
Beberapa hari kemudian.
"Apa?! Ish, benar-benar wanita tak tahu malu." Gerutu Aaz mendengar cerita dari sahabatnya.
"Iya aku juga sangat geram dengan wanita yang bernama Luna itu. Mentang-mentang anak dari bos Mas Fahmi, seenaknya saja dia bersikap." Timpal Melati yang juga kesal sedari tadi.
"Oh ya bagaimana dengan sikap suamimu?" Tanya Aaz.
"Sering sekali secara terang-terangan Mas Fahmi menolak wanita itu. Namun dengan tidak tahu malunya, ia tetap seperti itu. Benar-benar menjengkelkan."
"Sebaiknya kau secepatnya bertindak Mel. Orang ketiga akan menjadi yang kedua jika hanya satu yang memberantas, ia akan tetap menjadi orang lain jika orang ke satu dan dua saling kuat dalam mempertahankan posisi itu.
Apalagi dia dan suamimu itu sangat sering bertemu. Bukan maksudku bagaimana, tapi jika dibiarkan maka Luna akan lebih berani dari ini. Apalagi secara terang-terangan ia mengibarkan bendera perang padamu. Kau tidak boleh diam saja Mel." Saran Aaz menatap serius manik Melati.
"Kau benar, tapi bagaimana caranya. Aku saja harus mengurus toko rotiku. Belum lagi dengan putri-putriku. Mana ada waktu Az." Keluh Melati.
"Aku tahu caranya..."
Aaz mendekatkan dirinya pada Melati dan membisikkan sesuatu untuk membantu sahabatnya itu.
***
"Eh Maaf," ucap Melati pada seseorang yang secara tidak sengaja ia tabrak.
"Tidak apa-apa Nona." Jawab pria itu tersenyum.
Melati menatap pria yang ia tabrak itu, sepertinya ia pernah bertemu dengannya. Ia melihat minuman pria itu terharu, ia pun mengambil minuman tersebut dan menyerahkannya.
"Terimakasih." Ujar pria tersebut.
"Tunggu bukankah kau..." Melati menghentikan ucapannya mengingat-ingat siapa pria di hadapannya kini.
"Angga." Lanjut pria 29 itu.
"Ah iya, kau teman suamiku bukan?" Tebak Melati.
"Benar Nona." Jawab Angga tersenyum.
Melati mengangguk dan tersenyum. "Tapi ngomong-ngomong kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau di kantor?"
"Sekarang jam istirahat Nona."
"Ouh begitu."
"Kau sendiri mengapa ada di sini?"
"Aku sedang membeli keperluan untuk putriku." Jawab Melati tersenyum.
Angga mengangguk. Mereka benar-benar dalam keadaan canggung.
"Oh ya, apa kau ada waktu luang?" Lupakan rasa malumu Melati, suamimu lebih penting dari segalanya.
"Iya sekitar 20 menit lagi." Ujar Angga memperhatikan jam yang melingkar di tangannya.
__ADS_1
"Emm, bolehkah aku meminta waktumu sebentar?"
"Tentu."
"Baiklah kita pergi ke taman terdekat bisa kan?"
Angga mengangguk dan mengikuti ajakan dari istri sahabatnya.
"Maaf aku bukan orang yang pandai berbasa-basi, jadi seberapa dekat suamiku dan wanita ular itu?" Tanya Melati to the poin.
Angga tersentak, namun ia berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya.
"K-kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Jelas saja aku bertanya seperti itu. Wanita mana yang tidak geram melihat suaminya digoda wanita lain. Bahkan si ****** itu, dengan terang-terangan berani menggoda si pria di depan istri sahnya. Entah dimana urat malu wanita itu." Ungkap Melati geram.
Angga membenarkan perkataan dari wanita di sampingnya itu. "Yah sebenarnya memang benar apa yang kau pikirkan itu tantang Luna. Tapi aku juga dapat melihat suamimu sering kali menunjukkan penolakannya. Aku bisa merasakan bahwa suamimu benar-benar mencintaimu." Terang Angga dengan jujur.
"Apakah yang dilakukan wanita itu selama ini?"
"Dia berusaha mendekatinya, mengajaknya pergi dan hampir setiap hari ia memberikan bekal makan siang untuk suamimu. Untuk itu suamimu tidak bisa menolak, karena tak mungkin menolak makanan."
Melati mengepalkan kedua tangannya, "Bisakah aku minta tolong padamu."
"Tentu katakan saja."
"Kumohon apapun keadaannya, jangan biarkan suamiku terlalu dekat dengannya. Aku sangat mencintainya." Pinta Melati memelas.
"B-baiklah akan aku usahakan." Jawab Angga tergagap.
"Iya, akan aku usahakan."
"Dan......" Melati membisikan sesuatu pada Angga hingga jarak di antara mereka cukup dekat.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang dengan sengaja mengambil gambar mereka dan tersenyum miring. Cukup banyak yang diambil.
