
***
Menulis novel online ditemani secangkir coklat panas memang sudah menjadi rutinitas sehari-hari Melati di kala waktu luang. Alif menghampiri sang adik, juga dengan membawa laptop nya. Biasanya Alif juga memberi ideu untuk alur cerita novel yang Melati tulis.
"Ehm Kak,.." Melati melirik Kakaknya yang tengah fokus pada laptopnya.
"Hmm" jawab cuek Alif. Bahkan ia sama sekali tak melirik Melati.
"Emm, kemarin aku melihat Kakak sama perempuan. Siapa ya?, Juga bayi yang dia gendong?" Tanya Melati hati-hati.
Alif terkejut mendengarnya, sontak ia menatap tajam Melati.
Melati yang mendapat tatapan seperti itu juga tak kalah terkejutnya. Ia sendiri bingung kenapa Kakaknya berubah menjadi sensitif seperti ini.
"Ke..kenapa Kak?, Salah ya?, Aku sama sekali tidak mengikuti Kakak kok. Cuma kebetulan saja"
Alif menaikkan satu alisnya, lalu membuang nafas kasar. Ia memandang ke arah lain. Menerawang apa yang selama ini ia alami.
"Kalo memang Kakak tidak mau menceritakannya ya terserah saja. Aku juga bukan orang yang suka ingin tahu dengan kehidupan pribadi seseorang." Tutur Melati yang melihat Kakaknya diam saja sedari tadi.
"Kamu janji tidak akan mengatakan apapun pada Ayah atau Ibu kan?" Ucap Alif menatap Melati serius.
"Kha, mana mungkin aku menceritakannya, aku bukan tipe orang yang suka bergosip."
"Ya udah, Kakak akan menceritakannya. Lagipula kau sudah cukup dewasa, jadi bisa saja kau memberiku saran."
Melati hanya diam manggut-manggut.
"Jadi?"
"Dia itu wanita yang Kakak cintai.." jawab Alif malu-malu. Ia memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Melati terkejut melihatnya, bukan karena mendengar penuturan Kakaknya. Namun melihat ekspresi wajah Alif. Baru pertama kali ia melihatnya.
"Ouh, terus anak itu?.."
Wajah Alif berubah menjadi sendu. Ia nampak ragu-ragu menjawab pertanyaan adiknya yang satu ini.
"I..itu.., anak suaminya" memelankan suaranya di dua kata terakhir kalimatnya.
"APA?!!" Melati menyemburkan minuman yang tadi ia minum ke arah lain karena saking terkejutnya. Untunglah kedua orang tuanya serta adiknya tak mendengar suara Melati.
Melati menatap intens Alif. "Kakak mau jadi pembinor?!" Tanya Melati sinis.
"Ya enggaklah, lagian Lulu itu calon janda juga. Tidak ada salahnya kan?" Tanya Alif percaya diri.
"Astaghfirullah, Kak. Apa bedanya, ya salah dong perbuatan Kakak ini. Apalagi mereka sudah dikaruniai seorang anak. Kakak mau memisahkan seorang anak dengan Ibunya atau Ayahnya?" Melati benar-benar tersulut emosi sendiri menghadapi Kakaknya ini.
Alif menghela nafas, ia juga pikirannya sedang kacau saat ini. Selama ini ia selalu memikirkan nasib Lulu. Wanita yang dicintainya.
"Dengar ya Mel, Kakak itu hanya tengah membantu Lulu lepas dari suaminya. Suaminya telah mengkhianatinya dengan menikah siri dengan wanita lain. Semenjak saat itu juga Lulu tidak pernah mendapat keadilan dari suaminya. Bahkan dia sempat mendapatkan KDRT oleh suaminya."
"Menurutmu apa salah Dek yang Kakak lakukan sekarang?" Tanya Alif lemas.
Melati menggeleng, "Emm untuk itu aku tidak tahu Kak bagaimana jalan keluarnya. Tapi jika menurut Kakak itu yang terbaik ya kenapa tidak. Lalu, bagaimana dengan anaknya Kak Lulu?, Bukankah setiap anak pastinya menginginkan untuk mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya?"
Lagi-lagi Alif membuang nafas kasar dan memandang ke arah lain. Sejujurnya ia sendiri sangat bersedia menjadi Ayah sambung untuk anak dari wanita yang dicintainya. Namun apakah anak itu juga bersedia menjadikan dia Ayahnya.
