
Mata Fahmi terbelalak melihat pesan dari nomor asing. Hatinya bergemuruh menahan amarah. Bagaimana tidak, ia mendapati gambar-gambar dimana istrinya begitu dekat dengan seorang pria.
Bahkan diperhatikan lebih serius, ia mengenali siapa dia. Yah, dia adalah Angga sahabatnya sendiri.
Namun ia berusaha menahan gejolak di hatinya, ia terus menepis pikiran negatif yang menggerayangi pikirannya.
Tetap tenang Fahmi, kau bisa menanyakan hal ini pada Melati nanti. Melati tidak mungkin seperti itu. Ujarnya dalam hati meyakinkan diri. Lalu kembali fokus mengendarai mobilnya pulang.
"Assalamu'alaikum." Ucapnya membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam Mas." Jawab Melati dan menyambut kepulangan suaminya dengan senyuman dan mencium punggung tangan Mas Fahmi.
"Aku telah menyiapkan air hangat untukmu dan makan malam Mas."
"Iya, terimakasih sayang." Sahut Fahmi mencium pucuk kepala istrinya. Dan bersama-sama berjalan menuju kamar mereka.
Melati menunggu suaminya sembari memeriksa ponselnya. Ia membalasi pesan yang telah dikirimkan oleh Angga padanya. Sesekali ia tersenyum, bukan karena senang mendapatkan pesan dari Angga. Namun karena rencana yang telah ia buat atas saran dari Aaz.
Fahmi yang kebetulan keluar mengernyit mendapati istrinya yang senyum-senyum sendiri menatap ponselnya. Pikirannya melayang ke gambar-gambar yang tadi ia lihat.
Apa yang membuatmu senyum-senyum seperti itu Mel? Apa karena pria itu? Tidak, tidak! Mungkin karena toko nya yang mendapatkan banyak order atau hal lain. Melati tidak seperti itu. Gumamnya dalam hati.
"Eh Mas, kau sudah keluar. Ayo pakai pakaianmu dan kita makan malam bersama.
"Iya, sebentar yah." Jawab Fahmi.
***
"Mas kau mau aku siapkan bekal makan siang?" Tanya Melati menawarkan.
"Tentu sayang kenapa tidak? Aku akan sangat senang jika seperti itu." Jawab Fahmi tersenyum.
"Baiklah tunggu sebentar yah." Melati dengan gesit menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Ini ya Mas." Ujar Melati meletakkan rentang bekal di samping sarapan Mas Fahmi.
"Terimakasih Mel." Fahmi melanjutkan menyantap sarapannya. Melati juga menyiapkan bekal makan siang untuk putrinya.
"Ini ya untukmu ya sayang. Ingat harus dihabiskan."
"Baik Bunda." Sahut Farah. Melati tersenyum dan berjalan menuju kamarnya. Guna menyiapkan tas dan dasi untuk Mas Fahmi.
Masalah foto-foto tentang istrinya, Fahmi masih bungkam sampai saat ini. Entah ia yang bingung bagaimana cara bertanya nya atau ia yang sangat percaya dengan istrinya. Yang pasti, ia tak ingin memberitahu atau menanyakannya.
***
Seperti biasanya Luna akan mengantarkan makan siang untuk Mas Fahmi. Hari ini dengan sengaja ia menyiapkan makanan favorit pria yang dicintainya itu."
"Mas," Panggilnya.
"Iya." Jawab Fahmi.
__ADS_1
Luna tertegun menatap Fahmi yang tengah menikmati makan siangnya. Senyum di wajahnya perlahan memudar.
"Em itu kau membawa bekal makan siang Mas?" Tanya Luna.
"Iya Nona, istri saya yang menyiapkannya." Jawab Fahmi menoleh.
"Ouh begitu yah, ya sudah nikmati makananmu Mas." Dengan menahan amarahnya Luna meninggalkan ruangan tersebut. Ia menoleh ke arah Angga.
"Ngga, apa kau sudah makan?"
"Em baru saja aku akan mencari makan siang." Jawab Angga.
"Tidak perlu, makanlah makanan yang kubawa ini Mas." Luna menyodorkan bekal yang ia bawa.
Alis Angga terangkat satu heran. Namun ia tetap menerima bekal yang Luna bawa.
"Baiklah terimakasih." Pungkasnya tersenyum. Luna mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Tak berapa lama, Angga dan Fahmi dipanggil oleh atasan mereka.
"Kenapa ya Tuan besar memanggil kita?" Tanya Angga yang berpapasan dengan Fahmi.
"Entah kita lihat saja nanti." Jawab Fahmi datar. Ia memang tak mempermasalahkan dengan istrinya, namun hatinya tetap saja cemburu. Dan kesal dengan pria di sampingnya itu.
