Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 69


__ADS_3

Melati terdiam seketika mendapat perlakuan seperti itu dari Mas Fahmi. Segera ia tersadar dan menjauh dari tubuh suaminya. Ia usap bagian yang sedikit basah itu.


Fahmi berusaha mengontrol emosi dalam dirinya. Sejujurnya hal yang barusan ia lakukan juga membuatnya sedikit gugup. Dengan pelan ia kembali mengajak Melati duduk di sampingnya.


"Mel, bisakah kau mendengarkan aku kali ini saja." Pintanya memelas.


Melati tak menjawab namun mengangguk kecil.


"Aku memutuskan untuk menceraikan Sasa itu semua karena memang perbuatan dari Sasa sendiri."


Dahi Melati mengernyit, kesalahan apa yang diperbuat madunya hingga suaminya menceraikannya.


"Ia telah bermain di belakangku Mel." Lanjutnya lirih, terselip kegetiran di setiap kata yang terucap.


Mata Melati membola. Tidak bagiamana mungkin Mbak Sasa menghianati Mas Fahmi. Selama ini aku melihatnya yang begitu mencintai Mas Fahmi. Tak akan mungkin Mbak Sasa tega melakukan hal itu. Ia terus saja menggeleng tak percaya.


"Tidak Mas, itu tidak mungkin. Aku tahu kau pasti berbohong. Kau mengatakan ini hanya untuk membuatku yakin untuk tetap bertahan di sampingmu. Mas berapa kali harus aku katakan aku tak ingin menjadi pelakor. Aku tak mau bahagia di atas penderitaan orang lain"


"Mau kau mengelak atau tak percaya tapi memang inilah yang terjadi Mel. Bahkan aku memiliki bukti bahwa perkataanku itu benar." Fahmi merogoh sakunya dan menunjukkan bukti yang berada di ponselnya.


Sontak Melati menutup mulutnya, ia benar-benar merasa tak percaya. Perlahan ia mengarahkan pandangannya ke arah Mas Fahmi, dapat ia lihat sebenarnya Mas Fahmi pun terluka dengan kebenaran yang di alaminya.


Tangan Melati terulur untuk menyentuh bahu suaminya. Dengan pelan ia mendekat ke arah Mas Fahmi, Fahmi langsung saja merengkuh tubuh istrinya. Ia tumpahkan segala beban yang selama ini begitu tega bertengger di kepalanya.


"Asal kau tahu Melati, bahkan Sasa membohongiku tentang Farah." Pungkasnya diiringi isakan kecil.


"Ada apa dengan Farah?"


"D-dia bukan putri kandungku Mel."


Melati semakin terkejut saja. Hatinya ikut memanas emosi dengan Sasa. Bagaimana mungkin madunya itu tega berbuat seperti itu. Ia tak lagi menanyakan apapun tentang apa yang telah menimpa suaminya. Dengan lembut ia salurkan kekuatannya pada bahu Mas Fahmi.


Cukup lama mereka terdiam dalam pelukan satu sama lain. Fahmi melepas pelukan tersebut dan menatap wajah indah istrinya. Tak lupa ia genggam erat kedua tangan Melati.


"Mel jangan pernah kau katakan bahwa kau adalah seorang wanita yang merebut kebahagiaan wanita lain. Keadaan yang membuatmu terlihat demikian.

__ADS_1


Sekarang, percayalah padaku. Aku memutuskan untuk berpisah dengan Sasa itu karena akibat dari perbuatan Sasa. Jadi kumohon sekarang terimalah aku menjadi suamimu sepenuhnya, aku milikmu seutuhnya dan selamanya Mel.


Kita tuangkan kisah indah dalam lembaran baru. Bersama Farah dan buah cinta kita Aisyah."


Melati melepas genggaman di tangannya, ia berbalik dan memandang ke arah luar jendela.


"Boleh aku tahu apa kau memiliki perasaan terhadapku Mas?" Tanya Melati tanpa melihat wajah suaminya.


Terang saja, pertanyaan itu membuat Fahmi gugup dan salah tingkah. Namun ia berusaha untuk menetralkan perasaannya.


"Jujur saja Mel, bahkan dari awal aku melihatmu di hari pernikahan kita. Aku mulai ada rasa." Cicitnya.


