
"Maaf Nona, saat ini saya harus ke kantor. Saya harus menemani Tuan Besar meeting dengan Tuan Daniel." Ujar Fahmi selepas sholat.
"Apa? Kenapa secepat itu?" Tanya Luna terkejut dan memperhatikan jam di tangannya.
"Mungkin karena anda yang terlalu lama ketika berbelanja tadi Nona." Jawab Fahmi santai.
"Tidak. Biar Angga saja yang menemani. Aku akan menelponya." Sergah Luna membuka tasnya.
"Jangan Nona, saya adalah karyawan baru di Perusahaan. Tidak ayal jika saya sudah minta izin seperti ini." Cegah Fahmi. Tentu saja, ia merasa sesak jika berdekatan dengan Nona mudanya itu.
"Aku yang akan meminta izin Mas. Lagipula dengan menemaniku itu juga perintah dari atasanmu bukan?" Kekah Luna tak mau dibantah.
"Baiklah saat ini saya akan menemani anda sepuasnya. Dan besok anda tidak akan melihat saya di perusahaan Ayah anda."
Luna membulatkan matanya, "Tapi mengapa? Tidak kau tidak boleh seperti itu." Menggeleng keras.
"Terserah saja. Karena saya bekerja untuk hidup keluarga saya. Bukan bermain-main seperti ini." Tegas Fahmi.
"Iya-iya baiklah, kita pulang sekarang." Pasrah Luna.
"Bagus." Ucap Fahmi datar.
Luna hanya bisa menuruti Fahmi karena ia tak mau jika Fahmi sampai hilang lagi dari pandangannya.
"Tuan." Panggil Fahmi pada atasannya.
"Fahmi? Kau sudah ke sini? Dimana putriku?" Cecar Tuan Yovindra dengan pertanyaan.
"Nona Luna sudah saya antarkan pulang Tuan. Karena ia terlihat kelelahan setelah berbelanja." Jawab Fahmi sopan.
"Jam berapa kita bertemu dengan Daniel?"
Fahmi memeriksa jam di tangannya. "15 menit lagi Tuan."
"Baiklah ayo kita pergi sekarang!" Titahnya.
"Baik Tuan." Fahmi undur diri dari ruangan atasannya dan memeriksa berkas-berkas di mejanya terlebih dahulu.
***
Jam menunjukkan sudah waktunya Farah pulang. Melati yang mengetahui bahwa sang suami sibuk, menyempatkan diri untuk menjemputnya.
__ADS_1
"Lia, Mbak tinggal dulu ya. Mau jemput Farah." Ujar Melati memandang Lia.
"Iya Mbak silahkan saja. Biar aku dan Nasywa yang menjaga di sini." Jawab Lia tersenyum. Melati pun ikut tersenyum.
"Ya sudah terimakasih ya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Suasana di sekolah Farah saat itu cukup ramai, karena memang banyak juga orang tua yang menjemput anak mereka masing-masing. Mata Melati terus menyapu ke seluruh arah mencari putrinya.
"Bunda!" Suara lengking seseorang dapat Melati kenal siapa pemiliknya. Ia pun menoleh ke sumber suara.
"Hai princess-nya Bunda. Sudah menunggu lama sayang?" Dengan gemas Melati menggendong putrinya.
"Tidak Bunda, seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kelasku baru saja selesai, pasti Bunda yang sudah menunggu terlalu lama." Ungkap Farah.
"Tidak sayang, Bunda juga baru sampai menjemputmu." Melati membukakan pintu mobil lebar-lebar agar sang anak tidak kesulitan.
"Terimakasih Bunda."
"Sama-sama sayang." Melati memutari mobil tersebut dan duduk di kursi kemudi.
"Bunda aku sangat lapar." Rengek Farah manja.
"Iya Bunda."
Melati mencari-cari restoran terdekat.
***
Tak terasa kini Fahmi telah mendapatkan gaji pertamanya, dan hal itu tentu membuatnya sangat senang. Dan Luna pun semakin gencar mendekati Fahmi. Sering kali Fahmi melalukan penolakan secara terang-terangan, namun Luna yang tidak tahu malu sama sekali tak mempedulikan hal itu.
"Sebenarnya apa mau mu Luna?!" Tanya Fahmi geram.
"Aku hanya ingin dirimu Mas, tidak kah kau lihat bagaimana perjuanganku agar mendapatkan cintamu? Bahkan dulunya aku rela menjadi sekretaris di perusahaan mu itu dibanding perusahaan milik Papa-ku." Ungkap Luna memelas.