"Kalo itu Kakak tidak tahu Dek. Tapi jika Lulu mempertahankan pernikahannya apakah itu yang terbaik?, Tidak kan, wanita yang telah dimadu meski suaminya mencintainya tetap saja ada yang tidak menerimanya. Apalagi Lulu yang tidak pernah mendapat keadilan bahkan hanya KDRT yang ia dapatkan Melati. Psikisnya juga bisa goyah jika tertekan terus terusan. Dan hal itu juga berdampak untuk anaknya."
"Tapi Kak jika Kak Lulu sudah tidak bisa mendapatkan cinta dari suaminya, kenapa suaminya mempertahankan dia. Dan bukankah dia sudah memilki istri lain?" Tanya Melati yang sebenarnya juga sudah sangat geram dengan suami dari wanita yang dicintai Alif.
"Karena istri keduanya itu mandul, tidak bisa memberinya keturunan. Jadi dia tidak menceraikan Lulu. Lulu hanya ia pertahanan untuk mendapatkan keturunan."
__ADS_1
Melati membulatkan matanya lebar-lebar. Bagaimana bisa ada lelaki yang seperti itu. Jika saja ia bisa bertemu, sudah pasti ia beri pelajaran untuk lelaki itu.
"Astaghfirullah Kak, kok ada sih lelaki yang seperti itu. " Melati menutup mulutnya.
"Maka dari itu Dek. Tidak salahkan jika Kakak memisahkan dia dengan suaminya. Lulu juga berhak bahagia. Kamu dukung Kakak kan untuk mendapatkan Lulu."
"Iya Kak, itu pasti. Aku akan mendukung penuh bahkan bila perlu aku akan membantu semampu aku."
Alif tersenyum dan mengelus rambut yang dibalut hijab milik Melati. "Makasih ya Mel."
"Iya Kak, tapi kalo boleh tahu Kakak kok bisa ketemu sama dia?" Tanya Melati penasaran.
"Jadi waktu itu Kakak lagi di perjalanan pulang dari kampus. Tidak sengaja melihat seorang wanita yang berlari dengan kakinya yang pincang.
Jadi ya karena Kakak pikir untuk membantu dia ya Kakak pergi kearahnya. Dan kamu tahu bagaimana keadaan wajahnya. Hampir seluruh tubuhnya dipenuhi lebam.
Kakak benar-benar shock saat itu. Kakak berusaha menawarkan dia untuk membawanya menuju rumah sakit. Tapi dia tetap kekeh untuk menolak. Karena memang keadaan tubuhnya yang lemah, dia pingsang dengan sendirinya. Untung ada Kakak, jadi Kakak langsung membawanya ke RS terdekat-" Tutur panjang Alif yang tiba-tiba dipotong oleh Melati.
"Ouh jadi yang beberapa Minggu yang lalu Kakak pulang telat bahkan hampir selalu malam. Jangan-jangan karena Kakak sedang menunggu wanita itu?"
Alif mengangguk dan melanjutkan ceritanya.
"Beberapa hari tubuhnya mulai membaik. Tapi Kakak masih belum berani bertanya apa yang sudah dia alami. Dia meminta Kakak untuk sementara memberinya tumpangan. Jadi ya Kakak membawanya menuju apartemen Kakak yang ada di jalan x itu loh Dek,"
Melati mengangguk paham.
"Jadi jujur dari waktu itu sampai sekarang dia masih berada di apartemen Kakak. Beberapa hari yang lalu Kakak dan dia berusaha ke rumah milik suaminya untuk menjemput putrinya. Dan syukurlah berhasil. Sudah pasti saat ini suaminya mencari-cari keberadaan anak dan istri pertamanya. Makanya Kakak meminta dia untuk sementara waktu untuk tidak keluar sama sekali. Jadi untuk segala keperluan yang dia butuhkan dia harus menghubungi Kakak."
"Ouh jadi gitu, kalo boleh aku bersedia kok Kak kalau aku menemani Kak Lulu. Aku juga ingin kenal lebih dekat dengan dia" ujar Melati.
"Emm, baiklah Kakak juga sebenarnya senang karena Lulu menjadi memiliki teman. Tapi bagaimana cara kamu memberitahu Ayah?"
__ADS_1
"Untuk itu masalah gampang Kak." Melati tersenyum dan dibalas Alif. Sejenak mereka terdiam dan sibuk berkelana dengan pikirannya masing-masing.
"Em Kak, Kak Lulu apakah tidak ada niatan untuk menggugat cerai suaminya?" Tanya Melati hati-hati.