"Sebelum kau mengetahui kebenaran tentang Mbak Sasa apa kau masih mencintainya bersamaan denganku?" Melati tersenyum getir entah kenapa ia tetap saja merasa sakit hati. Ia juga sedang memposisikan dirinya sebagai Sasa madunya.


"I-iya Mel," Fahmi makin gugup saja apalagi melihat wajah Melati yang tak enak dipandang.


"Jadi kau mencintai dua wanita saat itu?"


Fahmi mengangguk kecil.


Kau tahu Mas, aku paling membenci pria yang mencintai dan menginginkan dua wanita sekaligus. Bukan berarti aku meragukanmu sebagai pria yang setia, namun hal itu mungkin saja terjadi jika kau sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama wanita lain karena keadaan."


Fahmi tersentak mendengarnya, tiba-tiba saja hatinya merasa sakit. Ia juga merasa seperti kerdil saat ini, menyadari wanita yang sebaik Melati tentu dirinya sama sekali tak pantas bersanding dengannya.


"Mel memang aku akui bahwa aku bukanlah pria yang baik. Namun apakah salah jika kau memberiku waktu dan kesempatan untuk berusaha menjadi lelaki yang baik untukmu?"


"M-maaf Mas bukan maksudku seperti itu. Hanya saja-"


"Semua keputusan ada di tanganmu Mel. Jika memang kau menginginkan perpisahan ini dan berharap kau bahagia aku tidak mau mengelak. Aku berniat melanjutkan pernikahan ini agar dapat berusaha membahagiakanmu dengan putra putri kita kelak. Jika kau tak bahagia dengan pernikahan ini aku bisa apa. Namun bisakah kau memberiku kesempatan dan waktu untuk memperjuangkan dan meyakinkanmu."


Hati Melati resah, entah kenapa ia menjadi bimbang sekarang. Bukankah seharusnya ia senang karena impiannya menjadi satu-satunya istri telah di depan mata. Namun tetap saja hatinya memikirkan Sasa.


"Mel boleh aku tahu apa alasan yang membuatmu tak ingin bersanding denganku? Apa karena aku lelaki yang breng*ek atau karena Sasa?"


"Entahlah Mas." Jawab Melati menggeleng pelan.

__ADS_1


"Percayalah Mel, mungkin saat ini Sasa telah menemukan kebahagiaan yang sebenarnya. Karena selama aku berumah tangga dengannya pun, dia lebih sering menghabiskan waktunya bersama pria lain.


Jika kau meragukan aku, kumohon berilah aku kesempatan untuk berusaha menjadi pria yang baik untukmu."


"Apa kau juga bisa memberi aku waktu juga untuk menerimamu kembali?" Tanya Melati.


"Tentu saja Mel, selama itu juga aku akan berjuang untuk mendapatkan cintamu." Jawab Fahmi yakin.


Melati tersenyum, "Baiklah dengan ini mungkin kita bisa saling memantaskan diri satu sama lain."


Melihat senyum Melati, kedua sudut bibir Fahmi ikut terangkat.


"Oh ya Mel dimana Aisyah?" Tanya Fahmi memecah keheningan sesaat.


"Ada bersama Kakeknya."


"Baiklah aku akan ke sana dulu ya." Pamitnya lalu meninggalkan Melati.


Melati kembali melihat ke arah luar jendela dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Apakah keputusannya itu salah? Sungguh saat ini ia merasa hambar, tidak ada kesedihan atau kebahagiaan jika mengingat ia kembali lagi pada Mas Fahmi. Padahal ia akan menjadi satu-satunya.


Dengan cepat ia menggeleng dan menyusul suaminya menemui Aisyah putrinya.


Fahmi merasakan getaran di sakunya segera berpindah untuk duduk agar Aisyah tidak terjatuh. Ia merogoh ponselnya dan terpampanglah nama Ayahnya. Tak menunggu lama, ia menggeser ikon hijau untuk menerima.


"Hallo Assalamu'alaikum Yah," ucapnya sopan.


"Wa'alaikumsalam. Nak putrimu sedari tadi memanggilmu pasca operasi. Ayah mohon cepatlah kemari ya Nak."


Seketika raut wajah Fahmi berubah cemas, karena masalah ini ia melupakan putri yang satunya.


"Baiklah Yah, aku akan cepat ke sana." Jawabnya yakin.


"Iya Nak. Ayah tunggu Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


__ADS_2