
Melati menjadi sangat was-was, jam telah menunjukkan pukul 21:46. Keluar malam tanpa sepengetahuan orang tua Aaz bukanlah kebiasaan sahabatnya itu. Jika main pun itu pasti ke rumah Melati atau Maira.
Langsung saja Melati mencari nama kontak sahabat terdekatnya untuk menanyakan keberadaan Aaz. Mungkin saja ia mendapat petunjuk. Ia mencoba mendial beberapa nomor teman-temannya. Namun tak satu pun yang mengetahui keberadaannya.
Cemas, adalah yang Melati rasakan sedari tadi. Lulu yang melihat wajah khawatir adik sahabatnya itu pun bertanya. Ia membuyarkan lamunan Melati.
"Kamu kenapa Mel? Siapa yang menelepon?" Lulu mengusap bahu Melati.
"I..ini..Kak, temenku, maksudnya Kakak temenku tadi menelfon kalau Aaz sampai sekarang belum pulang ke rumahnya."
"Mungkin saja dia memiliki urusan penting. Atau dia tidak memberitahu keluarganya dahulu?"
"Itu benar Kak, aku benar-benar khawatir sekarang. Tidak biasanya dia seperti ini. Ingin rasanya aku mencarinya sekarang, tapi dia sama sekali tak memberi petunjuk. Ponselnya saja tidak ia bawa."
"Kita bantu berdoa saja semoga keluarganya cepat menemukannya dan ini semua terjadi bukan karena disengaja melainkan karena Aaz yang ceroboh. Lagipula sekarang juga cukup malam kalalu kau pergi, hal buruk mungkin saja bisa terjadi padamu."
"Iya Kak kau benar, aku berharap Aaz yang ceroboh dan keadaan yang membuatnya harus seperti ini."
"Ya sudah Kakak ke kamar dulu ya, Husein sudah tertidur sedari tadi. Kau juga jangan tidur terlalu larut, kau harus kuliah." Ucap Lulu meninggalkan Melati dan tersenyum.
"Iya Kak, selamat malam."
"Malam juga."
Melati membereskan barang-barang yang tadi dibawanya, ia akan berpindah ke kamarnya. Ia merasa masih ingin melanjutkan kisah novelnya jadi ya mungkin ia akan begadang.
Namun pikiran Melati masih tertuju pada Aaz, rasa khawatir di dadanya kian membuncah. Entah bagaimana kabar Aaz saat ini. Karena pikirannya yang membundet tidak jelas membuat Melati tak mendapat imajinasi tentang kisah novelnya.
Baik, sebaiknya tutup saja laptopnya dan ia mulai menarik selimut. Namun bukannya tertidur ia justru hanya bisa berguling ke sana kemari tak jelas. Pikirannya benar-benar sangat kacau.
Entah sudah sampai jam berapa ia bisa terlelap dalam tidurnya yang pasti seperti hanya dalam sekejap. Karena tiba-tiba alarm yang biasa Melati pasang berbunyi. Karena saking mengantuknya ia bahkan kembali ke pulau kapuk setelah beribadah.
__ADS_1
***
Penampakan Aaz yang sehat wal Afiat membuat Melati mengucek matanya berkali-kali. Dialah yang membuat Melati harus ekstra menutupi mata pandanya karena begadang terus memikirkan Aaz. Dan apa itu, Aaz bahkan tengah tertawa tanpa dosa. Melati segera menghampirinya.
"Assalamu'alaikum Mai, Az.." Ucapnya menatap Aaz dan Maira.
"Wa'alaikumsalam Mel.." jawab kedua sahabatnya itu.
Melati memandang tajam Aaz, yang membuat Aaz terheran-heran dan sedikit takut.
"Kau tidak ingin minta maaf atau mengatakan hal lain Az?!"
"Apa?, Memangnya kau merasa aku menyembunyikan sesuatu begitu?" Tanya balik Aaz dan ia juga memandang sahabat disampingnya.
Dia kenapa, arti tatapannya pada Maira.
Entah aku pun tidak tahu, jawab Maira mengendikkan kedua bahunya.
"Aku sedang berbicara padamu Az, kau lihat ini?" Melati menunjukkan draft panggilan di ponselnya pada Aaz dan Maira pun melihatnya.
