Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 82


__ADS_3

Fahmi mengedarkan pandangannya ke arah lain. Sejujurnya ia merasa iba dengan wanita dihadapannya kini. Namun mau bagaimana hatinya hanya untuk Melati, dan sampai kapanpun tak dapat diubah.


"Luna, aku tahu cintamu tulus padaku. Aku pun dapat melihat semuanya. Namun keadaanya tidaklah mendukung, meski awalnya kau yang sangat menginginkanku. Dan aku pun tidak menginginkan Melati. Namun keadaan membuatku memperistri Melati.


Dan sekarang cinta itu telah tumbuh bahkan lebih besar dari rasa cintaku pada Sasa dulu. Baiklah kau memintaku untuk melihatmu dan merasakan cintamu dan aku pun telah merasakan semuanya dari awal-"


Senyum terlukis di wajah ayu Luna. Ia menghampiri Fahmi dan ingin memeluknya. Namun Fahmi mengangkat satu tangannya.


"Aku belum selesai berbicara. Meksi aku telah merasakan semuanya, namun itu semau tak mampu menghujam kokohnya rasa cintaku pada istriku. Benteng itu terlalu kuat hingga siapapun tak mampu merobohkannya.


Luna, cobalah kau lihat orang lain. Resapi dan rasakan bagaimana besarnya cinta orang lain, karena kau pun akan menikmati indahnya rasa itu."


"Tapi hanya kau yang kuinginkan Mas,"


"Untuk apa kau menanamkan benih cintamu untukku jika sampai kapanpun aku tak dapat memupuk dan merawatnya. Kau hanya akan mendapatkan kepedihan dari rasa yang kau ciptakan sendiri." Cicit Fahmi. Keadaan sudah berangsur dingin.


"Baiklah Mas akan aku coba."


Aku tahu kau bukanlah pria yang gampangan. Maka dari itu, aku harus menyentuh hatimu dulu secara perlahan. Karena sebelumnya kau pun belum mencintai Melati ketika dia sudah menjadi istrimu. Semua tumbuh karena kebiasaan dan aku pun akan melakukan trik itu. Jika kau tidak bisa aku lumpuhkan, maka istrimu lah yang harus aku serang.


Fahmi tersenyum, setidaknya hatinya sedikit lega karena tidak terus-terusan menyakiti hati wanita.


"Aku akan do'akan semoga kau akan menemukan cinta sejati mu. Dan aku berharap kau pun akan merasa indahnya hidup dengan pasanganmu kelas seperti aku yang hidup dengan Melati." Tuturnya lembut sembari memegang bahu wanita di hadapannya.


Sedangkan Luna hanya mengangguk dan tersenyum paksa. Nyatanya meski telah diberi pengertian oleh Mas Fahmi, hati dan kepalanya masih sekeras batu. Dan ambisi untuk memiliki semakin besar, lantaran melihat bagaimana besar cinta Mas Fahmi pada istrinya. Ia benar-benar ingin merasakannya.


***


"Oh ya Nasy, aku ingin pergi menjemput putriku. Kalian jagalah di sini ya." Pesan Melati pada kedua karyawannya. Semakin hari, usahanya semakin lancar dan berkembang. Apalagi karena ada beberapa pelanggan tetap yang membuat pesanan dengan jumlah banyak di setiap harinya.


"Iya Mbak, hati-hati ya." Jawab Nasywa dan Lia secara bersamaan.

__ADS_1


Di tengah perjalanan menuju sekolah putrinya, dada Melati tiba-tiba sesak melihat sebuah kejadian di taman.


"Bukankah itu Mas Fahmi? Kenapa dia berada di taman dan dengan seorang wanita pula? Bukankah seharusnya ia berada di kantor bekerja?" Gumam lirih. Ia memilih untuk menghentikan mobilnya agak jauh dari tempat itu dan memantau semuanya dari dalam mobil


Ia mencoba menangkis pikiran buruk yang tiba-tiba menggerayangi kepalanya. Dapat Melati lihat, sepertinya suasana di antara keduanya sangat panas. Bahkan sesekali wanita itu teriak, namun Fahmi hanya menanggapinya acuh.


Ingin sekali Melati mendengar pembicaraan di antara keduanya, namun melihat keadaannya yang jauh membuatnya hanya bisa pasrah. Cukup lama keduanya bersitegang, keadaan berangsur membaik. Melihat bagaimana Mas Fahmi berbicara panjang lebar membuat wanita itu diam.