"Bagaimana kau bisa kan?"
"Tentu Nona," jawab Angga.
"Baiklah terimakasih sudah meluangkan waktumu. Maaf aku harus pergi sekarang." Pamit Melati.
"Iya," Angga mengangguk dan tersenyum. Kemudian meluruskan pandangannya, sedangkan Melati sudah beranjak dan meninggalkannya.
Kau benar-benar beruntung mencintai seorang wanita yang juga sangat mencintaimu Fahmi. Bahkan cinta kalian sungguh sama-sama kuatnya. Kapan aku akan seperti itu?. Gumamnya dalam hati dan membuang nafas kasar.
***
Flashback
"Luna kau akan jatuh." Ucap anak lelaki berusia sepuluh tahun dengan cemas karena melihat temannya yang tetap saja mengeyel ingin menaiki sepeda.
"Kau ini penakut sekali Ngga, sudahlah biarkan aku bermain sepeda. Asal kau tahu, hampir semua temanku sudah dapat mengendarai sepeda. Hanya aku yang belum." Cicitnya sedih.
__ADS_1
"Kau benar-benar keras kepala Luna. Kau belum bisa sepenuhnya, nanti kalau jatuh bagaimana?" Tanya Angga pening dibuatnya.
"Kumohon, kau bisa kan mengajari aku. Kau kan sudah bisa bermain sepeda." Rengek Luna manja.
Angga mengehela nafasnya panjang, "Baiklah Luna."
"Terimakasih kau benar-benar sahabat terbaikku." Ujar Luna bahagia hingga ia memeluk erat tubuh Angga, bahkan hadis delapan tahun itu sampai mencium pipi Angga.
Angga melongo dibuatnya, namun dengan segera ia menggeleng dan mengajak Luna untuk mengajari bagaimana cara mengendarai sepeda.
Dengan sabar Angga menuntun Luna untuk bermain sepeda, "Angga bisakah kau lepaskan saja sepedanya, aku sudah bisa."
"Luna, kau baru pertama menyentuh sepeda. Bahkan ketika dipegangi seperti ini saja kau masih tak lancar. Kau masih kesusahan mengayuh sepedanya. Sudahlah diam dulu dan fokus." Tolak Angga halus.
"Tapi Angga, jika kau terus memegangi aku seperti ini. Mana bisa-bisa. Kau itu sangat keras kepala."
"Dan kau itu sangat cerewet. Lagi pula masih banyak waktu untuk itu semua Luna. Kau bahkan belum satu jam untuk belajar."
"Tapi aku benar-benar sudah bisa Angga!" Kekeh Luna dengan nada tinggi.
"Sekali tidak tetap tidak."
"Angga kau sangat jahat padaku." Lirih Luna dengan mata yang mengembun.
Angga hanya bisa pasrah dan menurut. "Baiklah,"
Luna yang kegirangan pun menghapus lelehan di pipinya.
"Terimakasih."
Dengan antusias ia mengayuh sepedanya, sebenarnya masih belum terlalu lancar. Namun ia mampu mengatasinya, jika sepedanya oleng maka dengan sigap kakinya menahan agar tak jatuh.
"Lihatkan Angga, aku itu sudah bisa. Kau saja yang tak percaya!!" Ujar Luna bangga dan menoleh ke arah belakang melihat Angga yang terus mengejarnya. Biar bagaimanapun Angga juga khawatir karena Luna masih baru pertama kali menaiki sepeda.
Karena Luna yang terus membanggakan diri pada Angga, membuatnya hilang keseimbangan dan terjatuh. Angga membelalakan matanya terkejut, dengan cepat ia menghampiri Luna.
"Hiks, hiks, hiks.. sakiit." Tangis Luna karena perih di bagian siku dan lututnya.
"Luna.."
"Angga sakiit," rengek Luna.
Angga segera mengangkat sepeda yang menimpa sebagian tubuh Luna. Lalu memeriksa bagian tubuh Luna yang terluka.
"Tuh kan, sudah kubilang Luna. Kau itu belum sepenuhnya bisa, tapi kau sungguh keras kepala."
"Kau ini, aku sedang terluka Angga. Kenapa memarahiku?... hiks, hiks.."
Angga membuang nafasnya kasar, lalu membelakangi Luna dan berjongkok. "Naiklah ke punggungku, biar aku gendong. Nanti aku obati lukamu di rumahku."
Luna membersihkan tangannya dari debu dan naik ke punggung Angga. Sebenarnya Angga agak keberatan untuk menggendong Luna, namun ia berusaha untuk mengangkat tubuh Luna. Dan membawanya hingga ke rumahnya
Flashback off
__ADS_1
***
Angga sedikit menarik sudut bibirnya mengingat itu semua dan segera pergi menuju kantor lantaran waktu istirahatnya telah usai.