
Pasangan suami-istri tersebut dibuat terharu oleh perkataan yang telah dilontarkan oleh putri sulung mereka. Bahkan Melati sempat menitikan air matanya. Mereka dengan segera menghampiri keduanya.
Farah terkejut melihat kedua orang tuanya yang datang secara tiba-tiba. Ia takut bahwa mereka mengetahui apa yang ia katakan pada adiknya.
"Sayang," panggil lembut Melati pada Farah.
"Iya Bunda, em maaf ya Ayah. Kakak harus pergi sekarang, belum mandi soalnya." Jawab Farah gugup dan tanpa mendengar tanggapan dari keduanya ia pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Melati dan Fahmi yang melihatnya hanya menggeleng, mereka beralih kepada Aisyah. Dan menggendong putri kecil mereka.
***
Suasana di ruang makan begitu sunyi. Kedua anak mereka tengah bermain dan belum ingin makan seperti kedua orang tuanya.
Melati yang bingung ingin memulai percakapan apa. Dan Fahmi yang gugup karena ingin memulai pembicaraan.
Sejenak keduanya saling pandang dan melemparkan senyum canggung.
"Ehm Mel," Dehem Fahmi untuk mengurangi kegugupannya.
"Iya Mas." Jawab Melati tersenyum.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Katakan saja Mas,"
Fahmi menarik nafasnya panjang. "Jadi, sekarang aku sudah tidak seperti dulu lagi."
Melati mengernyitkan dahinya. "Maksudnya apa Mas?"
"Berita tentang aku, kau dan Sasa telah menyebar luas. Dan hal itu membuat Perusahaan ku gulung tikar Mel." Lirihnya.
Istrinya itu nampak terkejut bahkan sampai menutup mulutnya. Memang Melati sendiri jarang menonton tv dan akhir-akhir ini jarang membuka akun sosial medianya. Karena itu, ia tak mengetahui berita terpanas saat ini.
"Aku berniat melelang tempat usahaku. Dari hasil itu, aku akan membuka usaha baru namun tak seperti dulu. Kuharap kau mengerti dan mendukung aku Mel." Lanjutnya.
Melati tersenyum dan meraih tangan suaminya.
"Mas, apapun keputusanmu aku akan tetap mendukungmu selama itu baik. Lagipula kita tak perlu khawatir soal rezeki. Selama kita ada usaha, insyaallah semuanya pasti baik-baik saja. Dan diiringi dengan meminta semuanya pada Allah, karena Dia-lah Maha Kaya."
Hati Fahmi begitu sejuk mendengar penuturan sang istri. Dengan cepat ia mendekat dan mendekap tubuh Melati.
"Terimakasih Mel, kau sudah mengerti aku."
***
Akhirnya perusahaan yang selama ini dijalankan oleh Fahmi Al-Farizi pun telah berpindah tangan. Dan sekarang Tuan Harry Yovindra adalah pemilik sah dari perusahaan tersebut. Ialah yang akan memimpin perusahaan tersebut kedepannya.
Melati menyambut suaminya dengan senyuman. Ia tahu semua yang telah terjadi. Dengan sopan ia mencium punggung tangan Mas Fahmi.
__ADS_1
Fahmi tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju kamar putri bungsunya.
"Assalamu'alaikum putri Ayah," ucapnya gemas dan menghujani wajah Aisyah dengan ciuman.
"Wa'alaikumsalam Ayah." Jawab Melati menirukan suara anak kecil.
Sejenak Melati membiarkan dahulu Mas Fahmi bermain dengan buah hati mereka. Ia berlalu menuju dapur untuk membuatkan suaminya minuman.
"Ini Mas," ujar Melati meletakkan apa yang tadi disiapkannya di atas nakas.
"Iya Mel, terimakasih yah." Jawab Fahmi tersenyum.
Ting tong...,
"Sepertinya ada tamu di luar Mas, biar aku yang buka ya."
Fahmi mengangguk
Ceklek. Pintu terbuka dan nampaklah Rayn, asisten dari suaminya. Entahlah apakah masih sampai saat ini.
"Assalamu'alaikum Nona."
"Wa'alaikumsalam."
"Nona apakah Tuan Fahmi ada di rumah?"
"Iya Rayn, silahkan kau masuk saja dulu. Biar saya panggilkan."
Melati meninggalkan Rayn sendirian di ruang tamu. Ia bergegas memanggil suaminya.
"Mas ada Rayn di sini. Kau temuilah dia biar Aish aku yang menjaganya."
"Baiklah Mel,"
Fahmi yang begitu melihat mantan asistennya langsung saja mengajaknya menuju ruang kerjanya. Agar pembicaraan mereka lebih tenang nantinya.