Tak lama Melati membulatkan matanya melihat suaminya menepuk bahu wanita yang tidak ia kenal. Hatinya tiba-tiba sangat sakit dan perih. Melati selama ini sangat menjaga agar tak bersentuhan dengan yang bukan mahramnya, namun melihat sang suami yang dengan mudahnya menyentuh wanita lain membuat hatinya lara dan geram.


Apalagi setelahnya ia melihat keduanya duduk di kursi yang sama dan dengan jarak yang cukup dekat. Membuat Melati tak betah berlama-lama di tempat itu. Dengan cepat ia menghidupkan mesin mobilnya dan pergi menuju tempat tujuannya dari awal.


Dalam perjalanan sesekali Melati mengusap lelehan di pipinya.


Entah aku yang terlalu lemah atau memang ada maksud lain darimu Mas. Mengapa saat ini kau bersamanya, bukankah kau seharusnya bekerja di kantor. Dan apa tadi, bahkan kau sangat dekat dengannya Mas. Apa maksudnya itu?. Jerit hatinya pilu.


***


Deru mobil yang terdengar di telinga Melati, membuatnya menghentikan aktivitas memasaknya. Ia tahu bahwa itu adalah suaminya.


"Wa'alaikumsalam Mas." Jawab Melati tersenyum tipis dan sekilas. Lalu langsung menyambar tas di tangan suaminya.


"Ingin mandi dulu atau langsung makan Mas?" Tanya Melati mendahului langkah suaminya.


"Mandi dulu sayang, tidak enak jika badan masih bau dan lengket langsung makan." Jawab Fahmi mengikuti istrinya.


"Baiklah akan aku siapkan semuanya." Melati mempercepat langkahnya. Sebenarnya Fahmi merasa ada yang janggal dengan sikap istrinya, meski masih lembut dan perhatian tetap saja rasanya berbeda.


Mungkin ia sedang kelelahan. Pikirnya.


Setelah menyiapkan semuanya Melati langsung bergegas menuju dapur, ia berpapasan dengan suaminya. Fahmi melemparkan senyum manisnya yang hanya dibalas senyum tipis dari Melati.

__ADS_1


Merasa bahwa senyum istrinya itu dipaksakan, Fahmi menarik tangan istrinya dan membenturkannya ke dada bidangnya.


"Ada apa hari ini hm? Apa Farah atau Aish berulah?" Tanya Fahmi.


"Tidak Mas, aku hanya kelelahan saja karena hari ini banyak yang order." Jawab Melati tersenyum.


Namun Fahmi tak percaya begitu saja. Ia hanya diam tak menanggapi dan terus memperhatikan wajah istrinya. Melati yang ditatap seperti itu salah tingkah dibuatnya.


"M-mas kenapa kau memandangku seperti itu. Kau cepatlah mandi Mas, nanti airnya menjadi dingin." Ujar Melati memalingkan wajahnya.


Fahmi menahan wajah istrinya dan memberikan belaian lembut di wajah istrinya.


"Aku sangat mencintaimu." Bisiknya dan pergi meninggalkan Melati.


Semoga rasa cintamu itu lebih kuat daripada ***** sesaat yang menggodamu Mas. Melati memandangi punggung suaminya hingga lenyap kemudian melangkahkan kakinya hingga meja makan.


Hap. Melati dibuat terkejut dengan kehadiran Mas Fahmi yang tiba-tiba merengkuh pinggangnya.


"Mas kenapa kau senang sekali mengagetkanku." Ucapnya cemberut.


"Oh ya, tapi aku rasa kau menyukainya." Kekeh Fahmi.


Melati hanya menggeleng dan melanjutkan kegiatannya menyiapkan makanan untuk keluarganya.


Fahmi membalikkan tubuh istrinya, ia sapu setiap inci wajah Melati. Tampak gurat kelelahan dan ada sesuatu yang disembunyikan dari istrinya. Namun ia tak mengerti apa itu.


Cup. Satu kecupan hangat mendarat di kening Melati.


"Kau memikirkan sesuatu?" Tanya nya.


"Tidak Mas." Jawab Melati tersenyum.

__ADS_1


"Melati aku tidak ingin kau menyimpan semuanya sendiri yang nantinya hanya akan membebankan pikiranmu. Katakan ada apa Mel?" Kekeh Fahmi.


"Kau sendiri apa tak ingin mengatakan apapun Mas?" Tanya Melati balik.


__ADS_2