Menjadi Seperti Ibu Sambungku

Menjadi Seperti Ibu Sambungku
BAB 31


__ADS_3

Seperti yang telah dikatakan oleh Azein, Melati akan mengajarinya bermain piano lebih lama dari biasanya. Dan sekarang yang jika seperti biasanya ia sudah pulang maka tidak dengan hari ini.


"Kak bisa kita berhenti sekarang, sedari tadi aku mengajarimu non stop." Ucap Melati yang sudah merasa lelah.


"Baiklah kita berhenti sekarang."


Melati menghembuskan nafasnya lega, hampir saja ia terjengkang jika Azein tidak menahan punggungnya. Tadi ia berniat untuk menyenderkan tubuhnya namun ia terlupa bahwa kursi yang ia duduki tidak ada sandarannya.


Seketika suasana hening, Melati dan Azein saling menatap. Entah apa yang dipikirkan keduanya, namun yang pasti mereka memuji pesona masing-masing.


"Ehm," deheman Aaz membuyarkan lamunan keduanya, hingga membuat Melati maupun Azein salah tingkah. Azein menghindari tatapan adiknya yang tengah menahan senyum dan mengusap tengkuknya.


Susana menjadi canggung, ditambah dengan kebungkaman Aaz dengan wajah menjengkelkan. Azein duduk di sofa yang agak jauh dari keduanya, ia menaruh nampan di atas meja.


"Melati minumlah dulu, aku tahu Kakakku sedari tadi menyiksamu." Ujar Aaz yang membuat Azein melototkan matanya pada Aaz.


"Em iya," Melati masih sangat malu karena kejadian tadi. Sudah tidak dapat dijelaskan bagaimana merah wajahnya saat ini.


Aaz tergelak saat melihat Melati yang dengan gemetar memegang cangkir minuman yang ia bawa tadi. Jika biasanya ia akan langsung meninggalkan mereka, namun tidak untuk saat ini. Ia ingin sekali melihat wajah malu-malu keduanya. Jarang sekali ia melihat ekspresi wajah keduanya selama ini.


Lama keheningan menemani mereka di ruangan itu, akhirnya Aaz pun beranjak dari duduknya. "Ehm sepertinya aku harus mengerjakan tugasku, ya sudah aku tinggal dulu ya Mel."


Kenapa tidak dari tadi saja. Dengus kesal Azein dalam hati dan menatap tajam manik mata Aaz. Sedangkan Aaz hanya tergelak dan pergi tanpa rasa dosa.


"Eh, iya Az." Jawab kikuk Melati.


Setelah kepergian Aaz, Melati maupun Azein tak ada yang berani berbicara duluan. Mereka hanya saling memandang dan enggan berkata apapun.


"Ehm, a-pa kau haus?" Tanya Azein sedikit gagap memecah kesunyian saat itu.


"I-ya, aku akan minum." Melati benar-benar menunjukkan bahwa dirinya tengah salting. Bahkan ia sempat tersandung namun tidak terjatuh.


Azein tersenyum, biasanya mereka akan bercerita setelah ini. Namun karena kejadian tadi keadaan menjadi sangat canggung. Bagi keduanya sedekat itu dengan lawan jenis adalah hal yang sangat jarang. Melati sendiri dari dahulu selelu menghindari atau mengacuhkan laki-laki. Entahlah mengapa dengan Azein ia berbeda meski awalnya ia juga demikian. Sedangkan untuk Azein sendiri, Ayahnya selalu mengirimkannya ke sekolah yang dimana tempat menimba ilmu antara lelaki dan perempuan dipisah.


Kenapa sekarang Ayahnya membebaskan Azein karena ia merasa Azein sudah cukup dewasa, hingga ia membiarkan Azein menemukan tambatan hatinya. Selama itu baik untuk Azein dan keluarga maka ia akan merestui dengan siapapun Azein berhubungan. Dan untuk alasan kenapa Aaz juga tidak disekolahkan yang sama dengan Azein itu karena kedua orang tuanya khawatir jika mengirimkan jauh anak perempuan mereka. Jika disini mereka bisa memantaunya sendiri.


Setelahnya Melati memilih untuk membuka gawainya, samar-samar ia juga mendengar notifikasi dari benda pipih tersebut. Dan dugaannya benar, ada beberapa teman kontaknya yang mengirimkannya pesan.

__ADS_1


Azein sebenarnya kesal dengan tingkah Melati yang mengacuhkannya. Namun ia juga tidak tahu mau berbicara apa agar Melati memperhatikannya. Akhirnya ia sendiri juga sibuk dengan ponselnya.