"Emm itu, anu.., itu.. sebenarnya aku dan Maira terjebak kemarin. Mobil milik Maira tiba-tiba saja mogok saat hujan kemarin. Karena sebelum kami pulang kami sempat pergi ke rumah teman satu kelas Maira dan lumayan jauh, itu terjadi saat perjalanan pulang. Hp Maira lowbat dan milikku ketinggalan." Jawab Aaz menunduk.
"Ya ampun, apa kau tahu?, Kau benar-benar membuatku khawatir dan bahkan lihat ini (menunjukan area bawah matanya) perlu berlapis-lapis foundation untuk menutupinya tahu." Ujar Melati kesal. Namun ia juga lega karena Aaz tidak dalam bahaya.
"Maaf ya Mel, kami tidak bermaksud untuk membuatmu khawatir." Ikut Maira menimpali.
"No problem sis, yang penting kalian selamat dan aku pikir kalian dalam bahaya, syukurlah ternyata tidak" ujar Melati yang sudah berubah mimik wajahnya.
"Tapi bagaimana akhirnya kalian bisa sampai pulang?, dan hari ini kalian bahkan bisa masuk kuliah." Lanjutnya.
"Yah kan hari sudah berganti Mel, jadi sudah tentu ada orang-orang yang sudah berlalu lalang di jalan itu. Kami bisa meminta bantuan kepada mereka." Jawab Maira.
__ADS_1
"Ouh gitu." Melati mengangguk paham.
______________________
Karena jam kuliah sudah usai dan juga tidak ada kelas lagi setelah ini Melati memutuskan untuk pergi mengajak Aaz ke Mal. Maira tidak bisa di ajak sebab ia masih ada kelas.
"Oh ya Az, kemarin yang menelponku seorang lelaki dan dia mengatakan bahwa kau adiknya. Kau memiliki Kakak?, Tapi kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku dan aku juga tidak pernah melihatnya selama ini." Tanya Melati ditengah sela-sela memilih baju.
Aaz menoleh, ia sama halnya seperti Melati yang tengah memilih pakaian. "Ouh itu, dia memang Kakakku dan yah, selama ini dia menempuh pendidikannya di Turki. Dia baru selesai tahun ini."
"Ouh gitu toh..."
"Atau jangan-jangan kau tertarik ya padanya. Memang dari suaranya saja terdengar merdu. Jika iya aku bersedia memperkenalkannya. Jangan khawatir untuk tampan dia sudah sembilan puluh lima persen." Ucap Aaz yang membuat Melati membulatkan matanya.
"Kau ini berbicara apa!" Memukul pelan lengan Aaz.
"Kha.., aku kan hanya bercanda. Tapi lihat wajahmu bahkan sudah merona seperti ini." Menunjuk pipi Melati dengan sorot matanya.
Sontak Melati menyentuh pipinya dan yang sebelumnya santai menjadi benar-benar malu. Padahal Aaz hanya menjahilinya saja. Sebab saat itu juga Melati menilik kaca besar yang ada didepannya dan dapat ia lihat Aaz yang tengah menahan senyumnya.
Melati memberikan sorot mata tajam pada Aaz, ia langsung pergi ke tempat lain. Demi menghindari kejahilan Aaz, ia juga tidak bisa membalas atau mengelak Aaz.
Dua jam sudah Melati berkeliling mencari yang ia inginkan. Ia juga telah membayar belanjaannya. Karena kejadian yang tadi saat bersama Aaz membuatnya melupakan Aaz. Melati pun merutuki kebodohannya. Bagaimana ia bisa mencari keberadaan sahabatnya di tengah Mal yang sangat besar ini.
Ia pun merogoh saku pada gamisnya guna menelpon Aaz agar dapat memudahkan ia mencari Aaz. Atau Aaz yang mencarinya.
"Hallo Az." Ucapnya saat mendengar sambungan teleponnya di terima.
"Iya Mel. Kau dimana? Kenapa meninggalkan aku?" Ucap kesal yang berada di sebrang sana.
"Hehe, iya maaf Az. Lagi pula kau terus saja menggodaku, aku tak menyukainya. Sekarang katakan padaku, posdim!"
__ADS_1
"Aku sudah berada di parkiran. Kupikir aku menunggu saja kau disini. Lagipula aku sudah cukup lama berada di tempat ini. Dan kulihat mobilmu yang masih ada."
"Ok. Otw.." Melati langsung menuju tempat yang dimana Aaz ada di sana. Benar saja Aaz sudah menunggunya dengan menyenderkan tubuhnya.