"Ada apa Rayn? Bukankah kau seharusnya bekerja dengan Tuan barumu?" Tanya Fahmi heran.
"Maaf Tuan jika saya lancang datang ke rumah anda tanpa membicarakannya dahulu."
"Tidak perlu sungkan seperti itu Rayn, katakan ada apa?"
"Jadi seperti ini Tuan, saya memutuskan untuk tetap bekerja bersama anda. Saya akan tetap setia pada anda."
"Tapi bagaimana mungkin Rayn, saat ini keadaanku sudah tak seperti dahulu. Kau hanya rugi jika bersamaku Rayn."
"Tidak Tuan, bagi saya hanya anda atasan saya sampai kapanpun."
"Rayn aku tidak bisa."
__ADS_1
"Tidak bisa bagaimana Tuan?"
"Rayn bukankah kau sebentar lagi akan menikah. Dengan bekerja denganku itu hanya akan menghambat waktu pernikahanmu."
"Itu tidak perlu dikhawatirkan Tuan, saya telah mengurusnya dari dulu. Saya mohon Tuan izinkan saya untuk tetap bekerja dengan anda."
"Baiklah Rayn, terserah kau saja. Namun aku tak ingin kau menjadi asistenku seperti dulu, dan jangan memanggilku Tuan. Kita akan menjadi partner setelah ini."
"Baiklah Tuan, jika itu keinginan anda."
Fahmi mengangguk, dalam hatinya ia sangat bersyukur. Orang-orang yang dari dahulu berada di sampingnya masih setia padanya. Hanya satu yang hilang darinya, yaitu istri pertamanya.
Rayn yang dari awal membawa sebuah map segera mengeluarkannya dari tasnya.
"Oh ya Tuan, sebelumnya saya berpikir mungkin kita akan membuka usaha di bidang kuliner. Seperti restoran atau kafe, bagaimana Tuan?" Tanya Rayn menyodorkan map tersebut.
"Ide yang bagus Rayn."
"Iya Tuan jadi saya pikir kita akan membukanya di tempat ini. Karena menurut saya ini adalah tempat yang sangat strategis." Rayn menunjuk sebuah peta di dalam map tersebut.
Fahmi mengangguk, tak lupa ia juga memberikan sebuah ide yang ada di pikirannya. Mereka benar-benar bekerja sama dalam hal ini.
Melati yang sempat melihat keduanya begitu senang. Sebenarnya melihat wajah ceria dari suaminya lah yang membuatnya tenang. Setidaknya Mas Fahmi telah menunjukan perubahan setelah beberapa hari ini selalu murung dan stress.
***
Dua hari setelahnya, Fahmi menghampiri sang istri yang tengah berkutat dengan alat-alat dapur. Dengan wajah sumringah ia melingkarkan tangannya di pinggang Melati.
"Sayang aku minta doa dan dukungannya ya. Bismillah semoga usahaku kali ini lancar."
"Tentu Mas, aku pun ikut senang melihatmu seperti ini." Sahut Melati menoleh seketika.
"Aku juga sangat bersyukur dan berterimakasih karena mendapatkan istri sepertimu. Kuharap kau tak pernah berubah ya Mel."
"Apa yang kau bicarakan ini Mas? Aku akan selalu mendampingimu dan akan selalu seperti itu."
"Terimakasih Mel," ucap Fahmi seraya mengecup dahi sang istri.
Tak lama datang Farah beserta Bi Marni. Fahmi yang hari ini hanya ingin sarapan yang dibuat oleh istrinya, membuat Melati menyerahkan keperluan sang anak pada Bi Marni.
"Pagi Ayah, Bunda," sapa Farah dengan semangat.
"Pagi juga putri Ayah." Balas Fahmi kemudian menggendong anaknya.
"Ayah sudah aku geli," ujar Farah dengan terbahak. Pasalnya Ayahnya itu menghujani wajah dengan ciuman. Bulu-bulu halus di sekita dagu Ayahnya semakin membuatnya geli.
"Baiklah sayang ayo kita sarapan." Tutur lembut Fahmi kemudian mendudukkan putrinya di pahanya.
Bi Marni yang melihat semuanya tersenyum sumringah. Meski kehidupan mereka telah berbeda, namun tak membuat kebahagiaan di keluarga itu luntur.
__ADS_1
Lain halnya dulu, ia mengingat saat perusahaan Tuannya hampir gulung tikar. Dan membuat pendapatannya menurun. Sang istri dari Tuannya justru protes dan menuntut. Hingga membuat Tuannya bekerja sangat keras bahkan sakit untuk mengembalikan semuanya.