"Tapi kau sudah tahu bahwa aku memiliki seorang istri. Bahkan anak Luna." Sergah Fahmi cepat.
"Jadi jika kau tidak memiliki istri maka kau akan menerimaku dalam hidupmu?" Luna antusias.
Fahmi menaikan salah satu sudutnya meremehkan. "Kau pikir aku akan membuang berlian hanya untuk memungut batu krikil dari lumpur sepertimu?"
__ADS_1
Mata Luna membola, selama ini tidak pernah ada yang menghinanya karena mengetahui ia dari mana. Namun dengan mudahnya dan tanpa beban pria yang sangat ia cintai itu justru menganggapnya dari tempat menjijikan.
"Jaga ucapanmu Mas, ingat kau berada di bawah Papa-ku. Dengan sekejap kau akan ditendang tanpa ampun."
"Bahkan pekerjaanku akan aku korbankan untuk mempertahankan istriku Nona." Tegas Fahmi.
Deg.
Sebegitu besarkah rasa cintamu padanya Fahmi? Kau benar-benar menyakitiku. Sebenarnya apa yang dimiliki olehnya hingga kau seperti ini? Tapi aku tak akan pernah melepaskanmu. Jika orang lain bisa memilikimu dan mendapatkan cinta yang begitu besar maka aku pun akan mendapatkannya. Aku adalah Luna Alura Yovindra, seseorang yang selalu mendapatkan apa yang ia mau dengan segala cara. Jerit batin Luna bahkan ia sempat meneteskan air matanya.
Namun tak membuat Fahmi iba atau tersentuh melihat ada seorang wanita yang sangat mencintainya. Ia justru memutar bola malas.
"Baiklah jadi dia itu sangat berharga bagimu?" Lontar Luna dengan pertanyaan.
Fahmi hanya mengangguk yakin dan berwajah datar.
"Kau tidak bisa kehilangannya?"
Fahmi memberikan tanggapan yang sama.
"Kau akan mempertahankannya di sisimu apapun yang terjadi?"
Lagi-lagi Fahmi mengangguk.
"Kau sangat mencintai dan menyayanginya?"
Meski bosan Fahmi menanggapi pertanyaan Luna dengan jawaban yang sama.
"Baiklah, kau bisa bersamanya selamanya. Tapi jadikan aku yang kedua dalam hidupmu!" Fahmi membelalakkan matanya. Rahangnya mengeras siap untuk dilampiaskan. Tangannya pun mengepal.
"Kau pikir aku ini bodoh? Aku sangat-sangat mencintainya dan sampai kapanpun. Dia adalah belahan jiwaku, bahagianya adalah bahagiaku dan sakitnya adalah sakitku.
Dengan menikahimu aku tahu bahwa itu akan sangat menyakitinya. Jadi jangan pernah berpikir bahwa aku akan memberikannya madu!!" Pungkas Fahmi jelas dan lantang.
Luna mengepalkan kedua tangannya, pria dihadapannya ini benar-benar meyakitinya.
"Sebenarnya apa yang ia miliki hingga kau tega seperti ini padaku Mas?!!!" Teriaknya. Untungnya mereka tengah berada di sebuah taman yang sepi, hingga kejadian di antara mereka tak menarik perhatian sekitar.
"Dia sangat berbeda dari yang lain, dia tidak ada duanya dan tak akan kutemukan dirinya dalam diri orang lain. Dia sangat penyabar, sederhana, menerimaku apa adanya, memiliki agama yang bagus hingga aku tak perlu khawatir akan didikannya pada anak-anakku." Fahmi tersenyum miring menatap Luna.
"Dan tidak akan ada habisnya jika aku menceritakannya padamu. Dan jika kau ingin tahu, dalam dirimu tidak ada satu persen pun yang dapat menarik perhatianku" Tambahnya.
__ADS_1
Luna menggigit bibir bawahnya, menahan tajamnya belati yang keluar dari mulut Mas Fahmi di setiap katanya.
"Tentu saja aku sangat berbeda darinya, karena dia adalah dia dan aku adalah aku. Namun bisakah kau melihatku walau hanya sekejap. Dan lihatnya betapa besar dan dalamnya rasa cintaku untukmu. Kau pasti dapat melihat keindahan lainnya dalam hidupku." Lirihnya dengan deraian air mata.