya sendiri, Elisa dan Rosé. Yang mereka bahas hanyalah tentang Melati. Perubahan tentang Melati dan banyak Melati. Dimana semua hanya untuk menjelekkan nama Melati.
Padahal apa yang mereka pikirkan tidaklah seperti itu. Mereka hanya salah paham. Dan Aaz benar-benar muak maka dari itu ia memilih untuk keluar dari grup.
__ADS_1
Ia menghampiri Melati dan duduk di belakang kursi Melati dan Maira. Ia duduk disamping Putri. Sontak hal itu membuat Elisa dan Rosé heran. Apakah Aaz memilih untuk dipihak Melati.
Mereka benar-benar geram pada Melati dan Aaz. Baik ini yang mereka inginkan. Ia pun mulai sekarang tak akan lagi memperdulikan Melati dan Aaz.
Melati yang melihat kehadiran Aaz juga bingung. Ia melihat ke arah Elisa dan Rosé, namun mereka malah membuang muka.
"Kamu kenapa di sini Az?" Tanya nya menoleh ke belakang.
"Salah yah Mel?, Gue kan cuma pengin duduk sama lor aja."
"Sama sekali ga salah lah AZ. Maksudku ya kan kamu emangnya ga sama Elisa sama Rosé."
"Engga papa kok El. Cuma kalo belajar deket loe asyik aja." Bohong Aaz. Jelas ia tak ingin memberitahu yang sebenarnya. Masa ia akan mengatakan bahwa kedua teman mereka telah membencinya dan tak ingin berteman lagi dengannya.
Aaz senang karena Melati tak lagi suka membully dan menyombongkan dirinya. Dan sikap Melati juga menjadi sangat ramah tamah. Semenjak Melati berubah, ia tak hanya berteman dengan teman yang itu-itu saja. Siapa pun yang mendekati Melati pasti ia terima dengan tangan terbuka.
Tak seperti dahulu yang harus pilih-pilih. Dan harus kiranya selevel dengannya.
Tak lama bel tanda masuk pun berbunyi dan pelajaran pun dimulai ketika guru masuk kelas. Aaz sama sekali tak melirik ke arah Elisa dan Rosé yang berada di pojok belakang. Ia lebih suka berbicara dengan teman sebangkunya.
Dahulu diantara Elisa, Melati, Aaz dan Rosé, Aaz memanglah yang paling disukai. Karena sikapnya yang benar-benar asyik dan tak pandang bulu. Namun tentu saja hal itu ia lakukan ketika tidak ada temannya. Ia bahkan tak tega ketika ketiga temannya tengah membully seseorang. Aaz lebih memilih untuk pergi daripada mendengar penuturan para temannya.
Tapi sekarang semua berubah, ia lebih leluasa bergabung dengan siapapun.
***
__ADS_1
Tak terasa saat ini Melati dan kawan-kawannya, tengah menunggu hasil Ujian mereka tahun ini. Menunggu keputusan dari sekolah lulus atau tidak.
Ia tengah duduk di antara Maira dan Aaz. Selama mereka ada di kelas 9 semester dua, mereka selalu bersama. Dan bagaimana dengan Elisa dan Rosé mereka duduk di kursi paling depan bersama Sinta juga.
Seakan telah terpecah menjadi dua kubu, Melati, Maira dan Aaz menggeser kepopuleran antara Elisa, Rosé dan Sinta. Elisa, Rosé dan Sinta benar-benar sangat membenci Melati dan kawan-kawan. Namun tidak dengan Melati. Meski mereka selalu mendapat tatapan dingin dan sinis, namun mereka memilih untuk membiarkannya. Tak ada rasa kebencian sekecilpun untuk Elisa dan cs-nya.
Alangkah senangnya Melati ia mendapat nilai tertinggi di antara murid-murid angkatannya. Dan posisi kedua diraih oleh Maira. Dan Aaz dia masih mengikuti sepuluh besar.Namun ia benar-benar bangga pada kedua temannya.
Oh ya, Aaz juga sekarang telah berhijab seperti kedua temannya.
Mereka semua senang karena mereka lulus dengan hasil memuaskan. Dan mereka pun merayakan hari kelulusan mereka. Melati, Maira dan Aaz pun akan melanjutkan pendidikan mereka di sekolah yang sama.
Seragam mereka sebentar lagi akan di rubah menjadi seragam putih abu. Melepas biru putih. Mereka juga mempersembahkan lagu perpisahan untuk guru mereka. Dan salah satu perwakilan dari adik kelas untuk menyampaikan sepatah kata untuk Kakak-kakaknya.
Air mata mereka mengalir deras. Mereka juga mengelilingi sekolah mereka. Ini adalah hari terakhir mereka menginjakkan kaki mereka di sekolah ini. Saling bernostalgia menapaki perjalanan mereka selama tiga tahun.
Melati pulang dengan senyum terpancar indah dari wajahnya. Ikhsan, Mina dan Alif tentu bangga dengan pencapaian Melati. Mereka merayakan dengan membuat kue di rumah itu.
Namun karena bahan-bahan yang akan mereka gunakan untuk membuat kue tersebut masih kurang. Jadi Ikhsan memutuskan dahulu untuk membelinya bersama sang istri.
Dan untuk Husein ia serahkan kepada kedua anak-anaknya dari Sharah untuk menjaga.
Ikhsan dan Mina sampai di sebuah supermarket. Tak sengaja manik Mina melihat seorang lelaki dan seorang perempuan hamil tua.
Ia seperti pernah melihat keduanya. Tidak, ia bahkan sangat menganali siapa mereka. Seketika ia pun mengingat tentang masa lalunya.
__ADS_1