Lima belas berlalu akhirnya Melati mendongakkan wajahnya, melihat jam yang tertera di ponselnya hari memang sudah mulai petang. Bahkan sudah terdengar adzan Ashar. Mereka terdiam sejenak, sama-sama mendengarkan lafadz demi lafadz yang dikumandangkan oleh Muadzin dan tidak tidak lupa mereka menjawabnya tanpa suara.


"Kak,"


"Mel," Ucap mereka bersamaan.


"Em Kak apa lebih baik sekarang kita shalat dahulu."


"Iya kau benar, dan baru saja aku ingin mengajakmu."


"Baiklah ayo."


Mereka berdua pergi ke bawah, tepatnya menuju Mushola kecil di rumah itu. Dan nampaklah Ayah dan Ibu Azein serta adiknya yang juga tengah bersiap-siap untuk melakukan kewajiban mereka.


Dan mereka pun melaksanakan shalat berjama'ah. Lagi-lagi Melati merindukan suasana di rumahnya. Ia juga masih sangat mengingat saat masih ada Bunda Sharah.


***


"Baiklah." Azein menepikan mobilnya menuruti permintaan Melati. Ia melihat Melati yang turun menghampiri pedagang itu, segera saja ia mengikuti langkah Melati.


"Pak pesan dua yah." Ucap Melati pada pedagang tersebut. Melati memang pelanggan setia pedagang itu. Karena rasanya yang macam-macam dan enak tentunya. Tak ada yang tidak ia sukai di sini.


"Iya Neng." Jawab ramah pedagang tersebut yang sudah sangat mengenal Melati.


"Apa kau sangat menyukai martabak Melati?" Tanya Azein yang melihat Melati yang sangat antusias membeli makanan tersebut.


"Iya Kak, kau tahu martabak di sini sangat enak."


Azein tersenyum menanggapi, "Apa begitu enaknya hingga kau sampai memesan dua kotak?"


Melati terkekeh mendengarnya, "Yang satunya untuk Kak Lulu. Aku kan tidak tinggal sendirian di apartemen itu."


"Oh," Azein melirik pedagang yang tengah membuat martabak tersebut. Memang terlihat sangat menggiurkan dan toppingnya pun juga tidak sedikit.


"Pak saya juga pesan satu ya." Putusnya dengan mengangkat jari telunjuk.

__ADS_1


"Oh ya Melati sedari tadi siang kau belum makan. Apa tidak sebaiknya kita mencari makan sekalian." Azein memandang ke arah Melati.


"Iya Kak sepertinya seperti itu saja. Aku juga sudah lapar." Pungkas Melati.


Mereka pun menunggu hingga pesanan martabak mereka jadi. Jarak antara pedagang makanan lainnya memang tidak terlalu jauh karena memang mereka tengah berada di pinggir jalan.


"Kau ingin memakan apa?" Tanya Azein.


"Em bagaimana kita kesana, sudah lama aku tidak makan mie ayam." Menunjuk tempat pedagang mie ayam.


"Baiklah ayo."


Mereka berjalan menuju tempat yang menjadi tujuan mereka tadi. Suasana yang ramai membuat mereka tidak terlalu mendengar suara satu sama lain.


"Pak mie ayam dua sama es teh dua ya." Azein mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. Sedangkan Melati ia memilih tempat duduk yang masih kosong.


"Iya mas."


"Oh ya Melati setelah kuliah kau ingin langsung kerja atau melanjutkan pendidikanmu?" Azein duduk di hadapan Melati. Mereka sama-sama menunggu pesanan mereka datang.


Melati mendongakkan wajahnya, pertanyaan yang dilontarkan oleh Azein mengalihkan perhatiannya dari gawainya.


"Niatnya aku ingin lanjut pendidikan aku Kak. Makanya aku menargetkan untuk lulus tiga bulan lagi."


"Bukankah kau satu angkatan dengan Aaz, apa kau ingin lulus tidak sampai empat tahun?"


Melati mengangguk dan tersenyum.


"Wah, benarkah?"


"Iya."


Pelayan membawa pesanan mereka dan menaruhnya di meja. Membuat Melati mengalihkan pandangannya dari Azein yang menatapnya dengan tatapan kagum. Perutnya sudah lapar sedari tadi.


"Apa kau tidak ingin memakan ini?" Tanya Melati dengan menunjuk pesanan Azein dengan sorot matanya.


"Eh iya," Azein malu bukan kepalang. Terciduk karena diam-diam menatap Melati membuatnya salah tingkah. Sedangkan Melati dengan asyik menikmati makanannya.

__ADS_1


__ADS_2