"Sebentar lagi kita akan mengadakan pesta perusahaan. Mengingat bahwa beberapa hari lagi, adalah hari dimana perusahaan ini didirikan. Jadi aku harap, kalian dapat mengurus semuanya." Tegas Tuan Yovindra.
"Baik Tuan, kami akan menyiapkan semuanya semaksimal mungkin." Jawab Angga patuh. Begitu pula dengan Fahmi.
Tuan Yovindra memberitahukan seperti apa model pesta nanti dan apa saja yang dibutuhkan. Baik Fahmi maupun Angga memperhatikan dengan seksama apa yang diucapkan oleh atasan mereka.
***
Fahmi kembali dengan wajah letihnya, Melati yang melihatnya segera mengambil tas yang suaminya pegang.
"Mas," ucapnya.
"Eh iya sayang." Sahut Melati.
"Ada apa? Tumben tidak mengucap salam." Tutur mengernyitkan dahinya.
"Eh, Assalamu'alaikum."
Melati tersenyum, "Wa'alaikumsalam." Jawabnya.
"Tidak ada apa-apa Mel, Mas hanya kelelahan saja." Ujarnya.
"Ya sudah mau mandi atau makan langsung?"
"Mandi dulu sayang."
Melati segera menyiapkan apa yang dibutuhkan oleh suaminya. Sedangkan Fahmi, ia menunggu Melati sembari rebahan di sofa yang berada di kamarnya. Tak terasa, dirinya yang terlalu kelelahan membuatnya tertidur.
__ADS_1
Sang istri yang melihatnya menjadi iba, ia pun menghampiri suaminya dan membetulkan posisi tidur Mas Fahmi. Ia melepas sepatu dan dasi suaminya.
"Kau pasti sangat kelelahan Mas, maafkan aku yah." Ujarnya mengecup singkat kening Mas Fahmi. Dan pergi menyiapkan makanan terlebih dahulu.
"Bunda dimana Ayah?" Tanya Farah karena hanya melihat Bundanya di dapur.
"Ayah sedang istirahat sayang, jika kau lapar. Makanlah terlebih dahulu. Atau mau Bunda suapi?"
"Em boleh Bunda, sudah lama aku tidak disuapi oleh Bunda."
Melati tersenyum dan mulai mengambilkan makanan untuk putrinya. Lalu menyuapinya.
"Sayang tinggal beberapa suap lagi. Habiskan Nak." Pinta Melati pada Farah yang sudah enggan membuka mulut.
"Tidak mau Bunda, aku sudah kentang dan tak ingin lagi." Kekeh Farah.
"Tidak baik loh, membuang-buang makanan. Ini kan rezeki sayang, banyak diluaran sana yang susah-susah hanya demi sesuap nasi loh." Bujuk Melati.
"Tapi Bunda aku sudah sangat kenyang, nanti kalau makan terus perut Farah bisa meletus." Tolak Farah dengan mengelus perutnya.
"Sayang ayolah, Bunda nanti nangis loh. Kan makanannya Bunda yang masak. Bunda sudah lelah-lelah seperti ini tapi Farah tidak mau makan." Pungkas Melati pura-pura cemberut.
Membuat Farah menjadi merasa bersalah.
"Em maaf Bunda, Farah tidak bermaksud seperti itu. Ya sudah Farah habiskan yah." Tuturnya lembut mengusap lembut pipi Melati.
Melati tersenyum, "Nah seperti ini baru putri Bunda yang sangat cantik." Farah terkekeh dan melanjutkan makannya.
Setelahnya Melati pergi menuju kamarnya, ia melihat jam di dinding. Ternyata sebentar lagi masuk waktu sholat.
"Mas," Melati mengguncangkan bahu sang suami.
"Eh iya sayang. Maaf aku ketiduran." Fahmi mengucek matanya.
"Aku yang seharusnya minta maaf karena telah mengganggu tidurmu Mas."
"Tidak apa-apa Mel."
"Maaf ya Mas, tapi sudah masuk waktu sholat Mas. Jadi aku membangunkanmu."
"Ah begitu yah, ya sudah kau siapkan air hangat untukku yah."
"Iya Mas," jawab Melati tersenyum. Meski ia harus menyiapkan air hangat lagi namun ia senang melakukannya.
__________
Tak terasa Author sudah berada di detik-detik terakhir kisah 'Menjadi Seperti Ibu Sambungku'. Jadi Author berpikir untuk membuat karya baru.
Kisah selanjutnya, akan menceritakan kehidupan anak Melati yaitu Aisyah. Untuk lebih lengkapnya silahkan mampir ya,
__ADS_1